Asal usul solat
1. SUBUH
Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Subuh ialah Nabi Adam a.s., iaitu tatkala baginda keluar dari syurga lalu dihantar ke bumi.perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar Subuh telah keluar Nabi Adam a.s. pun
bersembahyang dua rakaat.
Rakaat pertama:-
Bersyukur baginda kerana terlepas dari kegelapan malam.
Rakaat kedua:-
Bersyukur baginda kerana siang telah menjelma.
2.ZOHOR
Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s., iaitu tatkala Allah s.w.t. telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s. Sedang seruan itu datangnya pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim empat rakaat.
Rakaat pertama:-
Bersyukur bagi penebusan.
Rakaat kedua:-
Bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.
Rakaat ketiga:-
Bersyukur dan bermohon akan keredhaan Allah.
Rakaat keempat:-
Bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.
3.ASAR
Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Asar ialah Nabi Yunus a.s., tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari perut ikan nun. Ikan nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah daripada 4 kegelapan
iaitu:
Rakaat pertama:- Kelam dengan kesalahan.
Rakaat kedua:- Kelam dengan air laut.
Rakaat ketiga:- Kelam dengan malam.
Rakaat keempat:- Kelam dengan perut ikan Nun.
4.MAGHRIB
Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Maghrib ialah Nabi Isa a.s., tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari.
Bersyukurlah
Nabi Isa lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari
Kejahilan tersebut, iaitu:
Rakaat pertama:-
Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
Rakaat kedua:-
Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
Rakaat ketiga:-
Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah jua, tiada dua atau tiga.
5.ISYAK
Orang yang pertama mengerjakan sembahyang Isyak ialah Nabi Musa a.s.
Pada ketika itu Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah lalu menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.
Rakaat pertama:-
Dukacita terhadap isterinya.
Rakaat kedua:-
Dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.
Rakaat ketiga:-
Dukacita terhadap Firaun.
Rakaat keempat:-
Dukacita terhadap anak Firaun.
Selamat datang Para Pecinta Rasulullah Saw
Cintailah ahlul baitku karena kecintaan kalian padaku...semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah SAW dan ahlul baitnya kelak di surga Allah SWT, amin
Yang Mau Usaha...klik aja
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Juni 2008
KEUTAMAAN DAN ADAB SHALAT JUM'AT
KEUTAMAAN DAN ADAB SHALAT JUM'AT
Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, sesungguhnya hari Jum'at adalah hari yang agung. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengagungkan Islam melaluinya dan menjadikannya sebagai ciri khas ummat Muhammad. Pada hari ini, setiap Muslim dianjurkan memperbanyak zikir kepada Allah dan membaca Al Qur-an. Dan disunnatkan kepada semua orang mandi dan bersuci terlebih dahulu, kemudian memakai wewangian dan pakaian yang terbaik. Bahkan lebih disunnatkan untuk memakai wewangian yang terbaik, agar bisa membangkitkan kesegaran dan mengusir bau yang tidak sedap dari para hadirin yang berada di masjid. Wewangian yang paling disunnatkan adalah yang tidak terlalu menusuk hidung baunya. Akan halnya pakaian yang dikenakan, maka yang paling disunnatkan adalah pakaian berwarna putih sebagaimana tersebut dalam hadits. Sedangkan memakai pakaian yang beragam corak, makruh hukumnya. Adapun memakai pakaian berwarna hitam, bukan termasuk sunnah Nabi. Yang sangat disayangkan dan merupakan hal yang tercela, banyak pemuda waktu shalat Jum'at memakai kaos yang bertulisan nggak karuan, bergambar artis barat dan sebagainya. Bahkan sekali waktu kami shalat jum'at, tepat di depan kami berdiri seorang anak 15 tahunan dengan memakai kaos hitam bergambar seorang artis penyanyi barat yang berukuran hampir memenuhi kaos itu. Na'udzubillah, apakah sudah sedemikian parah kebodohan yang melilit dan melingkari kita, sehingga hal yang seharusnya dapat diatasi dengan menggunakan hati nurani tidak lagi dapat dikenali.
Kaum Muslimin, rahimakumullah. Berpagi-pagi atau bersegera menuju shalat Jum'at mempunyai pahala yang besar. Dan untuk itu hendaknya seseorang berjalan dengan khusyu' dan tawadhu' kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, yang bunyinya:
"Man raaha ilal Jumu'ati fis saa'atil uula faka-annamaa qarraba badanatan, wa man raaha fis saa'atis tsaaniyati faka-annamaa qarraba baqaratan, wa man raaha fis saa'atis tsaalitsati faka-annamaa qarraba kabsyan aqrana, wa man raaha fis saa'atir raabi'ati faka-annamaa ahdaa dajaajatan, wa man raaha fis saa'atil khamisati faka-annamaa ahdaa baidhatan."
Artinya: "Barangsiapa berangkat shalat Jum'at pada waktu pertama, seolah olah ia telah berkorban seekor unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, seolah-olah ia telah berkorban seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, seolah-olah ia telah berkorban seekor domba yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, seolah-olah ia telah berkorban seekor ayam betina. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, seolah-lah ia telah berkorban sebutir telur ayam."
Apabila Imam telah naik mimbar, semua buku catatan ditutup, qalam-qalam disimpan, Malaikat berkumpul mendengarkan zikir.
Dalam shalat Jum'at, seseorang dilarang melangkahi kepala orang lain. Ketika sedang khutbah Jum'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki melangkahi kepala orang banyak hingga dia duduk di depan. Setelah selesai melaksanakan shalat Jum'at Rasulullah Shallallahu a'laihi wa sallam bertanya kepada lelaki tadi, "Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut shalat bersama kami?" Lelaki itu menjawab, "Apakah tuan tidak melihat saya (shalat bersama tuan)?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Saya melihatmu datang terlambat, dan kedatanganmu menyakiti orang lain."
Kaum Muslimin, rahimakumullah. Apabila Imam sudah naik mimbar, maka dianjurkan kepada jama'ah untuk menghentikan pembicaraan dan agar menyibukkan diri dengan menjawab bacaan adzan, kemudian mendengarkan khutbah Imam.
Dalam hal ini, banyak kalangan awam melakukan kebiasaan yang salah, yaitu shalat dua raka'at tatkala muadzdzin telah selesai dari adzan Jum'atnya, sebelum khutbah dimulai. Mereka beranggapan bahwa shalat dua raka'at itu disunnatkan, padahal tidak ada sunnah Rasul yang bisa dijadikan dalil untuk hal itu. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa shalat sunnat Jum'at dilakukan setelah shalat Jum'at selesai, yakni dua atau empat raka'at.
Berkata-kata dan berbicara di tengah khutbah itu dilarang. Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa menegur kawannya dengan ucapan "Diamlah" pada waktu imam sedang khutbah, maka ia telah melakukan kesia-siaan dan tidak mendapat pahala Jum'at. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, yang bunyinya: "Yaa ayyuhallaziina aamanuu idzaa nuudiya lishshalaati min yaumil Jumu'ati fas'au ilaa zikrillahi wa dzarul bai' dzaalikum khairul lakum in kuntum ta'lamuun."Artinya:"Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegerahlah kalian menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui." (Al-Jumu'ah 62:9).
Astaghfirullaha lii wa lakum wa lijamii'il Muslimiina wal Muslimaati min kulli zanbin fastaghfiruuhu yaghfir lakum innahu huwal ghafuurur rahiim.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, sesungguhnya hari Jum'at adalah hari yang agung. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengagungkan Islam melaluinya dan menjadikannya sebagai ciri khas ummat Muhammad. Pada hari ini, setiap Muslim dianjurkan memperbanyak zikir kepada Allah dan membaca Al Qur-an. Dan disunnatkan kepada semua orang mandi dan bersuci terlebih dahulu, kemudian memakai wewangian dan pakaian yang terbaik. Bahkan lebih disunnatkan untuk memakai wewangian yang terbaik, agar bisa membangkitkan kesegaran dan mengusir bau yang tidak sedap dari para hadirin yang berada di masjid. Wewangian yang paling disunnatkan adalah yang tidak terlalu menusuk hidung baunya. Akan halnya pakaian yang dikenakan, maka yang paling disunnatkan adalah pakaian berwarna putih sebagaimana tersebut dalam hadits. Sedangkan memakai pakaian yang beragam corak, makruh hukumnya. Adapun memakai pakaian berwarna hitam, bukan termasuk sunnah Nabi. Yang sangat disayangkan dan merupakan hal yang tercela, banyak pemuda waktu shalat Jum'at memakai kaos yang bertulisan nggak karuan, bergambar artis barat dan sebagainya. Bahkan sekali waktu kami shalat jum'at, tepat di depan kami berdiri seorang anak 15 tahunan dengan memakai kaos hitam bergambar seorang artis penyanyi barat yang berukuran hampir memenuhi kaos itu. Na'udzubillah, apakah sudah sedemikian parah kebodohan yang melilit dan melingkari kita, sehingga hal yang seharusnya dapat diatasi dengan menggunakan hati nurani tidak lagi dapat dikenali.
Kaum Muslimin, rahimakumullah. Berpagi-pagi atau bersegera menuju shalat Jum'at mempunyai pahala yang besar. Dan untuk itu hendaknya seseorang berjalan dengan khusyu' dan tawadhu' kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, yang bunyinya:
"Man raaha ilal Jumu'ati fis saa'atil uula faka-annamaa qarraba badanatan, wa man raaha fis saa'atis tsaaniyati faka-annamaa qarraba baqaratan, wa man raaha fis saa'atis tsaalitsati faka-annamaa qarraba kabsyan aqrana, wa man raaha fis saa'atir raabi'ati faka-annamaa ahdaa dajaajatan, wa man raaha fis saa'atil khamisati faka-annamaa ahdaa baidhatan."
Artinya: "Barangsiapa berangkat shalat Jum'at pada waktu pertama, seolah olah ia telah berkorban seekor unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, seolah-olah ia telah berkorban seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, seolah-olah ia telah berkorban seekor domba yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, seolah-olah ia telah berkorban seekor ayam betina. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, seolah-lah ia telah berkorban sebutir telur ayam."
Apabila Imam telah naik mimbar, semua buku catatan ditutup, qalam-qalam disimpan, Malaikat berkumpul mendengarkan zikir.
Dalam shalat Jum'at, seseorang dilarang melangkahi kepala orang lain. Ketika sedang khutbah Jum'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki melangkahi kepala orang banyak hingga dia duduk di depan. Setelah selesai melaksanakan shalat Jum'at Rasulullah Shallallahu a'laihi wa sallam bertanya kepada lelaki tadi, "Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut shalat bersama kami?" Lelaki itu menjawab, "Apakah tuan tidak melihat saya (shalat bersama tuan)?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Saya melihatmu datang terlambat, dan kedatanganmu menyakiti orang lain."
Kaum Muslimin, rahimakumullah. Apabila Imam sudah naik mimbar, maka dianjurkan kepada jama'ah untuk menghentikan pembicaraan dan agar menyibukkan diri dengan menjawab bacaan adzan, kemudian mendengarkan khutbah Imam.
Dalam hal ini, banyak kalangan awam melakukan kebiasaan yang salah, yaitu shalat dua raka'at tatkala muadzdzin telah selesai dari adzan Jum'atnya, sebelum khutbah dimulai. Mereka beranggapan bahwa shalat dua raka'at itu disunnatkan, padahal tidak ada sunnah Rasul yang bisa dijadikan dalil untuk hal itu. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa shalat sunnat Jum'at dilakukan setelah shalat Jum'at selesai, yakni dua atau empat raka'at.
Berkata-kata dan berbicara di tengah khutbah itu dilarang. Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa menegur kawannya dengan ucapan "Diamlah" pada waktu imam sedang khutbah, maka ia telah melakukan kesia-siaan dan tidak mendapat pahala Jum'at. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, yang bunyinya: "Yaa ayyuhallaziina aamanuu idzaa nuudiya lishshalaati min yaumil Jumu'ati fas'au ilaa zikrillahi wa dzarul bai' dzaalikum khairul lakum in kuntum ta'lamuun."Artinya:"Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegerahlah kalian menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui." (Al-Jumu'ah 62:9).
Astaghfirullaha lii wa lakum wa lijamii'il Muslimiina wal Muslimaati min kulli zanbin fastaghfiruuhu yaghfir lakum innahu huwal ghafuurur rahiim.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Adab hubungan Suami Istri-Ust. Novel habsyi
Adab hubungan Suami Istri
Sayid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menulis dalam Bughyatul Mustarsyid hal. 352-353:
Seorang ulama pernah mengatakan bahwa barang siapa ingin anaknya terlindung dari setan dan bala tentaranya serta memperoleh inayah Allah di dunia dan akhirat, maka sebelum berhubungan hendaknya dia membaca dzikir yang diajarkan oleh Al-Musthafa saw, yaitu: Bismillah Allahumma jannibnasy syaithona wa jannibisy syaith? m?azaqtan? Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak
yang akan Engkau berikan kepada kami. (HR Bukh?, Muslim, Tirmidz?Ab? D?d, Ibnu M?h, Ahmad dan D?m?BR>
Kemudian ia sibukkan hatinya dengan berdzikir kepada All?Ta ? dari
awal sampai akhir hubungan. Setelah hubungan berakhir hendaknya dia memuji
All?yang telah memberinya hubungan halal. Sikap seperti ini banyak
dilalaikan oleh masyarakat. Kemudian selama berhubungan hendaknya dalam
hatinya dia menghadirkan para wali, Nabi dan orang-orang yang ia cintai.
Hal ini sangat bermanfaat, sebab sir Nabi atau wali yang ia hadirkan dalam
hatinya saat itu akan menjalar ke calon anak.
Orang yang berdzikir kepada All?ketika sedang berhubungan akan
memperoleh semua cita-citanya. Sebab, hubungan seks membuat seseorang lupa
kepada All?Ta ? dan segala sesuatu. Lupa kepada All?adalah racun yang
sangat ganas dan penyakit yang menjangkiti masyarakat. Jika seseorang
berdzikir kepada All?ketika berhubungan, maka dia akan memperoleh banyak
pertolongan All?yang tidak pernah terlintas dalam hatinya. Orang-orang
yang sempurna mengetahui hal ini [1]
di ambil dari: Anda Bertanya Salaf Menjawab PUTERA RIYADI disusun dan diterjemahkan oleh: Ustadz Novel Muhammad Al- Aidarus
Sayid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur menulis dalam Bughyatul Mustarsyid hal. 352-353:
Seorang ulama pernah mengatakan bahwa barang siapa ingin anaknya terlindung dari setan dan bala tentaranya serta memperoleh inayah Allah di dunia dan akhirat, maka sebelum berhubungan hendaknya dia membaca dzikir yang diajarkan oleh Al-Musthafa saw, yaitu: Bismillah Allahumma jannibnasy syaithona wa jannibisy syaith? m?azaqtan? Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak
yang akan Engkau berikan kepada kami. (HR Bukh?, Muslim, Tirmidz?Ab? D?d, Ibnu M?h, Ahmad dan D?m?BR>
Kemudian ia sibukkan hatinya dengan berdzikir kepada All?Ta ? dari
awal sampai akhir hubungan. Setelah hubungan berakhir hendaknya dia memuji
All?yang telah memberinya hubungan halal. Sikap seperti ini banyak
dilalaikan oleh masyarakat. Kemudian selama berhubungan hendaknya dalam
hatinya dia menghadirkan para wali, Nabi dan orang-orang yang ia cintai.
Hal ini sangat bermanfaat, sebab sir Nabi atau wali yang ia hadirkan dalam
hatinya saat itu akan menjalar ke calon anak.
Orang yang berdzikir kepada All?ketika sedang berhubungan akan
memperoleh semua cita-citanya. Sebab, hubungan seks membuat seseorang lupa
kepada All?Ta ? dan segala sesuatu. Lupa kepada All?adalah racun yang
sangat ganas dan penyakit yang menjangkiti masyarakat. Jika seseorang
berdzikir kepada All?ketika berhubungan, maka dia akan memperoleh banyak
pertolongan All?yang tidak pernah terlintas dalam hatinya. Orang-orang
yang sempurna mengetahui hal ini [1]
di ambil dari: Anda Bertanya Salaf Menjawab PUTERA RIYADI disusun dan diterjemahkan oleh: Ustadz Novel Muhammad Al- Aidarus
BIDANG KUASA WALI DALAM PERNIKAHAN
BIDANG KUASA WALI DALAM PERNIKAHAN
Oleh : Ghafani Awang The
Pendahuluan
Perkahwinan adalah amanah Allah swt. Untuk menyempurnakan amanah Allah itu ia memerlukan lima rukun iaitu:
1. Calon suami
2. Calon isteri
3. Wali
4. Dua orang saksi
5. Sighah ijab qabul
Jika kekurangan salah satu rukun itu maka perkahwinan itu tidak sah. Salah satu isu penting yang sering timbul dan menjadi bahan perbualan dalam masyarakat kita ialah bidang kuasa wali. Terdapat kes-kes seperti kahwin lari, akad nikah dua kali, kahwin paksa, bapa tidak membenarkan anaknya berkahwin dengan pemuda pilihan anak, bapa angkat bertindak sebagai wali kepada anak angkatnya dan sebagainya, di mana semuanya berkisar mengenai bidang kuasa wali. Persoalan yang timbul ialah apakah bidang kuasa wali yang sebenarnya untuk menyempurna dan memuliakan amanah Allah swt itu.
Pengertian Wali Dan Tertibnya
Wali bererti teman karib, pemimpin, pelindung atau penolong yang terdiri daripada ahli waris lelaki yang terdekat kepada pengantin perempuan. Wali ini merupakan salah satu rukun dalam perkahwinan. Dalil-dalil yang menunjukkan amat mustahaknya wali ialah:
Firman Allah swt:
"Janganlah kamu menghalang mereka berkahwin kembali dengan bekas suami mereka apabila telah terdapat kerelaan antara mereka dengan cara yang makruf"
( Al-Baqarah : 232)
"Dan janganlah kamu kahwinkan perempuan-perempuan kamu dengan lelaki musyrik (kafir) hingga meereka beriman".
( Al-Baqarah : 222)
Dari hadith Nabi saw:
"Dari Abi Musa r.a. Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada nikah melainkan dengan adanya wali".
(Riwayat Al-Khamsah dan An-Nasa’i)
Oleh kerana wali merupakan salah satu syarat sah nikah maka bukan semua orang boleh menjadi wali. Syarat-syarat sah menjadi wali ialah:
1. Islam
2. Baligh (sekurang-kurangnya sudah berumur 15 tahun).
3. Berakal - Orang gila, mabuk dan orang yang sangat bodoh tidak sah menjadi wali.
4. Lelaki - Orang perempuan tidak sah menjadi wali.
5. Adil
6. Merdeka
Manakala orang buta atau bisu pula adalah diharuskan menjadi wali kerana ia boleh menimbang dan memikirkan mengenai soal kufu dan hal-hal kepentingan kepada wanita, selagi ia boleh memahami isyarat serta tulisan dan ia memenuhi starat-syarat sah menjadi wali.
Susunan Wali
Susunan wali mengikut tertib alah:
1. Bapa kandung
2. Datuk sebelah bapa ke atas
3. Saudara lelaki seibu-sebapa
4. Saudara lelaki sebapa
5. Anak saudara lelaki seibu-sebapa
6. Anak saudara lelaki sebapa
7. Bapa saudara sebelah bapa seibu-sebapa
8. Bapa saudara sebelah bapa sebapa
9. Anak lelaki bapa saudara sebelah bapa seibu-sebapa ke bawah
10. Anak lelaki bapa saudara sebelah bapa sebapa ke bawah
11. Bapa saudara seibu-sebapa
12. Bapa saudara bapa sebapa
13. Anak lelaki bapa saudara seibu-sebapa
14. Anak lelaki bapa saudara sebapa ke bawah
15. Bapa saudara datuk seibu-sebapa
16. Bapa saudara datuk sebapa
17. Anak lelaki bapa saudara datuk seibu-sebapa ke bawah
18. Anak lelaki bapa saudara datuk sebapa ke bawah
19. Muktiq (tuan kepada hamba perempuan yang dibebaskan).
20. Sekalian asabah kepada seorang muktiq
21. Raja/Sultan.
Sekiranya wali pertama tidak ada, hendaklah diambil wali yang kedua dan jika wali kedua tidak ada hendaklah diambil wali ketiga dan begitulah seterusnya.
Mengikut tertib wali, bapa hendaklah menjadi wali bagi semua perkahwinan anaknya. Dan jika bapa tidak ada kerana meninggal dunia maka hak wali berpindah kepada datuk pengantin perempuan itu; dan jika datuk juga meninggal dunia maka hak wali itu berpindah kepada saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan dan begitulah bidang kuasa wali mengikut tertib susunannya.
Sekiranya pengantin perempuan itu tidak mempunyai wali maka ia akan dinikahkan secara wali hakim. Rasulullah saw bersabda:
"Maka Sultanlah yang menjadi wali bagi sesiapa yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud)
Dalam kes Ismail bin Abdul Majid lawan Aris Fadilah dan Insun bt Abdul Majid (1990, Jld. V, II, JH) di Mahkamah Syariah, Kuala Kangsar, Perak, Yang Arif Hakim Amran bin Satar telah memutuskan perkahwinan yang diwalikan oleh wali ab’ad sedangkan wali aqrab masih ada maka perkahwinan itu tidak sah.
(Wali Ab’ad : wali yang jauh perhubungannya dengan pengantin perempuan mengikut susunan wali).
(Wali Aqrab : Wali yang paling dekat hubungannya dengan pengantin perempuan mengikut susunan wali).
Fakta kesnya adalah seperti berikut: Pengantin perempuan telah berkahwin dengan seorang pemuda pada 6hb Mei, 1974 di Kampung Kandang Hilir, Kota Lama Kanan, Perak. Wali yang bertindak kepada perempuan tersebut ialah saudara lelakinya kerana bapa perempuan itu telah meninggal dunia. Pengantin perempuan itu sebenarnya juga masih mempunyai datuk yang masih hidup dengan segar dan waras yang tinggal di Bt. 8, Batu Laut, Kuala Langat, Selangor. Datuk itu tidak diberitahu mengenai perkahwinan cucunya itu. Kes ini telah dibawa ke Mahkamah dan telah diputuskan perkahwinan itu tidak sah atau batal dengan alasan:
1. Saudara lelaki pada pengantin perempuan itu tidak ada bidang kuasa wali kerana wali aqrab iaitu datuk perempuan itu masih ada.
2. Akal fikiran datuk itu masih waras maka hak kelayakan wali masih tidak hilang.
Berdasarkan analisa kes tersebut, sepatutnya pengantin perempuan itu menghubungi datuknya bagi mewalikan perkahwinannya. Jika datuknya itu tidak dapat hadir, maka datuknya boleh mewakilkan (wakalah wali) kepada orang lain, untuk menikahkan cucunya itu.
Wali Mujbir
Wali mujbir ertinya wali yang mempunyai bidang kuasa mengahwinkan anak atau cucu perempuan yang masih perawan atau dara tanpa meminta izin perempuan itu terlebih dahulu. Menurut Mazhab Shafi’e, wali mujbir itu terdiri daripada bapa, datuk dan seterusnya sampai ke atas. Manakala wali-wali lain seperti saudara lelaki kandung sebapa, bapa saudara dan sebagainya bukan wali mujbir iaitu tidak ada bidang kuasa memaksa perempuan berkahwin. Dalilnya ialah:
"Perempuan janda lebih berhak pada dirinya daripada walinya dan perempuan perawan atau dara dikahwinkan oleh bapanya".
(Riwayat Darul-Qutni)
Hadith ini menunjukkan bapa atau datuk mengahwinkan anak perempuan yang perawan tanpa meminta izin anak perempuan itu terlebih dahulu adalah sah.
Dalam kes Syed Abdullah Al-Shatiri lawan Syarifah Salmah (1959, Jld. I, II, JH), ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura, Yang Arif Hakim Ahmad bin Ibrahim menyatakan, mengikut Mazhab Shafi’e, apabila seorang anak dara dikahwinkan oleh bapanya tanpa minta izin anak dara itu terlebih dahulu, maka adalah sah perkahwinan itu.
Fakta kes itu adalah seperti berikut: Seorang bapa Syed Abdullah Al-Shatiri mengahwinkan anak daranya Syarifah Salmah dengan Syed Idros bin Saggof Al-Jofri tanpa izin anak dara itu. Bapa itu bertindak sebagai wali dan ia sendiri menikahkan perkahwinan itu. Anak perempuan itu enggan menerima suami pilihan bapanya. Anak perempuan itu membawa kes itu ke Mahkamah Syariah.
Mahkamah Syariah Singapura telah mengeluarkan perintah bahawa perkahwinan itu tidak sah berdasarkan hadith:
Pertama:
Rasululah saw bersabda:
"Janganlah kahwinkan seseorang perempuan yang tidak anak dara (janda) sehingga kamu mendapat kuasanya terhadap perkahwinnan itu dan janganlah kahwinkan seorang anak dara sehingga dipinta izinnya".
(Riwayat Al-Bukhari)
Kedua:
Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang yang bukan anak dara mempunyai hak yang lebih besar mengenai dirinya daripada penjaganya. Persetujuan seorang anak dara haruslah dipinta berkenaan dengan sesuatu mengenai dirinya dan diam membisu pada haknya itu adalah bererti memberikan persetujuan".
(Riwayat Muslim)
Bapa telah membuat rayuan kepada Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura bahawa ia mengahwinkan anak dara perempuannya tanpa izin perempuan itu atas bidang kuasanya sebagai wali mujbir.
Menurut Ahmad Ibrahim ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura itu menyatakan:
"Hadith-hadith yang menjadi alasan Mahkamah Syariah Singapura itu sebenarnya dipertikaikan oleh ulama mengenai makna "meminta izin anak dara" yang terdapat dalam hadith-hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Menurut Imam Malik, Imam Shafi’e, Imam Ahmad dan ulama-ulama dalam Mazhab Syafi’e seperti Imam Nawawi, maksud "meminta izin anak dara" adalah sunat bagi wali mujbir meminta izin terlebih dahulu daripada pengantin perempuan seperti mana dengan maksud hadith yang dieriwayatkan oleh Darul-Qutni".
Selanjutnya Ahmad Ibrahim memetik pandangan Mazhab Syafi’e sepertimana yang terdapat dalam kitab Minhaj Talibin, karangan Imam Nawawi:
"Seseorang bapa boleh mengikut kehendaknya mengahwinkan anak perempuannya tanpa meminta izinnya, tidak kira berapa umurnya dengan syarat anak itu masih anak dara. Walau bagaimanapun adalah sunat berunding dengannya mengenai bakal suaminya itu; dan izin rasminya ke atas perkahwinan itu adalah perlu jika dia telah kehilangan daranya. Manakala seseorang bapa mengahwinkan anak perempuan sewaktu anak itu masih di bawah umur, maka anak perempuan itu tidaklah boleh diserahkan kepada suaminya sebelum dia mencapai umur akil baligh. Jika berlaku kegagalan pada pihak bapanya, maka bapa kepada bapanya (datuknya sebelah bapa) hendaklah menjalankan semua kuasanya. Kehilangan dara menghapuskan hak mengahwinkan anak perempuan tanpa izinnya, dan tidaklah ada perbezaan di dalam aspek ini bahawa kehilangan dara antara yang disebabkan oleh persetubuhan yang halal dengan yang diakibatkan oleh persetubuhan haram. Sebaliknya hak itu tetap tidak terjejas jika kehilangan itu berlaku tanpa persentuhan badaniah, umpamanya akibat terjatuh ke atas tanah".
Ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan itu juga Ahmad Ibrahim merujuk kepada buku "Mohamed Law Of Inheritance, Marriage And Right Of Women" oleh Syeikh Abdul Kadir bin Muhammad Al-Makkawi menyatakan : Seseorang bapa atau datuk mengahwinkan seorang anak dara tanpa persetujuan anak dara itu adalah sah dengan syarat:
1. Janganlah hendaknya terdapat antara anak dara itu dengan bapanya atau datuknya yang mengahwinkannya itu apa-apa sifat permusuhan yang nyata dan tidak pula terlindung daripada pengetahuan orang-orang di tempat anak dara itu berada.
2. Si suami itu hendaklah sama tarafnya (sekufu) dengan anak dara itu.
3. Si suami itu hendaklah mampu membayar mas kahwin.
4. Janganlah hendaknya terdapat sifat permusuhan baik di luar mahupun di dalam antara anak dara itu dengan si suami.
5. Bapa atau datuk itu tidak boleh mengahwinkan anak daranya dengan mas kahwin yang terkurang menurut nilai mata wang negara itu.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura berpendapat bahawa perkahwinan yang dianjurkan oleh wali mujbir tanpa izin perempuan itu adalah sah. Maka keputusan Mahkamah Syariah yang terdahulu itu telah dibatalkan.
Perempuan Janda
Wali Mujbir atau wali-wali yang lain tidak boleh mengahwinkan perempuan janda kecuali hendaklah mendapat izin perempuan itu terlebih dahulu. Rasulullah saw telah bersabda:
"Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda, "Perempuan janda diajak bermusyawarah tentang urusan dirinya, kemudian jika ia diam, maka itulah izinnya, tetapi jika ia menolak maka tiada paksa ke atasnya".
(Riwayat Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah)
Dalam hadith yang lain, Rasulullah saw telah menyatakan:
"Dari Khansa’ binti Khadam, bahawasanya bapa Khansa’ telah mengahwinkan dia, sedang ia perempuan janda, lalu ia tidak suka demikian itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menolak perkahwinan itu".
(Riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)
Ini bermakna perempuan janda mempunyai bidang kuasa menolak perkahwinan yang dibuat tanpa kebenarannya iaitu ia boleh menfasakhkan perkahwinan itu di Mahkamah Syariah.
Perkahwinan Bawah Umur
Menurut Mazhab Empat bahawa dalam Islam tidak ada larangan had umur untuk berkahwin. Ini bermakna kanak-kanak kecil boleh berkahwin.
Daripada Siti Aisyah r.a.,
"Bahawasanya Nabi saw telah mengahwini Aisyah sedang ia berumur enam tahun dan Aisyah tinggal bersama Nabi semasa ia berumur sembilan tahun"..
(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Hadith ini menunjukkan bahawa dalam Islam tiada had umur larangan berkahwin. Walau bagaimanapun menurut Seksyen 8, Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan 1984 menyatakan:
"Tiada sesuatu perkahwinan boleh diakadnikahkan atau didaftarkan di bawah Akta ini jika lelaki itu berumur kurang daripada lapan belas tahun atau perempuan itu berumur kurang daripada enam belas tahun kecuali jika Hakim Syariah telah memberi kebenarannya secara bertulis dalam hal keadaan tertentu".
Menurut Seksyen tersebut perkahwinan kanak-kanak di bawah umur hendaklah terlebih dahulu mendapat kelulusan dari Mahkamah Syariah. Peruntukan Seksyen tersebut bukanlah berlawanan dengan pendapat Mazhab Empat. Sebenarnya kebenaran dari Mahkamah itu bertujuan memberi peluang kepada Mahkamah untuk menyelidiki gadis itu dari segi latar belakang, keadaan fizikal, kemampuan untuk berumahtangga dan menjaga kepentingan kanak-kanak itu.
Adakah Wali Fasik Sah Menjadi Wali?
Mengikut pendapat Mazhab Syafi’e dan Hambali, wali fasik tidak boleh atau tidak sah menjadi wali nikah. Ini berdasarkan sebuah hadith dari Ibnu Abbas bahawa Rasulullah saw bersabda,
"Tidak sah nikah melainkan wali yang adil dan ada saksi yang adil".
