<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841</id><updated>2011-11-05T09:57:43.744+07:00</updated><category term='Rasulullah Saw seperti apa??'/><category term='Tanya Jawab'/><category term='Penjelasan'/><category term='Sekilas Guru'/><category term='Fiqih'/><category term='Sahabat Rasul Saw'/><category term='Petuah'/><category term='Manaqib'/><title type='text'>Para Pecinta Rasul SAW</title><subtitle type='html'>Laulal Murobbi Ma Arroftu Robbi...Jika Bukan Karena Seorang Guru aku takkan kenal siapa Tuhanku (alhabib ali bin abdurrahman alhabsyi sohib maulid simtud durror)
Sabda Nabi saw : semua anak berketurunan pada ayahnya, kecuali anak Fatimah putri beliau saw), sungguh nasab mereka adalah kepadaku"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>95</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-2171661467590986832</id><published>2008-09-05T14:45:00.001+07:00</published><updated>2008-09-05T14:47:05.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Tanya wudhu</title><content type='html'>assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puji serta syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang sampai saat ini kita masih di beri nikmat yg sangat banyak dan tak terhitung solawat serta salam selalu tercurah limpahke pada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sehabat mudah-mudahan kita semua mendapat syafaat dari Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Munzir yang saya muliakan dan saya cintai serta hormati.Mudah-mudahan Habib sekeluarga selalu di beri ke sehatan serta panjang umur dan bertambah ilmunya yang banyak dan bermanfaat untuk umat islam.Amin&lt;br /&gt;Habib Muzir yang saya cintai,saya ada beberapa pertanyaan :&lt;br /&gt;1. Teman saya berkata pada saya bahwa Nabi Muhammad pernah setelah Wudhu lalu mencium istrinya ke mudian baru Sholat.Menurut teman saya itu merupakan Hadis Nabi.Apakah benar dan apakah yang di lakukan Nabi tidak membatalkan Wudhunya , klw memang ada hadits nya itu shaih atau do'if ?&lt;br /&gt;2.bib ada nisa yg tanya ke ane pertanyaan nya kaya gini ? apakah suami kiat berhak mengetahui pengahasilan kita dan apakah suami berhak ikut campur dalam pengeluaran uang itu ?&lt;br /&gt;3. Habib saya sebenarnya ingin sekali dapat hadir dalam pengajian yg habib pimpin tapi sampai saat ini saya belum dapat hadir di karenakan di daerah saya juga ada pengajian yg d i pimpin oleh Habib ALi zaenal Abidin Al-Kaff Condet.do'akan saya ya bib agar saya dapat hadir dalam majlis yg habib pimpin.&lt;br /&gt;untuk jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih dan saya mohon maaf kalo kata-kata saya banyak yg salah dan mudah mudahan ilmu yang habib berikan dapat bermanfaat bagi saya dan keluarga saya.Amin.&lt;br /&gt;4 . bib ada nisa yg tanya ke sayah , apakah sama hak mertua nya dengan hak ibunya ?&lt;br /&gt;5 . bib klw istri kita bekerja dia memberikan sebagian penghasilannya kepada orang tuanya tanpa izin dari suaminya apakah perbutan itu di benarkan dlm agama dan apakah istri tsb tidak berdosa tanpa izin suaminya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limpahan Rahmat dan kasih sayang Nya semoga selalu mewarnai hari hari anda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;1. mengenai hal itu adalah pada madzhab Imam Hambali, haditsnya dhoif, Namun Imam Ahmad bin hannbal tetap memakainya sebagai hujjah, dan Imam syafii tetap berpendapat bahwa persentuhan pria dan wanita yg bukan muhrim batal wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Selama wanita itu bekerja sendiri tanpa bantuan suaminya, maka boleh ia memberitahunya dan boleh juga tidak, dan suami tidak berhak atas uang itu bila uang itu murni hasil kerja istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Salam hormat untuk Hb Ali Alkaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 . hak mertua tentunya berbeda dengan hak orang tua kandung, walaupun mereka di manzilah orang tua, namun hak dan kewajiban kita pada mereka tentunya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 . selama ia bekerja sendiri dan uang itu adalah uangnya maka suami tak berhak untuk melarangnya, namun tentunya secara adab selayaknya istri tak berbuat demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;munzir tulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 . hak mertua tentunya berbeda dengan hak orang tua kandung, walaupun mereka di manzilah orang tua, namun hak dan kewajiban kita pada mereka tentunya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdilillah Hilladzi Hadana Lihaza....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Habib, mengenai jawaban Habib diatas, ini kan pertanyaan dari pihak istri...jadi siapa yang lebih berhak / lebih banyak hak nya antara mertu atau ibu kandung si istri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau pertanyaan nya dari sang suami....siapakah yang lebih berhak, apakah metua atau orang tua si suami......mohon penjelasan nya Ya Habib.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih atas waktu dan penjelasan dari Habib,&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu memelihara kesehatan Habib... Amiiiinn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf atas segala ketidak sopanan,&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentunya istri mendahulukan hak dan kewajiban ayah dan ibu kandungnya dari mertua, dan suami mendahulukan hak dan kewajiban ayah dan ibu kandungnya dari mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-2171661467590986832?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/2171661467590986832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=2171661467590986832' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/2171661467590986832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/2171661467590986832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/tanya-wudhu.html' title='Tanya wudhu'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-6577422228867790956</id><published>2008-09-05T14:41:00.002+07:00</published><updated>2008-09-05T14:41:58.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Menyentuh istri setelah wudhu, batal tidak?</title><content type='html'>Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Habib ane mau bertanya masalah fiqh yang berkaitan dengan wudhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya habib ane kan sering sholat jamaah dengan istri di rumah, setelah salam dan doa istri ane selalu cium tangan sama ane atau sebelum sholat terkadang sering bersentuhan kulit. apakah dapat membatalkan wudhu ane dan istri ? selanjutnya ya habib apakah ada perbedaan antara muhrim dengan mahrom ? sebab banyak orang mengatakan kalau bukan istri disebut bukan muhrimnya atau mahromnya. ataukah memang keduanya sama ya habib ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;syukran katsiran atas penjelasannya, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan ilmu kepada antum ya habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hazami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;bersentuhan dengan istri membatalkan wudhu, demikian dalam madzhab syafii, jika memang dikehendaki dan mesti bersalaman maka baiknya anda memakai kaus tangan tipis, atau selesaikan semua shalat ba'diyah dan dzikir anda terlebih dahulu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun memang tak disunnahkan istri mencium tangan suami dalam waktu yg kerap, hal itu tak dilakukan oleh Rasul saw, mengenai Mahrom dan Muhrim adalah istilah yg sama untuk lawan jenis yg haram dinikahi oleh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-6577422228867790956?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/6577422228867790956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=6577422228867790956' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/6577422228867790956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/6577422228867790956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/menyentuh-istri-setelah-wudhu-batal.html' title='Menyentuh istri setelah wudhu, batal tidak?'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-7040130737934441974</id><published>2008-09-05T14:17:00.000+07:00</published><updated>2008-09-05T14:18:02.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>"Sifat Sholat Nabi Saw" karya Muhammad Nashirudin Al-Bani</title><content type='html'>Assalamualaikum Wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yth. Habib Munzir yang kami muliakan, terima kasih sekali atas sarannya dan semoga menjadi berkah bagi saya dan keluarga serta para anggota MR yang membaca email ini ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masalah tuntutan sholat Rasulullah tersebut diatas bib, memang dalam buku "Sifat Sholat Nabi Saw" karya Muhammad Nashirudin Al-Bani, pendapat-pendapat tata car sholat menurut para Mahzab 4 diabaikan, hal ini dilakukan karena penulis buku tersebut beralasan justru dengan memakai pendapat-pendapat Mahzab 4 banyak menimbulkan perbedaan tata cara sholat sehingga menimbulkan kebingungan kaum muslim (istilahnya pemurnian islam-lah bib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bib, apakah benar begitu ? pasalnya bib sekarang ini banyak intelektual-intelektual muda yang tata cara sholatnya seperti dalam buku itu bahkan yang tadinya sholatnya bermadzab Syafii berubah 100% seperti dalam buku itu bib, saya kadang-kadang berfikir apakah selama ini tata cara sholat saya salah (saya penganut Imam Syafii), makanya dengan konsultasi seperti ini bib saya sangat terbantu dan mohon doanya bib semoga saya dan keluarga saya serta para anggota MR yang membaca email ini diberikan ke-Istiqomahan/tiada keraguan lagi dalam menjalankan sholat sesuai yang habib sarankan diatas ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya bib, apakah forum seluruh tanya jawab di MR ini sudah dibukukan ? bagaimana cara memilikinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian uneg-uneg saya bib, semoga Allah Swt membalas kebaikan Habib Munzir serta selalu diberikan kesehatan ... Amin (kenapa saya berdoa demikian bib, karena saya sedih kalau habib sakit sehingga tidak bisa mengasuh taklim/on-line di website MR. Hal ini semua karena saya rindu petuah-petuah Habib Munzir walaupun sakit merupakan kepastian milik Allah Swt terhadap umatnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Takzim&lt;br /&gt;Belawan, 14 Pebruari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqbal Qosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;Al Bani tidak diakui sebagai Muhaddits, ia tak memiliki satu sanad hadits pun, bagaimana ia disebut muhaddits?, fatwa mengenai hadits dari orang yg tidak memiliki sanad adalah fatwa yg tertolak, dan semua pendapatnya dhoif, dan sungguh kesusu dan keliru orang yg mengikutinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1.000.000 (1 juta) hadits dengan sanad dan hukum matannya, ia berguru kepada Imam Syafii, kalau muridnya saja spt itu maka bagaimana gurunya?, Imam Syafii berguru pada Imam Malik (Maliki), dan Imam Malik hidup sezaman dg Imam Hanafi, dan mereka berdua berguru pada Tabiin dan Sahabat, yg berguru pada Rasulullah saw,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kesemua mereka 4 Imam Madzhab itu berasal dari satu rumpun, dan mereka diikuti oleh ribuan Imam, Huffadh dan Hujjatul islam setelah mereka, Hujjatul Islam adalah pakar hadits yg telah hafal lebih dari 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, Huffadh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Imam besar ini diikuti oleh ribuan Huffadh, Imam, hujjatul islam, dari zaman ke zaman setelah mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu apa artinya seorang Albani yg menentang mereka itu semua?, ia tak punya satu sanad haditspun, hanya menukil dari buku buku hadits yg tersisa masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal yg sangat menyakitkan adalah banyaknya muslimin yg mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-7040130737934441974?