(Riwayat Ahmad)
Yang dimaksudkan dengan adil ialah seseorang itu berpegang kuat (istiqamah) kepada ajaran Islam, menunaikan kewajiban agama, mencegah dirinya melakukan dosa-dosa besar seperti berzina, minum arak, menderhaka kepada kedua-dua ibu bapa dan sebagainya serta berusaha tidak melakukan dosa-dosa kecil.
Wali bersifat adil disyaratkan kerana ia dianggap bertanggungjawab dari segi kehendak agama ketika membuat penilaian bakal suami bagi kepentingan dan maslahat perempuan yang hendak berkahwin itu. Manakala wali fasik pula, ia sendiri sudah tidak bertanggungjawab ke atas dirinya apatah lagi hendak bertanggungjawab kepada orang lain.
Untuk menentukan seseorang wali itu bersifat adil atau fasik adalah memadai dilihat dari segi zahir atau luaran sahaja ataupun memadai wali itu mastur iaitu kefasikannya tidak diketahui kerana untuk menilai kefasikan secara batin adalah susah. Walau bagaimanapun jikalau Sultan atau Raja itu fasik yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali maka kewalian itu tetap sah kerana kesahihannya diambilkira dari segi keperluan terhadap wali Raja.
Sebenarnya sebahagian besar ulama-ulama Mutaakhirin dalam Mazhab Syafi’e seperti Imam Al-Ghazali, pendapat pilihan Imam Nawawi dan sebagainya, telah mengeluarkan fatwa bahawa sah wali fasik menjadi wali, selepas beristighfar.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin telah mengingatkan bahawa seseorang wali harus memerhati dan meneliti kelakuan geraklaku calon suami, jangan sampai mengahwini saudara perempuan dengan seorang lelaki yang buruk budi pekertinya atau lemah agamanya ataupun yang tidak sekufu dengan kedudukannya. Sekiranya ia mengahwinkan puterinya dengan seorang lelaki yang zalim atau fasik atau yang lemah agamanya atau peminum arak, maka ia telah melanggar perintah agamanya dan ketika itu ia akan terdedah kepada kemurkaan Allah swt, kerana ia telah mencuaikan persoalan silaturrahim (perhubungan tali kerabat) dan telah memilih jalan yang salah.
Selanjutnya Al-Ghazali menceritakan seorang ayah telah datang meminta nasihat kepada Al-Hasan, Katanya: "Telah banyak orang yang datang meminang puteriku, tetapi aku tidak tahu dengan siapa yang harusku kahwinkan dia". Berkata Al-Hasan: "Kahwinkan puterimu itu dengan orang yang banyak taqwanya kepada Allah. Andaikata suaminya mencintainya kelak pasti ia akan dimuliakan. Tetapi jika suaminya membencinya maka tiada dianiayainya".
Tiada Persetujuan Antara Wali Yang Sedarjat
Wali sedarjat ialah wali-wali yang mempunyai bidang kuasa yang setaraf atau sama. Misalnya bagi pengantin perempuan yang sudah tidak ada lagi bapa dan datuk, maka orang yang berhak menjadi wali mengikut tertib ialah saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan itu.
Persoalan yang timbul ialah saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan itu ramai. Siapa yang berhak menjadi wali?
Mengikut Islam kalau semua wali sedarjat itu bersependapat dan redha dengan bakal suami pilihan perempuan itu maka salah seorang boleh menjadi wali. Yang afdhalnya ialah terdiri daripada orang yang tahu hal-hal agama atau alim.
Satu isu lagi mengenai wali sedarjat ialah jika sebahagian wali sedarjat setuju bakal suami itu manakala sebahagian yang lain menentang bakal suami pilihan pengantin perempuan itu. Siapa berhak menjadi wali dalam kes seperti di atas?
Menurut Jumhur Fuqqaha (Mazhab Syafi’e, Maliki dan Hambali) jika perkahwinan itu dilakukan juga oleh wali sedarjat yang redha dengan bakal suami pilihan pengantin perempuan, maka wali sedarjat yang menentang itu berhak juga menfasakhkan perkahwinan di Mahkamah Syariah jika wali yang menentang itu ada alasan syarak.
Dalam kes tiada persefahaman antara wali-wali sedarjat ini, maka pengantin perempuan hendaklah membuat aduan di Mahkamah Syariah atas nama wali enggan di mana Mahkamah akan membuat keputusan yang adil.
Wali Hakim Atau Wali Raja
Wali hakim ialah Sultan atau Raja yang beragama Islam yang bertindak sebagai wali kepada pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali. Oleh kerana Sultan atau Raja ini sibuk dengan tugas-tugas negara maka ia menyerahkannya kepada Kadhi-Kadhi atau Pendaftar-Pendaftar Nikah untuk bertindak sebagai wali hakim.
Dalam Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan, Seksyen 2 (1) Wali Hakim ditakrifkan sebagai wali yang ditauliahkan oleh Yang DiPertuan Agong dalam hal Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak atau oleh Raja dalam hal sesuatu negeri lain untuk mengahwinkan perempuan yang tidak mempunyai wali dari nasab.
Sebab-Sebab Menggunakan Wali Hakim
Pertama: Tidak Ada Wali Nasab
Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali nasab seperti saudara baru di mana tidak ada saudara-maranya yang memeluk Islam atau perempuan yang tidak mempunyai wali langsung mengikut tertib wali atau anak luar nikah maka wali hakimlah yang menjadi wali dalam perkahwinannya. Rasulullah saw bersabda:
"Sultanlah menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat Al-Khamsah)
Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali maka wali hakimlah yang akan mengahwinkan pengantin perempuan itu.
Kedua: Anak Tidak Sah Taraf Atau Anak Angkat
Anak tidak sah taraf atau anak luar nikah ialah anak yang lahir atau terbentuk sebelum diadakan perkahwinan yang sah. Contohnya, jika sepasang lelaki dan perempuan bersekedudukan sama ada lama atau sekejap kemudian mengandung maka anak yang dikandung itu dianggap anak tidak sah taraf walaupun anak itu lahir dalam perkahwinan yang sah. Ini bermakna benih-benih kandungan yang terjadi sebelum kahwin dan dilahirkan dalam tempoh perkahwinan, maka anakitu tetap dianggap anak tidak sah taraf.
Oleh yang demikian, jika anak yang tidak sah taraf itu perempuan dan ia mahu berkahwin di kemudian hari, maka walinya ialah wali hakim. Begitu juga anak angkat. Jika anak angkat itu berasal dari anak tidak sah taraf, maka walinya adalah wali hakim kerana anak itu dianggap tidak mempunyai wali nasab.
Sekiranya anak angkat itu berasal dari bapa yang sah atau keluarga yang sah, maka walinya ialah berdasarkan susunan atau tertib wali yang ada, bukannya bapa angkat. Oleh itu para ibu bapa atau bapa angkat hendaklah berhati-hati tentang anak yang tidak sah taraf ini, jangan menyembunyikan keaaan sebenar.
Ketiga: Wali Yang Ada Tidak Cukup Syarat.
Dalam Islam, kalau wali aqrab tidak mempunyai cukup syarat untuk menjadi wali seperti gila, tidak sampai umur dan sebagainya maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali ab’ad mengikut tertib wali. Sekiranya satu-satunya wali yang ada itu juga tidak cukup syarat tidak ada lagi wali yang lain maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali hakim.
Keempat: Wali Aqrab Menunaikan Haji Atau Umrah
Dalam kitab Minhaj Talibin dalam bab Nikah menyatakan jika wali aqrab menunaikan haji atau umrah maka hak walinya terlucut dan hak wali itu juga tidak berpindah kepada wali ab’ad, tetapi hak wali itu berpindah kepada wali hakim.
Demikian juga sekiranya wali aqrab itu membuat wakalah wali sebelum membuat haji atau umrah atau semasa ihram maka wakalah wali itu tidak sah. Rasulullah saw bersabda:
"Orang yang ihram haji atau umrah tidak boleh mengahwinkan orang dan juga tidak boleh berkahwin".
(Riwayat Muslim)
Oleh yang demikian, jika seseorang perempuan yang hendak berkahwin, hendaklah menunggu sehingga wali itu pulang dari Mekah atau dengan menggunakan wali hakim.
Kelima: Wali Enggan
Para Fuqaha sependapat bahawa wali tidak boleh enggan untuk menikahkan perempuan yang dalam kewaliannya, tidak boleh menyakitinya atau melarangnya berkahwin walhal pilihan perempuan itu memenuhi kehendak syarak.
Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata: "Saya mempunyai saudara perempuan . Ia dipinang ole seorang pemuda yang mempunyai pertalian darah dengan saya. Saya kahwinkan perempuan itu dengan pemuda tersebut, kemudian diceraikan dengan talak yang boleh dirujuk. Perempuan itu ditinggalkan sampai habis eddahnya. Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu datang lagi untuk meminang, maka saya jawab:"Demi Allah, saya tidak akan mengahwinkan engkau dengan dia selama-lamanya". Peristiwa ini disampaikan kepda Nabi saw. Berhubung dengan peristiwa ini, Allah swt menurunkan ayat Al-Quran :
"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa eddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kahwin dengan bakal suaminya".
(Al-Baqarah : 232)
Kemudian Ma’qil berkata: "Kemudian saya membayar kifarah sumpah dan perempuan itu saya kahwinkan dengan lelaki berkenaan".
(Riwayat Al-Bukhari dan Abu Daud)
Dalam sebuah hadith yang lain dinyatakan:
"Ada tiga perkara yang tidak boleh ditanggungkan iaitu: solat bila telah datang waktunya, jenazah bila telah terlantar dan wanita janda yang telah bertemu jodohnya".
(Riwayat At-Tirmizi dan Hakim)
Oleh yang demikian, perbuatan wali menghalang atau enggan menikahkan wanita tanpa ada alasan syarak adalah dilarang dan dianggap satu tindakan yang zalim kepada wanita itu.
Menurut Jumhur Fuqaha (Syafi’e, Maliki dan Hambali) apabila wali aqrab enggan menikahkan pengantin perempuan, maka wali hakimlah yang menikahkannya. Rasulullah saw bersabda:
"Kalau wali-wali itu enggan maka Sultan atau hakim menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi)
Dalam kes Azizah bte Mat lawan Mat bin Salleh (1976, Jld. II, I JH) mengenai wali enggan di Mahkamah Kadhi Perlis, Yang Arif Kadhi Mahmood bin Lebai Man (pada masa itu) memutuskan, perempuan itu berhak mendapat wali Raja atau hakim untuk berkahwin dengan Mansor bin Isa dengan mas kahwin dan belanja yang tidak ditetapkan.
Fakta kes itu adalah seperti berikut: Seorang perempuan telah menuntut di Mahkamah Kadhi supaya ia dikahwinkan dengan Mansor bin Isa secara wali hakim kerana bapanya enggan mewalikannya dalam perkahwinan itu dengan mas kahwin sebanyak RM80.00 dan hantaran RM202.00 tunai.
Pihak bakal suami telah mencuba beberapa kali untuk meminang perempuan tetapi dihalang oleh bapa dengan alasan "Tunggulah dulu sehingga anak perempuannya mendapat pekerjaan". Bakal suami itu bekerja sebagai Pembantu Audit.
Kadhi ketika memutuskan kes itu menyatakan :
"Berdasarkan kepada hukum syarak, apabila seseorang wali itu tidak mahu mewalikan nikah anaknya kerana enggan atau berselisihfaham, maka bolehlah dinikahkan perempuan itu dengan wali hakim atau wali Raja dengan alasan:
Pertama: Daripada Aisyah r.a. Nabi saw bersabda:
"Jika mereka berselisih , maka Sultan atau Rajalah wali bagi orang yang tidak ada wali".
(Riwayat Abu Daud, Ahmad dan At-Tirmizi)
Kedua: Rasulullah saw bersabda:
"Kalau datang kepadamu lelaki beragama dan berakhlak baik, maka nikahkanlah ia. Jika kamu tidak melakukannya nescaya akan terjadi fitnah dan kerosakan yang besar".
(Riwayat At-Tirmizi)
Ini bermakna wali yang enggan menikahkan seseorang perempuan tanpa alasan munasabah mengikut syarak, maka hak wali itu berpindah kepada wali hakim.
Wali Berada Jauh Atau Ghaib
Sering timbul dalam masyarakat kita, wali aqrab kepada pengantin perempuan berada jauh atau ghaib. Ini menimbulkan masalah kepada pengantin perempuan iaitu siapa yang berhak menjadi wali?.
Mengikut Mazhab Syafi’e, kalau wali aqrab ghaib atau berada jauh dan tiada walinya maka yang menjadi wali ialah wali hakim di negerinya, bukan wali ab’ad. Ini berdasarkan wali yang ghaib atau berada jauh itu pada prinsipnya tetap berhak menjadi wali tetapi kerana sukar melaksanakan perwaliannya, maka haknya diganti oleh wali hakim.
Persoalan yang tmbul ialah apakah ukuran yang dikatakan jauh itu? Menurut Mazhab Syafi’e, ukuran jauh itu ialah dua marhalah yang mengharuskan sembahyang qasar iaitu perjalanan unta sehari semalam di padang pasir. Berdasarkan halangan dan kesukaran perjalanan itulah maka wali hakim mengambil alih tugas wali aqrab yang berada jauh itu.
Mengikut ukuran sekarang, dua marhalah itu adalah sejauh 91 km. Kalau pada masa dahulu perjalanan dua marhalah ialah sejauh satu hari satu malam perjalanan unta, maka pada masa sekarang perjalanan dua marhalah itu hanya boleh sampai dalam tempoh beberapa jam sahaja, bahkan jarak perjalanan di antara benua dan lautan seolah-olah seperti dalam satu daerah sahaja.
Oleh sebab itu, ulama sekarang berpendapat bila wali aqrab berada jauh atau ghaib meskipun tempat tinggalnya di Eropah atau Amerika, hendaklah wali aqrab itu dihubungi melalui surat supaya ia mewakilkan hak kewaliannya kepada orang lain untuk mengahwinkan pengantin perempuan atau menunggu kepulangannya (jika ia mahu pulang segera) kerana perhubungan sekarang amat mudah dan cepat.
Sekiranya wali aqrab itu ghaib atau berada jauh dan tiadak diketahui langsung alamatnya maka barulah hak kewalian itu berpindah kepada wali hakim.
Dalam kes Hashim bin Mat Isa lawan Fatimah bte Ahmad (1977, Jld. III, I JH), Yang Arif Kadhi Besar Kedah, Syeikh Ismail bin Hj. Omar (pada masa itu) memutuskan perkahwinan kahwin lari yang dibuat di Pekan Siam, Padang Besar, Thailand itu tidak sah.
Fakta kesnya adalah seperti berikut: Kedua-dua pasangan itu warganegara Malaysia. Pengantin perempuan tinggal bersama bapanya (wali) di Batu 5, Jalan Sanglang, Kedah. Pengantin perempuan dan pasangannya telah berkahwin lari di Kampung Pekan Siam, Padang Besar, Thailand. Sekembalinya ke Kedah pasangan itu mahu mendaftarkan parkahwinannya. Permohonan itu dibuat di Mahkamah Syariah Alor Setar, Kedah. Ketika menyampaikan keputusan permohonan pendaftaran perkahwiann itu, Yang Arif Kadhi Besar memutuskan:
"Perkahwinan pasangan itu tidak sah pada hukum syarak keranan jarak di antara tempat wali berada pada masa itu dengan tempat akad nikah yang dibuat di Kampung Pekan Siam itu tidak sampai dua marhalah dan perempuan itu diperintahkna supaya bereddah".
Sebagai pengajaran dari keputusan Mahkamah itu, maka adalah mustahak mana-mana perkahwiann yang hendak dibuat di luar kariah, daerah dan negeri hendaklah terlebih dahulu merujuk kepada Pejabat kadhi yang berdekatan dengan tempat tinggal.
Wakalah Wali (Wali Mewakilkan Kepada Orang Lain)
Dalam Islam, terdapat satu prinsip Undang-Undang Islam yang menyatakan:
"Tiap-tiap sesuatu yang boleh seseorang melaksanakan dengan sendirinya, bolehlah ia mewakilkan sesuatu itu kepada orang lain".
Menurut prinsip tersebut, telah sepakat Fuqaha bahawa setiap akad yang dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai bidang kuasa, maka akad itu boleh juga ia mewakilkan kepada orang lain misalnya dalam akad nikah, jualbeli, cerai, sewa menyewa, tuntutan hak dan akad yang lain.
Dalam hal akad nikah ini, apabila seseorang wali aqrab itu berada jauh, tidak dapat hadir pada majlis akad nikah atau wali itu boleh hadir tetapi ia tidak mampu untuk menjalankan akad nikah itu, maka wali itu bolehlah mewakilkan kepada orang lain yang mempunyai kelayakan syar’ie.
Begitu juga bagi bakal suami. Kalau ia tidak dapat hadir pada majlis akad nikah kerana ia sedang belajar di luar negeri, maka ia bolehlah mewakilkan kepada orang lain yang mempunyai kelayakan syar’ie bagi menerima ijab (menjawab) nikah itu. Walau bagaimanapun bagi perempuan (bakal isteri) ia tidak ada bidang kuasa mewakilkan kepada orang lain untuk megahwinkannya kerana haknya ada di tangan walinya.
Menurut Jumhur Fuqaha, syarat-syarat sah orang yang boleh menjadi wakil wali ialah:
1. Lelaki
2. Baligh
3. Merdeka
4. Islam
5. Berakal (akal tidak lemah)
6. Wakalah itu tidak boleh dibuat semasa orang yang memberi wakil itu menunaikan ihram haji atau umrah.
Orang yang menerima wakil hendaklah melaksanakan wakalah itu dengan sendirinya sesuai dengan yang ditentukan semasa membuat wakalah itu kerana orang yang menerima wakil tidak boleh mewakilkan pula kepada orang lain kecuali dengan izin memberi wakil atau bila diserahkan urusan itu kepada wakil sendiri seperti kata pemberi wakil: "Terserahlah kepada engkau (orang yang menerima wakil) melaksanakan perwakilan itu, engkau sendiri atau orang lain". Maka ketika itu, boleh wakil berwakil pula kepada orang lain untuk melaksanakan wakalah itu.
Wakil wajib melaksanakan wakalah menurut apa yang telah ditentukan oleh orang yang memberi wakil. Misalnya seorang berwakil kepadanya untuk mengahwinkan perempuan itu dengan si A, maka wajiblah kahwinkan perempuan itu dengan si A.
Kalau wakil itu mengahwinkan peempuan itu dengan si B, maka perkahwinan itu tidak sah.
Mengikut amalan di Malaysia, selalunya wakalah wali dibuat di hadapan Kadhi atau Pendaftar Perkahwinan dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Sebelum melakukan walkalah wali, adalah mustahak wali itu mengkaji latar belakang orang yang hendak menereima wakil itu.
Penutup
Demikianlah bidang kuasa wali adalah amat penting dalam perkahwinan kerana ia menentukan sah atau tidak sesuatu perkahwinan. Oleh itu, setiap ibu bapa dan pengantin perempuan sebelum melakukan sesuatu perkahwinan hendaklah meyemak dahulu siapa yang berhak menjadi wali mengikut tertib dan susunan wali. Sekiranya para ibu bapa dan penjaga tidak mengetahui tentang wali maka hendaklah merujuk kepada mana-mana Pejabat Kadhi, Imam atau orang alim untuk mendapat penjelasan.
Oleh : Ghafani Awang The
Pendahuluan
Perkahwinan adalah amanah Allah swt. Untuk menyempurnakan amanah Allah itu ia memerlukan lima rukun iaitu:
1. Calon suami
2. Calon isteri
3. Wali
4. Dua orang saksi
5. Sighah ijab qabul
Jika kekurangan salah satu rukun itu maka perkahwinan itu tidak sah. Salah satu isu penting yang sering timbul dan menjadi bahan perbualan dalam masyarakat kita ialah bidang kuasa wali. Terdapat kes-kes seperti kahwin lari, akad nikah dua kali, kahwin paksa, bapa tidak membenarkan anaknya berkahwin dengan pemuda pilihan anak, bapa angkat bertindak sebagai wali kepada anak angkatnya dan sebagainya, di mana semuanya berkisar mengenai bidang kuasa wali. Persoalan yang timbul ialah apakah bidang kuasa wali yang sebenarnya untuk menyempurna dan memuliakan amanah Allah swt itu.
Pengertian Wali Dan Tertibnya
Wali bererti teman karib, pemimpin, pelindung atau penolong yang terdiri daripada ahli waris lelaki yang terdekat kepada pengantin perempuan. Wali ini merupakan salah satu rukun dalam perkahwinan. Dalil-dalil yang menunjukkan amat mustahaknya wali ialah:
Firman Allah swt:
"Janganlah kamu menghalang mereka berkahwin kembali dengan bekas suami mereka apabila telah terdapat kerelaan antara mereka dengan cara yang makruf"
( Al-Baqarah : 232)
"Dan janganlah kamu kahwinkan perempuan-perempuan kamu dengan lelaki musyrik (kafir) hingga meereka beriman".
( Al-Baqarah : 222)
Dari hadith Nabi saw:
"Dari Abi Musa r.a. Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada nikah melainkan dengan adanya wali".
(Riwayat Al-Khamsah dan An-Nasa’i)
Oleh kerana wali merupakan salah satu syarat sah nikah maka bukan semua orang boleh menjadi wali. Syarat-syarat sah menjadi wali ialah:
1. Islam
2. Baligh (sekurang-kurangnya sudah berumur 15 tahun).
3. Berakal - Orang gila, mabuk dan orang yang sangat bodoh tidak sah menjadi wali.
4. Lelaki - Orang perempuan tidak sah menjadi wali.
5. Adil
6. Merdeka
Manakala orang buta atau bisu pula adalah diharuskan menjadi wali kerana ia boleh menimbang dan memikirkan mengenai soal kufu dan hal-hal kepentingan kepada wanita, selagi ia boleh memahami isyarat serta tulisan dan ia memenuhi starat-syarat sah menjadi wali.
Susunan Wali
Susunan wali mengikut tertib alah:
1. Bapa kandung
2. Datuk sebelah bapa ke atas
3. Saudara lelaki seibu-sebapa
4. Saudara lelaki sebapa
5. Anak saudara lelaki seibu-sebapa
6. Anak saudara lelaki sebapa
7. Bapa saudara sebelah bapa seibu-sebapa
8. Bapa saudara sebelah bapa sebapa
9. Anak lelaki bapa saudara sebelah bapa seibu-sebapa ke bawah
10. Anak lelaki bapa saudara sebelah bapa sebapa ke bawah
11. Bapa saudara seibu-sebapa
12. Bapa saudara bapa sebapa
13. Anak lelaki bapa saudara seibu-sebapa
14. Anak lelaki bapa saudara sebapa ke bawah
15. Bapa saudara datuk seibu-sebapa
16. Bapa saudara datuk sebapa
17. Anak lelaki bapa saudara datuk seibu-sebapa ke bawah
18. Anak lelaki bapa saudara datuk sebapa ke bawah
19. Muktiq (tuan kepada hamba perempuan yang dibebaskan).
20. Sekalian asabah kepada seorang muktiq
21. Raja/Sultan.
Sekiranya wali pertama tidak ada, hendaklah diambil wali yang kedua dan jika wali kedua tidak ada hendaklah diambil wali ketiga dan begitulah seterusnya.
Mengikut tertib wali, bapa hendaklah menjadi wali bagi semua perkahwinan anaknya. Dan jika bapa tidak ada kerana meninggal dunia maka hak wali berpindah kepada datuk pengantin perempuan itu; dan jika datuk juga meninggal dunia maka hak wali itu berpindah kepada saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan dan begitulah bidang kuasa wali mengikut tertib susunannya.
Sekiranya pengantin perempuan itu tidak mempunyai wali maka ia akan dinikahkan secara wali hakim. Rasulullah saw bersabda:
"Maka Sultanlah yang menjadi wali bagi sesiapa yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud)
Dalam kes Ismail bin Abdul Majid lawan Aris Fadilah dan Insun bt Abdul Majid (1990, Jld. V, II, JH) di Mahkamah Syariah, Kuala Kangsar, Perak, Yang Arif Hakim Amran bin Satar telah memutuskan perkahwinan yang diwalikan oleh wali ab’ad sedangkan wali aqrab masih ada maka perkahwinan itu tidak sah.
(Wali Ab’ad : wali yang jauh perhubungannya dengan pengantin perempuan mengikut susunan wali).
(Wali Aqrab : Wali yang paling dekat hubungannya dengan pengantin perempuan mengikut susunan wali).
Fakta kesnya adalah seperti berikut: Pengantin perempuan telah berkahwin dengan seorang pemuda pada 6hb Mei, 1974 di Kampung Kandang Hilir, Kota Lama Kanan, Perak. Wali yang bertindak kepada perempuan tersebut ialah saudara lelakinya kerana bapa perempuan itu telah meninggal dunia. Pengantin perempuan itu sebenarnya juga masih mempunyai datuk yang masih hidup dengan segar dan waras yang tinggal di Bt. 8, Batu Laut, Kuala Langat, Selangor. Datuk itu tidak diberitahu mengenai perkahwinan cucunya itu. Kes ini telah dibawa ke Mahkamah dan telah diputuskan perkahwinan itu tidak sah atau batal dengan alasan:
1. Saudara lelaki pada pengantin perempuan itu tidak ada bidang kuasa wali kerana wali aqrab iaitu datuk perempuan itu masih ada.
2. Akal fikiran datuk itu masih waras maka hak kelayakan wali masih tidak hilang.
Berdasarkan analisa kes tersebut, sepatutnya pengantin perempuan itu menghubungi datuknya bagi mewalikan perkahwinannya. Jika datuknya itu tidak dapat hadir, maka datuknya boleh mewakilkan (wakalah wali) kepada orang lain, untuk menikahkan cucunya itu.
Wali Mujbir
Wali mujbir ertinya wali yang mempunyai bidang kuasa mengahwinkan anak atau cucu perempuan yang masih perawan atau dara tanpa meminta izin perempuan itu terlebih dahulu. Menurut Mazhab Shafi’e, wali mujbir itu terdiri daripada bapa, datuk dan seterusnya sampai ke atas. Manakala wali-wali lain seperti saudara lelaki kandung sebapa, bapa saudara dan sebagainya bukan wali mujbir iaitu tidak ada bidang kuasa memaksa perempuan berkahwin. Dalilnya ialah:
"Perempuan janda lebih berhak pada dirinya daripada walinya dan perempuan perawan atau dara dikahwinkan oleh bapanya".
(Riwayat Darul-Qutni)
Hadith ini menunjukkan bapa atau datuk mengahwinkan anak perempuan yang perawan tanpa meminta izin anak perempuan itu terlebih dahulu adalah sah.
Dalam kes Syed Abdullah Al-Shatiri lawan Syarifah Salmah (1959, Jld. I, II, JH), ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura, Yang Arif Hakim Ahmad bin Ibrahim menyatakan, mengikut Mazhab Shafi’e, apabila seorang anak dara dikahwinkan oleh bapanya tanpa minta izin anak dara itu terlebih dahulu, maka adalah sah perkahwinan itu.
Fakta kes itu adalah seperti berikut: Seorang bapa Syed Abdullah Al-Shatiri mengahwinkan anak daranya Syarifah Salmah dengan Syed Idros bin Saggof Al-Jofri tanpa izin anak dara itu. Bapa itu bertindak sebagai wali dan ia sendiri menikahkan perkahwinan itu. Anak perempuan itu enggan menerima suami pilihan bapanya. Anak perempuan itu membawa kes itu ke Mahkamah Syariah.
Mahkamah Syariah Singapura telah mengeluarkan perintah bahawa perkahwinan itu tidak sah berdasarkan hadith:
Pertama:
Rasululah saw bersabda:
"Janganlah kahwinkan seseorang perempuan yang tidak anak dara (janda) sehingga kamu mendapat kuasanya terhadap perkahwinnan itu dan janganlah kahwinkan seorang anak dara sehingga dipinta izinnya".
(Riwayat Al-Bukhari)
Kedua:
Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang yang bukan anak dara mempunyai hak yang lebih besar mengenai dirinya daripada penjaganya. Persetujuan seorang anak dara haruslah dipinta berkenaan dengan sesuatu mengenai dirinya dan diam membisu pada haknya itu adalah bererti memberikan persetujuan".
(Riwayat Muslim)
Bapa telah membuat rayuan kepada Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura bahawa ia mengahwinkan anak dara perempuannya tanpa izin perempuan itu atas bidang kuasanya sebagai wali mujbir.
Menurut Ahmad Ibrahim ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura itu menyatakan:
"Hadith-hadith yang menjadi alasan Mahkamah Syariah Singapura itu sebenarnya dipertikaikan oleh ulama mengenai makna "meminta izin anak dara" yang terdapat dalam hadith-hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Menurut Imam Malik, Imam Shafi’e, Imam Ahmad dan ulama-ulama dalam Mazhab Syafi’e seperti Imam Nawawi, maksud "meminta izin anak dara" adalah sunat bagi wali mujbir meminta izin terlebih dahulu daripada pengantin perempuan seperti mana dengan maksud hadith yang dieriwayatkan oleh Darul-Qutni".
Selanjutnya Ahmad Ibrahim memetik pandangan Mazhab Syafi’e sepertimana yang terdapat dalam kitab Minhaj Talibin, karangan Imam Nawawi:
"Seseorang bapa boleh mengikut kehendaknya mengahwinkan anak perempuannya tanpa meminta izinnya, tidak kira berapa umurnya dengan syarat anak itu masih anak dara. Walau bagaimanapun adalah sunat berunding dengannya mengenai bakal suaminya itu; dan izin rasminya ke atas perkahwinan itu adalah perlu jika dia telah kehilangan daranya. Manakala seseorang bapa mengahwinkan anak perempuan sewaktu anak itu masih di bawah umur, maka anak perempuan itu tidaklah boleh diserahkan kepada suaminya sebelum dia mencapai umur akil baligh. Jika berlaku kegagalan pada pihak bapanya, maka bapa kepada bapanya (datuknya sebelah bapa) hendaklah menjalankan semua kuasanya. Kehilangan dara menghapuskan hak mengahwinkan anak perempuan tanpa izinnya, dan tidaklah ada perbezaan di dalam aspek ini bahawa kehilangan dara antara yang disebabkan oleh persetubuhan yang halal dengan yang diakibatkan oleh persetubuhan haram. Sebaliknya hak itu tetap tidak terjejas jika kehilangan itu berlaku tanpa persentuhan badaniah, umpamanya akibat terjatuh ke atas tanah".
Ketika menyampaikan keputusan Lembaga Rayuan itu juga Ahmad Ibrahim merujuk kepada buku "Mohamed Law Of Inheritance, Marriage And Right Of Women" oleh Syeikh Abdul Kadir bin Muhammad Al-Makkawi menyatakan : Seseorang bapa atau datuk mengahwinkan seorang anak dara tanpa persetujuan anak dara itu adalah sah dengan syarat:
1. Janganlah hendaknya terdapat antara anak dara itu dengan bapanya atau datuknya yang mengahwinkannya itu apa-apa sifat permusuhan yang nyata dan tidak pula terlindung daripada pengetahuan orang-orang di tempat anak dara itu berada.
2. Si suami itu hendaklah sama tarafnya (sekufu) dengan anak dara itu.
3. Si suami itu hendaklah mampu membayar mas kahwin.
4. Janganlah hendaknya terdapat sifat permusuhan baik di luar mahupun di dalam antara anak dara itu dengan si suami.
5. Bapa atau datuk itu tidak boleh mengahwinkan anak daranya dengan mas kahwin yang terkurang menurut nilai mata wang negara itu.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, Lembaga Rayuan Mahkamah Syariah Singapura berpendapat bahawa perkahwinan yang dianjurkan oleh wali mujbir tanpa izin perempuan itu adalah sah. Maka keputusan Mahkamah Syariah yang terdahulu itu telah dibatalkan.
Perempuan Janda
Wali Mujbir atau wali-wali yang lain tidak boleh mengahwinkan perempuan janda kecuali hendaklah mendapat izin perempuan itu terlebih dahulu. Rasulullah saw telah bersabda:
"Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda, "Perempuan janda diajak bermusyawarah tentang urusan dirinya, kemudian jika ia diam, maka itulah izinnya, tetapi jika ia menolak maka tiada paksa ke atasnya".
(Riwayat Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah)
Dalam hadith yang lain, Rasulullah saw telah menyatakan:
"Dari Khansa’ binti Khadam, bahawasanya bapa Khansa’ telah mengahwinkan dia, sedang ia perempuan janda, lalu ia tidak suka demikian itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menolak perkahwinan itu".
(Riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)
Ini bermakna perempuan janda mempunyai bidang kuasa menolak perkahwinan yang dibuat tanpa kebenarannya iaitu ia boleh menfasakhkan perkahwinan itu di Mahkamah Syariah.
Perkahwinan Bawah Umur
Menurut Mazhab Empat bahawa dalam Islam tidak ada larangan had umur untuk berkahwin. Ini bermakna kanak-kanak kecil boleh berkahwin.
Daripada Siti Aisyah r.a.,
"Bahawasanya Nabi saw telah mengahwini Aisyah sedang ia berumur enam tahun dan Aisyah tinggal bersama Nabi semasa ia berumur sembilan tahun"..
(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Hadith ini menunjukkan bahawa dalam Islam tiada had umur larangan berkahwin. Walau bagaimanapun menurut Seksyen 8, Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan 1984 menyatakan:
"Tiada sesuatu perkahwinan boleh diakadnikahkan atau didaftarkan di bawah Akta ini jika lelaki itu berumur kurang daripada lapan belas tahun atau perempuan itu berumur kurang daripada enam belas tahun kecuali jika Hakim Syariah telah memberi kebenarannya secara bertulis dalam hal keadaan tertentu".
Menurut Seksyen tersebut perkahwinan kanak-kanak di bawah umur hendaklah terlebih dahulu mendapat kelulusan dari Mahkamah Syariah. Peruntukan Seksyen tersebut bukanlah berlawanan dengan pendapat Mazhab Empat. Sebenarnya kebenaran dari Mahkamah itu bertujuan memberi peluang kepada Mahkamah untuk menyelidiki gadis itu dari segi latar belakang, keadaan fizikal, kemampuan untuk berumahtangga dan menjaga kepentingan kanak-kanak itu.
Adakah Wali Fasik Sah Menjadi Wali?
Mengikut pendapat Mazhab Syafi’e dan Hambali, wali fasik tidak boleh atau tidak sah menjadi wali nikah. Ini berdasarkan sebuah hadith dari Ibnu Abbas bahawa Rasulullah saw bersabda,
"Tidak sah nikah melainkan wali yang adil dan ada saksi yang adil".
(Riwayat Ahmad)
Yang dimaksudkan dengan adil ialah seseorang itu berpegang kuat (istiqamah) kepada ajaran Islam, menunaikan kewajiban agama, mencegah dirinya melakukan dosa-dosa besar seperti berzina, minum arak, menderhaka kepada kedua-dua ibu bapa dan sebagainya serta berusaha tidak melakukan dosa-dosa kecil.
Wali bersifat adil disyaratkan kerana ia dianggap bertanggungjawab dari segi kehendak agama ketika membuat penilaian bakal suami bagi kepentingan dan maslahat perempuan yang hendak berkahwin itu. Manakala wali fasik pula, ia sendiri sudah tidak bertanggungjawab ke atas dirinya apatah lagi hendak bertanggungjawab kepada orang lain.
Untuk menentukan seseorang wali itu bersifat adil atau fasik adalah memadai dilihat dari segi zahir atau luaran sahaja ataupun memadai wali itu mastur iaitu kefasikannya tidak diketahui kerana untuk menilai kefasikan secara batin adalah susah. Walau bagaimanapun jikalau Sultan atau Raja itu fasik yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali maka kewalian itu tetap sah kerana kesahihannya diambilkira dari segi keperluan terhadap wali Raja.
Sebenarnya sebahagian besar ulama-ulama Mutaakhirin dalam Mazhab Syafi’e seperti Imam Al-Ghazali, pendapat pilihan Imam Nawawi dan sebagainya, telah mengeluarkan fatwa bahawa sah wali fasik menjadi wali, selepas beristighfar.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin telah mengingatkan bahawa seseorang wali harus memerhati dan meneliti kelakuan geraklaku calon suami, jangan sampai mengahwini saudara perempuan dengan seorang lelaki yang buruk budi pekertinya atau lemah agamanya ataupun yang tidak sekufu dengan kedudukannya. Sekiranya ia mengahwinkan puterinya dengan seorang lelaki yang zalim atau fasik atau yang lemah agamanya atau peminum arak, maka ia telah melanggar perintah agamanya dan ketika itu ia akan terdedah kepada kemurkaan Allah swt, kerana ia telah mencuaikan persoalan silaturrahim (perhubungan tali kerabat) dan telah memilih jalan yang salah.
Selanjutnya Al-Ghazali menceritakan seorang ayah telah datang meminta nasihat kepada Al-Hasan, Katanya: "Telah banyak orang yang datang meminang puteriku, tetapi aku tidak tahu dengan siapa yang harusku kahwinkan dia". Berkata Al-Hasan: "Kahwinkan puterimu itu dengan orang yang banyak taqwanya kepada Allah. Andaikata suaminya mencintainya kelak pasti ia akan dimuliakan. Tetapi jika suaminya membencinya maka tiada dianiayainya".
Tiada Persetujuan Antara Wali Yang Sedarjat
Wali sedarjat ialah wali-wali yang mempunyai bidang kuasa yang setaraf atau sama. Misalnya bagi pengantin perempuan yang sudah tidak ada lagi bapa dan datuk, maka orang yang berhak menjadi wali mengikut tertib ialah saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan itu.
Persoalan yang timbul ialah saudara lelaki seibu-sebapa kepada pengantin perempuan itu ramai. Siapa yang berhak menjadi wali?
Mengikut Islam kalau semua wali sedarjat itu bersependapat dan redha dengan bakal suami pilihan perempuan itu maka salah seorang boleh menjadi wali. Yang afdhalnya ialah terdiri daripada orang yang tahu hal-hal agama atau alim.
Satu isu lagi mengenai wali sedarjat ialah jika sebahagian wali sedarjat setuju bakal suami itu manakala sebahagian yang lain menentang bakal suami pilihan pengantin perempuan itu. Siapa berhak menjadi wali dalam kes seperti di atas?
Menurut Jumhur Fuqqaha (Mazhab Syafi’e, Maliki dan Hambali) jika perkahwinan itu dilakukan juga oleh wali sedarjat yang redha dengan bakal suami pilihan pengantin perempuan, maka wali sedarjat yang menentang itu berhak juga menfasakhkan perkahwinan di Mahkamah Syariah jika wali yang menentang itu ada alasan syarak.
Dalam kes tiada persefahaman antara wali-wali sedarjat ini, maka pengantin perempuan hendaklah membuat aduan di Mahkamah Syariah atas nama wali enggan di mana Mahkamah akan membuat keputusan yang adil.
Wali Hakim Atau Wali Raja
Wali hakim ialah Sultan atau Raja yang beragama Islam yang bertindak sebagai wali kepada pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali. Oleh kerana Sultan atau Raja ini sibuk dengan tugas-tugas negara maka ia menyerahkannya kepada Kadhi-Kadhi atau Pendaftar-Pendaftar Nikah untuk bertindak sebagai wali hakim.
Dalam Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan, Seksyen 2 (1) Wali Hakim ditakrifkan sebagai wali yang ditauliahkan oleh Yang DiPertuan Agong dalam hal Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak atau oleh Raja dalam hal sesuatu negeri lain untuk mengahwinkan perempuan yang tidak mempunyai wali dari nasab.
Sebab-Sebab Menggunakan Wali Hakim
Pertama: Tidak Ada Wali Nasab
Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali nasab seperti saudara baru di mana tidak ada saudara-maranya yang memeluk Islam atau perempuan yang tidak mempunyai wali langsung mengikut tertib wali atau anak luar nikah maka wali hakimlah yang menjadi wali dalam perkahwinannya. Rasulullah saw bersabda:
"Sultanlah menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat Al-Khamsah)
Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali maka wali hakimlah yang akan mengahwinkan pengantin perempuan itu.
Kedua: Anak Tidak Sah Taraf Atau Anak Angkat
Anak tidak sah taraf atau anak luar nikah ialah anak yang lahir atau terbentuk sebelum diadakan perkahwinan yang sah. Contohnya, jika sepasang lelaki dan perempuan bersekedudukan sama ada lama atau sekejap kemudian mengandung maka anak yang dikandung itu dianggap anak tidak sah taraf walaupun anak itu lahir dalam perkahwinan yang sah. Ini bermakna benih-benih kandungan yang terjadi sebelum kahwin dan dilahirkan dalam tempoh perkahwinan, maka anakitu tetap dianggap anak tidak sah taraf.
Oleh yang demikian, jika anak yang tidak sah taraf itu perempuan dan ia mahu berkahwin di kemudian hari, maka walinya ialah wali hakim. Begitu juga anak angkat. Jika anak angkat itu berasal dari anak tidak sah taraf, maka walinya adalah wali hakim kerana anak itu dianggap tidak mempunyai wali nasab.
Sekiranya anak angkat itu berasal dari bapa yang sah atau keluarga yang sah, maka walinya ialah berdasarkan susunan atau tertib wali yang ada, bukannya bapa angkat. Oleh itu para ibu bapa atau bapa angkat hendaklah berhati-hati tentang anak yang tidak sah taraf ini, jangan menyembunyikan keaaan sebenar.
Ketiga: Wali Yang Ada Tidak Cukup Syarat.
Dalam Islam, kalau wali aqrab tidak mempunyai cukup syarat untuk menjadi wali seperti gila, tidak sampai umur dan sebagainya maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali ab’ad mengikut tertib wali. Sekiranya satu-satunya wali yang ada itu juga tidak cukup syarat tidak ada lagi wali yang lain maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali hakim.
Keempat: Wali Aqrab Menunaikan Haji Atau Umrah
Dalam kitab Minhaj Talibin dalam bab Nikah menyatakan jika wali aqrab menunaikan haji atau umrah maka hak walinya terlucut dan hak wali itu juga tidak berpindah kepada wali ab’ad, tetapi hak wali itu berpindah kepada wali hakim.
Demikian juga sekiranya wali aqrab itu membuat wakalah wali sebelum membuat haji atau umrah atau semasa ihram maka wakalah wali itu tidak sah. Rasulullah saw bersabda:
"Orang yang ihram haji atau umrah tidak boleh mengahwinkan orang dan juga tidak boleh berkahwin".
(Riwayat Muslim)
Oleh yang demikian, jika seseorang perempuan yang hendak berkahwin, hendaklah menunggu sehingga wali itu pulang dari Mekah atau dengan menggunakan wali hakim.
Kelima: Wali Enggan
Para Fuqaha sependapat bahawa wali tidak boleh enggan untuk menikahkan perempuan yang dalam kewaliannya, tidak boleh menyakitinya atau melarangnya berkahwin walhal pilihan perempuan itu memenuhi kehendak syarak.
Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata: "Saya mempunyai saudara perempuan . Ia dipinang ole seorang pemuda yang mempunyai pertalian darah dengan saya. Saya kahwinkan perempuan itu dengan pemuda tersebut, kemudian diceraikan dengan talak yang boleh dirujuk. Perempuan itu ditinggalkan sampai habis eddahnya. Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu datang lagi untuk meminang, maka saya jawab:"Demi Allah, saya tidak akan mengahwinkan engkau dengan dia selama-lamanya". Peristiwa ini disampaikan kepda Nabi saw. Berhubung dengan peristiwa ini, Allah swt menurunkan ayat Al-Quran :
"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa eddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kahwin dengan bakal suaminya".
(Al-Baqarah : 232)
Kemudian Ma’qil berkata: "Kemudian saya membayar kifarah sumpah dan perempuan itu saya kahwinkan dengan lelaki berkenaan".
(Riwayat Al-Bukhari dan Abu Daud)
Dalam sebuah hadith yang lain dinyatakan:
"Ada tiga perkara yang tidak boleh ditanggungkan iaitu: solat bila telah datang waktunya, jenazah bila telah terlantar dan wanita janda yang telah bertemu jodohnya".
(Riwayat At-Tirmizi dan Hakim)
Oleh yang demikian, perbuatan wali menghalang atau enggan menikahkan wanita tanpa ada alasan syarak adalah dilarang dan dianggap satu tindakan yang zalim kepada wanita itu.
Menurut Jumhur Fuqaha (Syafi’e, Maliki dan Hambali) apabila wali aqrab enggan menikahkan pengantin perempuan, maka wali hakimlah yang menikahkannya. Rasulullah saw bersabda:
"Kalau wali-wali itu enggan maka Sultan atau hakim menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali".
(Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi)
Dalam kes Azizah bte Mat lawan Mat bin Salleh (1976, Jld. II, I JH) mengenai wali enggan di Mahkamah Kadhi Perlis, Yang Arif Kadhi Mahmood bin Lebai Man (pada masa itu) memutuskan, perempuan itu berhak mendapat wali Raja atau hakim untuk berkahwin dengan Mansor bin Isa dengan mas kahwin dan belanja yang tidak ditetapkan.
Fakta kes itu adalah seperti berikut: Seorang perempuan telah menuntut di Mahkamah Kadhi supaya ia dikahwinkan dengan Mansor bin Isa secara wali hakim kerana bapanya enggan mewalikannya dalam perkahwinan itu dengan mas kahwin sebanyak RM80.00 dan hantaran RM202.00 tunai.
Pihak bakal suami telah mencuba beberapa kali untuk meminang perempuan tetapi dihalang oleh bapa dengan alasan "Tunggulah dulu sehingga anak perempuannya mendapat pekerjaan". Bakal suami itu bekerja sebagai Pembantu Audit.
Kadhi ketika memutuskan kes itu menyatakan :
"Berdasarkan kepada hukum syarak, apabila seseorang wali itu tidak mahu mewalikan nikah anaknya kerana enggan atau berselisihfaham, maka bolehlah dinikahkan perempuan itu dengan wali hakim atau wali Raja dengan alasan:
Pertama: Daripada Aisyah r.a. Nabi saw bersabda:
"Jika mereka berselisih , maka Sultan atau Rajalah wali bagi orang yang tidak ada wali".
(Riwayat Abu Daud, Ahmad dan At-Tirmizi)
Kedua: Rasulullah saw bersabda:
"Kalau datang kepadamu lelaki beragama dan berakhlak baik, maka nikahkanlah ia. Jika kamu tidak melakukannya nescaya akan terjadi fitnah dan kerosakan yang besar".
(Riwayat At-Tirmizi)
Ini bermakna wali yang enggan menikahkan seseorang perempuan tanpa alasan munasabah mengikut syarak, maka hak wali itu berpindah kepada wali hakim.
Wali Berada Jauh Atau Ghaib
Sering timbul dalam masyarakat kita, wali aqrab kepada pengantin perempuan berada jauh atau ghaib. Ini menimbulkan masalah kepada pengantin perempuan iaitu siapa yang berhak menjadi wali?.
Mengikut Mazhab Syafi’e, kalau wali aqrab ghaib atau berada jauh dan tiada walinya maka yang menjadi wali ialah wali hakim di negerinya, bukan wali ab’ad. Ini berdasarkan wali yang ghaib atau berada jauh itu pada prinsipnya tetap berhak menjadi wali tetapi kerana sukar melaksanakan perwaliannya, maka haknya diganti oleh wali hakim.
Persoalan yang tmbul ialah apakah ukuran yang dikatakan jauh itu? Menurut Mazhab Syafi’e, ukuran jauh itu ialah dua marhalah yang mengharuskan sembahyang qasar iaitu perjalanan unta sehari semalam di padang pasir. Berdasarkan halangan dan kesukaran perjalanan itulah maka wali hakim mengambil alih tugas wali aqrab yang berada jauh itu.
Mengikut ukuran sekarang, dua marhalah itu adalah sejauh 91 km. Kalau pada masa dahulu perjalanan dua marhalah ialah sejauh satu hari satu malam perjalanan unta, maka pada masa sekarang perjalanan dua marhalah itu hanya boleh sampai dalam tempoh beberapa jam sahaja, bahkan jarak perjalanan di antara benua dan lautan seolah-olah seperti dalam satu daerah sahaja.
Oleh sebab itu, ulama sekarang berpendapat bila wali aqrab berada jauh atau ghaib meskipun tempat tinggalnya di Eropah atau Amerika, hendaklah wali aqrab itu dihubungi melalui surat supaya ia mewakilkan hak kewaliannya kepada orang lain untuk mengahwinkan pengantin perempuan atau menunggu kepulangannya (jika ia mahu pulang segera) kerana perhubungan sekarang amat mudah dan cepat.
Sekiranya wali aqrab itu ghaib atau berada jauh dan tiadak diketahui langsung alamatnya maka barulah hak kewalian itu berpindah kepada wali hakim.
Dalam kes Hashim bin Mat Isa lawan Fatimah bte Ahmad (1977, Jld. III, I JH), Yang Arif Kadhi Besar Kedah, Syeikh Ismail bin Hj. Omar (pada masa itu) memutuskan perkahwinan kahwin lari yang dibuat di Pekan Siam, Padang Besar, Thailand itu tidak sah.
Fakta kesnya adalah seperti berikut: Kedua-dua pasangan itu warganegara Malaysia. Pengantin perempuan tinggal bersama bapanya (wali) di Batu 5, Jalan Sanglang, Kedah. Pengantin perempuan dan pasangannya telah berkahwin lari di Kampung Pekan Siam, Padang Besar, Thailand. Sekembalinya ke Kedah pasangan itu mahu mendaftarkan parkahwinannya. Permohonan itu dibuat di Mahkamah Syariah Alor Setar, Kedah. Ketika menyampaikan keputusan permohonan pendaftaran perkahwiann itu, Yang Arif Kadhi Besar memutuskan:
"Perkahwinan pasangan itu tidak sah pada hukum syarak keranan jarak di antara tempat wali berada pada masa itu dengan tempat akad nikah yang dibuat di Kampung Pekan Siam itu tidak sampai dua marhalah dan perempuan itu diperintahkna supaya bereddah".
Sebagai pengajaran dari keputusan Mahkamah itu, maka adalah mustahak mana-mana perkahwiann yang hendak dibuat di luar kariah, daerah dan negeri hendaklah terlebih dahulu merujuk kepada Pejabat kadhi yang berdekatan dengan tempat tinggal.
Wakalah Wali (Wali Mewakilkan Kepada Orang Lain)
Dalam Islam, terdapat satu prinsip Undang-Undang Islam yang menyatakan:
"Tiap-tiap sesuatu yang boleh seseorang melaksanakan dengan sendirinya, bolehlah ia mewakilkan sesuatu itu kepada orang lain".
Menurut prinsip tersebut, telah sepakat Fuqaha bahawa setiap akad yang dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai bidang kuasa, maka akad itu boleh juga ia mewakilkan kepada orang lain misalnya dalam akad nikah, jualbeli, cerai, sewa menyewa, tuntutan hak dan akad yang lain.
Dalam hal akad nikah ini, apabila seseorang wali aqrab itu berada jauh, tidak dapat hadir pada majlis akad nikah atau wali itu boleh hadir tetapi ia tidak mampu untuk menjalankan akad nikah itu, maka wali itu bolehlah mewakilkan kepada orang lain yang mempunyai kelayakan syar’ie.
Begitu juga bagi bakal suami. Kalau ia tidak dapat hadir pada majlis akad nikah kerana ia sedang belajar di luar negeri, maka ia bolehlah mewakilkan kepada orang lain yang mempunyai kelayakan syar’ie bagi menerima ijab (menjawab) nikah itu. Walau bagaimanapun bagi perempuan (bakal isteri) ia tidak ada bidang kuasa mewakilkan kepada orang lain untuk megahwinkannya kerana haknya ada di tangan walinya.
Menurut Jumhur Fuqaha, syarat-syarat sah orang yang boleh menjadi wakil wali ialah:
1. Lelaki
2. Baligh
3. Merdeka
4. Islam
5. Berakal (akal tidak lemah)
6. Wakalah itu tidak boleh dibuat semasa orang yang memberi wakil itu menunaikan ihram haji atau umrah.
Orang yang menerima wakil hendaklah melaksanakan wakalah itu dengan sendirinya sesuai dengan yang ditentukan semasa membuat wakalah itu kerana orang yang menerima wakil tidak boleh mewakilkan pula kepada orang lain kecuali dengan izin memberi wakil atau bila diserahkan urusan itu kepada wakil sendiri seperti kata pemberi wakil: "Terserahlah kepada engkau (orang yang menerima wakil) melaksanakan perwakilan itu, engkau sendiri atau orang lain". Maka ketika itu, boleh wakil berwakil pula kepada orang lain untuk melaksanakan wakalah itu.
Wakil wajib melaksanakan wakalah menurut apa yang telah ditentukan oleh orang yang memberi wakil. Misalnya seorang berwakil kepadanya untuk mengahwinkan perempuan itu dengan si A, maka wajiblah kahwinkan perempuan itu dengan si A.
Kalau wakil itu mengahwinkan peempuan itu dengan si B, maka perkahwinan itu tidak sah.
Mengikut amalan di Malaysia, selalunya wakalah wali dibuat di hadapan Kadhi atau Pendaftar Perkahwinan dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Sebelum melakukan walkalah wali, adalah mustahak wali itu mengkaji latar belakang orang yang hendak menereima wakil itu.
Penutup
Demikianlah bidang kuasa wali adalah amat penting dalam perkahwinan kerana ia menentukan sah atau tidak sesuatu perkahwinan. Oleh itu, setiap ibu bapa dan pengantin perempuan sebelum melakukan sesuatu perkahwinan hendaklah meyemak dahulu siapa yang berhak menjadi wali mengikut tertib dan susunan wali. Sekiranya para ibu bapa dan penjaga tidak mengetahui tentang wali maka hendaklah merujuk kepada mana-mana Pejabat Kadhi, Imam atau orang alim untuk mendapat penjelasan.
Perihal Meminang
Perihal Meminang
Berkaitan dengan masalah kafa'ah yang telah kita bahas sebelumnya, ada baiknya kita sisipkan di sini tentang khitbah atau meminang.
Meminang wanita (khathabal mar'atu) untuk dinikahi dengan mengenal secara dekat (dapat melalui orang lain) agar lebih memahami bentuk, perilaku, peribadi dan bahkan kebiasaannya, tidak bererti identik dengan pacaran. Pacaran dapat dikatakan lebih menjurus kepada kemaksiatan secara mutlak, sedangkan khitbah tidak dilarang selama tidak melampaui garis batas tujuannya, iaitu benar-benar untuk dinikahi bukan sekadar untuk mencari kesenangan hati.
Ada ketentuan syar'i yang membatasi seorang lelaki untuk meminang wanita iaitu:
1. status wanita pinangan harus bebas dari halangan syara' sehingga (ia) tidak ada halangan untuk dinikahi.
2. tidak ada orang lain yang lebih dahulu meminangnya dengan pinangan yang diakui syari'ah, oleh karena itu hal ini perlu dipertanyakan dulu kepada walinya.
Melamar sampai terjadinya pertunangan merupakan proses perjanjian pra-nikah, jadi bukan merupakan suatu ikatan yang tidak dapat dilepaskan lagi, secara syari'ah memang pertunangan belum terhitung dalam pernikahan, karena sewaktu-waktu mereka boleh membatalkannya. Dengan pembatalan itu tidaklah diberikan sanksi syari'ah bagi yang membatalkannya, tetapi menurut etika, tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh seorang yang beriman kecuali dengan alasan yang mendukung dan bisa diterima.
Mengenai perangkat barang-barang yang dikaitkan dengan pertunangan, jika dimaksudkan sebagai hadiah, maka pihak yang membatalkan tidak diperbolehkan menarik kembali. Tetapi jika yang membatalkan dari pihak wanita maka barang-barang yang pernah diberikan harus diperhitungkan kembali dan selanjutnya dikembalikan lagi (bisa ditebus atas perjanjian). Adapun apabila barang-barang itu dianggap sebagai bagian dari mas-kawin maka pihak lelaki dapat menarik kembali.
Rasulullah SAW mengingatkan:
"Orang yang terlanjur memberikan suatu barang atau memberikan suatu hibah, tidak halal menariknya kembali, kecuali seorang ayah yang menarik kembali barang yang diberikan kepada anaknya". (H.R. Tirmidzi, Nasa'i dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a.)
Berkaitan dengan masalah kafa'ah yang telah kita bahas sebelumnya, ada baiknya kita sisipkan di sini tentang khitbah atau meminang.
Meminang wanita (khathabal mar'atu) untuk dinikahi dengan mengenal secara dekat (dapat melalui orang lain) agar lebih memahami bentuk, perilaku, peribadi dan bahkan kebiasaannya, tidak bererti identik dengan pacaran. Pacaran dapat dikatakan lebih menjurus kepada kemaksiatan secara mutlak, sedangkan khitbah tidak dilarang selama tidak melampaui garis batas tujuannya, iaitu benar-benar untuk dinikahi bukan sekadar untuk mencari kesenangan hati.
Ada ketentuan syar'i yang membatasi seorang lelaki untuk meminang wanita iaitu:
1. status wanita pinangan harus bebas dari halangan syara' sehingga (ia) tidak ada halangan untuk dinikahi.
2. tidak ada orang lain yang lebih dahulu meminangnya dengan pinangan yang diakui syari'ah, oleh karena itu hal ini perlu dipertanyakan dulu kepada walinya.
Melamar sampai terjadinya pertunangan merupakan proses perjanjian pra-nikah, jadi bukan merupakan suatu ikatan yang tidak dapat dilepaskan lagi, secara syari'ah memang pertunangan belum terhitung dalam pernikahan, karena sewaktu-waktu mereka boleh membatalkannya. Dengan pembatalan itu tidaklah diberikan sanksi syari'ah bagi yang membatalkannya, tetapi menurut etika, tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh seorang yang beriman kecuali dengan alasan yang mendukung dan bisa diterima.
Mengenai perangkat barang-barang yang dikaitkan dengan pertunangan, jika dimaksudkan sebagai hadiah, maka pihak yang membatalkan tidak diperbolehkan menarik kembali. Tetapi jika yang membatalkan dari pihak wanita maka barang-barang yang pernah diberikan harus diperhitungkan kembali dan selanjutnya dikembalikan lagi (bisa ditebus atas perjanjian). Adapun apabila barang-barang itu dianggap sebagai bagian dari mas-kawin maka pihak lelaki dapat menarik kembali.
Rasulullah SAW mengingatkan:
"Orang yang terlanjur memberikan suatu barang atau memberikan suatu hibah, tidak halal menariknya kembali, kecuali seorang ayah yang menarik kembali barang yang diberikan kepada anaknya". (H.R. Tirmidzi, Nasa'i dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a.)
Amalan Hati
Amalan Hati
09/06/2002
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam kesempatan ini kita akan mencoba membahas tentang "Amalan Hati", tentunya sudah banyak pembahasan-pembahasan yang berkisar tentang hati dan pembahasan dalam berbagai jenis hati. Kalau kita bicara masalah amalan hati, kita akan mengetahui bahwa amalan pada diri manusia ada dua unsur: amalan dhahir (raga) dan amalan bathin (hati).
Kita sering membahas amalan dhahir dalam segala seginya, misalnya gerakan dan bacaan salat, haji, puasa dll. Dalam kesempatan yang baik ini kita akan mencoba mengarungi dan menjajaki sejauh mana amalan hati dan juga sejauh mana hati kita dalam aktifitasnya. Kita sering menyatakan kata sibuk. Jika seorang bertanya pada kita apakah pada jam sekian atau hari sekian kamu ada waktu, maka kita sering mengaatakan kalau kita sedang ada kegiatan atau acara: hal itu kita katakan sibuk. Sibuk dalam kegiatan di sini yang sering kita gambarkan adalah aktifitas raga kita, padahal kalau kita amati dan resapi serta renungkan hati kita lebih sibuk dari apa yang ada pada raga kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Bagi kita yang ingin memperdalam tentang masalah ini ada baiknya membaca kitab Ighatsatullahfan Ibnu Qoyyim atau ringkasanya Mawaridulamaan al-Muntaqo min Ighatsatulahfaan oleh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halliby. Dalam kitab ringkasannya kita akan mendapatkan apa yang dibahasa oleh Ibnu Qoyyim dengan lebih sederhana dan mengena untuk mereka yang ingin mengenal hatinya, dengan harapan Allah menghidupkan hati kita, karena hati yang hidup adalah kekayaan yang sangat berharga, dan sebaliknya hati yang mati adalah kerugian yang tiada taranya dan akan menyusahkan si empunya hati di dunia dan di akhirat.
Seorang syaikh menyatakan dalam suatu ceramahnya, "Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad saw untuk menghidupkan hati manusia, sebagaimana menurunkan hujan untuk menghidupkan dan menyirami bumi. Allah menurunkan hujan atau gerimis atau hujan lebat dan lain-lain agar bumi ini tidak kering, tetapi hidup dan subur serta bermanfaat. Demikian juga Allah menurunkan Alquran di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat, ayat-ayat mutasyabihat, kisah tauladan, pengajaran, dan lain-lain untuk menyuburkan hati manusia di muka bumi ini. Alquran sebagai petunjuk jalan hidup, sebagai obat, sebagai rahmat, sebagai penyembuh, sebagai pengingat, sebagai senjata, untuk manusia ini.
Alquran untuk menghidupkan hati manusia dan juga sebagai petunjuk untuk mereka yang mau bertaqwa kepada Allah, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (2: 2). Alquran sebagai pengobat hati manusia (10: 57). "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Alquran sebagai obat dan rahmat bagi manusia yang mau beriman dan mengamalkannya (17: 82): artinya, "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. "Bagaimana kita menempatkan hati kita dalam segala kondisi dan keadaan dan selalu dalam bimbingan quran, baik dalam kedaan senang dan bahagia, susah dan sengsara, bahaya, atau dalam keadaan apa saja yang mungkin ada pada kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam berbagai kitab yang ada, kita akan menjumpai tulisan-tulisan para ulama yang begitu dalam membahas tentang hati, kitab yang telah disebutkan di atas, juga kitab Minhajul Qoasidiin Ibnu Qudamah, mengungkapkan bahwa hati ibarat benteng kekuatan suatu pasukan yang sedang bertempur. Dalam benteng tersimpan kekuatan persenjataan dan ada pintu-pintunya. Panca indra adalah pintu yang selalu menjadi sasaran musuh, dan zikrullah merupakan tentara yang akan menjaga dan melawan itu semua.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Sesungguhnya kesibukan hati tidak kalah sibuknya dengan raga kita. Setiap amal yang kita lakukan pasti telah didahului oleh suatu niat-nitat: apakah niatnya itu baik atau tidak baik, ikhlas atau tidak ikhlas dan seterusnya.
Rasulullah saw telah bersabda yang artinya, "Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah yang dikatakan hati.." (HR Bukhari Muslim).