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/7040130737934441974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=7040130737934441974' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7040130737934441974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7040130737934441974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/sifat-sholat-nabi-saw-karya-muhammad.html' title='&quot;Sifat Sholat Nabi Saw&quot; karya Muhammad Nashirudin Al-Bani'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-1668158483664578890</id><published>2008-09-05T14:08:00.002+07:00</published><updated>2008-09-05T14:11:12.454+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Cara Sholat Rasul</title><content type='html'>Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yth. Habib Munzir yang kami muliakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan bib yang sampe sekarang masih saya pikirkan, untuk itu mohon penjelasannya beserta dalilnya bib ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bib, Saya pernah membaca buku tentang "Sifat Sholat Nabi Muhaammad SAW" karya MUHAMMAD NASHIRUDIN AL-BANI. dan buku ini sudah beberapa kali mengalami revisi. Inti dalam buku itu menjelaskan bahwa Rasulullah sholat tidak pernah diawali dengan niat bacaan USHOLLI tetapi langsung mengucapkan takbir .. dan bacaaan Tahiyat tidak memakai SAYIDINA (baik itu para sahabat maupun tabiin) ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertannyaannya begini bib :&lt;br /&gt;1. Apakah sifat sholat Nabi dalam buku tersebut benar ?&lt;br /&gt;2. Lalu bagaimana bagi orang yang sholatnya pakai usholli dan tahiyat memakai sayidina, apakah itu sesuai tuntunan Rasulullah ?&lt;br /&gt;3. Bagaimana tata cara sholat yang dipraktekan para habaib yang notabene cucu/cicit turunan Rasulullah ?&lt;br /&gt;4. Jikalau buku diatas kurang valid, adakah tuntunan sifat sholat nabi yang dibukukan. Kalaupun ada, apa judulnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf bib, jika ada kalimat saya yang kurang berkenan, itu semua karena kebodohan saya bib ... terima kasih atas perhatiannya bib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 12 Pebruari&lt;br /&gt;Aqbal Qosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kumuliakan, dibawah ini tata cara Shalat yang diajarkan Rasul saw, sudah pernah dibahas sebelumnya di forum, semoga dapat menjawab dari semua pertanyaan anda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits 1&lt;br /&gt;Sebagaimana yang diambil dari hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Aby Hurairoh ra sengguhnya Rasullulah saw berkata : “ Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat maka berwudhulah dengan sempurna, kemudian menghadap kiblat, kemudian engkau bertakbir kemudian bacalah yang termudah bagimu dari AlQur’an, kemudian engkau berrukuk hingga tuma’ninah dalam berukuk kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal), kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut, kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) hingga engkau bertuma’ninah dalam dudukmu kemudian engkau sujud kedua kalinya hingga bertuma’ninah dalam sujut, kemudian lakukanlah seperti yang tadi diseluruh shalatmu” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;dalam Riwayat Muslim Rasullulah saw berkata : “Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits 2&lt;br /&gt;Riwayat An Ibn Umar ra Rasulullah saw berkata : “ketika duduk untuk berTasyahud menaruh tangan kiri diatas lutut sebelah kiri dan tangan kanannya diatas lutut sebelah kanan, dan memajukan jari telunjuk, dalam Riwayat Muslim (mengumpulkan semua jarinya dan menunjuk dengan jari yang setelah jari jempol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits 3&lt;br /&gt;Riwayat An Aby Mashud ra shabat Basyir bin Syaid “Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu, kemudian Rasul saw terdiam lalu Rasulullah saw menjawab “ katakanlah, Allahumma Shali’alla Muhammadin wa’alla ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahimma…” sampai dengan akhir shalawat Ibrahimiyah. (HR. Muslim). (Ditambahkan oleh Ibn khuzaimah bagaimana kami bershalawat atasmu jika kami dalam shalat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits 4&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR.Imam Bukhari dan Muslim) dan dari Wail bin Hujr ra “aku shalat bersama Rasul saw dan beliau salam awal sebelah kanan (Assalamu’alaikum warohmatullahhi wabarokatu) dan salam akhir sebelah kiri (Assalamu’alaikum warohmatullahhi wabarokatu)”.( HR. Abu daut dengan sanad sahih )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun shalat ada 17&lt;br /&gt;1. Niat,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat,,,” dan Hadits Rasul saw “sesungguhnya amal itu dengan niat”&lt;br /&gt;2. Menghadap kiblat dan berdiri dalam shalat Fardhu,&lt;br /&gt;dari susunan hadist 1 diatas bahwa hendaknya menghadap kiblat sebelum bertakbir (syarah dari Imam alwi abbas al Maliki kitab Ibanatul ahkam)&lt;br /&gt;3. Bertakbir,&lt;br /&gt;yaitu membuka shalat dalam takbirratul ikhram (pendapat terbanyak dari Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki bahwa takbiratul ikhram wajib dengan lafdz ‘Allahhu Akbar’)&lt;br /&gt;4. Membaca Alfatihah,&lt;br /&gt;para ulama sepakat Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki wajibnya membaca Alfatihah disetiap rakaatnya. sebagaimana Hadits Rasulullah saw : “ Tidak sempurna shalat seseorang bila tidak membaca biummil Qur’an (Al Fatihah)” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;5. Rukuk,&lt;br /&gt;diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah saw Ubbayd assaa’idi ra berkata : “bahwasannya melihat Rasulullah saw jika bertakbir kedua tangannya sejajar dengan bahunya, jika berukuk kedua tangannnya memegang kedua lututnya, sampai dengan akhir…..” ( HR. Imam Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;6. Tuma’ninah dalam berrukuk,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudian engkau berrukuk hingga tuma’ninah dalam berukuk…”&lt;br /&gt;7. I’tidal,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “… kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal)…”&lt;br /&gt;8. Tuma’ninah dalam I’tidal,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “…Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu…”&lt;br /&gt;9. Sujud pertama dan Sujud kedua,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut…” dan Hadits Rasulullah saw : “aku diperintah untuk bersujud dengan 7 anggota tubuh (atas dahi, kedua tangan, kedua lutut dan jari-jari kaki)” ( HR. Mutafaqul’alayh). Sabda Rasul saw : “Bahwa engkau sujud maka taruhlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;10. Tuma’ninah dalam sujud pertama dan tuma’ninah dalam sujud kedua, sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujud hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujud…”&lt;br /&gt;11. Duduk diantara dua sujud,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) …”&lt;br /&gt;12. Tuma'ninah diantara dua sujud,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 1 diatas “…hingga engkau bertuma’ninah dalam dudukmu…”&lt;br /&gt;13. Tasyahud akhir,&lt;br /&gt;Riwayat Muslim dari Ibn Abbas berkata Rasul saw mengajari kami tasyahud “Attahiyatul mubaarakatus shalawatutthoybatulillah…” sampai dengan akhir.&lt;br /&gt;14. Duduk diTasyahud akhir,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 2 diatas “ ketika duduk untuk berTasyahud…”&lt;br /&gt;15. Bershalawat kepada Rasul saw,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 3 diatas “ Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu…”. Imam Syafi’I berpendapat bahwa beshalawat atas Rasul saw dan keluarganya dalam shalat adalah Wajib bagi kita, sebagaimana hadits 3 diatas.