Dalam Riyadush-Shalihin,kalau kita perhatiakan, pada bab-bab awal terdapat kajian keutamaan-keutamaan amalan-amalan manusia: bab Ikhlash, Taubat, Shabr, ash-Shidqu, al-Muraqabah, at-Taqwa, al-Yaqin wa Tawakkal, al-Istiqomah, dll, itu semua tidak lepas dari amalan hati. Seperti ikhlash dalam arti luas.
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5).
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dari sini kita mendapat gambaran bahwasanya hati kita lebih sibuk daripada raga kita. Meskipun seseorang sedang diam, namun hatinya dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya; jasadnya mungkin sedang duduk termenung, namun hatinya bisa jadi sedang dendam membara, atau hasad dengan seseorang atau bergelora dengan cinta atau apa saja. Maka, seandainya amalan hati yang berkaitan dengan raga ini Allah nilai sebagai amalan, maka hampir tidak ada manusia yang selamat. Kekawatiran ini sebagai mana digambarkan dalam tafsir ibnu katsir dalam turunya ayat:
"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 284).
Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana, niat jahat jika tak dikerjakan maka hal itu tidak dianggap kejahatan.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghitung segala pembicaraan hati umatku selagi mereka tidak memperkatakannya atau melakukannya."
Dari sini jelas bahwa apa yang disibukkan hati kadang tidak dinilai atau tidak dihitung apabila hal itu suatu kejahatan yang tidak dilaksanakan. Allah Maha Agung, Maha Adil, dan Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya. Dan sebaliknya, apa yang diniatkan hati suatu kebaikan akan dinilai Allah.
Betapa indah dan agungnya ajaran Islam, kalau kita mau perhatikan dan mau mendalaminya serta merenungkannnya, sebagaimana gambaran dalam suatu hadis Nabi saw diiriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda, "Allah SWT berfirman kepada Malaikat pencatat amalan: Apabila hamba-Ku berniat ingin melakukan kejahatan, maka jangan lagi kamu menulisnya sebagai amalan kejahatan. Apabila dia melakukannya barulah kamu menulisnya sebagai satu amalan kejahatan. Jika hamba-Ku berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi dia tidak lagi melakukannya, maka catatkanlah sebagai satu amalan kebaikan. Jika dia melakukannya maka catatkanlah kebaikan itu sepuluh kali lipat."
Demikianlah dakwah Jumat yang singkat ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, amiin.
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
09/06/2002
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam kesempatan ini kita akan mencoba membahas tentang "Amalan Hati", tentunya sudah banyak pembahasan-pembahasan yang berkisar tentang hati dan pembahasan dalam berbagai jenis hati. Kalau kita bicara masalah amalan hati, kita akan mengetahui bahwa amalan pada diri manusia ada dua unsur: amalan dhahir (raga) dan amalan bathin (hati).
Kita sering membahas amalan dhahir dalam segala seginya, misalnya gerakan dan bacaan salat, haji, puasa dll. Dalam kesempatan yang baik ini kita akan mencoba mengarungi dan menjajaki sejauh mana amalan hati dan juga sejauh mana hati kita dalam aktifitasnya. Kita sering menyatakan kata sibuk. Jika seorang bertanya pada kita apakah pada jam sekian atau hari sekian kamu ada waktu, maka kita sering mengaatakan kalau kita sedang ada kegiatan atau acara: hal itu kita katakan sibuk. Sibuk dalam kegiatan di sini yang sering kita gambarkan adalah aktifitas raga kita, padahal kalau kita amati dan resapi serta renungkan hati kita lebih sibuk dari apa yang ada pada raga kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Bagi kita yang ingin memperdalam tentang masalah ini ada baiknya membaca kitab Ighatsatullahfan Ibnu Qoyyim atau ringkasanya Mawaridulamaan al-Muntaqo min Ighatsatulahfaan oleh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halliby. Dalam kitab ringkasannya kita akan mendapatkan apa yang dibahasa oleh Ibnu Qoyyim dengan lebih sederhana dan mengena untuk mereka yang ingin mengenal hatinya, dengan harapan Allah menghidupkan hati kita, karena hati yang hidup adalah kekayaan yang sangat berharga, dan sebaliknya hati yang mati adalah kerugian yang tiada taranya dan akan menyusahkan si empunya hati di dunia dan di akhirat.
Seorang syaikh menyatakan dalam suatu ceramahnya, "Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad saw untuk menghidupkan hati manusia, sebagaimana menurunkan hujan untuk menghidupkan dan menyirami bumi. Allah menurunkan hujan atau gerimis atau hujan lebat dan lain-lain agar bumi ini tidak kering, tetapi hidup dan subur serta bermanfaat. Demikian juga Allah menurunkan Alquran di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat, ayat-ayat mutasyabihat, kisah tauladan, pengajaran, dan lain-lain untuk menyuburkan hati manusia di muka bumi ini. Alquran sebagai petunjuk jalan hidup, sebagai obat, sebagai rahmat, sebagai penyembuh, sebagai pengingat, sebagai senjata, untuk manusia ini.
Alquran untuk menghidupkan hati manusia dan juga sebagai petunjuk untuk mereka yang mau bertaqwa kepada Allah, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (2: 2). Alquran sebagai pengobat hati manusia (10: 57). "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Alquran sebagai obat dan rahmat bagi manusia yang mau beriman dan mengamalkannya (17: 82): artinya, "Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. "Bagaimana kita menempatkan hati kita dalam segala kondisi dan keadaan dan selalu dalam bimbingan quran, baik dalam kedaan senang dan bahagia, susah dan sengsara, bahaya, atau dalam keadaan apa saja yang mungkin ada pada kita.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam berbagai kitab yang ada, kita akan menjumpai tulisan-tulisan para ulama yang begitu dalam membahas tentang hati, kitab yang telah disebutkan di atas, juga kitab Minhajul Qoasidiin Ibnu Qudamah, mengungkapkan bahwa hati ibarat benteng kekuatan suatu pasukan yang sedang bertempur. Dalam benteng tersimpan kekuatan persenjataan dan ada pintu-pintunya. Panca indra adalah pintu yang selalu menjadi sasaran musuh, dan zikrullah merupakan tentara yang akan menjaga dan melawan itu semua.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Sesungguhnya kesibukan hati tidak kalah sibuknya dengan raga kita. Setiap amal yang kita lakukan pasti telah didahului oleh suatu niat-nitat: apakah niatnya itu baik atau tidak baik, ikhlas atau tidak ikhlas dan seterusnya.
Rasulullah saw telah bersabda yang artinya, "Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah yang dikatakan hati.." (HR Bukhari Muslim).
Dalam Riyadush-Shalihin,kalau kita perhatiakan, pada bab-bab awal terdapat kajian keutamaan-keutamaan amalan-amalan manusia: bab Ikhlash, Taubat, Shabr, ash-Shidqu, al-Muraqabah, at-Taqwa, al-Yaqin wa Tawakkal, al-Istiqomah, dll, itu semua tidak lepas dari amalan hati. Seperti ikhlash dalam arti luas.
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5).
Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dari sini kita mendapat gambaran bahwasanya hati kita lebih sibuk daripada raga kita. Meskipun seseorang sedang diam, namun hatinya dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya; jasadnya mungkin sedang duduk termenung, namun hatinya bisa jadi sedang dendam membara, atau hasad dengan seseorang atau bergelora dengan cinta atau apa saja. Maka, seandainya amalan hati yang berkaitan dengan raga ini Allah nilai sebagai amalan, maka hampir tidak ada manusia yang selamat. Kekawatiran ini sebagai mana digambarkan dalam tafsir ibnu katsir dalam turunya ayat:
"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 284).
Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana, niat jahat jika tak dikerjakan maka hal itu tidak dianggap kejahatan.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghitung segala pembicaraan hati umatku selagi mereka tidak memperkatakannya atau melakukannya."
Dari sini jelas bahwa apa yang disibukkan hati kadang tidak dinilai atau tidak dihitung apabila hal itu suatu kejahatan yang tidak dilaksanakan. Allah Maha Agung, Maha Adil, dan Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya. Dan sebaliknya, apa yang diniatkan hati suatu kebaikan akan dinilai Allah.
Betapa indah dan agungnya ajaran Islam, kalau kita mau perhatikan dan mau mendalaminya serta merenungkannnya, sebagaimana gambaran dalam suatu hadis Nabi saw diiriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda, "Allah SWT berfirman kepada Malaikat pencatat amalan: Apabila hamba-Ku berniat ingin melakukan kejahatan, maka jangan lagi kamu menulisnya sebagai amalan kejahatan. Apabila dia melakukannya barulah kamu menulisnya sebagai satu amalan kejahatan. Jika hamba-Ku berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi dia tidak lagi melakukannya, maka catatkanlah sebagai satu amalan kebaikan. Jika dia melakukannya maka catatkanlah kebaikan itu sepuluh kali lipat."
Demikianlah dakwah Jumat yang singkat ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, amiin.
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
batasan sholat jamak , karena hujan?
batasan sholat jamak , karena hujan?
--------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan :
bagaimana batasan seorang imam menjamak sholat ketika turun hujan, apakah setiap ada air yang turun dari langit maka boleh menjamaknya? , ataukah air itu harus membasahi pakaian?
pati
Jawaban :
Batas sholat jama'
Alhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa ba'du :
Ulama berselisih pendapat dalam menentukan hujan yang dibolehkan menjama' shalat kepada dua pendapat :
Pertama mereka pengakatan ketentuannya adalah semata-mata turun hujan, maksud hujan adalah setiap air yang turun dilangit yang sebut hujan.
Kedua, hujan yang bisa menyulitkan orang yang akan melakukan shalat. Ukuran menyulitkan itu kembali kepada ufr (kebiasaaan) masyarakat.
Kemudian ulama juga berbeda pendapat tentang apakah menjamak shalat itu hanya pada malam hari yakni shalat maghrib dan isya atau berlaku pada siang hari??
Yang jelas dari dua pendapat di atas adalah pendapat kedua, yaitu yang mengatakan ukuran hujan itu apabila menyulitkan orang yang akan melakukan shalat. Syeikh Ibu Utsaimin berkata di kitabnya Al Syarh Al Mumti' jilid 4 hal : 555 : "Apabila terdapat hujan yang membasahi pakaian disebabkan turunnya sangat deras sekali, maka boleh menjama' sholat maghrib dan isya, tapi apaabila hujannya sedikit tidak membasahi pakaian, maka tidak boleh menjama', karena hujan semacam ini tidak mendatangkan kesulitan kepada orang melakukan shalat berjamaah, lain halnya dengan hujan yang membasahi pakaian, apa lagi pada musim dingin, maka terdapat kesulitan dari segi basahnya pakaian dan dari segi suhu dingin apalagi kalau seandainya terdapat angin, maka bertambahlah kesulitannya."
Dan yang diketahui dari perbuatan raasulullah dan para sahabatnya bahwasanya kadang-kadang mereka menjamak shalat saat turun hujan, dan bukan tidak pernah menjamak setiap turun hujan, bahkan tidak pernah dinukil darinya. Wallahu 'alam.
--------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan :
bagaimana batasan seorang imam menjamak sholat ketika turun hujan, apakah setiap ada air yang turun dari langit maka boleh menjamaknya? , ataukah air itu harus membasahi pakaian?
pati
Jawaban :
Batas sholat jama'
Alhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa ba'du :
Ulama berselisih pendapat dalam menentukan hujan yang dibolehkan menjama' shalat kepada dua pendapat :
Pertama mereka pengakatan ketentuannya adalah semata-mata turun hujan, maksud hujan adalah setiap air yang turun dilangit yang sebut hujan.
Kedua, hujan yang bisa menyulitkan orang yang akan melakukan shalat. Ukuran menyulitkan itu kembali kepada ufr (kebiasaaan) masyarakat.
Kemudian ulama juga berbeda pendapat tentang apakah menjamak shalat itu hanya pada malam hari yakni shalat maghrib dan isya atau berlaku pada siang hari??
Yang jelas dari dua pendapat di atas adalah pendapat kedua, yaitu yang mengatakan ukuran hujan itu apabila menyulitkan orang yang akan melakukan shalat. Syeikh Ibu Utsaimin berkata di kitabnya Al Syarh Al Mumti' jilid 4 hal : 555 : "Apabila terdapat hujan yang membasahi pakaian disebabkan turunnya sangat deras sekali, maka boleh menjama' sholat maghrib dan isya, tapi apaabila hujannya sedikit tidak membasahi pakaian, maka tidak boleh menjama', karena hujan semacam ini tidak mendatangkan kesulitan kepada orang melakukan shalat berjamaah, lain halnya dengan hujan yang membasahi pakaian, apa lagi pada musim dingin, maka terdapat kesulitan dari segi basahnya pakaian dan dari segi suhu dingin apalagi kalau seandainya terdapat angin, maka bertambahlah kesulitannya."
Dan yang diketahui dari perbuatan raasulullah dan para sahabatnya bahwasanya kadang-kadang mereka menjamak shalat saat turun hujan, dan bukan tidak pernah menjamak setiap turun hujan, bahkan tidak pernah dinukil darinya. Wallahu 'alam.
--------------------------------------------------------------------------------
Hukum Wudhu di Kamar Mandi
Pertanyaan :
Assalam`alaikum Wr.Wb.
apakah sah wudhu di kamar mandi / WC? karena harus melafadzkan 'bismillah'
Wassalamu`alaikum Wr.Wb.
jakarta
Jawaban :
Jawaban pertanyaan antum ini saya cantumkan fatwa syeikh Bin Baz :
Apakah hukumnya orang berwuduk di dalam kamar mandi, apakah wudhuknya sah??
Jawab : tidak mengapa berwuduk di dalam kamar mandi, jika diperlukan, dan mambaca basmalah di awal wudhuknya. Karena membaca basmalah adalah wajib meurut sebagian ahli ilmu, dan sunat muakat (ditegaskan) menuruk kebanyakan ulama. maka orang tadi membaca basmalah disebabkan keperluan, hukum makruhpun hilang. Karena hukum makruh bisa hilang saat ditemukan keperluan untuk membaca basmalah. Dan manusia diperintahkan untuk membaca basmalah di awal wudhuknya, maka orang tadi membaca basmalah dan lalu menyempurnakan wadhuknya.
Adapun tasyahud (doa setelah wadhuk) maka dibaca setelah keluar dari kamar mandi (WC). Maka kalau orang tadi telah selesai dari wadhuknya, lalu keluar dan membaca tasyahud (doa setelah wudhuk) di luar kamar mandi. Adapun kamar mandi hanya diperuntukkan untuk wudhuk, bukan untuk baung air kecil dan buang air besar, maka ii tidak mengapa ia membaca doa wudhuk di tempat itu, sebab tempat itu bukanlah tempat untuk buang hajat (BAK dan BAB).
Syeikh bin bazz “majmu’ fatawa wa maqolaat “ jilid 11.
Assalam`alaikum Wr.Wb.
apakah sah wudhu di kamar mandi / WC? karena harus melafadzkan 'bismillah'
Wassalamu`alaikum Wr.Wb.
jakarta
Jawaban :
Jawaban pertanyaan antum ini saya cantumkan fatwa syeikh Bin Baz :
Apakah hukumnya orang berwuduk di dalam kamar mandi, apakah wudhuknya sah??
Jawab : tidak mengapa berwuduk di dalam kamar mandi, jika diperlukan, dan mambaca basmalah di awal wudhuknya. Karena membaca basmalah adalah wajib meurut sebagian ahli ilmu, dan sunat muakat (ditegaskan) menuruk kebanyakan ulama. maka orang tadi membaca basmalah disebabkan keperluan, hukum makruhpun hilang. Karena hukum makruh bisa hilang saat ditemukan keperluan untuk membaca basmalah. Dan manusia diperintahkan untuk membaca basmalah di awal wudhuknya, maka orang tadi membaca basmalah dan lalu menyempurnakan wadhuknya.
Adapun tasyahud (doa setelah wadhuk) maka dibaca setelah keluar dari kamar mandi (WC). Maka kalau orang tadi telah selesai dari wadhuknya, lalu keluar dan membaca tasyahud (doa setelah wudhuk) di luar kamar mandi. Adapun kamar mandi hanya diperuntukkan untuk wudhuk, bukan untuk baung air kecil dan buang air besar, maka ii tidak mengapa ia membaca doa wudhuk di tempat itu, sebab tempat itu bukanlah tempat untuk buang hajat (BAK dan BAB).
Syeikh bin bazz “majmu’ fatawa wa maqolaat “ jilid 11.
Al Fatihah di Belakang Imam
Al Fatihah di Belakang Imam
Assalaamu 'alaikum wr wb. Dalam shalat berjamaah, apakah makmum wajib membaca Al-Fatihah meski kita sudah mengucapkan amin pada rakaat pertama dan kedua? Saya masih bingung karena masih ada yang membaca Al-Fatihah dan ada yang tidak. Mohon penjelasan Ustadz. Wassalam.Suyadi Balai Tekstil Jakarta
Pada dasarnya tidak sah shalat tanpa membaca Alquran. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud Alquran di sini adalah Al-Fatihah. Ini berdasar sekian banyak Hadis Nabi SAW. Imam Abu Hanifah tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah dengan alasan Hadis Nabi yang memerintahkan membaca apa yang mudah dari Alquran, sehingga menurut beliau membaca tiga ayat sederhana atau satu ayat panjang sudah memadai. Imam Syafi'i begitu juga Malik dalam satu riwayat, mewajibkan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, tetapi ada riwayat lain yang menyatakan bahwa Imam Malik hanya mewajibkan pada rakaat pertama dan kedua. Ini bagi yang shalat sendirian. Adapun yang mengikuti imam, maka dalam pandangan Imam Malik dan beberapa imam lainnya, makmum tidak wajib membaca Al-Fatihah. Ulama besar Ibn Sirin bahkan berkata, ''Saya tidak mengetahui dari Sunnah Nabi SAW adanya kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum''. Pendapat di atas berbeda dengan pendapat Imam Syafii, Menurut beliau, pada prinsipnya setiap yang shalat baik imam maupun makmum wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat. Hadis yang menjadi dasar pendapatnya cukup banyak dan kuat, maka atas dasar itu, walau seorang makmum telah mengucapkan ''amin'' tetapi belum membaca Al-Fatihah, maka ia harus membacanya. Inilah pendapat yang lebih kuat lagi lebih aman untuk diikuti. Demikian wa Allah a'lam.Assalaamu 'alaikum wr wb.
Apakah ajaran Kristen sekarang ini masih murni ajaran Nabi Isa As? Kalau masih murni, apakah Islam dapat mengakui istilah ''bapak'' dan ''anak Allah'' dalam Kristen? Apakah perbedaan menyembah berhala pada zaman jahiliyah dan menyembah patung sekarang ini seperti yang terdapat dalam beberapa agama, walaupun tujuannya bukan pada patung tersebut? Wassalam.Sylvester StalloneJl Merdeka Utara Gg Emas Jakarta
Kalau pertanyaan ini Anda tujukan kepada penganut agama Kristen pastilah jawabannya adalah murni --walau boleh jadi ada di antara mereka berkata-- ada sebagian pengamalan ajaran Kristen yang bersumber dari budaya manusia. Jawaban ini tidak akan berbeda jika Anda bertanya kepada seorang Muslim: apakah ajaran Islam sekarang ini adalah masih murni ajaran Nabi Muhammad SAW? Sebaliknya, jika Anda mengajukan pertanyaan Anda di atas kepada seorang Muslim, jawabannya secara tegas tidak murni lagi, karena demikian itulah penjelasan banyak ayat Alquran. Jawaban ini tidak jauh berbeda dengan jawaban seorang Kristen bila ada yang bertanya: Apakah seluruh ajaran Nabi Muhammad bersumber dari Tuhan YME.Istilah ''bapak'' dan ''anak'' sebagai istilah yang dikenal dalam ajaran Kristen tidak dibenarkan oleh ajaran Islam, walau boleh jadi ada ulama yang membenarkannya jika kedua kata itu dipahami secara metafora, yakni bapak sebagai pemelihara dan pembela dan anak adalah yang disayangi dan dibimbing. Nabi SAW bersabda: ''Manusia semuanya adalah iyaalullah, sebaik-baik mereka, adalah yang paling baik perlakuannya kepada iyaal-Nya.'' Kata 'iyaal' dalam kamus-kamus bahasa diartikan sebagai anak-anak atau keluarga.Pada masa jahiliyah, berhala dijadikan oleh orang-orang musyrik sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah; ''Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'' QS Azzumar/39:3. Jadi tujuan mereka pun sebenarnya bukan patung itu, tetapi Tuhan, namun ini dikecam oleh Alquran karena penegasan ayat-ayat di atas sebelumnya menyampaikan ucapan para penyembah berhala itu: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Karena itu apapun yang menodai keesaan Tuhan --dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya serta ibadah kepada-Nya baik dalam bentuk patung atau bukan, kesemuanya adalah syirik yang bertentangan dengan ajaran Islam. Demikian wa Allah a'lam
Assalaamu 'alaikum wr wb. Dalam shalat berjamaah, apakah makmum wajib membaca Al-Fatihah meski kita sudah mengucapkan amin pada rakaat pertama dan kedua? Saya masih bingung karena masih ada yang membaca Al-Fatihah dan ada yang tidak. Mohon penjelasan Ustadz. Wassalam.Suyadi Balai Tekstil Jakarta
Pada dasarnya tidak sah shalat tanpa membaca Alquran. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud Alquran di sini adalah Al-Fatihah. Ini berdasar sekian banyak Hadis Nabi SAW. Imam Abu Hanifah tidak mewajibkan membaca Al-Fatihah dengan alasan Hadis Nabi yang memerintahkan membaca apa yang mudah dari Alquran, sehingga menurut beliau membaca tiga ayat sederhana atau satu ayat panjang sudah memadai. Imam Syafi'i begitu juga Malik dalam satu riwayat, mewajibkan membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, tetapi ada riwayat lain yang menyatakan bahwa Imam Malik hanya mewajibkan pada rakaat pertama dan kedua. Ini bagi yang shalat sendirian. Adapun yang mengikuti imam, maka dalam pandangan Imam Malik dan beberapa imam lainnya, makmum tidak wajib membaca Al-Fatihah. Ulama besar Ibn Sirin bahkan berkata, ''Saya tidak mengetahui dari Sunnah Nabi SAW adanya kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum''. Pendapat di atas berbeda dengan pendapat Imam Syafii, Menurut beliau, pada prinsipnya setiap yang shalat baik imam maupun makmum wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat. Hadis yang menjadi dasar pendapatnya cukup banyak dan kuat, maka atas dasar itu, walau seorang makmum telah mengucapkan ''amin'' tetapi belum membaca Al-Fatihah, maka ia harus membacanya. Inilah pendapat yang lebih kuat lagi lebih aman untuk diikuti. Demikian wa Allah a'lam.Assalaamu 'alaikum wr wb.
Apakah ajaran Kristen sekarang ini masih murni ajaran Nabi Isa As? Kalau masih murni, apakah Islam dapat mengakui istilah ''bapak'' dan ''anak Allah'' dalam Kristen? Apakah perbedaan menyembah berhala pada zaman jahiliyah dan menyembah patung sekarang ini seperti yang terdapat dalam beberapa agama, walaupun tujuannya bukan pada patung tersebut? Wassalam.Sylvester StalloneJl Merdeka Utara Gg Emas Jakarta
Kalau pertanyaan ini Anda tujukan kepada penganut agama Kristen pastilah jawabannya adalah murni --walau boleh jadi ada di antara mereka berkata-- ada sebagian pengamalan ajaran Kristen yang bersumber dari budaya manusia. Jawaban ini tidak akan berbeda jika Anda bertanya kepada seorang Muslim: apakah ajaran Islam sekarang ini adalah masih murni ajaran Nabi Muhammad SAW? Sebaliknya, jika Anda mengajukan pertanyaan Anda di atas kepada seorang Muslim, jawabannya secara tegas tidak murni lagi, karena demikian itulah penjelasan banyak ayat Alquran. Jawaban ini tidak jauh berbeda dengan jawaban seorang Kristen bila ada yang bertanya: Apakah seluruh ajaran Nabi Muhammad bersumber dari Tuhan YME.Istilah ''bapak'' dan ''anak'' sebagai istilah yang dikenal dalam ajaran Kristen tidak dibenarkan oleh ajaran Islam, walau boleh jadi ada ulama yang membenarkannya jika kedua kata itu dipahami secara metafora, yakni bapak sebagai pemelihara dan pembela dan anak adalah yang disayangi dan dibimbing. Nabi SAW bersabda: ''Manusia semuanya adalah iyaalullah, sebaik-baik mereka, adalah yang paling baik perlakuannya kepada iyaal-Nya.'' Kata 'iyaal' dalam kamus-kamus bahasa diartikan sebagai anak-anak atau keluarga.Pada masa jahiliyah, berhala dijadikan oleh orang-orang musyrik sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah; ''Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'' QS Azzumar/39:3. Jadi tujuan mereka pun sebenarnya bukan patung itu, tetapi Tuhan, namun ini dikecam oleh Alquran karena penegasan ayat-ayat di atas sebelumnya menyampaikan ucapan para penyembah berhala itu: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Karena itu apapun yang menodai keesaan Tuhan --dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya serta ibadah kepada-Nya baik dalam bentuk patung atau bukan, kesemuanya adalah syirik yang bertentangan dengan ajaran Islam. Demikian wa Allah a'lam
Senin, 23 Juni 2008
Adab Hubungan Seks Suami Isteri
Adab Hubungan Seks Suami Isteri
Lelaki wanita yang hidup dalam perkawinan tentu mengharapkan anak dari hasil hubungan antara suami isteri. Tentunya anak yang sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tuanya serta taat menjalankan ibadah kepada Allah Taala. Anak yang demikian ini disebut anak yang soleh yang menjadi dambaan bagi setiap orang tua.
Terbentuknya anak menjadi orang yang soleh di samping unsur pendidikan, juga perilaku orang tuanya sewaktu melakukan persetubuhan akan menentukan corak kepribadian anaknya. Oleh sebab itu agama Islam telah memberi tuntutan yang sangat tepat baik ditinjau dari segi kesehatan ataupun moral.
Bimbingan Islam itu antara lain adalah:
Mandi terlebih dahulu bagi suami. Faedahnya adalah membersihkan badan dari semua kotoran dan bau yang kurang sedap, di samping untuk menguatkan syahwat. Cara ini sungguh sangat hygenis karena badan telah dibersihkan dari segala macam bibit penyakit terutama pada bagian alat kelamin.
Berwudhu sebelum bersenggama. Berwudhu ini dilakukan setelah mandi, gunanya adalah untuk membersihkan hadas kecil. Orang yang bersetubuh dalam keadaan suci lahir dan batinnya, lebih tenang dan tenteram daripada bersetubuh dalam keadaan kotor. Wudhu ini lebih ditekankan lagi sewaktu melakukan hubungan seks untuk yang kedua atau ketiga kalinya dalam satu malam. Faedahnya juga untuk menguatkan kelamin dan kebersihan. Sebagaiman tersebut dalam hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Said al Khudri, Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Apabila seorang dari kalian mendatangi isterinya, kemudian ia berkehendak mengulangi lagi, maka hendaklah ia berwuduk”.
Sewaktu mendekati isterinya ucapkanlah salam sebagai tanda kasih sayang. Salam mesra ini amat berpengaruh dalam jiwa isteri untuk membangkitkan ghairah seksnya serta perasaan menyerah setulus hati.
Ucapan salam harus disambut isterinya dengan ucapan mesra pula sebagai dorongan agar suaminya benar-benar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Selepas kedua-duanya saling mengucapkan salam, suami boleh meneruskan acara itu dengan membelai rambut isterinya serta menciumnya tiga kali sebagai ciuman kasih sayang seraya mengucapkan sholawat nabi tiga kali. “Allahumma Shalli `Alaa Muhammad”. Ucapan selawat ini sebagai satu usaha agar persetubuhan ini mendapat berkat dan diridhoi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi yang bersumber dari Abdur Rahman bin Auf, Allah telah berfirman kepada Rasulullah s.a.w. yang ertinya: “Barangsiapa mengucapkan salam kepadamu, niscaya Aku (Allah) memberi kesejahteraan kepadanya Dan barangsiapa membaca sholawat kepadamu, nescaya Aku memberi rahmat kepadanya”.
Menjelang akan dilakukannya persetubuhan suami hendaklah membaca doa puji-pujian kepada Allah agar dianugerahi anak yang soleh, taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tuanya.
Hendaklah mandi selesai bersetubuh. Tidak seperti mandi ketika bersetubuh, mandi terakhir ini hukumnya wajib, baik mengeluarkan mani ataupun tidak. Kewajipan mandi ini sungguh merupakan tindakan kebersihan dan kesihatan sebab keletihan dan kelelahan badan waktu bersetubuh perlu penyegaran kembali.
Biasanya setelah malam harinya melakukan persetubuhan, maka pada pagi harinya badan terasa lesu, malas dan timbul berbagai perasaan yang bukan-bukan. Timbulnya kelesuan badan itu tiada lain kerana keletihan saraf-saraf di seluruh badan akibat keluarnya air mani dari dalam tubuh yang memerlukan tenaga. Sehubungan dengan itu, Islam telah mewajibkan kepada umatnya untuk mandi setiap kali mengeluarkan air mani atau sehabis bersetubuh. Maka terasalah badan segar kembali, timbul vitaliti baru, hilang rasa ngilu, fikiran berjalan normal seperti sediakala.
Mengenai perintah mandi wajib setelah bersetubuh itu tersimpul dalam hadis nabi riwayat Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah iaitu bermaksud:
“Apabila ia duduk di antara empat anggotanya (dua tangan dan dua kaki) kemudian ia kerjakan dia (perempuan) maka sesungguhnya wajiblah mandi”.
Selanjutnya timbul pertanyaan pada kita apakah boleh melihat aurat semasa melakukan persetubuhan?
Pengertian aurat dalam Islam ialah bagian-bagian tubuh baik lelaki maupun perempuan yang haram dilihat oleh orang yang bukan mahramnya atau suami isteri sendiri. Aurat orang lelaki terdapat di bahagian tubuh antara pusat hingga lutut. Sedang aurat perempuan meliputi seluruh tubuhnya. Bahagian-bahagian aurat ini sama sekali tidak boleh dilihat oleh sesiapapun kecuali oleh mahramnya atau suami isterinya sendiri. Kerana aurat tidak boleh dilihat, wajiblah aurat itu ditutup dengan pakaian yang sopan.
Aurat mempunyai pengaruh tersendiri pada pandangan mata. Ia punya daya rangsangan yang bisa membangkitkan nafsu birahi seseorang.. Hanya dengan melihat aurat, orang lelaki bisa ereksi. Begitu pula perempuan timbul nafsu birahinya karena melihat aurat lelaki. Begitulah aurat yang oleh agama Islam sangat dihormati, yang harus ditutup dari pandangan mata kecuali oleh suaminya, isterinya atau mahramnya sendiri.
Firman Allah Taala:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Al Quran Surah An Nur Ayat 30)
firman Allah Taala:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka”. (Al Quran, Surah An Nur Ayat 31)
“Tidaklah boleh orang lelaki melihat aurat orang lelaki dan tidak boleh orang perempuan melihat kepada aurat orang perempuan. Tidak boleh pula orang lelaki berselimut dengan orang lelaki dalam satu kain. Tidak boleh orang perempuan berselimut dengan orang perempuan dalam satu kain”. (Hadis riwayat Muslim dari Abu Said r.a)
Sabda Rasulullah s.a.w.:
“Janganlah kamu perlihatkan pahamu, dan janganlah kamu melihat paha orang hidup dan jangan pula paha orang mati”. (Hadis riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim)
Jelaslah, melihat aurat antara sesama jenis atau lain jenis dilarang oleh agama kecuali yang melihat itu mahramnya atau suami isterinya sendiri, bagi suami isteri yang ingin meningkatkan gairah seksualnya dalam cumbu rayu, tentu melihatnya diperbolehkan.
Walaupun demikian ada batasan bagi suami isteri melihat aurat iaitu farji atau vagina, maka melihatnya dilarang. Bahkan di dalam hadis disebutkan alasan mengapa dilarang melihat vagina (kemaluan wanita). Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya:
“Apabila seorang dari kalian mendatangi isterinya maka janganlah ia melihat faraj (kemaluannya) kerana sesungguhnya yang demikian itu menyebabkan buta”.
Adakah maksud melihat faraj itu menyebabkan kebutaan? Kiranya belum ada ketentuan yang pasti secara ilmiah yang membenarkannya. Sebab betapa pun jorok farji itu, akan tetapi farji tidak mengeluarkan zat atau gas-gas yang membutakan. Jadi secara medis melihat farji itu tidak membahayakan mata.
Mengapa hadis menyebutkan begitu? Allahlah yang Maha Mengetahui. Akan tetapi yang jelas farji merupakan anggota kelamin wanita yang sangat dihormati, siapa pun wanitanya. Bahkan wanita primitif-primitif yang belum mengenal kebudayaan pun tidak lupa menutup kemaluan mereka walaupun anggota-anggota badan lainya tetap dibiarkan terbuka bebas. Mereka mempunyai perasaan malu jika kemaluannya dilihat orang lain.
Secara alamiah memberi petunjuk betapa kemaluan wanita itu merupakan anggota kelamin yang terhormat, yang tidak boleh dijadikan tontonan dan dipertontonkan.
Wanita mempunyai sifat pemalu, lebih pemalu daripada lelaki. Malu sebagai salah satu unsur penghalang timbulnya dorongan seksual. Jadi kalau suami akan bersetubuh kemudian merayu isterinya sambil melihat kelaminnya pastilah gairah seksual isterinya akan turun secara drastik kerana didesak oleh rasa malunya. Oleh itu tidak berfaedah sama sekali usaha merayu isterinya yang justru mengharapkan kepuasan dalam hubungan seks.
Di samping itu melihat kelamin wanita atau isterinya biasa menimbulkan akibat lain. yaitu kemungkinan nafsunya akan cepat terangsang sehingga menimbulkan hajat yang tidak terbendung lagi. Sehingga belum juga dia merayu isterinya yang belum siap melakukan hubungan seks, ia sudah terburu-buru memaksa isterinya untuk bersetubuh. Sehingga benar-benar butalah hatinya, ia tidak lagi memikirkan keperluan seks isterinya melainkan hanya keperluan dirinya yang dikejar untuk mencapai kepuasan. Memang benar-benar buta , buta hatinya.
Dengan kenyataan seperti di atas, maka kemungkinan besar larangan melihat kelamin wanita yang terdapat dalam hadis di atas merupakan tindakan moral saja agar setiap orang tidak gegabah melihat kelamin wanita. Jadi buta yang dimaksudkan di dalam hadis tentunya dapat diertikan sebagai buta hati bukan buta mata yang sesungguhnya.
Islam telah menuntut umatnya ke jalan yang benar, hidup yang benar, , dalam ridha Allah. Yang demikian itu dimaksukan agar semua umatnya selalu memegang prinsip yang benar dalam semua segi kehidupannya.
Lelaki wanita yang hidup dalam perkawinan tentu mengharapkan anak dari hasil hubungan antara suami isteri. Tentunya anak yang sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tuanya serta taat menjalankan ibadah kepada Allah Taala. Anak yang demikian ini disebut anak yang soleh yang menjadi dambaan bagi setiap orang tua.
Terbentuknya anak menjadi orang yang soleh di samping unsur pendidikan, juga perilaku orang tuanya sewaktu melakukan persetubuhan akan menentukan corak kepribadian anaknya. Oleh sebab itu agama Islam telah memberi tuntutan yang sangat tepat baik ditinjau dari segi kesehatan ataupun moral.
Bimbingan Islam itu antara lain adalah:
Mandi terlebih dahulu bagi suami. Faedahnya adalah membersihkan badan dari semua kotoran dan bau yang kurang sedap, di samping untuk menguatkan syahwat. Cara ini sungguh sangat hygenis karena badan telah dibersihkan dari segala macam bibit penyakit terutama pada bagian alat kelamin.
Berwudhu sebelum bersenggama. Berwudhu ini dilakukan setelah mandi, gunanya adalah untuk membersihkan hadas kecil. Orang yang bersetubuh dalam keadaan suci lahir dan batinnya, lebih tenang dan tenteram daripada bersetubuh dalam keadaan kotor. Wudhu ini lebih ditekankan lagi sewaktu melakukan hubungan seks untuk yang kedua atau ketiga kalinya dalam satu malam. Faedahnya juga untuk menguatkan kelamin dan kebersihan. Sebagaiman tersebut dalam hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Said al Khudri, Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Apabila seorang dari kalian mendatangi isterinya, kemudian ia berkehendak mengulangi lagi, maka hendaklah ia berwuduk”.
Sewaktu mendekati isterinya ucapkanlah salam sebagai tanda kasih sayang. Salam mesra ini amat berpengaruh dalam jiwa isteri untuk membangkitkan ghairah seksnya serta perasaan menyerah setulus hati.
Ucapan salam harus disambut isterinya dengan ucapan mesra pula sebagai dorongan agar suaminya benar-benar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Selepas kedua-duanya saling mengucapkan salam, suami boleh meneruskan acara itu dengan membelai rambut isterinya serta menciumnya tiga kali sebagai ciuman kasih sayang seraya mengucapkan sholawat nabi tiga kali. “Allahumma Shalli `Alaa Muhammad”. Ucapan selawat ini sebagai satu usaha agar persetubuhan ini mendapat berkat dan diridhoi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi yang bersumber dari Abdur Rahman bin Auf, Allah telah berfirman kepada Rasulullah s.a.w. yang ertinya: “Barangsiapa mengucapkan salam kepadamu, niscaya Aku (Allah) memberi kesejahteraan kepadanya Dan barangsiapa membaca sholawat kepadamu, nescaya Aku memberi rahmat kepadanya”.
Menjelang akan dilakukannya persetubuhan suami hendaklah membaca doa puji-pujian kepada Allah agar dianugerahi anak yang soleh, taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tuanya.
Hendaklah mandi selesai bersetubuh. Tidak seperti mandi ketika bersetubuh, mandi terakhir ini hukumnya wajib, baik mengeluarkan mani ataupun tidak. Kewajipan mandi ini sungguh merupakan tindakan kebersihan dan kesihatan sebab keletihan dan kelelahan badan waktu bersetubuh perlu penyegaran kembali.
Biasanya setelah malam harinya melakukan persetubuhan, maka pada pagi harinya badan terasa lesu, malas dan timbul berbagai perasaan yang bukan-bukan. Timbulnya kelesuan badan itu tiada lain kerana keletihan saraf-saraf di seluruh badan akibat keluarnya air mani dari dalam tubuh yang memerlukan tenaga. Sehubungan dengan itu, Islam telah mewajibkan kepada umatnya untuk mandi setiap kali mengeluarkan air mani atau sehabis bersetubuh. Maka terasalah badan segar kembali, timbul vitaliti baru, hilang rasa ngilu, fikiran berjalan normal seperti sediakala.
Mengenai perintah mandi wajib setelah bersetubuh itu tersimpul dalam hadis nabi riwayat Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah iaitu bermaksud:
“Apabila ia duduk di antara empat anggotanya (dua tangan dan dua kaki) kemudian ia kerjakan dia (perempuan) maka sesungguhnya wajiblah mandi”.
Selanjutnya timbul pertanyaan pada kita apakah boleh melihat aurat semasa melakukan persetubuhan?
Pengertian aurat dalam Islam ialah bagian-bagian tubuh baik lelaki maupun perempuan yang haram dilihat oleh orang yang bukan mahramnya atau suami isteri sendiri. Aurat orang lelaki terdapat di bahagian tubuh antara pusat hingga lutut. Sedang aurat perempuan meliputi seluruh tubuhnya. Bahagian-bahagian aurat ini sama sekali tidak boleh dilihat oleh sesiapapun kecuali oleh mahramnya atau suami isterinya sendiri. Kerana aurat tidak boleh dilihat, wajiblah aurat itu ditutup dengan pakaian yang sopan.
Aurat mempunyai pengaruh tersendiri pada pandangan mata. Ia punya daya rangsangan yang bisa membangkitkan nafsu birahi seseorang.. Hanya dengan melihat aurat, orang lelaki bisa ereksi. Begitu pula perempuan timbul nafsu birahinya karena melihat aurat lelaki. Begitulah aurat yang oleh agama Islam sangat dihormati, yang harus ditutup dari pandangan mata kecuali oleh suaminya, isterinya atau mahramnya sendiri.
Firman Allah Taala:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Al Quran Surah An Nur Ayat 30)
firman Allah Taala:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka”. (Al Quran, Surah An Nur Ayat 31)
“Tidaklah boleh orang lelaki melihat aurat orang lelaki dan tidak boleh orang perempuan melihat kepada aurat orang perempuan. Tidak boleh pula orang lelaki berselimut dengan orang lelaki dalam satu kain. Tidak boleh orang perempuan berselimut dengan orang perempuan dalam satu kain”. (Hadis riwayat Muslim dari Abu Said r.a)
Sabda Rasulullah s.a.w.:
“Janganlah kamu perlihatkan pahamu, dan janganlah kamu melihat paha orang hidup dan jangan pula paha orang mati”. (Hadis riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim)
Jelaslah, melihat aurat antara sesama jenis atau lain jenis dilarang oleh agama kecuali yang melihat itu mahramnya atau suami isterinya sendiri, bagi suami isteri yang ingin meningkatkan gairah seksualnya dalam cumbu rayu, tentu melihatnya diperbolehkan.
Walaupun demikian ada batasan bagi suami isteri melihat aurat iaitu farji atau vagina, maka melihatnya dilarang. Bahkan di dalam hadis disebutkan alasan mengapa dilarang melihat vagina (kemaluan wanita). Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya:
“Apabila seorang dari kalian mendatangi isterinya maka janganlah ia melihat faraj (kemaluannya) kerana sesungguhnya yang demikian itu menyebabkan buta”.
Adakah maksud melihat faraj itu menyebabkan kebutaan? Kiranya belum ada ketentuan yang pasti secara ilmiah yang membenarkannya. Sebab betapa pun jorok farji itu, akan tetapi farji tidak mengeluarkan zat atau gas-gas yang membutakan. Jadi secara medis melihat farji itu tidak membahayakan mata.
Mengapa hadis menyebutkan begitu? Allahlah yang Maha Mengetahui. Akan tetapi yang jelas farji merupakan anggota kelamin wanita yang sangat dihormati, siapa pun wanitanya. Bahkan wanita primitif-primitif yang belum mengenal kebudayaan pun tidak lupa menutup kemaluan mereka walaupun anggota-anggota badan lainya tetap dibiarkan terbuka bebas. Mereka mempunyai perasaan malu jika kemaluannya dilihat orang lain.
Secara alamiah memberi petunjuk betapa kemaluan wanita itu merupakan anggota kelamin yang terhormat, yang tidak boleh dijadikan tontonan dan dipertontonkan.
Wanita mempunyai sifat pemalu, lebih pemalu daripada lelaki. Malu sebagai salah satu unsur penghalang timbulnya dorongan seksual. Jadi kalau suami akan bersetubuh kemudian merayu isterinya sambil melihat kelaminnya pastilah gairah seksual isterinya akan turun secara drastik kerana didesak oleh rasa malunya. Oleh itu tidak berfaedah sama sekali usaha merayu isterinya yang justru mengharapkan kepuasan dalam hubungan seks.
Di samping itu melihat kelamin wanita atau isterinya biasa menimbulkan akibat lain. yaitu kemungkinan nafsunya akan cepat terangsang sehingga menimbulkan hajat yang tidak terbendung lagi. Sehingga belum juga dia merayu isterinya yang belum siap melakukan hubungan seks, ia sudah terburu-buru memaksa isterinya untuk bersetubuh. Sehingga benar-benar butalah hatinya, ia tidak lagi memikirkan keperluan seks isterinya melainkan hanya keperluan dirinya yang dikejar untuk mencapai kepuasan. Memang benar-benar buta , buta hatinya.
Dengan kenyataan seperti di atas, maka kemungkinan besar larangan melihat kelamin wanita yang terdapat dalam hadis di atas merupakan tindakan moral saja agar setiap orang tidak gegabah melihat kelamin wanita. Jadi buta yang dimaksudkan di dalam hadis tentunya dapat diertikan sebagai buta hati bukan buta mata yang sesungguhnya.
Islam telah menuntut umatnya ke jalan yang benar, hidup yang benar, , dalam ridha Allah. Yang demikian itu dimaksukan agar semua umatnya selalu memegang prinsip yang benar dalam semua segi kehidupannya.
MANDI
MANDI
Oleh Ibnu ‘Abidin As-Soronji
Al-guslu الْغَسْلُ atau الْغُسْلُ (dengan difathahkan dan didlommahkan ghoin) artinya perbuatan mandi atau air yang digunakan untuk mandi. Secara bahasa artinya mengalirnya air pada sesuatu secara mutlaq. Dan Al-gislu الْغِسْلُ (dengan dikasrohkan ghoin) artinya sesuatu yang digunakan untuk mandi seperti air dan sabun.
Hal-hal yang mewajibkan mandi
1. Keluarnya mani
Ada dua keadaan
Keadaan terjaga (tidak tidur):
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudry t bahwasanya Rosulullah r bersabda :
إِنََّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاء ِ (Hanyalah air (mandi) itu karena (keluarnya) air (mani))
Dzohir hadits ini bahwasanya wajib mandi jika telah keluar mani, sama saja apakah dengan memancar dan disertai kelezatan atau tidak dengan keduanya. Dan ini adalah madzhab Syafi’i. Adapun madzhab Jumhur, wajib mandi jika mani tersebut keluar disertai kelezatan dan dengan terpancar, sesuai dengan firman Allah U:
فَالْيَنْظُزِ الإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ, خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ
Dan hendaklah manusia melihat dari apakah dia diciptakan ?, dia diciptakan dari air yang memancar (At-Thoriq :5,6)
Dan ini adalah pendapat yang benar, bahwasanya seseorang yang terjaga (tidak tidur), hanyalah wajib mandi jika air mani yang keluar tersebut memancar dan disertai kelezatan. Adapun pada hadits diatas, air mani yang dimaksud adalah yang sudah difahami (sebab alif lam yang terdapat dalam kata مِنَ الْمَاءِ adalah lil’ahdiah)
Dan hadits Ali bin Abi Tholib t dari Nabi r:
إِذَا رَأَيْتَ الْمَذِيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْئَكَ لِلصَّلاَةِ, فَإِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ
Jika engkau melihat madzi maka cucilah kemaluanmu dan berwudlulah sebagaimana wudlumu ketika (akan) sholat, dan jika engkau memancarkan air (dengan keledzatan) maka mandilah.
Keadaan Tidur
Hadits Ummu Salamah dan Anas t dan ‘Aisyah bahwasanya Ummu Sulaim istri Abu Tholhah t datang kepada Rosulullah r dan berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَ اللهَ لاَ يَسْتَحِيْ مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ غُسْلِ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ
Ya Rosulullah, sesungguhnya Allah tidaklah malu terhadap kebenaran. Apakah wajib bagi seorang wanita untuk mandi jika dia mimpi ?, maka Rosulullah r berkata :”Ya, jika dia melihat air”
Dari hadits ini diketahui bahwasanya jika seorang yang tidur keluar maninya maka wajib baginya untuk mandi secara mutlaq, sama saja apakah keluarnya secara terpancar dan disertai kelezatan atau tanpa kelezatan, karena terkadang orang yang tidur tidak merasakan keluarnya mani tersebut ketika mimpi. Atau dia lupa bahwasanya dia telah mimpi dan telah merasakan kelezatan. Jika seorang pria atau wanita bermimpi lalu ketika bangun melihat air mani, maka wajib baginya untuk mandi. Tapi jika dia bangun dan tidak melihat air mani maka tidak wajib baginya untuk mandi. Dan hal ini adalah ijma’ sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir.
Dan seorang yang tidur jika dia bangun dari tidurnya lalu dia mendapatkan sesuatu yang basah, maka hal itu tidak keluar dari tiga keadaan :
Dia yakin bahwasanya sesuatu yang basah itu adalah mani, maka dia wajib untuk mandi. Sama saja apakah dia mengingat mimpinya itu atau tidak. Oleh karena itu ketika Umar t melihat air mani dibajunya padahal dia telah selesai sholat subuh dengan mengimami kaum muslimin, maka diapun mandi dan sholat lagi.
Dia yakin bahwasanya sesuatu yang basah itu bukanlah air mani. Maka dalam keadaan ini tidak wajib baginya untuk mandi, tetapi wajib baginya untuk mencuci sesuatu yang basah tersebut, sebab sesuatu yang basah tersebut dihukumi seperti hukum air kencing.
Dia tidak tahu apakah sesuatu yang basah itu air mani atau bukan. Untuk keadaan yang ketiga ini maka ada dua kemungkinan :
a. Dia ingat bahwasanya dia telah bercumbu dengan istrinya (tapi belum jimak) atau dia telah memikirkan jimak, atau dia memandang istrinya tersebut dengan syahwat, maka dia menganggap sesuatu yang basah tersebut sebagai madzi -karena madzi itu keluar setelah memikirkan jimak, dan biasanya tidak terasa- , dan tidak wajib baginya untuk mandi. Dia hanya wajib untuk wudlu sebagaimana wudlunya ketika akan sholat setelah dia mencuci kemaluannya dan kedua testisnya, serta mencuci bajunya yang terkena madzi tersebut (sebab madzi adalah najis).
b. Dia tidak didahului memikirkan jimak dan tidak juga bercumbu dengan istrinya, maka untuk keadaan ini ada dua pendapat :
Pendapat pertama : Wajib baginya untuk mandi, sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :
سُئِلَ النَّبِيُّr عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَ لاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا؟ قَالَ : "يَغْتَسِلُ" وَ عَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ؟ قَالَ : لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ
Nabi r ditanya tentang seorang pria yang mendapatkan sesuatu yang basah namun dia tidak ingat bahwasanya dia telah mimpi ?, maka Nabi r menjawab :”Dia mandi”. Dan ditanya tentang seorang pria yang menurut dia bahwasanya dia telah bermimpi namun dia tidak mendapatkan sesuatu yang basah ?, maka Nabi r menjawab :”Tidak ada mandi baginya”
Maka yang lebih utama yaitu dia hendaknya mandi karena sesuai dengan hadits ini, dan untuk menghilangkan keraguan, dan hal ini adalah kehati-hatian.
Pendapat kedua : Tidak wajib baginya untuk mandi karena yang asal adalah suci dan tidaklah hilang asal ini dengan keraguan tetapi hanya hilang dengan keyakinan juga.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :
Jika dia merasa bahwa maninya telah bergerak (sudah merasakan kelezatan yaitu sudah ejakulasi) tetapi air maninya tidak keluar (misalnya karena dia menahannya). Untuk keadaan ini maka tidak wajib untuk mandi (ini adalah pendapat Syaikhul Islam) karena hadits-hadits di atas (hadits Abu Sai’id t dan Ummu Salamah) dan hukum asal adalah tetapnya kesucian hingga ada dalil yang menunjukan berpindah dari hukum asal ini.
Jika dia telah mandi janabah kemudian air maninya keluar lagi, maka dia tidak wajib mandi lagi karena :
a. Sebabnya satu (yaitu keluarnya mani) maka tidak wajib mandi dua kali
b. Keluarnya maninya yang kedua tidak disertai kelezatan dan pancaran, maka tidak wajib mandi. Adapun jika keluar mani baru yang disertai pancaran dan kelezatan maka wajib mandi lagi.
Jika dia sholat di pakaian yang ada air maninya maka tidak mengapa, sebab air mani tidaklah najis. Namun yang terbaik adalah mengikuti sunnah ‘amaliah Nabi r. Nabi r pernah sholat di pakaian yang ada maninya, tetapi jika mani tersebut sudah kering maka dikeruk/dikikis. Dan jika masih basah maka di gosok dengan idkhir (sejenis rerumputan yang memiliki bau yang enak).
Perbedaan antara mani, madzi, dan wadi.
Perbedaan antara mani dan madzi yaitu bahwasanya mani itu kental dan berbau dan keluar dengan terpancar ketika syahwat pada puncaknya. Adapun madzi dia adalah air yang encer dan tidak berbau mani, dan keluar tanpa terpancar serta tidak keluar ketika syahwat pada puncaknya akan tetapi ketika syahwat sedang turun. Jika sedang turun syahwat (kemudian keluar cairan) maka sangat jelas bagi seseorang (bahwa hal itu adalah madzi).
Adapun wadi adalah sisa yang keluar setelah buang air kecil dan berupa titik putih di akhir buang air kecil.
Sedangkan secara hukum, maka mani mewajibkan mandi, adapun madzi dan wadi sebagaimana air kencing yang mewajibkan wudlu.
2. Bertemunya dua khitan (dua kemaluan)
Maksud dari khitan di sini adalah tempat dipotongnya kulit, baik pada kemaluan pria maupun wanita. Adapun maksud dari bertemu dua khitan adalah jika hasyafah (bagian depan (kepala) dzakar yang terbuka akibat bekas sunat) telah masuk ke dalam kemaluan wanita maka wajib mandi, walaupun tidak keluar air mani. Berdasarkan hadits Abu Huroiroh t dari Nabi r bersabda :
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
Jika dia telah duduk diantara cabang yang empat (istrinya) kemudian dia berpayah (dengan istrinya itu) maka sungguh telah wajib atasnya mandi
Dan juga hadits ‘Aisyah berkata :Rosulullah r bersabda :
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
Jika dia telah duduk diantara empat cabang yang empat, dan khitan (kemaluan dia) telah menyentuh khitan (kemaluan istrinya) maka wajib atasnya mandi
Dan dalam riwayat Muslim ada tambahan وَ إِنْ لَمْ يُنْزِلْ (walaupun tidak keluar air mani)
Perhatian :
Yang hanya wajib mandi jika kepala dzakar masuk semuanya ke dalam farji wanita. Adapun jika hanya masuk sebagiannya dan tidak keluar mani maka tidak wajib mandi.
Jika dia memasukkan dzakarnya ke dubur istrinya, maka ini adalah harom namun dia tetap wajib mandi walaupun tidak keluar mani, sebab dubur termasuk dalam keumuman farji (sebagaimana telah dibahas dalam fiqh wudlu tentang apakah batal wudlu jika menyentuh dubur?). Adapun lafal bertemunya dua khitan atau saling menyetuhnya dua khitan yang terdapat dalam hadits hanyalah majaz.
Jika dia memasukkan kepala dzakarnya ke kemaluan hewan (na’udzu billah min dzalika) atau ke kemaluan wanita yang telah mati, maka dia tidak wajib mandi kecuali air maninya keluar. Demikian pula jika sihaq (lesbi yaitu farji wanita bertemu dengan farji wanita) maka tidak wajib mandi kecuali jika keluar air mani.
Jika dia memakai pelapis (misalnya kondom) maka jika pelapis tersebut tidak tipis maka tidak bisa dikatakan bahwa telah bertemu dua khitan. Oleh karena itu dia tidak wajib mandi kecuali jika keluar maninya. Adapun jika pelapisnya tipis maka wajib mandi walaupun tidak keluar mani. Dan ini adalah madzhab Malikiyah, adapun madzhab Syafi’i adalah wajib mandi walaupun pelapisnya tebal.
Dan pewajib mandi yang no 1 dan 2 ini sesuai dengan firman Allah U:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
Dan jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah (Al-Maidah : 6)
3. Masuk Islam, baik karena asli baru masuk Islam atau murtad yang sadar
Sesuai dengan hadits Qois bin ‘Asim t, dia berkata :
أَتَيْتُ النَّبِيَّr ، أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ
”Aku mendatangi Nabi r, aku menghendaki (masuk) Islam, maka Nabi r memerintah aku untuk mandi dengan air dan daun bidara”
Karena dia (Qois bin ‘Asim t) telah membersihkan batinnya dari kesyirikan maka termasuk hikmah yaitu dia membersihkan bagian luar dirinya dengan mandi.
Sebagian Ulama berkata : Tidak wajib bagi orang kafir untuk mandi jika hendak masuk Islam, hukumnya hanyalah mustahab. Sebab tidak ada dalil dari Nabi r perintah secara umum misalnya Nabi r berkata :”Barangsiapa yang masuk Islam maka mandilah !”. Dan telah banyak shahabat yang masuk Islam namun tidak ternukil bahwasanya Nabi r memerintahkan mereka untuk mandi. Kalau seandainya wajib, tentu perintah tersebut akan masyhur diantara manusia karena kebutuhan mereka akan hal itu.
Namun hal ini terbantah, sebab perintah Nabi r kepada seorang saja dari umatnya (dalam hal ini adalah kepada Qois bin ‘Asim t sebagaimana dalam hadits di atas) merupakan perintah bagi seluruh umatnya.
Ada pendapat yang lain lagi, yaitu dengan perincian : Jika orang yang masuk Islam ini datang dengan sesuatu yang mewajibkan mandi maka wajib bagi dia untuk mandi. Dan jika tidak maka tidak wajib atasnya mandi.
Berkata Syaikh Bin Baz :”Mandi karena masuk Islam adalah sunnah bukan wajib karena Nabi r tidaklah memerintah Al-Jam Al-Gofir untuk mandi”. Namun berkata Ibnul Qoyyim : “Telah shohih bahwa Nabi memerintahkan mandi, dan pendapat yang paling benar adalah wajibnya mandi bagi orang yang junub ketika kafirnya maupun yang tidak junub”.
4. Meninggalnya seorang muslim namun bukan mati syahid di medan perang
Sesuai dengan hadits Ibnu Abbas bahwasanya Nabi r berkata tentang orang yang meninggal ketika ihrom karena jatuh dari untanya : اِغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فيْ ِثَوْبَيْهِ (Mandikan dia dengan air dan daun bidara dan kafanlah dia dengan dua bajunya). Dan juga hadits Ummu ‘Atiyah, dia berkata :Nabi r menemui kami dan kami sedang memandikan anak perempuannya lalu Nabi r berkata :
اِغْسِلْنَاهَا ثَلاَثًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَالِكِ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكِ
”Mandikan dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika menurut kalian hal itu (baik)”
5. Haidl
Berhentinya haidl merupakan syarat sahnya mandi. Kalau dia mandi sebelum berhentinya haid maka mandinya tidak sah, karena termasuk syarat sahnya mandi adalah thoharoh (suci), sesuai firman Allah U:
وَيَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَاءَ فِيْ الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ. فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidl, maka katakanlah : “Haidl itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita haidl, dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqororh :222)
Dan hadits ‘Aisyah bahwasanya Nabi r berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisyh:
فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحِيْضَةِ فَدَعِيْ الصَّلاَةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّيْ
Jika telah datang haidl maka tinggalkanlah sholat dan apabila telah pergi haidlnya maka mandilah dan sholatlah.
6. Nifas
Berhentinya darah nifas merupakan syarat sahnya mandi. Nifas itu keluar ketika melahirkan atau setelah melahirkan, atau sehari atau dua hari atau tiga hari sebelum kelahiran.
Dan darah nifas hukumnya sama dengan hukum darah haidl. Dan yang menunjukan disamakannya antara nifas dan haidl diantaranya adalah perkataan Rosulullah r kepada ‘Aisyah ketika dia haidl : لَعَلَّكِ نَفَسْتِ ؟ (mungkin engkau nifas)
Adapun jika terjadi kelahiran tanpa ada darah maka tidak wajib baginya untuk mandi. Ini adalah pendapat Hanabilah. Adapun Malikiyah, Hanafiyah, dan Syafi’iyah tetap wajib mandi.
Perhatian : Jika bertemu dua penyebab mandi seperti haidl dan janabah, atau keluarnya air mani dan bertemunya dua khitan maka cukup sekali mandi.
Namun menurut Syaikh Al-Albani (dan ini adalah pendapat Jabir bin Zaid, Hasan Al-Basri, Qotadah, Ibrohim An-Nakhoi, dan lain-lainnya, dan ini adalah pendapat Dawud Adz-Dzohiri) bahwasanya untuk setiap hal yang menyebabkan mandi maka satu mandi, tidak boleh digabungkan. Sebagaimana tidak boleh seseorang berpuasa dengan satu puasa dengan niat untuk puasa Romadlon dan sekaligus untuk membayar hutang puasa Rhomadlonnya yang lalu. Dan barang siapa yang membedakan antara puasa dan mandi maka wajib membawakan dalil. Jika seorang wanita haidl dan junub maka dia harus mandi dua kali. Dalilnya adalah :
Berkata Qotadah : Ayahku (yaitu Abu Qotadah) menemuiku dan aku telah mandi jum’at, maka dia berkata :”Mandi karena janabah atau karena Jum’at ?” Qotadah berkata :”Aku berkata : karena janabah.”. Dia berkata :”Ulangi mandimu yang lain, karena aku mendengar Rosulullah r bersabda : “Barangsiapa yang mendi pada hari jum’at maka dia berada di kesucian hingga jum’at berikutnya” (Riwayat Hakim)
Namun pendapat Jumhur lebih benar dengan dalil bahwasanya Rosulullah r bersabda :
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَ اغْتَسَلَ, ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ, وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَ دَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ, كَانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عَمَلُ سَنَّةٍ, أَجْرُ صِيَامِهَا وَ قِيَامِهَا
Barangsiapa yang membuat mandi istrinya (bersenggama dengan istrinya) kemudian dia mandi, kemudian dia bersegera ke mesjid dan berusaha untuk lebih bersegera dan berjalan tanpa naik kendaraan kemudian mendekati imam dan mendengarkan imam dan tidak berbuat hal-hal yang sia-sia maka baginya untuk setiap langkahnya pahala setahun yaitu pahala puasanya dan sholat malamnya.
Dalam hadits ini Rosulullah r tidak menjelaskan bahwa harus mandi dua kali, padahal telah terkumpul dua sebab yaitu junub dan mandi hari jum’at (bahkan tiga sebab, yaitu bertemunya dua khitan, keluarnya mani, dan mandi jum’at). Selain itu ketika Rosulullah r bersenggama dengan istri beliau telah terkumpul dua sebab yaitu bertemunya dua khitan dan keluarnya mani, namun tidak ada satu dalilpun yang menunjukan bahwa Rosulullah r mandi dua kali.
Hal-hal yang dilarang karena junub
1. Sholat
Sesuai dengan firman Allah U:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَ أَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian (mendekati) sholat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula kalian menghampiri mesjid), terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. (An-Nisa’ :43)
Dan juga sesuai dengan hadits Abu Huroiroh t, dan hadits Ali t, serta hadits Ibnu Umar t sebagaimana telah lalu dalam bab wudlu.