&lt;br /&gt;16. Salam,&lt;br /&gt;sebagaimana hadits 4 diatas “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR. Imam Bukhari dan Muslim). Sebagaimana hadits 4 maka para Imam beritifak bahwa salam awal wajib bagi seorang imam atau ma’mum atau sendiri dan salam kedua sunah, dan paling sedikitnya salam (Assalamu’alaikum) dikarnakan penduduk madinah melakukannya. (Kitab Ibbanatul Ahkam: Imam Alwi bin Abbas al maliki)&lt;br /&gt;17. Tertib,&lt;br /&gt;Sebagaimana urutan rukun – rukun hadits diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut Linknya :&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=9354〈=id#9354&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yth. Habib Munzir yang kami muliakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas jawabannya bib, saya jadi mengerti dan memahami apa yang habib uraikan diatas, namun ada sedikit perlu penjelasan mengenai ucapan sholawat menurut hadist Riwayat An Aby Mashud ra shabat Basyir bin Syaid yang berbunyi “Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu, kemudian Rasul saw terdiam lalu Rasulullah saw menjawab “ katakanlah, ]Allahumma Shali’alla Muhammadin wa’alla ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahimma…” sampai dengan akhir shalawat Ibrahimiyah. (HR. Muslim). (Ditambahkan oleh Ibn khuzaimah bagaimana kami bershalawat atasmu jika kami dalam shalat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan tata cara sholat menurut Imam Syafi'i (dalam penjelasan email Sdr. Salamuns yang saya buka), menjelaskan tentang rukun sholat yang kesebelas mengenai bacaan sholawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas : Membaca shalawat pada nabi Muhammad SAW (allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad wa 'ala aali sayyidina muhammad dst sampai dengan fil 'alamina innaka hamiidun majid). Boleh dilanjutkan dengan membaca do'a&lt;br /&gt;allahumma inni a'udzubika min adzabi jahannam, wa min adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamaat, wa min fitnatil masiihid dajjal, ya muqallibal qulub tsabbit quluubana 'ala diinika, wa 'ala tho'atika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada kedua penjelasan diatas ada perbedaan pemakaian kata sandang sayidina pada sholawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menurut habib mana baiknya kita memakai sholawat menurut hadist diatas apa menurut Imam Syafii dalam mengerjakan sholat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih bib, semoga habib memaafkan kebodohan saya atas pemahaman hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wass...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;saran saya anda mengikuti fatwa Imam SYafii, karena Imam Syafii lebih mengerti hadits daripada kita, karena hadits yg sampai pd kita sungguh sangat sedikit dibanding hadits yg ada dimasa itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagaimana contoh mudah saja, bahwa Imam AHmad bin Hanbal hafal 1.000.000 hadits (satu juta hadits) berikut sanad dan hukum matannya, sedangkan ia tak mampu menulis kesemua hadits yg dihafalnya itu, ia hanya mampu/sempat menulis sekitar 20 ribu hadits saja pada musnadnya, lalu kemana 980.000 hadits yg ia hafal?, sirna ditelan zaman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari hafal 600.000 hadits sebelum usianya 16 tahun, namun ia hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits pada shahihnya dan beberapa buku kecil lainnya, lalu kemana 593.000 hadits lainnya?., sirna ditelan zaman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam SYafii, dan Imam Bukhari adalah sederajat murid Imam Ahmad bin Hanbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka tentunya kita sangat percaya bahwa Imam Syafii buka berfatwa semaunya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hanbal : tidak pernah kulihat seorangpun yg lebih ingin selalu berada dalam sunnah sebagaimana imam Syafii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buku hadits yg ada pada kita jika dikumpulkan kesemuanya tak mencapai 100.000 hadits, maka mungkin sekitar 5% saja dari hadits yg ada dimasa imam imam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kemungkinan besar haditsnya ada, namun tidak sempat tercatat oleh mereka, sebab mustahil Imam Syafii ingin melanggar sunnah Rasul saw setiap melakukan shalat, dan mustahil pula ia mengeluarkan fatwa yg menentang hadits Rasul saw, jika itu terjadi maka ia tak akan dijadikan Imam Madzhab, namun terbukti dari belasan para Imam yg bermadzhabkan Syafii, diantaranya Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;saran saya anda mengikuti fatwa Imam SYafii, karena Imam Syafii lebih mengerti hadits daripada kita, karena hadits yg sampai pd kita sungguh sangat sedikit dibanding hadits yg ada dimasa itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagaimana contoh mudah saja, bahwa Imam AHmad bin Hanbal hafal 1.000.000 hadits (satu juta hadits) berikut sanad dan hukum matannya, sedangkan ia tak mampu menulis kesemua hadits yg dihafalnya itu, ia hanya mampu/sempat menulis sekitar 20 ribu hadits saja pada musnadnya, lalu kemana 980.000 hadits yg ia hafal?, sirna ditelan zaman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari hafal 600.000 hadits sebelum usianya 16 tahun, namun ia hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits pada shahihnya dan beberapa buku kecil lainnya, lalu kemana 593.000 hadits lainnya?., sirna ditelan zaman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam SYafii, dan Imam Bukhari adalah sederajat murid Imam Ahmad bin Hanbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka tentunya kita sangat percaya bahwa Imam Syafii buka berfatwa semaunya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hanbal : tidak pernah kulihat seorangpun yg lebih ingin selalu berada dalam sunnah sebagaimana imam Syafii.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buku hadits yg ada pada kita jika dikumpulkan kesemuanya tak mencapai 100.000 hadits, maka mungkin sekitar 5% saja dari hadits yg ada dimasa imam imam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kemungkinan besar haditsnya ada, namun tidak sempat tercatat oleh mereka, sebab mustahil Imam Syafii ingin melanggar sunnah Rasul saw setiap melakukan shalat, dan mustahil pula ia mengeluarkan fatwa yg menentang hadits Rasul saw, jika itu terjadi maka ia tak akan dijadikan Imam Madzhab, namun terbukti dari belasan para Imam yg bermadzhabkan Syafii, diantaranya Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum Wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yth. Habib Munzir yang kami muliakan, terima kasih sekali atas sarannya dan semoga menjadi berkah bagi saya dan keluarga serta para anggota MR yang membaca email ini ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masalah tuntutan sholat Rasulullah tersebut diatas bib, memang dalam buku "Sifat Sholat Nabi Saw" karya Muhammad Nashirudin Al-Bani, pendapat-pendapat tata car sholat menurut para Mahzab 4 diabaikan, hal ini dilakukan karena penulis buku tersebut beralasan justru dengan memakai pendapat-pendapat Mahzab 4 banyak menimbulkan perbedaan tata cara sholat sehingga menimbulkan kebingungan kaum muslim (istilahnya pemurnian islam-lah bib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bib, apakah benar begitu ? pasalnya bib sekarang ini banyak intelektual-intelektual muda yang tata cara sholatnya seperti dalam buku itu bahkan yang tadinya sholatnya bermadzab Syafii berubah 100% seperti dalam buku itu bib, saya kadang-kadang berfikir apakah selama ini tata cara sholat saya salah (saya penganut Imam Syafii), makanya dengan konsultasi seperti ini bib saya sangat terbantu dan mohon doanya bib semoga saya dan keluarga saya serta para anggota MR yang membaca email ini diberikan ke-Istiqomahan/tiada keraguan lagi dalam menjalankan sholat sesuai yang habib sarankan diatas ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya bib, apakah forum seluruh tanya jawab di MR ini sudah dibukukan ? bagaimana cara memilikinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian uneg-uneg saya bib, semoga Allah Swt membalas kebaikan Habib Munzir serta selalu diberikan kesehatan ... Amin (kenapa saya berdoa demikian bib, karena saya sedih kalau habib sakit sehingga tidak bisa mengasuh taklim/on-line di website MR. Hal ini semua karena saya rindu petuah-petuah Habib Munzir walaupun sakit merupakan kepastian milik Allah Swt terhadap umatnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Takzim&lt;br /&gt;Belawan, 14 Pebruari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqbal Qosim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;Al Bani tidak diakui sebagai Muhaddits, ia tak memiliki satu sanad hadits pun, bagaimana ia disebut muhaddits?, fatwa mengenai hadits dari orang yg tidak memiliki sanad adalah fatwa yg tertolak, dan semua pendapatnya dhoif, dan sungguh kesusu dan keliru orang yg mengikutinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1.000.000 (1 juta) hadits dengan sanad dan hukum matannya, ia berguru kepada Imam Syafii, kalau muridnya saja spt itu maka bagaimana gurunya?, Imam Syafii berguru pada Imam Malik (Maliki), dan Imam Malik hidup sezaman dg Imam Hanafi, dan mereka berdua berguru pada Tabiin dan Sahabat, yg berguru pada Rasulullah saw,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka kesemua mereka 4 Imam Madzhab itu berasal dari satu rumpun, dan mereka diikuti oleh ribuan Imam, Huffadh dan Hujjatul islam setelah mereka, Hujjatul Islam adalah pakar hadits yg telah hafal lebih dari 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, Huffadh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Imam besar ini diikuti oleh ribuan Huffadh, Imam, hujjatul islam, dari zaman ke zaman setelah mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu apa artinya seorang Albani yg menentang mereka itu semua?, ia tak punya satu sanad haditspun, hanya menukil dari buku buku hadits yg tersisa masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal yg sangat menyakitkan adalah banyaknya muslimin yg mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-1668158483664578890?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/1668158483664578890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=1668158483664578890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1668158483664578890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1668158483664578890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/cara-sholat-rasul.html' title='Cara Sholat Rasul'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4736788893204761057</id><published>2008-09-05T13:01:00.000+07:00</published><updated>2008-09-05T13:38:36.