2. Thowaf di Baitul Harom
Sesuai dengan sabda Nabi r: الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ (Thowaf di Baitul Harom adalah sholat…)
3. Menyentuh mushaf
Sesuai dengan hadits ‘Amr bin Hizam t dan Ibnu Umar t: لاَ يَمُسُّ الْقُرٍآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ (Tidaklah menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci)
Namun hal ini telah terbantah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab wudlu. Intinya hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah sebab lafal طَاهِرٌ adalah lafal yang musytarok. Oleh karena itu tidak mengapa orang yang junub menyentuh Al-Qur’an
4. Membaca Al-Qur’an walau tanpa menyentuh mushaf
Maksud membaca mushaf yaitu membaca satu ayat atau lebih. Sesuai dengan hadits Ali bin Abi Tholib t, beliau berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِr يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا
Adalah Rosulullah r membacakan Al-Qur’an kepada kami di setiap keadaan selama beliau tidak junub
وَبِلَفْظِ : كَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْخَلاَءَ فَيُقْرِئُنَا الْقُرْآن وَيَأْكُلُ مَعَنَا اللَّحْمَ وَلَمْ يَكُنْ يُحْجِبُهُ – أَوْ قَالَ يُحْجِزُهُ - عَنِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ سِوَى الْجَنَابَةِ
Dan dengan lafal :”Adalah Rosulullah r keluar dari kamar mandi lalu dia membacakan Al-Qur’an kepada kami dan beliau mau makan bersama kami dan tidaklah menghalanginya - atau berkata mencegahnya - dari Al-Qur’an kecuali hanya karena janabah
Dan hadits ‘Ali t bahwasanya dia berwudlu kemudian berkata :Demikianlah saya melihat Rosulullah r berwudlu kemudian beliau membaca sesuatu dari Al-Qur’an kemudian berkata :
هَذَا لَيْسَ لِمَنْ بِجُنُبٍ, فَأَمَّا الْجُنُبُ فَلاَ, وَلاَ آيَةً
Dan ini bukanlah untuk orang yang junub, adapun orang yang junub maka tidak !, tidak (walau) satu ayat.
Selain itu dengan dilarangnya orang yang junub untuk membaca Al-Qur’an maka hal ini akan mendorongnya untuk segera mandi.
Adapun untuk orang yang haidl dan nifas maka ada khilaf diantara para ulama
Pertama :Tidak boleh membaca Al-Qur’an karena haidl dan nifas termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi maka sama halnya dengan junub.
Kedua : Boleh membaca Al-Qur’an, sebab :
a. Tidak ada dalil yang shohih dan shorih (jelas) yang melarang orang yang haidl membaca Al-Qur’an.
b. Asal sesuatu adalah halal hingga ada dalil yang melarangnya.
c. Allah telah memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an secara mutlaq (mencakup siapa saja), maka barang siapa yang mengelurakan orang yang haidl dari ibadah kepada Allah maka wajib baginya membawa dalil.
d. Tidak bisa diqiyaskan haidl dan nifas dengan junub. Karena adanya perbedaan. Junub timbul karena kehendaknya sendiri adapun haidl dan nifas tidak. Selain itu haidl dan nifas memiliki waktu yang lama adapun junub maka waktunya singkat.
Ketiga : Dengan perincian, jika wanita yang haidl tersebut tidak memiliki hajat maka untuk hati-hati dia tidak membaca Al-Qur’an, adapun jika ada hajah, seperti untuk muroja’ah hafalannya atau untuk mengajar anak-anak, maka tidak mengapa.
Namun yang benar adalah tidak mengapa oang yang haidl, nifas, bahkan yang junub untuk membaca Al-Qur’an. Dan ini adalah madzhab Dawud Adz-Dzohiri dan para sahabatnya, Sa’id bin Jubair dan juga merupakan pendapat Syaikh Al-Albani. Dalilnya :
Kedua hadits Ali t di atas dhoif. Adapun hadits Ali t yang ke dua dhoifnya karena ada dua sebab yaitu mursal dan mauquf.
Hadits ‘Aisyah : “Adalah Nabi berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya”. Dan membaca Al-Qur’an termasuk berdzikir kepada Allah
Hadits ‘Aisyah ketika dia berhaji bersama Nabi r lalu mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Sarifa yang dekat dengan Mekah. Dan Rosulullah r mendapati ‘Aisyah sedang menangis karena haidlnya, maka Rosulullah r berkata kepadanya :
اِصْنَعِيْ مَا يَصْنَعُ الْحَاجُ غََيْرَ أَنْ لاَ تَتُوْفِيْ وَلاَ تُصَلِّيْ
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji selain towaf dan sholat”.
Rosulullah r tidak melarangnya membaca Al-Qur’an dan juga tidak melarang ‘Aisyah memasuki masjidil harom.
Adanya atsar dari Hammad bin Abi Sulaiman berkata :”Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang orang yang junub (apakah boleh) dia membaca (Al-Qur’an) ?, maka menurut dia tidak mengapa, lalu dia berkata :”Bukankah di dalam hatinya ada Al-Qur’an ?”
Dan ini juga merupakan pendapat Ikrimah. Namun hal ini (membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub) adalah makruh sebagaimana hadits “Sesungguhnya aku benci untuk berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci”.
5. Berdiam di Mesjid
Sesuai dengan firman Allah U:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَ أَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian (mendekati) sholat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula kalian menghampiri mesjid), terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. (An-Nisa’ :43)
Dari ayat ini diketahui bahwasanya orang yang wajib mandi terlarang berdiam di mesjid. Dalilnya :
Bukanlah makna ayat ini “janganlah kalian sholat kecuali yang hanya berlalu (melewati mesjid)”, karena orang yang berlalu tidaklah sholat (karena dia berjalan). Sehingga maksud larangan dalam ayat ini adalah larangan mendekati mesjid. Adapun yang sekedar berlalu maka tidak terlarang.
Mesjid-mesjid adalah rumah Allah U dan tempat untuk berdzikir, beribadah, dan tempatnya para malaikat. Jika Rosulullah r melarang orang yang mulutnya bau akibat makan bawang mendekati mesjid, maka orang yang junub lebih layak untuk dilarang mendekati mesjid. Selain itu malaikat malaikat tidak masuk ke rumah yang ada orang junub di dalamnya.
Dan sesuai dengan hadits ‘Aisyah secara marfu’ :
فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ
Sesungguhnya saya tidak mnghalalkan mesjid bagi orang yang haidl dan junub.
Adapun hanya sekedar berlalu melewati mesjid, maka tidak mengapa sesuai dengan ayat. Dan demikian pula orang yang haidl dan nifas jika dia mampu menjaga haidl dan nifasnya tidak jatuh mengotori masjid maka tidak mengapa dia melalui mesjid, sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :
قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ r: "نَاوِلِيْنِيْ الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ" فَقُلْتُ : إِنِّيْ حَائِضٌ فَقَالَ : تَنَاوَلِيْهَا فَإِنَّ الْحَيْضَةَ لَيْسَتْ فِيْ يَدِكِ
Rosulullah r berkata kepadaku : “Ambilkanlah sajadah untukku dari mesjid !”. Aku berkata :”Sesungguhnya saya haidl”, maka beliau berkata :”Ambillah sajadah itu karena haidl tidaklah di tanganmu”
Dan juga hadits Abu Huroiroh t, ketika Rosulullah r di mesjid maka dia berkata :
يَا عَائِشَةَ نَاوِلِيْنِيْ الثَّوْبَ, فَقَالَتْ : إِنِّيْ حَائِضٌ, فَقَالَ : ْحَيْضَتُكِ لَيْسَتْ فِيْ يَدِكِ
“Wahai ‘Aisyah, ambilkanlah baju untukku !”, lalu ‘Aisyah berkata :”Sesungguhnya saya haidl”, maka Rosulullah r berkata :”Haidlmu tidak di tanganmu”
Demikian pula hadits Maimunah, dia berkata :
كَانَ رَسُوْلُ الله rيَدْخُلُ عَلَى إِحْدَانَا وَهِيَ حَائِضٌ, فَيَضَعُ رَأْسَهُ فِيْ حِجْرِهَا فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ, ثُمَّ تَقُوْمُ إِحْدَانَا بِخُمْرَتِهِ فَتَضَعُهَا فِيْ الْمِسْجِدِ وَهِيَ حَائِضٌ
Rosulullah r pernah menemui salah seorang dari kami (istri-istri Nabi r) yang sedang haidl, lalu beliau meletakkan kepala beliau ke pangkuan salah seorang dari kami tersebut kemudian beliau memabaca Al-Qur’an. Lalu salah seorang dari kami membawa sajadah Nabi r dan meletakkannya di mesjid dan dia dalam keadaan haidl.
Berkata Syaikh Bin Baz :"Para shahabat mereka berlalu-lalang di mesjid karena mereka mengetahui pengecualian ini (bolehnya melewati mesjid walaupun dalam keadaan junub). Adapun hadits . فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ (Sesungguhnya saya tidak menghalalkan mesjid untuk orang haidl dan junub) maka hadits ini berlaku untuk orang yang ingin duduk di mesjid".
Apakah boleh orang yang junub berdiam di mesjid jika dia telah berwudlu ?
Untuk masalah ini ada dua pendapat :
Boleh, dan ini adalah pendapat Anmad dan Ishaq dengan dalil :
a. Bahwasanya sebagian sahabat Nabi r jika mereka telah berwudlu dari janabah mereka berdiam di mesjid. Jika salah seorang dari mereka mimpi (junub), maka dia berwudlu lalu kembali ke mesjid. Dan hal terjadi di zaman Nabi r dan beliau tidak mengingkari hal ini maka ini menunjukan bahwa hal ini adalah boleh walalupun bukan perkara ibadah. Adapun jika hal ini merupakan perkara ibadah maka siapa saja yang melakukannya maka akan mendapatkan pahala.
b. Selain itu wudlu merupakan peringan janabah, dalilnya adalah :
Dari Ibnu Umar t bahwasanya Umar t meminta fatwa (bertanya) kepada Nabi r, maka dia (Umar t) berkata :”Apakah salah seorang dari kami tidur dan dia dalam keadaan junub?”, Maka Nabi r berkata :
لِيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَنَمْ حَتَّى يَغْتَسِلَ إِذَا شَاءَ
“Hendaknya dia berwudlu kemudian hendaklah dia tidur hingga dia mandi, jika dia kehendaki” (Riwayat Bukhori no 287 dan Muslim no 306)
c. Wudlu adalah salah satu penyuci
Tidak boleh, dan ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz, dengan dalil :
a. Wudlu tidaklah bisa menghilangkan janabah dan bertentangan dengan keumuman hadits
فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ
b. Sedangkan apa yang telah dilakukan oleh para shahabat bisa dibawakan kepada bahwasanya dalil yang melarang orang junub berdiam di mesjid samar bagi mereka. Dan yang asal kita mengambil firman Allah : وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Namun ada pendapat yang lain yaitu bolehnya orang yang junub untuk berdiam di mesjid. Dan ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Al-Muzani, sebab Imam Ahmad mendho’ifkan hadits ‘Aisyah di atas. Adapun ayat di atas dita’wil, jadi maksud dari إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ adalah para musafir yang mengalami janabah, lalu mereka bertayammum dan sholat, dan tafsir ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Dan kita kembali pada hukum asal yaitu Baroatul asliyah. Selain itu ada hadits ‘Aisyah, yaitu ketika dia berhaji bersama Nabi r lalu mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Sarifa yang dekat dengan Mekah. Dan Rosulullah r mendapati ‘Aisyah sedang menangis karena haidlnya, maka Rosulullah r berkata kepadanya :
اِصْنَعِيْ مَا يَصْنَعُ الْحَاجُ غََيْرَ أَنْ لاَ تَتُوْفِيْ وَلاَ تُصَلِّيْ
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji selain towaf dan sholat”.
Rosulullah r tidak melarangnya membaca Al-Qur’an dan juga tidak melarang memasuki masjidil harom..
Namun bagaimana dengan hadits Ummu ‘Athiyah yang diriwayatkan oleh Bukhori damana lalfalnya ada yang berbunyi :
وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِيْنَ
Dan Rosulullah memerintahkan para wanita haidl untuk menjauhi musholla (tanah lapang yang digunakan untuk sholat) nya kaum muslimin ???
Syarat mandi
Syarat mandi ada delapan yaitu : Niat, Islam, berakal, tamyiz, air yang digunakan adalah suci mensucikan dan mubah, dan menghilangkan hal-hal yang bisa menghalangi sampainya air ke kulit, dan terputusnya hal-hal yang menyebabkan mandi (misalnya terputusnya haidl dan nifas).
Rukun mandi
Mencuci dengan air semua anggota badan yang mungkin untuk dicuci tanpa ada kesulitan. Dan perkara ini disepakati oleh para ahli fiqh.
Mandi yang mencukupi.
Allah U berfirman : وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا (Dan jika kalian junub maka bersucilah), dalam ayat ini Allah U tidak memerinci cara mandi, shingga dapat dipahami jika telah mencuci seluruh tubuh sekali saja maka sudah sah mandinya. Misalnya seseorang menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air lalu keluar maka telah sah mandinya. (Namun dia harus beristinsyaq dan berkumur-kumur, dan jika dia tidak melakukannya maka mandinya tidak sah)
Jika ada yang berkata : “Ayat ini masih mujmal dan telah dijelaskan oleh Rosulullah r perinciannya, maka rincian yang dijelaskan oleh Rosulullah r adalah wajib, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk sholat lalu Rosulullah r menjelaskan perinciannya maka perincian tersebut wajib bagi kita”.
Jawabannya :
1. Kalau seandainya Allah U menghendaki kita untuk wajib mandi dengan cara yang rinci maka tentu akan Allah U cantumkan dalam ayat, sebagaimana Allah U rinci tata cara wudlu.
2. Hadits Imron bin Husain yang panjang, dimana Nabi r berkata kepada seorang laki-laki yang junub dan belum sholat : خُذْ هَذَا وَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ (ambillah ini dan siramkanlah ke (diri)mu), dan Rosulullah r tidaklah menjelaskan bagaimana cara orang itu menyiram dirinya. Kalau cara mandi yang rinci sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi r adalah wajib, tentu Rosulullah r akan menjelaskannya kepada orang itu, karena mengakhirkan penjelasan ketika dibutuhkan adalah tidak boleh. Dan tidaklah dikatakan :”Mungkin orang ini sudah mengetahui cara mandi yang benar sehingga Rosulullah r tidak perlu lagi menjelaskannya”, maka hal ini ada dua jawaban. Pertama, yang asal adalah dia tidak mengetahui. Yang kedua, dzohir keadaannya menunjukan bahwasanya dia adalah jahil, sebab dia tidak mengetahui bahwasanya tayammum itu bisa menggantikan mandi ketika tidak ada air.
Sifat Mandi Nabi
Sifat mandi Nabi r yang sempurna yang mencakup fardu-fardunya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang disunnahkan ketika mandi adalah sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْتَسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يَفْرُغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ)( وَ فِيْ رِوَايَةِ مَيْمُوْنَةَ : غَيْرَ رِجْلَيْهِ) ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِيْ أُصُوْلِ الشَّعْرِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : ثُمَّ يُخَلِّلُ شَعْرَهُ بِيَدِهِ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ), ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ: فَبَدَأَ بِشَقِّ رَأْسِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ), ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ:عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ), ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (متفق عليه ولفظ لمسلم).
وَلَهُمَا, مِن حَدِيْثِ مَيْمُوْنَةَ قَالَت ْ: وَضَعْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ وَضُوْءَ الْجَنَابَةِ فَأَكْفَأَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى يَسَارِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ :وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى) (وَغَسَلَهُ بِشِمَالِه)ِ, ثُمَّ ضَرَبَ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :دَلَكَ) يَدَهُ بِالأَرْضَ أَوِ الحَائِطِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ) مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ, ثُمَّ غَسَلَ وَجِْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ, ُُثمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ, ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : بِالْمِنْدِيْلِ, فَرَدَّهُ), فَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ.
Dari “Aisyah berkata : Adalah Rosulullah jika mandi karena janabah dia mulai dengan membersihkan kedua tangannya, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu (dalam riwayat yang lain sebagaimana wudlunya untuk sholat)(dalam riwayat Maimunah : selain kedua kakinya), kemudian dia mengambil air lalu dia masukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut (dalam riwayat yang lain : kemudian dia menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga jika dia telah merasa bahwasanya telah mengena kulit kepalanya maka dia menumpahkan air ke kepalanya), lalu menyiram kepalanya dengan tiga genggam air (dalam riwayat lain : dia mulai dengan bagian kanan kepala lalu yang kiri) , kemudian mengguyur seluruh tubuhnya (dalam riwayat lain : ke seluruh kulit (tubuh) beliau) dan mencuci kedua kakinya. (Hadits riwayat Bukhori Muslim dan ini adalah lafal yang terdapat di Muslim, sedangkan tambahan-tambahan riwayat yang lain ada di Bukhori)
Dalam riwayat Bukhori dan Muslim juga dari hadits Maimunah, dia berkata : “Aku meletakkan bagi Nabi air untuk (mandi) janabah. Lalu dia memiringkan (tempat air tersebut) dengan menggunakan tangan kanannya ke tangan kanan kirinya dua kali atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain : dan kotoran yang ada padanya) (dalam riwayat lain : dengan tangan kirinya) lalu memukulkan (dalam riwayat lain : menggosok) tangannya ke bumi atau ke tembok (dalam riwayat lain : ke tanah) dua kali atau tiga kali (dalam riwayat lain :kemudian mencuci tangannya itu), kemudian berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung) lalu mencuci wajahnya dan mencuci kedua lengannya kemudian menumpahkan air ke kepalanya, lalu mencuci seluruh tubuhnya, lalu berpindah tempat, lalu mencuci kedua kakinya. Lalu aku memberikannya secarik kain dan dia tidak mau (dalam riwayat lain : sapu tangan tapi dia menolaknya) lalu dia mengeringkan air dengan kedua tangannya.
1. Berniat
Menurut Hanafiyah, berniat hanyalah sunnah (lihat fiqh wudlu dalam pembahasan niat). Adapun menurut jumhur adalah wajib. Yaitu berniat dalam hatinya untuk mandi besar, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khoththab t dari Nabi r :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلٍ امْرِءٍ مَا نَوَى
“ Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”
Untuk masalah niat ada empat keadaan :
1. Dia berniat untuk mengangkat dua hadats (hadats besar dan kecil) secara sekaligus, maka kedua hadats tersebut terangkat. Sesuai dengan hadits Nabi r إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
2. Dia hanya berniat untuk mengangkat hadats besar saja. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah maka hadats kecilnya pun otomatis terangkat (dan ini juga merupakan pendapat Syaikh As-Sa’di). Dalilnya adalah firman Allah U وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا قَاطَّهَّرُوْا maka jika dia telah bersuci dengan niat untuk mengangkat hadats besar maka ini telah cukup untuk dia, karena Allah U tidak menyebutkan hal-hal yang lain selain bersuci. Dan inilah pendapat yang benar.
3. Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan wudlu. Misalnya sholat. Jika dia berniat mandi untuk sholat dan tidak berniat untuk mengangkat hadats maka otomatis terangkat dua hadats dari dirinya, sebab sholat tidak sah kecuali dengan terangkatnya dua hadats.
4. Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan kecuali dengan mandi (dan tidak mengapa tanpa wudlu). Misalnya membaca Al-Qur’an atau untuk berdiam di mesjid (bagi yang berpendapat demikian). Jika dia mandi dengan niat untuk membaca Al-Qur’an dan dia tidak berniat untuk mengangkat dua hadats maka yang terangkat hanyalah hadats besar saja. Sehingga jika dia ingin sholat atau ingin menyentuh mushaf (bagi yang berpendapat demikian) maka dia harus berwudlu. Namun kenyataannya sekarang, kebanyakan manusia mandi dengan niat untuk mengangkat hadats besar atau untuk sholat, maka terangkatlah kedua hadats mereka.
2. Membaca bismillah
Dan hukumnya adalah mustahab menurut jumhur, adapun menurut Hanabilah adalah fardlu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh t. Namun Hanabilah menganggap bahwasanya hukum membaca bismillah ketika mandi adalah lebih ringan daripada ketika wuldlu, sebab hadits Abu Huroiroh t tersebut hanya jelas mencakup wudlu dan tidak yang lainnya.
3.Mencuci kedua telapak tangannya
4.Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menghilangkan kotoran yang terdapat di kemaluannya.
5. Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci kemudian di cuci
Yaitu Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci dan menggosoknya dengan baik, kemudian di cuci berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Maimunah atau menggosokan tangan kiri ke dinding kemudian mencucinya sesuai dengan hadits Maimunah atau mencucinya dengan air dan sabun.
6. Berwudlu
Para Ulama khilaf tentang berwudlu ketika mandi janabah, apakah hukumnya wajib atau hanya mustahab. Adapun nukilan Ijma’oleh Ibnu Battol bahwasanya wudlu hukumnya sunnah adalah tertolak. Abu Tsaur, dan Dawud, serta yang lainnya telah berpendapat bahwasanya mandi tidak bisa mewakili wudlu. Namun kebanyakan para ulama berpendapat akan tidak wajibnya berwudlu ketika mandi janabah dan bahwasanya hadats kecil telah masuk ke dalam hadats besar (namun tidak sebaliknya). Adapun menurut Hanafiyah harus disertai dengan niat wudlu juga Dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm dan yang lainnya, dan ini adalah pendapat yang benar. Sebab hanya sekedar perbuatan Nabi r tidak bisa menunjukan akan wajibnya, dan tidak ada dalil yang menunjukan akan wajibnya. Adapun perincian cara berwudlu lihat penjelasan no 9 di bawah ini.
Perlu diperhatikan bahwasanya, jika seseorang telah mandi wajib dengan sah (dengan niat mengangkat hadats besar dan hadats kecil, lihat penjelasan tentang niat pada no 1 di atas), dan setelah mendi tersebut dia belum batal wudlu, maka dia tidak perlu berwudlu lagi. Dalilnya :
قَالَتْ عَئِشَةُ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ rلاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ. وَعَنْ أِبْنِ عُمَرَ tأَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ قَالَ لَهُ : إِنِّيْ أَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ ؟ فَقَالَ لَهُ : لَقَدْ تَعَمَّقْتَ
‘Aisyah berkata : “Rosulullah r tidak pernah berwudlu setelah mandi”. Dan dari Ibnu Umar t bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada :”Aku berwudlu setelah mandi ?”, maka Ibnu Umar berkata kepadanya :”Kamu telah berlebih-lebihan”
Berkata Syaikh Al-Albani : “Dzohir dari hadits bahwasanya yang sunnah adalah wudlu sebelum mandi bukan setelah mandi, dengan dalil hadits ‘Aisyah yang lain (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim –pent)……, dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang berwudlu sebelum mandi kemudian berwudlu lagi setelahnya maka dia telah berlebihan, dan barangsiapa yang mencukupkan wudlu setelah mandi (dia tidak berwudlu sebelum mandi tetapi sesudahnya –pent) maka dia telah menyelisihi sunnah.”
Pertanyaan :
Apakah mandi biasa (bukan mandi junub) tanpa wudlu, namun dengan niat mengangkat hadats kecil sudah cukup bagi kita ?, sehingga setelah mandi kita boleh sholat tanpa wudlu lagi ?
Jawab : Adapun mandi yang tidak disyari’atkan atau mandi biasa yang untuk membersihkan tubuh atau untuk mendinginkan tubuh maka hal ini tidak bisa mewakili wudlu (hadats kecilnya belum hilang), sebab mandi tersebut bukan termasuk ibadah, walaupun memang syari’at memerintahkan kita untuk berbuat bersih tetapi kebersihan bukan dengan cara seperti ini, bahkan kebersihan secara mutlak dengan apa saja yang bisa menimbulkan kebersihan. Dan bagaimanapun mandi untuk mendinginkan tubuh atau untukmembersihkan wudlu maka tidak bisa mewakili wudlu.
Jika seseorang mandi biasa (atau dia mandi junub lantas dia menyentuh kemaluannya dengan syahwat) kemudian dia berwudlu dalam keadaan telanjang, apakah wudlunya sah ?
Jawab : Wudlunya sah, namun yang lebih baik seseorang jika telah selesai mandi hendaknya dia memakai baju agar auratnya tidak tetap terbuka tanpa adanya hajah.
7. Memasukkan jari-jari ke air kemudian menyela-nyela rambut dengan jari-jari tersebut hingga ke kulit kepala.
Lalu menyiram kepalanya dengan tiga cidukan dengan kedua tangannya, sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah. Dia mulai dengan menyirami bagian kanan kepala kemudian bagian kiri kemudian bagian tengah kepala, sesuai dengan hadits ‘Aisyah. Dan hukum mencuci kulit kepala adalah wajib baik rambutnya tebal maupun tipis, termasuk juga mencuci kulit dagu yang ditumbuhi jenggot. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Nabi r tentang mandi janabah, maka Nabi r berkata :
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً قَتُطَهِّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ غَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا, ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ
Salah seorang dari kalian mengambil air lalu dia bersuci dan membaguskan bersucinya tersebut, lalu menyiram kepalanya dan menggosokkannya hingga sampai ke akar rambut, lalu mengguyurkan air di atas kepalanya. (Riwayat Muslim)
Mengenai rambut wanita, terjadi khilaf diantara para ulama. Namun yang rojih adalah bagi wanita tidak perlu menguraikan rambutnya ketika mandi karena janabah sesuai dengan hadits Ummu Salamah, dia berkata :.
قُلْتُ : يَارَسُوْلَ الله, إِنِّيْ امْرَأَهٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِيْ, أَفَأَنْقُضُهُ لِغَسْلِ الْجَنَابَةِ ؟ قَالَ : لاَ, إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكَ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ.
Aku berkata : “Ya Rosulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat rambutku. Apakah aku membukanya untuk mandi janabah ?”, Rosulullah r menjawab :”Tidak”, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali”.
Dan disunnahkan bagi wanita untuk menguraikan rambutnya ketika mandi karena haidl sesuai dengan hadits ‘Aisyah, yaitu Rosulullah r berkata kepadanya ketika dia sedang haidl :
خُذِيْ مَائَكِ وَ سِدْرَكِ وَامْتَشِطِيْ
Ambillah airmu dan daun bidaramu dan bersisirlah
Dan tidaklah mungkin bisa bersisir kecuali dengan membuka ikatan rambut.
Adapun hadits Ali adalah dlo’if yaitu bahwasanya Rosulullah r bersabda :
مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يُصِبْهُ الْمَاءُ فَعَلَ اللهُ بِهِ كَذَا وَ كَذَا مِنَ النَّارِ
Barang siapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut karena janabah yang tidak tersentuh air, maka Allah akan melakukan ini dan itu baginya dari neraka.
Bagaimana dengan rambut yang terurai ?
Maka mencucinya adalah wajib menurut Syafi’iyah (dan ini juga merupakan pendapat Hanabilah yang paling rojih), mereka berdalil dengan hadits Abu Huroiroh t yang dho’if yaitu bahwasanya Rosulullah r bersabda :
إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةٌ, فَاغْسِلُوْا الشَّعْرَ, وَأَنْقُوْا الْبَشَرَ
Sesungguhnya dibawah setiap rambut adalah janabah, maka cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnyat.
Adapun menurut Hanafiyah dan Malikiyah tidak wajib berdasarkan hadits Ummu Salamah yang telah lalu.
8. Menyiramkan air ke kepala dan seluruh tubuh.
Sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah, dimulai dengan menyirami bagian kanan tubuh kemudian yang kiri sesuai dengan hadits ‘Aisyah :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ
“Adalah menyenangkan Rosulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut, ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”.
Dan hendaknya dia memperhatikan untuk mencuci kedua ketiaknya dan bagian-bagian tubuh yang terlipat dan pangkal kedua paha sesuai hadits ‘Aisyah, dan dia menggosok badannya jika kesucian bagian tersebut tidak bisa sempurna tanpa digosok..
Apakah wajib baginya untuk beristinsyaq dan berkumur-kumur atau yang lainnya ?
Hanabilah dan Hanafiyah mewajibkan berkumur-kumur dan beristinsyaq karena harus mengenai seluruh tubuh. Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah bahwasanya berkumur dan beristinsyaq hanyalah sunnah sebagaimana disunnahkan ketika berwudlu.
9. Berpindah tempat kemudian mencuci kedua kaki.
Adapun mengulangi mencuci kaki (setelah mencucinya ketika wudlu) maka hal ini tidaklah jelas dalam hadits. Hal ini (yaitu mencuci kaki ketika wudlu) merupakan istimbat dari lafal وُضُوْئَهُ لِلصَّلاَةِ (sebagaimana wudlunya ketika akan sholat), karena dzohir lafal ini mencakup mencuci kedua kaki juga dan juga merupakan istimbat dari lafal ُُثمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ (kemudian dia mencuci seluruh badannya) karena lafal ini juga mencakup mencuci kedua kaki. Bahkan telah ada lafal yang jelas dalam shohih Muslim (1/174) dengan lafal ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (kemudian dia menyirami seluruh tubuhnya lalu mencuci kedua kakinya). Namun dalam hadits Maimunah dalam riwayat Bukhori disebutkan تَوَضَّأَ رَسُوْلُ الله وُضُوْئَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ (Rosulullah r berwudlu sebagaimana wudlu ketika sholat selain kedua kaki), dan ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ (kemudian dia berpindah lalu mencuci kedua kakinya). Dan ini adalah nash akan bolehnya mengakhirkan mencuci kedua kaki ketika mandi, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dan mungkin Rosulullah r melakukan kedua cara ini, terkadang dia mencuci kedua kakiknya ketika wudlu dan terkadang beliau beliau berwudlu namun beliau mengakhirkan mencuci kedua kakinya.
Dan hendaknya janganlah dia berlebih-lebihan ketika menggunakan air, jangan telalu berlebih-lebihan dan jangan pula sebaliknya.
Mandi-mandi yang disunnahkan
1. Mandi hari Jum’at
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri t bahwasanya Rosulullah bersabda :
غَسْلُ يَوْمِ الْجُمِعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
Mandi hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh)
Dan hadits ‘Aisyah dia memarfu’kannya :
الْغَسْلُ يَوْمَ الْجُمِعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَ أَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيْبًا إِنْ وَجَدَ
Mandi pada hari jum’at wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh) dan bersiwak dan memakai minyak wangi jika dia mendapatkannya.
Namun ada khilaf apakah hukum mandi jum’at itu wajib atau sunnah.
2. Mandi untuk berihrom
Sesuai dengan hadits Zaid bin Tsabit t:
أَنَّ النَّبِيَّ تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ وَاغْتَسَلَ
Bahwasanya Nabi r tidak berpakaian untuk berihlal dan beliau mandi
3. Mandi ketika masuk Mekah
Karena Ibnu Umar t tidaklah dia masuk Mekah kecuali dia bermalam di Dzi Tuwa hingga subuh dan dia mandi, dan dia menyebutkan bahwasanya hal itu (apa yang telah dilakukannya) dari Nabi r
4. Mandi setiap kali akan bersenggama
Sesuai dengan hadits Abu Rofi’t:
أَنَّ النَّبِيَّ rطَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ, يَغْتَسِلُ عِنْدَ هذِهِ وَعِنْدَ هذِه. قَالَ : فَقُلْتُ :يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدً؟ قَالَ : هذَ أَزْكَى وَأَطْيَبُ
Bahwasanya Nabi r mengelilingi istri-istrinya pada suatu hari, dan dia mandi di sisi istri yang ini dan di sisi istri yang ini. Berkata Abu Rofi’ t : Lalu aku berkata :”Ya Rosulullah, tidakkah engaku menjadikannya sekali mandi saja ?”, Rosulullah r berkata : “Ini lebih bersih dan lebih baik”
Untuk masalah mengulangi jimak, maka ada tiga tingkatan :
1. Dia mandi sebelum dia mengulanginya. Ini adalah tingkatan yang paling sempurna.
2. Dia hanya berwudlu sebelum dia mengulangi jimaknya. Tingkatan ini adalah di bawah tingkatan yang pertama.
3. Dia mengulangi jimak tanpa mandi dan tanpa wudlu. Ini adalah tingkatan yang peling rendah, namun hal ini boleh.
5. Mandi setelah memandikan mayat
Sesuai dengan hadits Abu Huroiroh t, dia memarfu’kannya :”Barangsiapa yang memandikan mayat maka mandilah”, dan sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :”Rosulullah r mandi karena empat perkara : karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam, dan karena memandikan mayat”.
Dan yang menunjukan bahwa hal ini tidaklah wajib adalah hadits Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar t), dia memandikan Abu Bakar t ketika Abu Bakr t wafat, lalu dia keluar dan bertanya kepada para muhajirin yang bertemu dengannya. Lalu dia berkata :”Sesungguhnya saya berpuasa dan hari ini adalah hari yang dingin sekali, apakah aku harus mandi (setelah memandikan Abu Bakr t)?, lalu mereka berkata :”Tidak”
Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwasanya hal ini menunjukan bahwasanya mandi karena memandikan mayat adalah hal yang ma’lum (yang diketahui) oleh para shahabat, tetapi hal ini adalah sunnah.
6. Mandi karena mengubur orang musyrik
Sesuai hadits Ali bin Abi Tholib t bahwasanya beliau mendatangi Nabi r, lalu Nabi r berkata :”Sesungguhnya Abu Tholib telah mati”, lalu beliau berkata :”Pergilah engkau lalu kuburkanlah dia!”. Ali t berkata :”Sesungguhnya dia mati dalam keadaan musyrik”. Beliau berkata :”Pergilah dan kuburlah dia”. (Ali t berkata) :”Ketika aku telah menguburnya aku kembali ke Nabi r, lalu beliau berkata kepadaku :”Mandilah””
7. Mandi bagi orang yang beristihadloh ketika akan setiap akan sholat atau ketika menggabungkan dua sholat
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah bahwasanya Ummu Habibah mengalami istihadloh di masa Rosulullah r, lalu Nabi r memerintahnya untuk mandi setiap sholat. Dan hadits Hamnah binti Jahsin bahwasanya Nabi r berkata kepadanya :”Aku akan memerintahkan engkau dengan dua perkara, mana diantara keduanya yang engkau laksanakan maka telah mencukupi engkau, kalau engkau mampu untuk melaksanakan keduanya maka engkaulah yang lebih mengetahui.” Dan dalam riwayat yang lain Nabi r berkata kepadanya :”Dan jika engkau mampu untuk mengakhirkan sholat Dzuhur dan engkau menyegerakan sholat Ashar lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan antara dua sholat Dzuhur dan Ashar dan engkau mengakhirkan Magrib dan menyegerakan Isya’ lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan dua sholat, maka lakukanlah !. Dan engkau mandi bersama sholat subuh maka lakukanlah, dan berpuasalah jika engkau mampu untuk itu.” Nabi r berkata :”Ini adalah perkara dari dua perkara yang paling aku sukai”
8. Mandi setelah pingsan.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, beliau berkata : Nabi r dalam keadaan sakit yang berat, lalu berkata :”Apakah manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum, mereka sedang menunggu engkau.”, beliau berkata :
ضَعُوْا لِيْ مَاءً فِيْ الْمِخْصَبِ (”Letakkan untukku air di mikhdlob”). ‘Aisyah berkata : Maka kami lakukan (permintaan beliau untuk mengambil air), lalu beliau mandi, lalu beliau bangkit, maka beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu berkata : “Apakah manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum, mereka sedang menunggu engkau ya Rosulullah”. Beliau berkata :”Letakkan untukku air di mikhdlob” maka dia duduk dan mandi…..”
Rosulullah r melakukan hal itu tiga kali dan dia dalam keadaan berat dengan sakitnya, maka hal ini menunjukan akan sunnahnya mandi karena pingsan.
9. Mandi karena berbekam.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ : مِنَ الْجَنَابَةِ, وَيَوْمِ الْجُمْعَةِ, وَ مِنَ الْحِجَامَةِ, وَ مِنْ غَسْلِ الْمَيِّتِ
Adalah Rosulullah mandi karena empat hal, karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam, dan karena memandikan mayat.
10. Mandi ketika masuk Islam (bagi yang menganggap hal ini adalah sunnah).
Lihat hal 14
11. Mandi ketika dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha).
Berkataan para ulama tidak ada hadits yang shohih dari Nabi r dalam masalah ini. Berkata Syaikh Al-Albani :”Dan yang paling baik yang dijadikan hujjah akan sunnahnya mandi ketika dua hari raya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalan As-Syafi’i dari Zadan, dia berkata :”Seorang laki-laki bertanya kepada Ali t tentang mandi, maka Ali t berkata :”Mandilah setiap hari jika engkau kehendaki !”, lalu laki-laki itu berkata :”Bukan, (tapi) mandi yang benar-benar mandi”, Ali t berkata :”(Mandi) pada hari Jum’at, pada hari ‘Arofah, pada hari An-Nahr (Idlul Adlha’), dan pada hari ‘Idul Fitri”. Dan dari Sa’id ibnil Musoyyib bahwasanya beliau berkata : “Sunnah hari raya ‘Idul Fitri ada tiga, berjalan ke musholla (tanah lapang), makan sebelum keluar (ke musholla), dan mandi”. Dan telah tsabit bahwasanya Abdullah bin ‘Umar t mandi pada hari ‘Idul Fitri sebelum beliau berangkat ke musholla.
12. Mandi ketika hari ‘Arofah.
Dalilnya sebagaimana telah lalu.
Maroji’ :
Asy-Syarhul Mumti’, karya Syeikh Al-Utsaimin.
Thuhurul Muslim, karya Syeikh Al-Qohthony.
Al-Fiqh Al-Islami, karya Doktor Wahbah Az-Zuhaili.
Tamamul Minnah,Karya Syaikh Al-Albani
Jami’ Ahkamun Nisa’, karya Syaikh Mustafa Al-Adawi
Fatawa Al-Madinah Al-Munawaroh, karya Syaikh Al-Albani
Irwaul golil, karya Syaikh Al-Albani jilid 1
Taisirul ‘Alam, Karya Syaikh Ali Bassam
Majmu’ Fatawa, karya Syaikh Utsaimin, jilid 4
Fathul Bari, jilid 1
Oleh Ibnu ‘Abidin As-Soronji
Al-guslu الْغَسْلُ atau الْغُسْلُ (dengan difathahkan dan didlommahkan ghoin) artinya perbuatan mandi atau air yang digunakan untuk mandi. Secara bahasa artinya mengalirnya air pada sesuatu secara mutlaq. Dan Al-gislu الْغِسْلُ (dengan dikasrohkan ghoin) artinya sesuatu yang digunakan untuk mandi seperti air dan sabun.
Hal-hal yang mewajibkan mandi
1. Keluarnya mani
Ada dua keadaan
Keadaan terjaga (tidak tidur):
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudry t bahwasanya Rosulullah r bersabda :
إِنََّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاء ِ (Hanyalah air (mandi) itu karena (keluarnya) air (mani))
Dzohir hadits ini bahwasanya wajib mandi jika telah keluar mani, sama saja apakah dengan memancar dan disertai kelezatan atau tidak dengan keduanya. Dan ini adalah madzhab Syafi’i. Adapun madzhab Jumhur, wajib mandi jika mani tersebut keluar disertai kelezatan dan dengan terpancar, sesuai dengan firman Allah U:
فَالْيَنْظُزِ الإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ, خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ
Dan hendaklah manusia melihat dari apakah dia diciptakan ?, dia diciptakan dari air yang memancar (At-Thoriq :5,6)
Dan ini adalah pendapat yang benar, bahwasanya seseorang yang terjaga (tidak tidur), hanyalah wajib mandi jika air mani yang keluar tersebut memancar dan disertai kelezatan. Adapun pada hadits diatas, air mani yang dimaksud adalah yang sudah difahami (sebab alif lam yang terdapat dalam kata مِنَ الْمَاءِ adalah lil’ahdiah)
Dan hadits Ali bin Abi Tholib t dari Nabi r:
إِذَا رَأَيْتَ الْمَذِيَ فَاغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْئَكَ لِلصَّلاَةِ, فَإِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ
Jika engkau melihat madzi maka cucilah kemaluanmu dan berwudlulah sebagaimana wudlumu ketika (akan) sholat, dan jika engkau memancarkan air (dengan keledzatan) maka mandilah.
Keadaan Tidur
Hadits Ummu Salamah dan Anas t dan ‘Aisyah bahwasanya Ummu Sulaim istri Abu Tholhah t datang kepada Rosulullah r dan berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَ اللهَ لاَ يَسْتَحِيْ مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ غُسْلِ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ
Ya Rosulullah, sesungguhnya Allah tidaklah malu terhadap kebenaran. Apakah wajib bagi seorang wanita untuk mandi jika dia mimpi ?, maka Rosulullah r berkata :”Ya, jika dia melihat air”
Dari hadits ini diketahui bahwasanya jika seorang yang tidur keluar maninya maka wajib baginya untuk mandi secara mutlaq, sama saja apakah keluarnya secara terpancar dan disertai kelezatan atau tanpa kelezatan, karena terkadang orang yang tidur tidak merasakan keluarnya mani tersebut ketika mimpi. Atau dia lupa bahwasanya dia telah mimpi dan telah merasakan kelezatan. Jika seorang pria atau wanita bermimpi lalu ketika bangun melihat air mani, maka wajib baginya untuk mandi. Tapi jika dia bangun dan tidak melihat air mani maka tidak wajib baginya untuk mandi. Dan hal ini adalah ijma’ sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir.
Dan seorang yang tidur jika dia bangun dari tidurnya lalu dia mendapatkan sesuatu yang basah, maka hal itu tidak keluar dari tiga keadaan :
Dia yakin bahwasanya sesuatu yang basah itu adalah mani, maka dia wajib untuk mandi. Sama saja apakah dia mengingat mimpinya itu atau tidak. Oleh karena itu ketika Umar t melihat air mani dibajunya padahal dia telah selesai sholat subuh dengan mengimami kaum muslimin, maka diapun mandi dan sholat lagi.
Dia yakin bahwasanya sesuatu yang basah itu bukanlah air mani. Maka dalam keadaan ini tidak wajib baginya untuk mandi, tetapi wajib baginya untuk mencuci sesuatu yang basah tersebut, sebab sesuatu yang basah tersebut dihukumi seperti hukum air kencing.
Dia tidak tahu apakah sesuatu yang basah itu air mani atau bukan. Untuk keadaan yang ketiga ini maka ada dua kemungkinan :
a. Dia ingat bahwasanya dia telah bercumbu dengan istrinya (tapi belum jimak) atau dia telah memikirkan jimak, atau dia memandang istrinya tersebut dengan syahwat, maka dia menganggap sesuatu yang basah tersebut sebagai madzi -karena madzi itu keluar setelah memikirkan jimak, dan biasanya tidak terasa- , dan tidak wajib baginya untuk mandi. Dia hanya wajib untuk wudlu sebagaimana wudlunya ketika akan sholat setelah dia mencuci kemaluannya dan kedua testisnya, serta mencuci bajunya yang terkena madzi tersebut (sebab madzi adalah najis).
b. Dia tidak didahului memikirkan jimak dan tidak juga bercumbu dengan istrinya, maka untuk keadaan ini ada dua pendapat :
Pendapat pertama : Wajib baginya untuk mandi, sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :
سُئِلَ النَّبِيُّr عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَ لاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا؟ قَالَ : "يَغْتَسِلُ" وَ عَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ؟ قَالَ : لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ
Nabi r ditanya tentang seorang pria yang mendapatkan sesuatu yang basah namun dia tidak ingat bahwasanya dia telah mimpi ?, maka Nabi r menjawab :”Dia mandi”. Dan ditanya tentang seorang pria yang menurut dia bahwasanya dia telah bermimpi namun dia tidak mendapatkan sesuatu yang basah ?, maka Nabi r menjawab :”Tidak ada mandi baginya”
Maka yang lebih utama yaitu dia hendaknya mandi karena sesuai dengan hadits ini, dan untuk menghilangkan keraguan, dan hal ini adalah kehati-hatian.
Pendapat kedua : Tidak wajib baginya untuk mandi karena yang asal adalah suci dan tidaklah hilang asal ini dengan keraguan tetapi hanya hilang dengan keyakinan juga.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :
Jika dia merasa bahwa maninya telah bergerak (sudah merasakan kelezatan yaitu sudah ejakulasi) tetapi air maninya tidak keluar (misalnya karena dia menahannya). Untuk keadaan ini maka tidak wajib untuk mandi (ini adalah pendapat Syaikhul Islam) karena hadits-hadits di atas (hadits Abu Sai’id t dan Ummu Salamah) dan hukum asal adalah tetapnya kesucian hingga ada dalil yang menunjukan berpindah dari hukum asal ini.
Jika dia telah mandi janabah kemudian air maninya keluar lagi, maka dia tidak wajib mandi lagi karena :
a. Sebabnya satu (yaitu keluarnya mani) maka tidak wajib mandi dua kali
b. Keluarnya maninya yang kedua tidak disertai kelezatan dan pancaran, maka tidak wajib mandi. Adapun jika keluar mani baru yang disertai pancaran dan kelezatan maka wajib mandi lagi.
Jika dia sholat di pakaian yang ada air maninya maka tidak mengapa, sebab air mani tidaklah najis. Namun yang terbaik adalah mengikuti sunnah ‘amaliah Nabi r. Nabi r pernah sholat di pakaian yang ada maninya, tetapi jika mani tersebut sudah kering maka dikeruk/dikikis. Dan jika masih basah maka di gosok dengan idkhir (sejenis rerumputan yang memiliki bau yang enak).
Perbedaan antara mani, madzi, dan wadi.
Perbedaan antara mani dan madzi yaitu bahwasanya mani itu kental dan berbau dan keluar dengan terpancar ketika syahwat pada puncaknya. Adapun madzi dia adalah air yang encer dan tidak berbau mani, dan keluar tanpa terpancar serta tidak keluar ketika syahwat pada puncaknya akan tetapi ketika syahwat sedang turun. Jika sedang turun syahwat (kemudian keluar cairan) maka sangat jelas bagi seseorang (bahwa hal itu adalah madzi).
Adapun wadi adalah sisa yang keluar setelah buang air kecil dan berupa titik putih di akhir buang air kecil.
Sedangkan secara hukum, maka mani mewajibkan mandi, adapun madzi dan wadi sebagaimana air kencing yang mewajibkan wudlu.
2. Bertemunya dua khitan (dua kemaluan)
Maksud dari khitan di sini adalah tempat dipotongnya kulit, baik pada kemaluan pria maupun wanita. Adapun maksud dari bertemu dua khitan adalah jika hasyafah (bagian depan (kepala) dzakar yang terbuka akibat bekas sunat) telah masuk ke dalam kemaluan wanita maka wajib mandi, walaupun tidak keluar air mani. Berdasarkan hadits Abu Huroiroh t dari Nabi r bersabda :
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
Jika dia telah duduk diantara cabang yang empat (istrinya) kemudian dia berpayah (dengan istrinya itu) maka sungguh telah wajib atasnya mandi
Dan juga hadits ‘Aisyah berkata :Rosulullah r bersabda :
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
Jika dia telah duduk diantara empat cabang yang empat, dan khitan (kemaluan dia) telah menyentuh khitan (kemaluan istrinya) maka wajib atasnya mandi
Dan dalam riwayat Muslim ada tambahan وَ إِنْ لَمْ يُنْزِلْ (walaupun tidak keluar air mani)
Perhatian :
Yang hanya wajib mandi jika kepala dzakar masuk semuanya ke dalam farji wanita. Adapun jika hanya masuk sebagiannya dan tidak keluar mani maka tidak wajib mandi.
Jika dia memasukkan dzakarnya ke dubur istrinya, maka ini adalah harom namun dia tetap wajib mandi walaupun tidak keluar mani, sebab dubur termasuk dalam keumuman farji (sebagaimana telah dibahas dalam fiqh wudlu tentang apakah batal wudlu jika menyentuh dubur?). Adapun lafal bertemunya dua khitan atau saling menyetuhnya dua khitan yang terdapat dalam hadits hanyalah majaz.
Jika dia memasukkan kepala dzakarnya ke kemaluan hewan (na’udzu billah min dzalika) atau ke kemaluan wanita yang telah mati, maka dia tidak wajib mandi kecuali air maninya keluar. Demikian pula jika sihaq (lesbi yaitu farji wanita bertemu dengan farji wanita) maka tidak wajib mandi kecuali jika keluar air mani.
Jika dia memakai pelapis (misalnya kondom) maka jika pelapis tersebut tidak tipis maka tidak bisa dikatakan bahwa telah bertemu dua khitan. Oleh karena itu dia tidak wajib mandi kecuali jika keluar maninya. Adapun jika pelapisnya tipis maka wajib mandi walaupun tidak keluar mani. Dan ini adalah madzhab Malikiyah, adapun madzhab Syafi’i adalah wajib mandi walaupun pelapisnya tebal.
Dan pewajib mandi yang no 1 dan 2 ini sesuai dengan firman Allah U:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
Dan jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah (Al-Maidah : 6)
3. Masuk Islam, baik karena asli baru masuk Islam atau murtad yang sadar
Sesuai dengan hadits Qois bin ‘Asim t, dia berkata :
أَتَيْتُ النَّبِيَّr ، أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ
”Aku mendatangi Nabi r, aku menghendaki (masuk) Islam, maka Nabi r memerintah aku untuk mandi dengan air dan daun bidara”
Karena dia (Qois bin ‘Asim t) telah membersihkan batinnya dari kesyirikan maka termasuk hikmah yaitu dia membersihkan bagian luar dirinya dengan mandi.
Sebagian Ulama berkata : Tidak wajib bagi orang kafir untuk mandi jika hendak masuk Islam, hukumnya hanyalah mustahab. Sebab tidak ada dalil dari Nabi r perintah secara umum misalnya Nabi r berkata :”Barangsiapa yang masuk Islam maka mandilah !”. Dan telah banyak shahabat yang masuk Islam namun tidak ternukil bahwasanya Nabi r memerintahkan mereka untuk mandi. Kalau seandainya wajib, tentu perintah tersebut akan masyhur diantara manusia karena kebutuhan mereka akan hal itu.
Namun hal ini terbantah, sebab perintah Nabi r kepada seorang saja dari umatnya (dalam hal ini adalah kepada Qois bin ‘Asim t sebagaimana dalam hadits di atas) merupakan perintah bagi seluruh umatnya.
Ada pendapat yang lain lagi, yaitu dengan perincian : Jika orang yang masuk Islam ini datang dengan sesuatu yang mewajibkan mandi maka wajib bagi dia untuk mandi. Dan jika tidak maka tidak wajib atasnya mandi.
Berkata Syaikh Bin Baz :”Mandi karena masuk Islam adalah sunnah bukan wajib karena Nabi r tidaklah memerintah Al-Jam Al-Gofir untuk mandi”. Namun berkata Ibnul Qoyyim : “Telah shohih bahwa Nabi memerintahkan mandi, dan pendapat yang paling benar adalah wajibnya mandi bagi orang yang junub ketika kafirnya maupun yang tidak junub”.
4. Meninggalnya seorang muslim namun bukan mati syahid di medan perang
Sesuai dengan hadits Ibnu Abbas bahwasanya Nabi r berkata tentang orang yang meninggal ketika ihrom karena jatuh dari untanya : اِغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فيْ ِثَوْبَيْهِ (Mandikan dia dengan air dan daun bidara dan kafanlah dia dengan dua bajunya). Dan juga hadits Ummu ‘Atiyah, dia berkata :Nabi r menemui kami dan kami sedang memandikan anak perempuannya lalu Nabi r berkata :
اِغْسِلْنَاهَا ثَلاَثًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَالِكِ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكِ
”Mandikan dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika menurut kalian hal itu (baik)”
5. Haidl
Berhentinya haidl merupakan syarat sahnya mandi. Kalau dia mandi sebelum berhentinya haid maka mandinya tidak sah, karena termasuk syarat sahnya mandi adalah thoharoh (suci), sesuai firman Allah U:
وَيَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَاءَ فِيْ الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ. فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidl, maka katakanlah : “Haidl itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita haidl, dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka gaulilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqororh :222)
Dan hadits ‘Aisyah bahwasanya Nabi r berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisyh:
فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحِيْضَةِ فَدَعِيْ الصَّلاَةَ, وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّيْ
Jika telah datang haidl maka tinggalkanlah sholat dan apabila telah pergi haidlnya maka mandilah dan sholatlah.
6. Nifas
Berhentinya darah nifas merupakan syarat sahnya mandi. Nifas itu keluar ketika melahirkan atau setelah melahirkan, atau sehari atau dua hari atau tiga hari sebelum kelahiran.
Dan darah nifas hukumnya sama dengan hukum darah haidl. Dan yang menunjukan disamakannya antara nifas dan haidl diantaranya adalah perkataan Rosulullah r kepada ‘Aisyah ketika dia haidl : لَعَلَّكِ نَفَسْتِ ؟ (mungkin engkau nifas)
Adapun jika terjadi kelahiran tanpa ada darah maka tidak wajib baginya untuk mandi. Ini adalah pendapat Hanabilah. Adapun Malikiyah, Hanafiyah, dan Syafi’iyah tetap wajib mandi.
Perhatian : Jika bertemu dua penyebab mandi seperti haidl dan janabah, atau keluarnya air mani dan bertemunya dua khitan maka cukup sekali mandi.
Namun menurut Syaikh Al-Albani (dan ini adalah pendapat Jabir bin Zaid, Hasan Al-Basri, Qotadah, Ibrohim An-Nakhoi, dan lain-lainnya, dan ini adalah pendapat Dawud Adz-Dzohiri) bahwasanya untuk setiap hal yang menyebabkan mandi maka satu mandi, tidak boleh digabungkan. Sebagaimana tidak boleh seseorang berpuasa dengan satu puasa dengan niat untuk puasa Romadlon dan sekaligus untuk membayar hutang puasa Rhomadlonnya yang lalu. Dan barang siapa yang membedakan antara puasa dan mandi maka wajib membawakan dalil. Jika seorang wanita haidl dan junub maka dia harus mandi dua kali. Dalilnya adalah :
Berkata Qotadah : Ayahku (yaitu Abu Qotadah) menemuiku dan aku telah mandi jum’at, maka dia berkata :”Mandi karena janabah atau karena Jum’at ?” Qotadah berkata :”Aku berkata : karena janabah.”. Dia berkata :”Ulangi mandimu yang lain, karena aku mendengar Rosulullah r bersabda : “Barangsiapa yang mendi pada hari jum’at maka dia berada di kesucian hingga jum’at berikutnya” (Riwayat Hakim)
Namun pendapat Jumhur lebih benar dengan dalil bahwasanya Rosulullah r bersabda :
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَ اغْتَسَلَ, ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ, وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَ دَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ, كَانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عَمَلُ سَنَّةٍ, أَجْرُ صِيَامِهَا وَ قِيَامِهَا
Barangsiapa yang membuat mandi istrinya (bersenggama dengan istrinya) kemudian dia mandi, kemudian dia bersegera ke mesjid dan berusaha untuk lebih bersegera dan berjalan tanpa naik kendaraan kemudian mendekati imam dan mendengarkan imam dan tidak berbuat hal-hal yang sia-sia maka baginya untuk setiap langkahnya pahala setahun yaitu pahala puasanya dan sholat malamnya.
Dalam hadits ini Rosulullah r tidak menjelaskan bahwa harus mandi dua kali, padahal telah terkumpul dua sebab yaitu junub dan mandi hari jum’at (bahkan tiga sebab, yaitu bertemunya dua khitan, keluarnya mani, dan mandi jum’at). Selain itu ketika Rosulullah r bersenggama dengan istri beliau telah terkumpul dua sebab yaitu bertemunya dua khitan dan keluarnya mani, namun tidak ada satu dalilpun yang menunjukan bahwa Rosulullah r mandi dua kali.
Hal-hal yang dilarang karena junub
1. Sholat
Sesuai dengan firman Allah U:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَ أَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian (mendekati) sholat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula kalian menghampiri mesjid), terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. (An-Nisa’ :43)
Dan juga sesuai dengan hadits Abu Huroiroh t, dan hadits Ali t, serta hadits Ibnu Umar t sebagaimana telah lalu dalam bab wudlu.
2. Thowaf di Baitul Harom
Sesuai dengan sabda Nabi r: الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ (Thowaf di Baitul Harom adalah sholat…)
3. Menyentuh mushaf
Sesuai dengan hadits ‘Amr bin Hizam t dan Ibnu Umar t: لاَ يَمُسُّ الْقُرٍآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ (Tidaklah menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci)
Namun hal ini telah terbantah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab wudlu. Intinya hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah sebab lafal طَاهِرٌ adalah lafal yang musytarok. Oleh karena itu tidak mengapa orang yang junub menyentuh Al-Qur’an
4. Membaca Al-Qur’an walau tanpa menyentuh mushaf
Maksud membaca mushaf yaitu membaca satu ayat atau lebih. Sesuai dengan hadits Ali bin Abi Tholib t, beliau berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِr يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا
Adalah Rosulullah r membacakan Al-Qur’an kepada kami di setiap keadaan selama beliau tidak junub
وَبِلَفْظِ : كَانَ يَخْرُجُ مِنَ الْخَلاَءَ فَيُقْرِئُنَا الْقُرْآن وَيَأْكُلُ مَعَنَا اللَّحْمَ وَلَمْ يَكُنْ يُحْجِبُهُ – أَوْ قَالَ يُحْجِزُهُ - عَنِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ سِوَى الْجَنَابَةِ
Dan dengan lafal :”Adalah Rosulullah r keluar dari kamar mandi lalu dia membacakan Al-Qur’an kepada kami dan beliau mau makan bersama kami dan tidaklah menghalanginya - atau berkata mencegahnya - dari Al-Qur’an kecuali hanya karena janabah
Dan hadits ‘Ali t bahwasanya dia berwudlu kemudian berkata :Demikianlah saya melihat Rosulullah r berwudlu kemudian beliau membaca sesuatu dari Al-Qur’an kemudian berkata :
هَذَا لَيْسَ لِمَنْ بِجُنُبٍ, فَأَمَّا الْجُنُبُ فَلاَ, وَلاَ آيَةً
Dan ini bukanlah untuk orang yang junub, adapun orang yang junub maka tidak !, tidak (walau) satu ayat.
Selain itu dengan dilarangnya orang yang junub untuk membaca Al-Qur’an maka hal ini akan mendorongnya untuk segera mandi.
Adapun untuk orang yang haidl dan nifas maka ada khilaf diantara para ulama
Pertama :Tidak boleh membaca Al-Qur’an karena haidl dan nifas termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi maka sama halnya dengan junub.
Kedua : Boleh membaca Al-Qur’an, sebab :
a. Tidak ada dalil yang shohih dan shorih (jelas) yang melarang orang yang haidl membaca Al-Qur’an.
b. Asal sesuatu adalah halal hingga ada dalil yang melarangnya.
c. Allah telah memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an secara mutlaq (mencakup siapa saja), maka barang siapa yang mengelurakan orang yang haidl dari ibadah kepada Allah maka wajib baginya membawa dalil.
d. Tidak bisa diqiyaskan haidl dan nifas dengan junub. Karena adanya perbedaan. Junub timbul karena kehendaknya sendiri adapun haidl dan nifas tidak. Selain itu haidl dan nifas memiliki waktu yang lama adapun junub maka waktunya singkat.
Ketiga : Dengan perincian, jika wanita yang haidl tersebut tidak memiliki hajat maka untuk hati-hati dia tidak membaca Al-Qur’an, adapun jika ada hajah, seperti untuk muroja’ah hafalannya atau untuk mengajar anak-anak, maka tidak mengapa.
Namun yang benar adalah tidak mengapa oang yang haidl, nifas, bahkan yang junub untuk membaca Al-Qur’an. Dan ini adalah madzhab Dawud Adz-Dzohiri dan para sahabatnya, Sa’id bin Jubair dan juga merupakan pendapat Syaikh Al-Albani. Dalilnya :
Kedua hadits Ali t di atas dhoif. Adapun hadits Ali t yang ke dua dhoifnya karena ada dua sebab yaitu mursal dan mauquf.
Hadits ‘Aisyah : “Adalah Nabi berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya”. Dan membaca Al-Qur’an termasuk berdzikir kepada Allah
Hadits ‘Aisyah ketika dia berhaji bersama Nabi r lalu mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Sarifa yang dekat dengan Mekah. Dan Rosulullah r mendapati ‘Aisyah sedang menangis karena haidlnya, maka Rosulullah r berkata kepadanya :
اِصْنَعِيْ مَا يَصْنَعُ الْحَاجُ غََيْرَ أَنْ لاَ تَتُوْفِيْ وَلاَ تُصَلِّيْ
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji selain towaf dan sholat”.
Rosulullah r tidak melarangnya membaca Al-Qur’an dan juga tidak melarang ‘Aisyah memasuki masjidil harom.
Adanya atsar dari Hammad bin Abi Sulaiman berkata :”Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang orang yang junub (apakah boleh) dia membaca (Al-Qur’an) ?, maka menurut dia tidak mengapa, lalu dia berkata :”Bukankah di dalam hatinya ada Al-Qur’an ?”
Dan ini juga merupakan pendapat Ikrimah. Namun hal ini (membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub) adalah makruh sebagaimana hadits “Sesungguhnya aku benci untuk berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci”.
5. Berdiam di Mesjid
Sesuai dengan firman Allah U:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَقْرَبُوْا الصَّلاَةَ وَ أَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian (mendekati) sholat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula kalian menghampiri mesjid), terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. (An-Nisa’ :43)
Dari ayat ini diketahui bahwasanya orang yang wajib mandi terlarang berdiam di mesjid. Dalilnya :
Bukanlah makna ayat ini “janganlah kalian sholat kecuali yang hanya berlalu (melewati mesjid)”, karena orang yang berlalu tidaklah sholat (karena dia berjalan). Sehingga maksud larangan dalam ayat ini adalah larangan mendekati mesjid. Adapun yang sekedar berlalu maka tidak terlarang.
Mesjid-mesjid adalah rumah Allah U dan tempat untuk berdzikir, beribadah, dan tempatnya para malaikat. Jika Rosulullah r melarang orang yang mulutnya bau akibat makan bawang mendekati mesjid, maka orang yang junub lebih layak untuk dilarang mendekati mesjid. Selain itu malaikat malaikat tidak masuk ke rumah yang ada orang junub di dalamnya.
Dan sesuai dengan hadits ‘Aisyah secara marfu’ :
فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ
Sesungguhnya saya tidak mnghalalkan mesjid bagi orang yang haidl dan junub.