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Hukum Cincin</title><content type='html'>Assalamualaikum ya habib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin tanya tentang sunnah memakai cincin perak. Saya ingin mengikuti sunnah nabi yang mulia ini, dan saya harap pak habib boleh menjelaskan tentang perkara ini. Adakah dikira kita mengikut sunnah jika kita memakai cincin perak tanpa batu? Bagaimana pula cincin yang dipakai oleh Habib Umar dan Habib sendiri? Saya pernah menemui Habib Umar dan beliau memakai cincin yang ada batu di jari kelingkingnya. Apakah jenis batu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh ingin untuk mengikuti sunnah nabi dan contoh hamba-hamba Allah yang soleh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya ingin mengambil kesempatan ini until meminta ijazah dzikir-dzikir dari habib. Khususnya dzikir subhanallahi wa bihamdih X100, ratib haddad, al-attas, wirid latif, dan shalawat yang habib dawamkan X5000 itu. Adakah shalawat tersebut sama dengan shalawat di dalam wirid latif itu? (Allahumma solli ala sayyidina muhammadin wa alihi wa sallim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga biasa mendawamkan shalwat lafaz 'Sholaallahu ala muhammad' setiap hari. seperti dikemukakan di kita Afdholus Salat ala sayyidis sadat. tetapi saya membaca dari kitab Nasaaih Diniyyah tentang shalawat, katanya jika tiada disertai shalawat untuk keluarga baginda s.a.w., shalawat itu dianggap tidak sempurna, atau 'kontot'. Apakah pendapat habib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakallahu khair ya habib. Maaf jika soalan-soalan saya ini membuang masa habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, berikut jawaban Habibana yang sudah ada di forum mengenai cincin perak untuk laki - laki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;1. belasan hadits riwayat shahih Bukhari dan Shahih Muslim yg menjelaskan bahwa Nabi saw memakai cincin perak, dan beliau saw memakainya di kelingkingnya, demikian pula para sahabat menggunakannya, dan menggunakan cincin perak bagi pria hukumnya sunnah, yg diharamkan bagi pria adalah cincin emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. tak ada hadits menyebutkannya, namun telah sepakat para ulama dan Muhadditsin bahwa yg diharamkan bagi pria adalah emas, dan emas dalam bahasa Arab adalah Dzahab, dan Dzahab adalah emas yg berwarna kuning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenai emas putih maka pria boleh memakainya, sebab bukan Dzahab dalam pengertian syariah yaitu emas kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut Linknya :&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=5377〈=id#5377&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. menggunakan cincin adalah sunnah Rasul saw, berpuluh puluh hadits shahih dalam shahih Bukhari, Muslim, Tirmidzi dll menjelaskan hal itu, sebagaimana diriwayatkan bahwa Cincin Rasul saw itu terbuat dari perak, dan Rasul saw memakai cincin di tangan kanannya, dalam riwayat Imam Tirmidzi juga dijelaskan bahwa Cincin itu kemudian dipakai oleh Abubakar Asshiddiq ra, lalu kemudian dipakai Umar ra, lalu ketangan Usman bin Affan ra, lalu terjatuh ke sumur Aris (Assyama?il Imam Tirmidziy hadits no.95)&lt;br /&gt;Pula riwayat lain bahwa Rasul saw memakai cincin terbuat dari perak di jari kelingking beliau saw (Shahih Muslim hadits no.2095),&lt;br /&gt;Rasul saw memakai cincin di kelingkingnya (Shahih Bukhari hadits no.5536)&lt;br /&gt;Rasul saw melarang menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk (Shahih Muslim hadits no.2078),&lt;br /&gt;berkata Anas ra : ?bahwasanya cincin Rasul saw ditanganku, lalu setelahku dipakai oleh Abubakar, dan setelah dari tangan Abubakar ra pada tangan Umar, lalu pada tangan Usman, dan terjatuh di sumur Aris, hingga tiga hari kami mencarinya dan kami tak menemukannya? (Shahih Bukhari hadits no.5540).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut Linknya :&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=819〈=id#819&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-4736788893204761057?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/4736788893204761057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=4736788893204761057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4736788893204761057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4736788893204761057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/hukum-cincin.html' title='Hukum Cincin'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-771986772731058302</id><published>2008-09-05T09:24:00.001+07:00</published><updated>2008-09-05T09:24:45.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekilas Guru'/><title type='text'>Kenangan Habib Munzir Bersama Habib Umar Al-Hafizh</title><content type='html'>Kenangan Habib Munzir Bersama Habib Umar Al-Hafizh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami teringat saat Idul Fitri pertama kami disana, semua santri pulang pada ayah ibu mereka, tinggallah kami para pemuda belia yang bermuram durja teringat Idul Fitri di kampung halaman, dengan hati yang terenyuh melihat semua teman teman yang lain bergembira ria dengan keluarganya, Beliau memahami perasaan kami, malam lebaran itu beliau meninggalkan keluarganya, beliau mendatangi kami, lalu berkata dengan suara sangat teramat lembut : “Semua santri telah bersama ayah dan ibunya, dan kalian bersamaku.., aku akan menemani kalian dan bersama kalian bertakbir malam ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami teringat disuatu malam Beliau mengumpulkan murid muridnya, lalu beliau memberi nasihat, lalu tiba tiba nasihatnya terhenti.. suasana pun mencekam, tiba tiba beliau mulai menangis.. menangis.. menangis sekeras kerasnya, seraya berkata : “Bila Dia (Allah) bertanya kepadaku kelak tentang kalian?, Bila Dia meminta pertanggungjawaban dariku atas kalian…, Bila Dia menanyaiku…?, dan bila sang Nabi bertanya pula kepadaku tentang perbuatan kalian?, aku harus bertanggungjawab? , Demi Allah, kalau ditindihkan Gunung besar diatas kepalaku hingga aku lumat dan lebur menjadi debu, itu jauh lebih baik daripada sampainya berita tentang buruknya amal kalian kepada sang Nabi (saw)”, lalu beliau bermunajat dengan tangisnya agar seluruh muridnya dilimpahi hidayah dan keluhuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyaksikan bagaimana Guru Mulia ini selalu memberikan prioritas pada kami dibanding murid murid yang lain dari warga Negara Yaman, beliau selalu berkata pada mereka : “Mereka datang dari jauh, meninggalkan keluarga dan kampung halamannya, untuk mencari ilmu, wajib bagi kita memuliakan para tamu Allah ini..”. Insya Allah Bumi Jakarta akan disentuh langkah mulia beliau dalam beberapa hari mendatang, tepatnya pada hari rabu siang, 16 Januari 2008 Bandara Soekarno hatta akan dipenuhi para pecinta beliau, dan beliau akan langsung menuju kediaman Hb Muhsin bin Idrus Alhamid di Komplek Hankam Cidodol, Kebayoran Lama Jakarta Selatan,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tak tergambarkan kegembiraan jutaan sanubari muslimin di wilayah Indonesia, Malaysia dan Singapura, ketika mendengar bahwa semakin dekatnya kunjungan berkala tahunan sang Imam, Al Allamah Assayyid Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, Guru yg selalu membimbing dengan kelembutan, dan mencirikan Kelembutan ajaran sang Nabi saw, yang siang dan malamnya adalah membimbing ratusan santri dari mancanegara, dan di akhir malamnya adalah tegak dengan kesendirian, hanya berduaan dengan Maha Raja Tunggal di Alam, dan mengakhiri malamnya dengan kedua tangan terangkat tinggi bermunajat dan mengemis curahan Rahmat bagi seluruh muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mendapat penghargaan dari Presiden Republik Yaman Ali Abdullah Shaleh, yg sangat mengagumi beliau, dengan bimbingan Kelembutan dan kasih sayang, dan memang ribuan WNA berdatangan ke negeri itu untuk mengunjungi Sang Guru, lain dengan beberapa Ma’had di beberapa wilayah Yaman lainnya yg banyak mengajarkan kekerasan dan terorisme, dan adapula santri santri dari WNI yg menuntut ilmu di tempat mereka. Ma’had Darulmustafa kini telah meresmikan bimbingan pelajaran dengan 4 bahasa, yaitu Arab, English, Afrika dan Indonesia, dan santri terbanyak adalah berasal dari Indonesia. maka Wahai Yang Maha Membangkitkan Kemuliaan, bangkitkanlah semangat keluhuran di sanubari kami khususnya dan di sanubari penduduk nusantara ini, dengan kedatangan Hamba Mu yg kau muliakan sebagai pewaris perjuangan sang Nabi saw yg telah dibawa dan diemban oleh para Da’I terpilih Mu dari zaman ke zaman. Jadikan kedatangan beliau sebagai hembusan Rahmat Mu pd Jutaan sanubari penduduk negeri ini, maka terangkatlah musibah dan bencana, terampunilah dosa dosa, dan sejuklah sanubari hamba hamba Mu di negeri ini, amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Munzir bin Fuad Al-Musawa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-771986772731058302?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/771986772731058302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=771986772731058302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/771986772731058302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/771986772731058302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/kenangan-habib-munzir-bersama-habib.html' title='Kenangan Habib Munzir Bersama Habib Umar Al-Hafizh'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-5444259932761768737</id><published>2008-09-04T15:41:00.002+07:00</published><updated>2008-09-04T15:47:05.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>cara mandi wajib</title><content type='html'>Assalamu'alaikum wr wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibana Munzir AL-musawa yang saya hormati,&lt;br /&gt;Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada habibana.&lt;br /&gt;Bib Ana mau minta tolong kepada habib untuk menjelaskan mengenai mandi junub mulai dari sebab kita harus mandi junub, niat, tata cara pelaksanaannya sampai akhir karena menurut ana ini juga penting di ketahui para jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Penjelasan Habib bermanfaat khususnya unutk ana pribadi dan umumnya Jama'ah sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakumulloh Khoiron Katsiro&lt;br /&gt;Al-Fakir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ozzy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dan kesejukan hati semoga selalu menaungi hari hari anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;mandi junub itu disebabkan dua hal, yaitu keluar mani dengan mimpi atau diluar mimpi, dan bersentuhannya alat kelamin pria dengan alat kelamin wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi wanita ada mandi wajib lainnya yaitu mandi setelah suci dari haid atau nifas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenai cara dan syaratnya, cuma dua saja, yaitu niat dan menyeluruhkan guyuran air ke seluruh tubuh, sampai keujung rambut dan lipatan lipatan tubuh, hati hati terutama bekakang telinga dan bagian dalam telinga, mesti terkena air dengan membasahi dua kelingking dan memasukkannya sedalam mungkin ke telinga, batas itulah yg wajib dikenai air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;assalamualaikum habib munzir yang sangat dicintai. semoga allah mempertemukan kita semasa habib berkunjung ke kuala lumpur atau singapura pada bulan julai nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya mau tanya, apakah cara mandi junub itu perlu dibasuhi dan dibasahi dengan air sebanyak 3 kali ke seluruh tubuh atau cukup hanya dengan sekali? mohon pencerahannya untu bagaimana mandi junub jika menggunakan air paip atau shower dan jika berada dalam air sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;syukran ya habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;yg wajib adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh 1X, sunnah meniga kalikannya, demikian jika di shower atau dengan gayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika di sungai atau kolam renang maka ia membenamkan seluruh tubuhnya sembari Niat Junub maka suci, asalkan air kolam itu lebih dari dua kulak, dua kulak adalah sekitar 65cm3 (60cm PXLXT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum,&lt;br /&gt;ya habibana Munzir yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT,&lt;br /&gt;habibana ane minta doa mandi junub dapat ditampilkan diforum ini,&lt;br /&gt;terima kasih atas segala waktu yg telah habibana luangkan untuk menjawab semuanya,&lt;br /&gt;semoga para pembela panji-panji Rasulullah selalu diberi kesabaran dan kemulian serta kesehatan dan kelancarannya dalam berdakwa selalu Allah limpahkan kepadanya terutama Habibana Munzir.&lt;br /&gt;wassalamualaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;lafadz niatnya adalah : Nawaytulghusla, Liraf'il hadatsil Akbar lillahita'ala., aku niat mandi wajib, untuk menyucikan diri dari hadats besar, karena Allah ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-5444259932761768737?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/5444259932761768737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=5444259932761768737' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5444259932761768737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5444259932761768737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/cara-mandi-wajib.html' title='cara mandi wajib'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-9147583746052288623</id><published>2008-09-04T15:40:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T15:41:33.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>mandi wajib 1</title><content type='html'>Assalamu'alaikum wr wb.&lt;br /&gt;Alhamdulillah, segala puji bagiNya yang telah memberikan segalanya untuk kita semua.&lt;br /&gt;Langsung saja Bib ana mau tanya, masalah mandi wajib.&lt;br /&gt;Salah satu perkara yang mewajibkan mandi adalah bertemunya dua khitanan ( iltiqo u khitanain), bagaimana kalau ketemunya dg ha il ( penghalang) misalnya kondom, apakah hal tersebut juga mewajibkan mandi?&lt;br /&gt;Demikian yang ana tanyakan pada kesempatan ini,&lt;br /&gt;Mdh2an habib dapat memberikan jawaban, dan semoga Alloh selalu memberikan hidayahNya kpd kita semua&lt;br /&gt;Wassalamu"alaikum wr wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kumuliakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penis diberi penghalang (sarung karet) dan posisi penis masuk kedalam vagina, walaupun kulit penis tidak bersentuhan dengan kulit vagina maka wajib baginya mandi wajib/mandi junub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebab dari mandi junub hanya dua, yaitu keluar mani dengan mimpi atau diluar mimpi dan bersentuhannya alat kelamin pria dengan alat kelamin wanita.&lt;br /&gt;wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-9147583746052288623?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/9147583746052288623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=9147583746052288623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/9147583746052288623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/9147583746052288623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/mandi-wajib-1.html' title='mandi wajib 1'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-8523938630683641000</id><published>2008-09-04T15:15:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T15:16:18.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>tanya Jihad</title><content type='html'>Assalaamu'alaikum bib,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane mo nanya tentang hadis yg menyatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu itu lebih besar dari pada jihad perang. Kalo ane gak salah hadist ini keluar ketika Rasulullah kembali dari perang Badar. Kata temen ane hadis itu daif ya bib, dan ada juga temen ane yg menyatakan bahwa hadis itu palsu. Dan katanya juga bahwa jihad yang paling utama itu, ya, dengan mengangkat senjata (dengan segala ketentuannya). Bagaimanakah yang demikian bib, &amp; mohon juga dijelaskan bib bagaimana jihad sebenarnya dalam islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakumullah khair bib, semoga antum lekas diberi kesembuhan oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;Wassalaamu'alaikum w.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;Mohon maaf atas keterlambatan jawaban saya, kesibukan hari hari menjelang Arafat dan Idul Adha sempat banyak menguras waktu saya, dan ditambah kondisi saya yg memang terganggu dan sempat opname dalam beberapa hari yl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits yg anda sebut itu memang hadits dhaif, namun bukan hadits palsu, sangat berbahaya ketika orang dg lancangnya mengatakan hadits dhoif adalah hadits palsu, karena Hadist Dhoif dan hadits shahih itu sama saja, kesemuanya adalah Hadits Rasul saw yg barangsiapa yg mengingkarinya maka ia Kufr,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun dalam pengangkatannya sebagai dalil pemecahan hukum dan masalah, memang harus dipilih yg shahih, namun sesekali tidak menafikan hadits dhaif sebagai hadits yg tak berguna, karena para muhadditsin telah mengklasifikasikan hadits palsu dalam kelompok yg lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Dhaif adalah hadits yg benar dari ucapan Rasul saw, namun lemah untuk dipakai hujjah dikarenakan kelemahan hukum sanad atau matannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan pemahaman yg buta, bila sekelompok dari kita mengatakan bahwa Jihad dalam peperangan lebih mulia daripada jihad dengan hawa nafsu, sebab seluruh kehidupan kita siang dan malam adalah berperang melawan hawa nafsu, bahkan Jihad dalam peperangan pun harus dengan melawan hawa nafsu, apakah mereka menginginkan jihad dalam peperangan itu tidak melawan hawa nafsu?, jadi mengikuti hawa nafsu?,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti hawa nafsu mengangkat pedang dan membunuh kesana kemari.. itukah makna jihad dalam benak mereka?, Nauzubillah dari pemahaman jihad seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad adalah memerangi kebatilan dengan sabar, tidak membunuh anak anak dan wanita, tidak memukul wajah dg tangan apalagi dg senjata, tidak membunuh bila lawan telah menyerah, tidak menyiksa dan masih banyak lagi aturan aturan jihad melawan hawa nafsu justru ditengah peperangan..,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu bagaimana sekelompok dari mereka mengatakan bahwa Jihad peperangan lebih mulia daripada Jihad melawan hawa nafsu, sedangkan mulai Syahadat hingga wafat, kita semua berjihad melawan hawa nafsu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;shalat tepat waktu adalah Jihad melawan hawa nafsu, berbuat baik pd orang tua pun demikian, dan itu jauh lebih mulia dari Jihad dalam peperangan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Hadits riwayat Abdullah bin Mas?ud yg bertanya pd Rasul saw, : amal apakah yg paling afdhal?, beliau menjawab : ?Shalat tepat waktu?, lalu Ibn Mas?ud bertanya lagi, lalu apa Ya Rasulullah (saw)?, beliau saw menjawab : ?Berbakti pd kedua orang tua?, lalu Ibn Mas?ud bertanya lagi, lalu apa Ya Rasulullah ?, beliau saw menjawab : ?Jihad di jalan Allah?. (HR Muslim no.85), demikian pula hadits dg makna yg sama dalam (Shahih Bukhari no.503)&lt;br /&gt;dan demikian pula hadits dg makna yg sama dalam (Shahih Bukhari no 2630)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits inipun didukung dg Hadits lainnya sebagaimana diriwayatkan ketika seorang lelaki hijrah meninggalkan kesyirikan menuju Jihad di jalan Allah, dan Rasul saw bertanya kepadanya, apakah telah diizinkan oleh ayah ibunya untuk berjihad?, dan lelaki itu menjawab : ?tidak?, maka Rasul saw bersabda : ?Kembalilah, mohon izin pd mereka, bila mereka izinkan maka berjihadlah, bila tidak maka berbaktilah kepada keduanya? HR Muslim no.1035).,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riwayat Abdullah bin Umar ray g berkata : ?datanglah seorang lelaki kpd Rasul saw dan memohon izin untuk berjihad, maka berkatalah Rasul saw : ?apakah ayah ibumu masih hidup??, ia menjawab : ya. Maka Rasul saw bersabda : ?maka berjihadlah dengan berbakti pd mereka (Shahih Bukhari no.2842)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul saw didatangi seorang lelaki yg mengatakan bhw Istrinya akan ibadah haji tanpa muhrimnya, sedangkan ia telah mencatat dirinya untuk ikut Jihad, maka Rasul saw memerintahkan agar lelaki itu meninggalkan Jihad dan mengantar Istrinya beribadah Haji (Shahih Bukhari no.2844)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan masih banyak lagi hadits2 shahih yg mendukung pemahaman bahwa melawan hawa nafsu jauh lebih mulia dari sekedar peperangan dengan senjata, yg justru peperangan (jihad) itu adalah sebagian daripada memerangi hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-8523938630683641000?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/8523938630683641000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=8523938630683641000' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8523938630683641000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8523938630683641000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/tanya-jihad.html' title='tanya Jihad'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-1547814895355209842</id><published>2008-09-04T15:04:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T15:09:22.329+07:00</updated><title type='text'>Jihad</title><content type='html'>BERJIHAD DI JALAN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. [QS. Al-Hujurat: 15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjihad dengan harta didahulukan penyebutannya daripada berjihad dengan jiwa. Sebab jihad dengan jiwa adalah lebih berat daripada berjihad dengan harta. Sebagian manusia mungkin akan rela mengeluarkan sebagian atau seluruh hartanya untuk bisa sembuh dari penyakit AIDS atau penyakit-penyakit lainnya yang sangat berbahaya. Supaya bisa tetap hidup, manusia rela mengeluarkan seluruh hartanya. Begitulah manusia, lebih mencintai jiwanya daripada hartanya. Dan begitulah manusia. Mereka sanggup mengeluarkan seluruh hartanya demi keselamatan jiwanya, tetapi ketika panggilan jihad diserukan, belum tentu mereka mau mengeluarkan seluruh hartanya sebagaimana mereka rela mengeluarkan seluruh hartanya itu demi jiwanya.