Adapun hanya sekedar berlalu melewati mesjid, maka tidak mengapa sesuai dengan ayat. Dan demikian pula orang yang haidl dan nifas jika dia mampu menjaga haidl dan nifasnya tidak jatuh mengotori masjid maka tidak mengapa dia melalui mesjid, sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :
قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ r: "نَاوِلِيْنِيْ الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ" فَقُلْتُ : إِنِّيْ حَائِضٌ فَقَالَ : تَنَاوَلِيْهَا فَإِنَّ الْحَيْضَةَ لَيْسَتْ فِيْ يَدِكِ
Rosulullah r berkata kepadaku : “Ambilkanlah sajadah untukku dari mesjid !”. Aku berkata :”Sesungguhnya saya haidl”, maka beliau berkata :”Ambillah sajadah itu karena haidl tidaklah di tanganmu”
Dan juga hadits Abu Huroiroh t, ketika Rosulullah r di mesjid maka dia berkata :
يَا عَائِشَةَ نَاوِلِيْنِيْ الثَّوْبَ, فَقَالَتْ : إِنِّيْ حَائِضٌ, فَقَالَ : ْحَيْضَتُكِ لَيْسَتْ فِيْ يَدِكِ
“Wahai ‘Aisyah, ambilkanlah baju untukku !”, lalu ‘Aisyah berkata :”Sesungguhnya saya haidl”, maka Rosulullah r berkata :”Haidlmu tidak di tanganmu”
Demikian pula hadits Maimunah, dia berkata :
كَانَ رَسُوْلُ الله rيَدْخُلُ عَلَى إِحْدَانَا وَهِيَ حَائِضٌ, فَيَضَعُ رَأْسَهُ فِيْ حِجْرِهَا فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ, ثُمَّ تَقُوْمُ إِحْدَانَا بِخُمْرَتِهِ فَتَضَعُهَا فِيْ الْمِسْجِدِ وَهِيَ حَائِضٌ
Rosulullah r pernah menemui salah seorang dari kami (istri-istri Nabi r) yang sedang haidl, lalu beliau meletakkan kepala beliau ke pangkuan salah seorang dari kami tersebut kemudian beliau memabaca Al-Qur’an. Lalu salah seorang dari kami membawa sajadah Nabi r dan meletakkannya di mesjid dan dia dalam keadaan haidl.
Berkata Syaikh Bin Baz :"Para shahabat mereka berlalu-lalang di mesjid karena mereka mengetahui pengecualian ini (bolehnya melewati mesjid walaupun dalam keadaan junub). Adapun hadits . فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ (Sesungguhnya saya tidak menghalalkan mesjid untuk orang haidl dan junub) maka hadits ini berlaku untuk orang yang ingin duduk di mesjid".
Apakah boleh orang yang junub berdiam di mesjid jika dia telah berwudlu ?
Untuk masalah ini ada dua pendapat :
Boleh, dan ini adalah pendapat Anmad dan Ishaq dengan dalil :
a. Bahwasanya sebagian sahabat Nabi r jika mereka telah berwudlu dari janabah mereka berdiam di mesjid. Jika salah seorang dari mereka mimpi (junub), maka dia berwudlu lalu kembali ke mesjid. Dan hal terjadi di zaman Nabi r dan beliau tidak mengingkari hal ini maka ini menunjukan bahwa hal ini adalah boleh walalupun bukan perkara ibadah. Adapun jika hal ini merupakan perkara ibadah maka siapa saja yang melakukannya maka akan mendapatkan pahala.
b. Selain itu wudlu merupakan peringan janabah, dalilnya adalah :
Dari Ibnu Umar t bahwasanya Umar t meminta fatwa (bertanya) kepada Nabi r, maka dia (Umar t) berkata :”Apakah salah seorang dari kami tidur dan dia dalam keadaan junub?”, Maka Nabi r berkata :
لِيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَنَمْ حَتَّى يَغْتَسِلَ إِذَا شَاءَ
“Hendaknya dia berwudlu kemudian hendaklah dia tidur hingga dia mandi, jika dia kehendaki” (Riwayat Bukhori no 287 dan Muslim no 306)
c. Wudlu adalah salah satu penyuci
Tidak boleh, dan ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz, dengan dalil :
a. Wudlu tidaklah bisa menghilangkan janabah dan bertentangan dengan keumuman hadits
فَإِنِّيْ لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ
b. Sedangkan apa yang telah dilakukan oleh para shahabat bisa dibawakan kepada bahwasanya dalil yang melarang orang junub berdiam di mesjid samar bagi mereka. Dan yang asal kita mengambil firman Allah : وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا
Namun ada pendapat yang lain yaitu bolehnya orang yang junub untuk berdiam di mesjid. Dan ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Al-Muzani, sebab Imam Ahmad mendho’ifkan hadits ‘Aisyah di atas. Adapun ayat di atas dita’wil, jadi maksud dari إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ adalah para musafir yang mengalami janabah, lalu mereka bertayammum dan sholat, dan tafsir ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Dan kita kembali pada hukum asal yaitu Baroatul asliyah. Selain itu ada hadits ‘Aisyah, yaitu ketika dia berhaji bersama Nabi r lalu mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Sarifa yang dekat dengan Mekah. Dan Rosulullah r mendapati ‘Aisyah sedang menangis karena haidlnya, maka Rosulullah r berkata kepadanya :
اِصْنَعِيْ مَا يَصْنَعُ الْحَاجُ غََيْرَ أَنْ لاَ تَتُوْفِيْ وَلاَ تُصَلِّيْ
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang haji selain towaf dan sholat”.
Rosulullah r tidak melarangnya membaca Al-Qur’an dan juga tidak melarang memasuki masjidil harom..
Namun bagaimana dengan hadits Ummu ‘Athiyah yang diriwayatkan oleh Bukhori damana lalfalnya ada yang berbunyi :
وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِيْنَ
Dan Rosulullah memerintahkan para wanita haidl untuk menjauhi musholla (tanah lapang yang digunakan untuk sholat) nya kaum muslimin ???
Syarat mandi
Syarat mandi ada delapan yaitu : Niat, Islam, berakal, tamyiz, air yang digunakan adalah suci mensucikan dan mubah, dan menghilangkan hal-hal yang bisa menghalangi sampainya air ke kulit, dan terputusnya hal-hal yang menyebabkan mandi (misalnya terputusnya haidl dan nifas).
Rukun mandi
Mencuci dengan air semua anggota badan yang mungkin untuk dicuci tanpa ada kesulitan. Dan perkara ini disepakati oleh para ahli fiqh.
Mandi yang mencukupi.
Allah U berfirman : وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا (Dan jika kalian junub maka bersucilah), dalam ayat ini Allah U tidak memerinci cara mandi, shingga dapat dipahami jika telah mencuci seluruh tubuh sekali saja maka sudah sah mandinya. Misalnya seseorang menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air lalu keluar maka telah sah mandinya. (Namun dia harus beristinsyaq dan berkumur-kumur, dan jika dia tidak melakukannya maka mandinya tidak sah)
Jika ada yang berkata : “Ayat ini masih mujmal dan telah dijelaskan oleh Rosulullah r perinciannya, maka rincian yang dijelaskan oleh Rosulullah r adalah wajib, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk sholat lalu Rosulullah r menjelaskan perinciannya maka perincian tersebut wajib bagi kita”.
Jawabannya :
1. Kalau seandainya Allah U menghendaki kita untuk wajib mandi dengan cara yang rinci maka tentu akan Allah U cantumkan dalam ayat, sebagaimana Allah U rinci tata cara wudlu.
2. Hadits Imron bin Husain yang panjang, dimana Nabi r berkata kepada seorang laki-laki yang junub dan belum sholat : خُذْ هَذَا وَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ (ambillah ini dan siramkanlah ke (diri)mu), dan Rosulullah r tidaklah menjelaskan bagaimana cara orang itu menyiram dirinya. Kalau cara mandi yang rinci sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi r adalah wajib, tentu Rosulullah r akan menjelaskannya kepada orang itu, karena mengakhirkan penjelasan ketika dibutuhkan adalah tidak boleh. Dan tidaklah dikatakan :”Mungkin orang ini sudah mengetahui cara mandi yang benar sehingga Rosulullah r tidak perlu lagi menjelaskannya”, maka hal ini ada dua jawaban. Pertama, yang asal adalah dia tidak mengetahui. Yang kedua, dzohir keadaannya menunjukan bahwasanya dia adalah jahil, sebab dia tidak mengetahui bahwasanya tayammum itu bisa menggantikan mandi ketika tidak ada air.
Sifat Mandi Nabi
Sifat mandi Nabi r yang sempurna yang mencakup fardu-fardunya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang disunnahkan ketika mandi adalah sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْتَسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يَفْرُغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ)( وَ فِيْ رِوَايَةِ مَيْمُوْنَةَ : غَيْرَ رِجْلَيْهِ) ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِيْ أُصُوْلِ الشَّعْرِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : ثُمَّ يُخَلِّلُ شَعْرَهُ بِيَدِهِ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ), ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ: فَبَدَأَ بِشَقِّ رَأْسِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ), ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ:عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ), ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (متفق عليه ولفظ لمسلم).
وَلَهُمَا, مِن حَدِيْثِ مَيْمُوْنَةَ قَالَت ْ: وَضَعْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ وَضُوْءَ الْجَنَابَةِ فَأَكْفَأَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى يَسَارِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ( وَ فِيْ رِوَايَةٍ :وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى) (وَغَسَلَهُ بِشِمَالِه)ِ, ثُمَّ ضَرَبَ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ :دَلَكَ) يَدَهُ بِالأَرْضَ أَوِ الحَائِطِ (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ) مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ, ثُمَّ غَسَلَ وَجِْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ, ُُثمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ, ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا (وَ فِيْ رِوَايَةٍ : بِالْمِنْدِيْلِ, فَرَدَّهُ), فَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ.
Dari “Aisyah berkata : Adalah Rosulullah jika mandi karena janabah dia mulai dengan membersihkan kedua tangannya, kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu (dalam riwayat yang lain sebagaimana wudlunya untuk sholat)(dalam riwayat Maimunah : selain kedua kakinya), kemudian dia mengambil air lalu dia masukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut (dalam riwayat yang lain : kemudian dia menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga jika dia telah merasa bahwasanya telah mengena kulit kepalanya maka dia menumpahkan air ke kepalanya), lalu menyiram kepalanya dengan tiga genggam air (dalam riwayat lain : dia mulai dengan bagian kanan kepala lalu yang kiri) , kemudian mengguyur seluruh tubuhnya (dalam riwayat lain : ke seluruh kulit (tubuh) beliau) dan mencuci kedua kakinya. (Hadits riwayat Bukhori Muslim dan ini adalah lafal yang terdapat di Muslim, sedangkan tambahan-tambahan riwayat yang lain ada di Bukhori)
Dalam riwayat Bukhori dan Muslim juga dari hadits Maimunah, dia berkata : “Aku meletakkan bagi Nabi air untuk (mandi) janabah. Lalu dia memiringkan (tempat air tersebut) dengan menggunakan tangan kanannya ke tangan kanan kirinya dua kali atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain : dan kotoran yang ada padanya) (dalam riwayat lain : dengan tangan kirinya) lalu memukulkan (dalam riwayat lain : menggosok) tangannya ke bumi atau ke tembok (dalam riwayat lain : ke tanah) dua kali atau tiga kali (dalam riwayat lain :kemudian mencuci tangannya itu), kemudian berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung) lalu mencuci wajahnya dan mencuci kedua lengannya kemudian menumpahkan air ke kepalanya, lalu mencuci seluruh tubuhnya, lalu berpindah tempat, lalu mencuci kedua kakinya. Lalu aku memberikannya secarik kain dan dia tidak mau (dalam riwayat lain : sapu tangan tapi dia menolaknya) lalu dia mengeringkan air dengan kedua tangannya.
1. Berniat
Menurut Hanafiyah, berniat hanyalah sunnah (lihat fiqh wudlu dalam pembahasan niat). Adapun menurut jumhur adalah wajib. Yaitu berniat dalam hatinya untuk mandi besar, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khoththab t dari Nabi r :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلٍ امْرِءٍ مَا نَوَى
“ Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”
Untuk masalah niat ada empat keadaan :
1. Dia berniat untuk mengangkat dua hadats (hadats besar dan kecil) secara sekaligus, maka kedua hadats tersebut terangkat. Sesuai dengan hadits Nabi r إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
2. Dia hanya berniat untuk mengangkat hadats besar saja. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah maka hadats kecilnya pun otomatis terangkat (dan ini juga merupakan pendapat Syaikh As-Sa’di). Dalilnya adalah firman Allah U وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا قَاطَّهَّرُوْا maka jika dia telah bersuci dengan niat untuk mengangkat hadats besar maka ini telah cukup untuk dia, karena Allah U tidak menyebutkan hal-hal yang lain selain bersuci. Dan inilah pendapat yang benar.
3. Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan wudlu. Misalnya sholat. Jika dia berniat mandi untuk sholat dan tidak berniat untuk mengangkat hadats maka otomatis terangkat dua hadats dari dirinya, sebab sholat tidak sah kecuali dengan terangkatnya dua hadats.
4. Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan kecuali dengan mandi (dan tidak mengapa tanpa wudlu). Misalnya membaca Al-Qur’an atau untuk berdiam di mesjid (bagi yang berpendapat demikian). Jika dia mandi dengan niat untuk membaca Al-Qur’an dan dia tidak berniat untuk mengangkat dua hadats maka yang terangkat hanyalah hadats besar saja. Sehingga jika dia ingin sholat atau ingin menyentuh mushaf (bagi yang berpendapat demikian) maka dia harus berwudlu. Namun kenyataannya sekarang, kebanyakan manusia mandi dengan niat untuk mengangkat hadats besar atau untuk sholat, maka terangkatlah kedua hadats mereka.
2. Membaca bismillah
Dan hukumnya adalah mustahab menurut jumhur, adapun menurut Hanabilah adalah fardlu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh t. Namun Hanabilah menganggap bahwasanya hukum membaca bismillah ketika mandi adalah lebih ringan daripada ketika wuldlu, sebab hadits Abu Huroiroh t tersebut hanya jelas mencakup wudlu dan tidak yang lainnya.
3.Mencuci kedua telapak tangannya
4.Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menghilangkan kotoran yang terdapat di kemaluannya.
5. Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci kemudian di cuci
Yaitu Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci dan menggosoknya dengan baik, kemudian di cuci berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Maimunah atau menggosokan tangan kiri ke dinding kemudian mencucinya sesuai dengan hadits Maimunah atau mencucinya dengan air dan sabun.
6. Berwudlu
Para Ulama khilaf tentang berwudlu ketika mandi janabah, apakah hukumnya wajib atau hanya mustahab. Adapun nukilan Ijma’oleh Ibnu Battol bahwasanya wudlu hukumnya sunnah adalah tertolak. Abu Tsaur, dan Dawud, serta yang lainnya telah berpendapat bahwasanya mandi tidak bisa mewakili wudlu. Namun kebanyakan para ulama berpendapat akan tidak wajibnya berwudlu ketika mandi janabah dan bahwasanya hadats kecil telah masuk ke dalam hadats besar (namun tidak sebaliknya). Adapun menurut Hanafiyah harus disertai dengan niat wudlu juga Dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm dan yang lainnya, dan ini adalah pendapat yang benar. Sebab hanya sekedar perbuatan Nabi r tidak bisa menunjukan akan wajibnya, dan tidak ada dalil yang menunjukan akan wajibnya. Adapun perincian cara berwudlu lihat penjelasan no 9 di bawah ini.
Perlu diperhatikan bahwasanya, jika seseorang telah mandi wajib dengan sah (dengan niat mengangkat hadats besar dan hadats kecil, lihat penjelasan tentang niat pada no 1 di atas), dan setelah mendi tersebut dia belum batal wudlu, maka dia tidak perlu berwudlu lagi. Dalilnya :
قَالَتْ عَئِشَةُ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ rلاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ. وَعَنْ أِبْنِ عُمَرَ tأَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ قَالَ لَهُ : إِنِّيْ أَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ ؟ فَقَالَ لَهُ : لَقَدْ تَعَمَّقْتَ
‘Aisyah berkata : “Rosulullah r tidak pernah berwudlu setelah mandi”. Dan dari Ibnu Umar t bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada :”Aku berwudlu setelah mandi ?”, maka Ibnu Umar berkata kepadanya :”Kamu telah berlebih-lebihan”
Berkata Syaikh Al-Albani : “Dzohir dari hadits bahwasanya yang sunnah adalah wudlu sebelum mandi bukan setelah mandi, dengan dalil hadits ‘Aisyah yang lain (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim –pent)……, dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang berwudlu sebelum mandi kemudian berwudlu lagi setelahnya maka dia telah berlebihan, dan barangsiapa yang mencukupkan wudlu setelah mandi (dia tidak berwudlu sebelum mandi tetapi sesudahnya –pent) maka dia telah menyelisihi sunnah.”
Pertanyaan :
Apakah mandi biasa (bukan mandi junub) tanpa wudlu, namun dengan niat mengangkat hadats kecil sudah cukup bagi kita ?, sehingga setelah mandi kita boleh sholat tanpa wudlu lagi ?
Jawab : Adapun mandi yang tidak disyari’atkan atau mandi biasa yang untuk membersihkan tubuh atau untuk mendinginkan tubuh maka hal ini tidak bisa mewakili wudlu (hadats kecilnya belum hilang), sebab mandi tersebut bukan termasuk ibadah, walaupun memang syari’at memerintahkan kita untuk berbuat bersih tetapi kebersihan bukan dengan cara seperti ini, bahkan kebersihan secara mutlak dengan apa saja yang bisa menimbulkan kebersihan. Dan bagaimanapun mandi untuk mendinginkan tubuh atau untukmembersihkan wudlu maka tidak bisa mewakili wudlu.
Jika seseorang mandi biasa (atau dia mandi junub lantas dia menyentuh kemaluannya dengan syahwat) kemudian dia berwudlu dalam keadaan telanjang, apakah wudlunya sah ?
Jawab : Wudlunya sah, namun yang lebih baik seseorang jika telah selesai mandi hendaknya dia memakai baju agar auratnya tidak tetap terbuka tanpa adanya hajah.
7. Memasukkan jari-jari ke air kemudian menyela-nyela rambut dengan jari-jari tersebut hingga ke kulit kepala.
Lalu menyiram kepalanya dengan tiga cidukan dengan kedua tangannya, sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah. Dia mulai dengan menyirami bagian kanan kepala kemudian bagian kiri kemudian bagian tengah kepala, sesuai dengan hadits ‘Aisyah. Dan hukum mencuci kulit kepala adalah wajib baik rambutnya tebal maupun tipis, termasuk juga mencuci kulit dagu yang ditumbuhi jenggot. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Nabi r tentang mandi janabah, maka Nabi r berkata :
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً قَتُطَهِّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ غَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا, ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ
Salah seorang dari kalian mengambil air lalu dia bersuci dan membaguskan bersucinya tersebut, lalu menyiram kepalanya dan menggosokkannya hingga sampai ke akar rambut, lalu mengguyurkan air di atas kepalanya. (Riwayat Muslim)
Mengenai rambut wanita, terjadi khilaf diantara para ulama. Namun yang rojih adalah bagi wanita tidak perlu menguraikan rambutnya ketika mandi karena janabah sesuai dengan hadits Ummu Salamah, dia berkata :.
قُلْتُ : يَارَسُوْلَ الله, إِنِّيْ امْرَأَهٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِيْ, أَفَأَنْقُضُهُ لِغَسْلِ الْجَنَابَةِ ؟ قَالَ : لاَ, إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكَ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ.
Aku berkata : “Ya Rosulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat rambutku. Apakah aku membukanya untuk mandi janabah ?”, Rosulullah r menjawab :”Tidak”, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali”.
Dan disunnahkan bagi wanita untuk menguraikan rambutnya ketika mandi karena haidl sesuai dengan hadits ‘Aisyah, yaitu Rosulullah r berkata kepadanya ketika dia sedang haidl :
خُذِيْ مَائَكِ وَ سِدْرَكِ وَامْتَشِطِيْ
Ambillah airmu dan daun bidaramu dan bersisirlah
Dan tidaklah mungkin bisa bersisir kecuali dengan membuka ikatan rambut.
Adapun hadits Ali adalah dlo’if yaitu bahwasanya Rosulullah r bersabda :
مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يُصِبْهُ الْمَاءُ فَعَلَ اللهُ بِهِ كَذَا وَ كَذَا مِنَ النَّارِ
Barang siapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut karena janabah yang tidak tersentuh air, maka Allah akan melakukan ini dan itu baginya dari neraka.
Bagaimana dengan rambut yang terurai ?
Maka mencucinya adalah wajib menurut Syafi’iyah (dan ini juga merupakan pendapat Hanabilah yang paling rojih), mereka berdalil dengan hadits Abu Huroiroh t yang dho’if yaitu bahwasanya Rosulullah r bersabda :
إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةٌ, فَاغْسِلُوْا الشَّعْرَ, وَأَنْقُوْا الْبَشَرَ
Sesungguhnya dibawah setiap rambut adalah janabah, maka cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnyat.
Adapun menurut Hanafiyah dan Malikiyah tidak wajib berdasarkan hadits Ummu Salamah yang telah lalu.
8. Menyiramkan air ke kepala dan seluruh tubuh.
Sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah, dimulai dengan menyirami bagian kanan tubuh kemudian yang kiri sesuai dengan hadits ‘Aisyah :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ
“Adalah menyenangkan Rosulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut, ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”.
Dan hendaknya dia memperhatikan untuk mencuci kedua ketiaknya dan bagian-bagian tubuh yang terlipat dan pangkal kedua paha sesuai hadits ‘Aisyah, dan dia menggosok badannya jika kesucian bagian tersebut tidak bisa sempurna tanpa digosok..
Apakah wajib baginya untuk beristinsyaq dan berkumur-kumur atau yang lainnya ?
Hanabilah dan Hanafiyah mewajibkan berkumur-kumur dan beristinsyaq karena harus mengenai seluruh tubuh. Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah bahwasanya berkumur dan beristinsyaq hanyalah sunnah sebagaimana disunnahkan ketika berwudlu.
9. Berpindah tempat kemudian mencuci kedua kaki.
Adapun mengulangi mencuci kaki (setelah mencucinya ketika wudlu) maka hal ini tidaklah jelas dalam hadits. Hal ini (yaitu mencuci kaki ketika wudlu) merupakan istimbat dari lafal وُضُوْئَهُ لِلصَّلاَةِ (sebagaimana wudlunya ketika akan sholat), karena dzohir lafal ini mencakup mencuci kedua kaki juga dan juga merupakan istimbat dari lafal ُُثمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ (kemudian dia mencuci seluruh badannya) karena lafal ini juga mencakup mencuci kedua kaki. Bahkan telah ada lafal yang jelas dalam shohih Muslim (1/174) dengan lafal ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (kemudian dia menyirami seluruh tubuhnya lalu mencuci kedua kakinya). Namun dalam hadits Maimunah dalam riwayat Bukhori disebutkan تَوَضَّأَ رَسُوْلُ الله وُضُوْئَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ (Rosulullah r berwudlu sebagaimana wudlu ketika sholat selain kedua kaki), dan ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ (kemudian dia berpindah lalu mencuci kedua kakinya). Dan ini adalah nash akan bolehnya mengakhirkan mencuci kedua kaki ketika mandi, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dan mungkin Rosulullah r melakukan kedua cara ini, terkadang dia mencuci kedua kakiknya ketika wudlu dan terkadang beliau beliau berwudlu namun beliau mengakhirkan mencuci kedua kakinya.
Dan hendaknya janganlah dia berlebih-lebihan ketika menggunakan air, jangan telalu berlebih-lebihan dan jangan pula sebaliknya.
Mandi-mandi yang disunnahkan
1. Mandi hari Jum’at
Sesuai dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri t bahwasanya Rosulullah bersabda :
غَسْلُ يَوْمِ الْجُمِعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
Mandi hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh)
Dan hadits ‘Aisyah dia memarfu’kannya :
الْغَسْلُ يَوْمَ الْجُمِعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَ أَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيْبًا إِنْ وَجَدَ
Mandi pada hari jum’at wajib bagi setiap orang yang mimpi (baligh) dan bersiwak dan memakai minyak wangi jika dia mendapatkannya.
Namun ada khilaf apakah hukum mandi jum’at itu wajib atau sunnah.
2. Mandi untuk berihrom
Sesuai dengan hadits Zaid bin Tsabit t:
أَنَّ النَّبِيَّ تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ وَاغْتَسَلَ
Bahwasanya Nabi r tidak berpakaian untuk berihlal dan beliau mandi
3. Mandi ketika masuk Mekah
Karena Ibnu Umar t tidaklah dia masuk Mekah kecuali dia bermalam di Dzi Tuwa hingga subuh dan dia mandi, dan dia menyebutkan bahwasanya hal itu (apa yang telah dilakukannya) dari Nabi r
4. Mandi setiap kali akan bersenggama
Sesuai dengan hadits Abu Rofi’t:
أَنَّ النَّبِيَّ rطَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ, يَغْتَسِلُ عِنْدَ هذِهِ وَعِنْدَ هذِه. قَالَ : فَقُلْتُ :يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدً؟ قَالَ : هذَ أَزْكَى وَأَطْيَبُ
Bahwasanya Nabi r mengelilingi istri-istrinya pada suatu hari, dan dia mandi di sisi istri yang ini dan di sisi istri yang ini. Berkata Abu Rofi’ t : Lalu aku berkata :”Ya Rosulullah, tidakkah engaku menjadikannya sekali mandi saja ?”, Rosulullah r berkata : “Ini lebih bersih dan lebih baik”
Untuk masalah mengulangi jimak, maka ada tiga tingkatan :
1. Dia mandi sebelum dia mengulanginya. Ini adalah tingkatan yang paling sempurna.
2. Dia hanya berwudlu sebelum dia mengulangi jimaknya. Tingkatan ini adalah di bawah tingkatan yang pertama.
3. Dia mengulangi jimak tanpa mandi dan tanpa wudlu. Ini adalah tingkatan yang peling rendah, namun hal ini boleh.
5. Mandi setelah memandikan mayat
Sesuai dengan hadits Abu Huroiroh t, dia memarfu’kannya :”Barangsiapa yang memandikan mayat maka mandilah”, dan sesuai dengan hadits ‘Aisyah, dia berkata :”Rosulullah r mandi karena empat perkara : karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam, dan karena memandikan mayat”.
Dan yang menunjukan bahwa hal ini tidaklah wajib adalah hadits Asma’ binti ‘Umais (istri Abu Bakar t), dia memandikan Abu Bakar t ketika Abu Bakr t wafat, lalu dia keluar dan bertanya kepada para muhajirin yang bertemu dengannya. Lalu dia berkata :”Sesungguhnya saya berpuasa dan hari ini adalah hari yang dingin sekali, apakah aku harus mandi (setelah memandikan Abu Bakr t)?, lalu mereka berkata :”Tidak”
Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwasanya hal ini menunjukan bahwasanya mandi karena memandikan mayat adalah hal yang ma’lum (yang diketahui) oleh para shahabat, tetapi hal ini adalah sunnah.
6. Mandi karena mengubur orang musyrik
Sesuai hadits Ali bin Abi Tholib t bahwasanya beliau mendatangi Nabi r, lalu Nabi r berkata :”Sesungguhnya Abu Tholib telah mati”, lalu beliau berkata :”Pergilah engkau lalu kuburkanlah dia!”. Ali t berkata :”Sesungguhnya dia mati dalam keadaan musyrik”. Beliau berkata :”Pergilah dan kuburlah dia”. (Ali t berkata) :”Ketika aku telah menguburnya aku kembali ke Nabi r, lalu beliau berkata kepadaku :”Mandilah””
7. Mandi bagi orang yang beristihadloh ketika akan setiap akan sholat atau ketika menggabungkan dua sholat
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah bahwasanya Ummu Habibah mengalami istihadloh di masa Rosulullah r, lalu Nabi r memerintahnya untuk mandi setiap sholat. Dan hadits Hamnah binti Jahsin bahwasanya Nabi r berkata kepadanya :”Aku akan memerintahkan engkau dengan dua perkara, mana diantara keduanya yang engkau laksanakan maka telah mencukupi engkau, kalau engkau mampu untuk melaksanakan keduanya maka engkaulah yang lebih mengetahui.” Dan dalam riwayat yang lain Nabi r berkata kepadanya :”Dan jika engkau mampu untuk mengakhirkan sholat Dzuhur dan engkau menyegerakan sholat Ashar lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan antara dua sholat Dzuhur dan Ashar dan engkau mengakhirkan Magrib dan menyegerakan Isya’ lalu engkau mandi dan engkau menggabungkan dua sholat, maka lakukanlah !. Dan engkau mandi bersama sholat subuh maka lakukanlah, dan berpuasalah jika engkau mampu untuk itu.” Nabi r berkata :”Ini adalah perkara dari dua perkara yang paling aku sukai”
8. Mandi setelah pingsan.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, beliau berkata : Nabi r dalam keadaan sakit yang berat, lalu berkata :”Apakah manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum, mereka sedang menunggu engkau.”, beliau berkata :
ضَعُوْا لِيْ مَاءً فِيْ الْمِخْصَبِ (”Letakkan untukku air di mikhdlob”). ‘Aisyah berkata : Maka kami lakukan (permintaan beliau untuk mengambil air), lalu beliau mandi, lalu beliau bangkit, maka beliau pingsan. Kemudian beliau sadar lalu berkata : “Apakah manusia telah sholat?”, kami berkata :”Belum, mereka sedang menunggu engkau ya Rosulullah”. Beliau berkata :”Letakkan untukku air di mikhdlob” maka dia duduk dan mandi…..”
Rosulullah r melakukan hal itu tiga kali dan dia dalam keadaan berat dengan sakitnya, maka hal ini menunjukan akan sunnahnya mandi karena pingsan.
9. Mandi karena berbekam.
Sesuai dengan hadits ‘Aisyah, berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ : مِنَ الْجَنَابَةِ, وَيَوْمِ الْجُمْعَةِ, وَ مِنَ الْحِجَامَةِ, وَ مِنْ غَسْلِ الْمَيِّتِ
Adalah Rosulullah mandi karena empat hal, karena janabah, karena hari jum’at, karena berbekam, dan karena memandikan mayat.
10. Mandi ketika masuk Islam (bagi yang menganggap hal ini adalah sunnah).
Lihat hal 14
11. Mandi ketika dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adlha).
Berkataan para ulama tidak ada hadits yang shohih dari Nabi r dalam masalah ini. Berkata Syaikh Al-Albani :”Dan yang paling baik yang dijadikan hujjah akan sunnahnya mandi ketika dua hari raya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari jalan As-Syafi’i dari Zadan, dia berkata :”Seorang laki-laki bertanya kepada Ali t tentang mandi, maka Ali t berkata :”Mandilah setiap hari jika engkau kehendaki !”, lalu laki-laki itu berkata :”Bukan, (tapi) mandi yang benar-benar mandi”, Ali t berkata :”(Mandi) pada hari Jum’at, pada hari ‘Arofah, pada hari An-Nahr (Idlul Adlha’), dan pada hari ‘Idul Fitri”. Dan dari Sa’id ibnil Musoyyib bahwasanya beliau berkata : “Sunnah hari raya ‘Idul Fitri ada tiga, berjalan ke musholla (tanah lapang), makan sebelum keluar (ke musholla), dan mandi”. Dan telah tsabit bahwasanya Abdullah bin ‘Umar t mandi pada hari ‘Idul Fitri sebelum beliau berangkat ke musholla.
12. Mandi ketika hari ‘Arofah.
Dalilnya sebagaimana telah lalu.
Maroji’ :
Asy-Syarhul Mumti’, karya Syeikh Al-Utsaimin.
Thuhurul Muslim, karya Syeikh Al-Qohthony.
Al-Fiqh Al-Islami, karya Doktor Wahbah Az-Zuhaili.
Tamamul Minnah,Karya Syaikh Al-Albani
Jami’ Ahkamun Nisa’, karya Syaikh Mustafa Al-Adawi
Fatawa Al-Madinah Al-Munawaroh, karya Syaikh Al-Albani
Irwaul golil, karya Syaikh Al-Albani jilid 1
Taisirul ‘Alam, Karya Syaikh Ali Bassam
Majmu’ Fatawa, karya Syaikh Utsaimin, jilid 4
Fathul Bari, jilid 1
Langganan:
Postingan (Atom)