&lt;br /&gt;Saya kagum sekali dengan salah satu kenalan saya. Dulunya beliau adalah seorang pelaku MLM konvensional yang memasarkan produk-produk non-muslim. Beliau tidak peduli dengan demo-demo anti Israel dan Amerika. Tetapi pada tahun 2001, pemikiran beliau berubah. Beliau tersadar akan apa yang selama ini beliau lakukan. Sejak saat itu, beliau berhenti dari MLM tersebut dan mulai menggunakan produk-produk dari produsen muslim dalam negeri. Beliau juga mulai memasarkan produk-produk tersebut yang memang dipasarkan melalui salah satu MLM Syari?ah. Beliau rela meninggalkan MLM konvensional, padahal insentif beliau pada saat itu telah mencapai satu juta rupiah per bulan. Hanya saja Allah telah membuka hati beliau. Sehingga timbullah keimanan dan keyakinan yang melahirkan ketaqwaan. Beliau yakin bahwa rizqi itu dari Allah. Walau memasarkan produk-produk muslim itu berat, tetapi beliau tetap berusaha untuk memasarkannya. Mengapa berat? Sebab kaum muslimin belum begitu sadar akan pentingnya mengkonsumsi produk dari produsen muslim. Berbeda dengan beliau ini yang telah menyadari betul pentingnya mengkonsumsi produk dari produsen muslim. Bahkan sebagian golongan yang suka berdemo anti Israel dan Amerika, belum tentu mereka mau mengkonsumsi produk dari produsen muslim. Benarlah kata Habib Munzir. Kita ini tidak perlu berdemo dan beromong kosong. Yang penting adalah kita memperbaiki diri kita, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, hingga kita pantas menjadi ummat yang terbaik.&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa anugerah yang diterima kenalan saya itu. Beliau yang tadinya jarang sekali shalat fardhu, setiap hari fikirannya hanya uang, uang dan uang, walau harus menjual produk-produk non-muslim. Tetapi sekarang beliau telah mengalami banyak perubahan. Sekarang beliau telah melaksanakan shalat fardhu lima waktu sehari. Beliau juga sudah mau belajar membaca Al-Qur`an kembali. Beliau juga sudah sadar akan pentingnya memasukkan kedua puterinya ke madrasah. Keimanan dan keyakinan beliau itulah yang membuat saya merasa kagum. Beliau yang begitu awam mengenai agama, tetapi memiliki keyakinan yang besar akan Rahmat Allah. Dengan keyakinan itu beliau rela meninggalkan jaringan pemasaran yang telah beliau bangun dengan susah payah di MLM konvensional. Keyakinan seperti ini belum tentu dimiliki oleh orang-orang yang berdemo anti Amerika dan Israel. Suatu keyakinan yang melahirkan langkah nyata untuk berjihad di jalan Allah bukan hanya dengan kata-kata belaka, tetapi dengan harta, tenaga dan fikiran, yang apabila terus dipupuk, maka akan melahirkan keyakinan dan kekuatan baru, yaitu keberanian untuk berjihad dengan jiwa-raga di jalan Allah.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah ketika seruan jihad itu dikumandangkan. Dan tidak hanya itu, beliau pun ikut berperang di medan pertempuran bersama Rasulullah saaw. Ketika ditanya oleh Rasulullah saaw, ?Apa yang engkau tinggalkan bagi keluargamu?? Sayyidina Abu Bakar ra menjawab, ?Cukuplah bagi kami Allah dan Rasul-Nya.?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-1547814895355209842?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/1547814895355209842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=1547814895355209842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1547814895355209842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1547814895355209842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/jihad.html' title='Jihad'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4930916316202860478</id><published>2008-09-04T14:57:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T15:04:09.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Membaca Fatihah dalam sholat jamaah</title><content type='html'>Al Fatiha dalam sholat berjamaah - 2008/07/03 06:13  Assalamualaikum wr wb..&lt;br /&gt;Yang sangat saya muliakan Tuan Guru&lt;br /&gt;Yang sangat saya cintai dan saya sayangi para pengelola website MR dan seluruh jamaah Majelis...&lt;br /&gt;Dan Kaum Muslimin dan Muslimat ...&lt;br /&gt;semoga Allah.... Tuhan Yang maha Tinggi melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kita Baginda syaidina Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, ditunaikan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna itu semoga Engkau&lt;br /&gt;ya Allah Robba jibril wa Mikail wa Isrofil fatros samawati wal adr.. melimpahkannya juga kepada para keluarga dan sahabatnya, para Aulia kami, para Kadi kami, para habaib kami, pada kedua orang tuan kami, pada para jamaah pemuja Keagungan MU ya ALLAh secara lahir dan Batih, Dunia dan akhirat…di dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan hitungan yang Engkau miliki ,&lt;br /&gt;Ya…. Tuhan penguasa semesta alam… Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu maaf saya haturkan kepada Tuan Guru...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok bahasan.... :.&lt;br /&gt;saya pernah membaca sebuah buku yang tetulus...&lt;br /&gt;Allah Berfirman : ” Apabila Engkau diperdengarkan ayat ayatku, maka diam dan dengarkanlah... sesunguhnya engkau akan mendapatkan rahmat atas nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu kita sholat berjamaah...dan selesainya imam membacakan Al Fatiha secara jahar... maka para makmum akam membacakan surat Al Fatiha secara Siriah..&lt;br /&gt;Tetapi sering sekali sebelum makmum memulai membaca surat Al fatiha tersebut... Sang Imam langsung menyambungnya dengan surat lain...dan makmum meneruskan pembacaan surat Al Fatiha tersebut....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karna ada hadis yang pernah saya baca : sesunguhnya membaca surat Al Fatiha adalah hukumnya wajib dalam sholat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga pernah membaca ( bukan hadis) bahwa apabila sang Imam telah membaca Al Fatiha secara Jahar.. maka gugurlah kewajiban makmum untuk membaca Al Fatiha, dan apabila Imam membaca Al Fatiha secara Siriah maka timbilah kewajiban makmum untuk membaca Al Fatiha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Gura yang di Muliakan Allah ... Amin.&lt;br /&gt;Yang ingin saya tanyakan:&lt;br /&gt;1.Bagaimana caranya menghubungkan perintah Allah untukdiam dan mendengarkan ayat ayat Al Qur an dalam shola sedangkan kita harus membaca Al Fatiha...&lt;br /&gt;2.Benarkah ada keterangan dari hadis apabila Imam membaca secara jahar Al Fatiha pada sholat maka telah gugur pula kewajiban makmum untuk membacanya...&lt;br /&gt;3.dan sebainya.... bagaimanakan sikap da tindakan imam yang semestinya harus dilakukan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru yang sangat saya Cintai...&lt;br /&gt;Mohon haturan beribu maaf dari Tuan Guru kepada saya atas kesalahan kata dan penulisan ini.&lt;br /&gt;Mohon maaf ya Tuan Guru...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum Wr Wb&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;Muhammad Efendi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kumuliakan, berikut jawaban Habibana yang sudah ada di forum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;mendengarkan bacaan imam adalah wajib hukumnya, sebagaimana firman Allah swt : Jika dibacakan padamu Alqur'an maka dengarkanlah dan diamlah dari bicara agar kalian dirahmati" (QS Al A'raf 204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedangkan Rasul saw bersabda : "Tiada shalat yg tak dibaca padanya Alfatihah" (Shahih Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka wajib makmum mendengar bacaan imam yg membaca Alfatihah, dan wajib makmum membaca fatihah selepas bacaan imam diwaktu jeda yg diberikan imam antara fatihah dan surat, dan jika imam menyempitkan jeda waktu itu hingga ia segera membaca surat, maka makmum boleh meneruskan fatihahnya hingga selesai lalu mendengarkan lagi bacaan imam&lt;br /&gt;berikut linknya:&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=13130〈=id#13130&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makmum tetap wajib membaca fatihah, terkecuali jika masbuk dan sudah menemui imam dalam keadaan ruku', maka kewajiban fatihah nya gugur karena udzur syar'i (alasan yg diakui syariah), dan hal itu bukan berarti Fatihah hukumnya tidak wajib,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagaimana hukumnya haji yg hukumnya (fardhu) wajib, namun jika tidak mampu maka tidak wajib, namun itu adalah udzur syar'i, tak bisa dikatakan bahwa haji itu tidak wajib, hukumnya tetap wajib secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian pula fatihah dalam shalat.&lt;br /&gt;berikut linknya:&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=11991〈=id#11991&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-4930916316202860478?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/4930916316202860478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=4930916316202860478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4930916316202860478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4930916316202860478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/membaca-fatihah-dalam-sholat-jamaah.html' title='Membaca Fatihah dalam sholat jamaah'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-7473694933260434251</id><published>2008-09-04T14:54:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T14:57:15.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>menahan buang angin/air saat sholat</title><content type='html'>Assalamu'alaikum Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kasih sayang allah selalu tercurah kepada habibana Munzir yang saya muliakan&lt;br /&gt;Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib, bagaimana hukum nya jika saat kita sedang sholat, kemudian ternyata ingin buang angin/air tetapi ditahan sampai selesai sholat. Apakah sholatnya batal atau keutamaan sholat jadi berkurang? Dan bagaimana sebaiknya yang kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon penjelasannya ya habib berdasarkan mazhab Syafi'i rahimuhullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jazakumullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lutfi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Rahmat Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;jika hal itu datang sebelum kita shalat maka hendaknya segera buang air kecil karena makruh menahan buang air kecil, namun jika didalam shalat maka ia meneruskan shalatnya hingga selesai, terkecuali jika sangat menyakitinya jika ditahan maka boleh keluar dari shalatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-7473694933260434251?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/7473694933260434251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=7473694933260434251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7473694933260434251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7473694933260434251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/menahan-buang-anginair-saat-sholat.html' title='menahan buang angin/air saat sholat'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-3505112173033492885</id><published>2008-09-04T14:52:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T14:53:56.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Sholat dan wudhu</title><content type='html'>Assalamualaikum wr.wb&lt;br /&gt;Ya habib, semoga Allah selalu memberkati anda. shalawat beserta salam selalu kita sampaikan untuk kekasih Allah, Muhammad saw.&lt;br /&gt;langsung saja bib saya ingin menanyakan, ;&lt;br /&gt;1. bolehkah saat berwudhu kita membasuh leher?&lt;br /&gt;2. pada saat akan sujud, mana yg di dahulukan, kedua telapak tangan atau lutut?&lt;br /&gt;3. pada saat sujud, haruskan kedua tumit dirapatkan antara yg kiri dg yg kanan?&lt;br /&gt;4. pada saat sujud, apakah lengan kita tidak boleh melebar?&lt;br /&gt;sekian bib,mohon maaf apabila ada kata2 yg tak berkenan.&lt;br /&gt;wassalamualaikum..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda dg kesejahteraan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;1. sunnah membasuh leher, demikian dijelaskan oleh Hujjatul Islam al Imam Ghazali dalam bidayatul hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. kedua lutut, baru kedua tangan, baru dahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. sunnah tidak merapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. sunnah dilebarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-3505112173033492885?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/3505112173033492885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=3505112173033492885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3505112173033492885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3505112173033492885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/sholat-dan-wudhu.html' title='Sholat dan wudhu'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4867092828755574292</id><published>2008-09-04T14:42:00.001+07:00</published><updated>2008-09-04T14:50:05.233+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Puasa dan Zakat</title><content type='html'>ass,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya antum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ana mau tanya kira2 klo ganti puasa itu blh ga harinya di selang-seling misalnya pertama puasa hari senin lalu puasa yang ke dua gari rabu begitu seterusnya,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu ttg zakat, kira2 klo ana mau zakat pake uang hasil tabungan sendiri blh ga???&lt;br /&gt;secara ana blm kerja dan pngin banget uang tabungan ana dizakatin drpd ana bl sesuatu yang menurut ana ga bgt pnting........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gitu,,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus klo boleh berapa yang mesti dibayarkan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makasih ya Antum,,,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang kumuliakan, berikut kutipan jawaban Habibana yang sudah ada di forum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ganti puasa itu blh ga harinya di selang-seling?&lt;br /&gt;Hal itu diperbolehkan saudariku, atau bisa dengan menggabungkan niatnya dengan puasa sunnah senin - kamis, puasa Nabi Daud.&lt;br /&gt;sabda Rasulullah saw : "shalat malam yg paling dicintai ALlah adalah shalat malam Daud, dan puasa yg paling dicintai ALlah adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa dan sehari buka, yaitu tidur pada tengah malam dan bangun pada sepertiganya dan kemudian tidur pada seperenamnya, dan ia sehari berpuasa dan sehari berbuka" (Shahih Bukhari hadits no.1063)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Re:tentang puasa dan zakat - 2008/06/26 22:44  Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku yang kumuliakan, berikut kutipan jawaban Habibana yang sudah ada di forum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ganti puasa itu blh ga harinya di selang-seling?&lt;br /&gt;Hal itu diperbolehkan saudariku, atau bisa dengan menggabungkan niatnya dengan puasa sunnah senin - kamis, puasa Nabi Daud.&lt;br /&gt;sabda Rasulullah saw : "shalat malam yg paling dicintai ALlah adalah shalat malam Daud, dan puasa yg paling dicintai ALlah adalah puasa Daud, yaitu sehari puasa dan sehari buka, yaitu tidur pada tengah malam dan bangun pada sepertiganya dan kemudian tidur pada seperenamnya, dan ia sehari berpuasa dan sehari berbuka" (Shahih Bukhari hadits no.1063)&lt;br /&gt;berikut linknya:&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=9547〈=id#9547&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;hal itu merupakan Ijtihad dalam madzhab syafii bahw Taqriin Niyyah dalam puasa Qadha dan puasa nafilah adalah tandarij (diakui dan disahkan),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka boleh saja melakukan puasa Qadha dibarenagi dengan puasa sunnah, demikian dijelaskan dalam Syarh Busyral Krim Bab Shaum.&lt;br /&gt;berikut linknya:&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=5509〈=id#5509&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu ttg zakat, kira2 klo ana mau zakat pake uang hasil tabungan sendiri blh ga???&lt;br /&gt;gaji bulanan tidak terkena zakat, karena yg terkena zakat adalah 7 macam saja, yaitu :&lt;br /&gt;1. Zakat Ni;am (ternak) terikat pada haul dan nishab&lt;br /&gt;2. Zakat Badan (fitrah) terikat pada haul dan nishab&lt;br /&gt;3. Zakat Tijarah (perdagangan) terikat pada haul dan nishab&lt;br /&gt;4. Zakat Tsimar (buah buahan) terikat pada haul dan nishab&lt;br /&gt;5. Zakat Maal (harta) terikat pada haul dan nishab&lt;br /&gt;6. Zakat Ma'din (Tambang) terikat pada nishab saja tanpa haul&lt;br /&gt;7. Zakat Rikaz (harta karun) terikat pada nishab saja tanpa haul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun sebagian orang masa kini menambahnya dengan zakat bulanan, hal ini bertentangan dg syariah dan tidak selayaknya diberlakukan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berikut jawaban saya di forum ini mengenai hal yg sama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zakat profesi tidak diakui dalam seluruh madzhab ahlussunnah waljamaah, yg ada adalah zakat harta jika disimpan tanpa dipakai apa apa selama satu tahun,&lt;br /&gt;bahwa zakat harta adalah setahun sekali jika melebihi nishab dan haul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nishab : Batas jumlah / nilai yg ditentukan syariah yaitu seharga 84 gram emas murni. jika seharga itu atau seharga lebih dari itu maka terkena Nishab dan menanti syarat kedua yaitu haul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haul : sempurna 1 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi anda bekerja dan mendapat gaji itu tak ada wajib zakatnya, boleh anda bersedekah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perhitungan zakat harta adalah jika anda menyimpan uang, atau emas anda baru kena zakat jika menyimpan uang itu sampai setahun, dan jumlah yg anda simpan telah melebih nishab selama setahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uang yg dipinjam orang termasuk yg mesti dizakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenai harta berupa mobil, motor dlsb tidak terkena zakat harta, karena yg terkena zakat harta hanyalah Emas, perak, dan Uang, selain daripada itu tak terkena zakat harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka emas,perak, dan uang yg disimpan melebihi nishob (84 gram harga emas murni), hingga haul (setahun penuh tidak turun dari jumlah nishob) maka terkena zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun jika anda menggunakannya untuk bertijarah, (asset dagang), maka seluruh asset termasuk dalam perhitungan zakat, yaitu rumah, mobil, motor dlsb, maka hal ini adalah Zakat Tijarah, berbeda dengan zakat harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zakat maal / harta dikeluarkan setahun sekali, terhitung hari sejak uang kita melebihi Nishob, dan Nishob zakat maal adalah seharga emas 84 gram, maka bila uang simpanan kita terus meningkat, misalnya mulai 4 Oktober 2006 uang simpanan kita mulai melebihi harga emas 84 gram, maka sejak tanggal 4 oktober itu terhitunglah kita sebagai calon wajib zakat, namun belum wajib mengeluarkan zakat karena menunggu syarat satu lagi, yaitu haul (sempurna satu tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah.. bila uang kita terus dalam keadaan diatas Nishob sampai 3 oktober 2007 maka wajiblah kita mengeluarkan zakatnya sebesar jumlah seluruh uang kita yg ada pd tgl 3 oktober sebesar 2,5%. (bukan uang kita yg pd 4 oktober 2006, atau uang kita bertambah menjadi 100 juta misalnya, lalu naik dan turun, maka tetap perhitungan zakat adalah saat hari terakhir ketika genap 1 tahun dikeluarkan 2,5% darinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila uang kita setelah melebihi batas nishob, lalu uang kita berkurang misalnya pd januari 2007 uang kita turun dibawah harga emas 84 gram, maka sirnalah wajib zakat kita, kita tidak wajib berzakat kecuali bila uang kita mulai melebihi nishab lagi, saat itu mulai lah terhitung calon wajib zakat dg hitungan mulai hari tsb, dan itupun bila mencapai 1 tahun penuh tidak ada pengurangan dari batas nishob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenai pendapat baru mengenai Zakat profesi ini, maka merupakan hal mungkar yg tak bisa diberlakukan, karena "Zakat" itu hukumnya fardhu ain, tak mengeluarkannya maka dosa dan haram,. masalahnya adalah orang yg tak mengeluarkan zakat maka halal dibunuh dan hartanya halal dirampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu maksud mereka ini mengada adakan zakat profesi seakan mereka ingin menambahkan hukum fardhu?, jadi mereka yg tak mengeluarkan zakat profesi maka halal darahnya, sebagaimana Khalifah Abubakar Assbhiddiq ra memerangi orang orang yg menolak berzakat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita terima kalau yg dimaksud adalah sedekah profesi, atau infak profesi, tapi jangan bicara zakat, karena zakat adalah fardhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal yg fardhu adalah berlandaskan Nash Sharih dari Alqur'an dan Hadits, mereka berkata bahwa karena telah banyak orang yg murtad dikarenakan banyaknya kemiskinan, maka wajib kita menambah zakat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duh.. kita terima keperdulian pada fuqara, namun jangan menambahkan hukum syariah lagi, sama saja jika anda menambah satu lagi shalat fardhu menjadi 6 waktu, dengan alasan orang masa kini lebih banyak dosa, maka perlu lebih banyak sholat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentunya hujjah ini tak bisa diterima karena bertentangan dengan Jumhur seluruh Madzhab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbeda dengan maulidan, tahlilan dll ini karena hal itu tak dijadikan fardhu, tapi sekedar penyemangat saja, namun fardhu tetap fardhu dan tak bisa dirubah lagi atau ditambah dan dikurangi.&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;nah.. saudaraku.., mengenai Gaji ini, boleh saja anda mewajibkan bagi anda sedekahnya, jikasedekah maka boleh 10%, boleh 50%, boleh seluruhnya pula, tapi bukan zakat lho saudaraku..&lt;br /&gt;berikut linknya:&lt;br /&gt;http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=8&amp;id=14293〈=id#14293&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-4867092828755574292?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/4867092828755574292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=4867092828755574292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4867092828755574292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4867092828755574292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/puasa-dan-zakat.html' title='Puasa dan Zakat'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-5983369059367285568</id><published>2008-09-04T14:39:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T14:40:25.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Jumlah Rakaat tarawih</title><content type='html'>Assalammualaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Munzir yang saya hormati dan selalu saya harapkan petunjuknya, semoga selalu dalam Lindungan dan Rahmat Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib saya ingin bertanya perihal sholat tarawih, saya ini adalah termasuk orang yang biasa di dalam lingkungan yang mengerjakan sholat tarawih dalam jumlah 20 rokaat. Beberapa tahun terakhir ini dalam bulan Ramadhan saya mengerjakannya seorang diri hanya sebanyak 8 rokaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanyaan :&lt;br /&gt;*.Bolehkan kita melakukannya, karena saya takut jikalau berbeda mazhab menyebabkan tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalammualaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang kumuliakan, berikut jawaban dari Habibana yang sudah ada di forum dengan pembahasan yang sama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya Keindahan Allah swt semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;Mengenai Tarawih ini telah saya bahas berkali kali dengan pembahasan panjang lebar di web ini, anda dapat melihatnya dg menulis kata : “tarawih” di kanan atas tampilan di forum Tanya jawab ini, maka akan muncul pembahasan itu semua, namun yg secara ringkasnya adalah bahwa tarawih ini banyak riwayatnya, yaitu 11, 13, 23, 36, 38, 40 dll, namun Jumhur empat madzhab (pendapat sebagian besar 4 madzhab ahlussunnah waljamaah tidak satupun berpendapat ada tarawih yg kurang dari 20 rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafii dan Hambali tarawih 23 rakaat, yaitu 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, dan Imam Malik (maliki) tarawih 36 rakaat, atau 38 rakaat, ditambah witir 3 rakaat menjadi 39 rakaat atau 41 rakaat, dan tak ada satupun madzhab yg berpendapat 11 rakaat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah darimana mereka menemukan fatwa itu, namun kita tak perlu bermusuhan untuk itu, barangkali ada orang orang tua yg jompo dan lemah hingga tak mampu 20 rakaat, atau para muallaf, atau orang yg sangat sibuk dg dunianya hingga malas tarawih 20 rakaat, maka biarkan saja mereka shalat 11 rakaat, jauh lebih afdhal daripada mereka tidak tarawih sama sekali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dalam semua cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.majelisrasulullah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-5983369059367285568?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/5983369059367285568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=5983369059367285568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5983369059367285568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5983369059367285568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/jumlah-rakaat-tarawih.html' title='Jumlah Rakaat tarawih'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-3234106278614658495</id><published>2008-09-04T14:34:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T14:36:01.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanya Jawab'/><title type='text'>Tarawih perempuan</title><content type='html'>Assalamu'alaikum WR.WBR&lt;br /&gt;Habib Munzir Almusawa&lt;br /&gt;Yang saya hormati dan cintai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Habib dan anggota Majelis Rasulullah selau dalam lindungan ALLAH SWT&lt;br /&gt;selalu....aaamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang bulan suci Ramadhan yang akan datang sebentar lagi,saya ada pertanyaan&lt;br /&gt;sekitar shalat sunnat tarawih.Biasanya para jamaah laki dan perempuan ikut meramai-&lt;br /&gt;kan masjid untuk melaksanakan shalat tarawih yang di atur shaf-nya agar tidak&lt;br /&gt;saling terbuka.pertanyaannya adalah:&lt;br /&gt;1.Bagaimana shaf untuk wanita apakah ada di samping makmum laki-laki atau&lt;br /&gt;di belakang makmum laki-laki(dengan di batasi kain atau papan)&lt;br /&gt;2.Bagaiman hukumnya shalat tarawih yang di lakukan perempuan,sedangkan pada&lt;br /&gt;shalat fardhu saja tidak di anjurkan olah syara'&lt;br /&gt;3.Kalau sekiranya seorang perempuan itu memeang tidak di anjurkan shalat tarawih&lt;br /&gt;di masjid bagaimana kalau melaksanakan di rumah dengan berjamaah sesama jenis.&lt;br /&gt;4.Afdhol mana shalat tarawih yang di lakukan perempuan apakah dengan berjamaah&lt;br /&gt;atau shalat tarawih sendirian.(karena kalau berjamaah harus keluar rumah)&lt;br /&gt;5.Apakah seseorang yang shalat tarawih hanya delapan raka'at sah menurut mazhab&lt;br /&gt;Imam Syafi'i&lt;br /&gt;6.Ada pendapat bahwa dari pada tidak sama sekali shalat tarawih jadi lebih baik&lt;br /&gt;shalat tarawi walau hanya delapan raka'at,apakah pendapat ini benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikain pertanyaan saya semoga Habib dapat menjelaskan maksud saya ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukron katsiro&lt;br /&gt;Gunung-Putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Habib Mundzir&lt;br /&gt;Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda dg kebahagiaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yg kumuliakan,&lt;br /&gt;shalat tarawih hukumnya sunnah muakkadah, dan dalam madzhab syafii diperbolehkan wanita melakukan Tarawih, pelarangan atas kaum wanita ke masjid adalah hal yg bertentangan dg perintah Rasul saw, sebagaimana sabda beliau saw : "Jangan kalian larang kaum wanita kalian ke masjid, dan sebaik baik bagi mereka adalah dirumah mereka" (Sunan Abu dawud dg sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka jelas sudah mengenai shalat fardhu disunnahkan kaum wanita berjamaah ke masjid, walau dirumah afdhal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka jika mereka melakukannya di rumah hal itu afdhal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tarawih dalam Jumhur seluruh madzhab dilakukan berjamaah, walaupun ada juga para sahabat yg melakukannya sendiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;shalat tarawih dalam seluruh madzhab tidak ada yg 8 rakaat, namun tak ada pula perintah untuk melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-3234106278614658495?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/3234106278614658495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=3234106278614658495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3234106278614658495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3234106278614658495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/tarawih-perempuan.html' title='Tarawih perempuan'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-6481535848625855231</id><published>2008-09-04T14:15:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T14:16:32.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>KH.SYAFI’I HADZAMI (SUMUR YANG TAK PERNAH KERING)</title><content type='html'>KH.SYAFI’I HADZAMI (SUMUR YANG TAK PERNAH KERING)&lt;br /&gt;25/08/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH.SYAFI’I HADZAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muallim Syafi’i panggilan tersebut akrab di telinga murid-murid beliau. Kedalaman ilmu serta ketawadhuan beliau memang pantas rasanya bila KH.Syafi’i Hadzami mendapat julukan Muallim Jakarta, sejak muda beliau gemar sekali menuntut ilmu dan tak pernah merasa puas terhadap ilmu yang beliau miliki, maka tak heran bila beliau menguasai beberapa fan ilmu seperti Ilmu Fiqih, ilmu Falaq, ilmu Hadist , Ilmu Tauhid dan berbagai disiplin ilmu-ilmu lainnya. Salah satu Guru beliau yang sangat beliau Hormati adalah Syech Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani seorang Ulama terkemuka dari Mekkah yang bergelar Musnidud Dunya, dan guru- guru beliau lainnya adalahKyai Husain, K.H. Abdul Fattah, Ustaz Sholihin,Habib Ali Bungur, Habib Ali alhabsyi kwitang K.H. Ya’qub Sa`idi, .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Bernama Muhammad Syafi”i putra Bewati lahir pada tgl 31 jan 1931 ayahnya bernama Muhammad Saleh Raidi, gelar Hadzami diberikan oleh guru-guru dan para Ulama karena kedalaman ilmu yang beliau miliki dalam memahami serta menjelaskan masalah-masalah yang tergolong rumit untuk dipahami dan Muallim Syafi’i dengan mudah menjelaskan masalah-masalah tersebut dengan berbagai sumber referensi yang beliau miliki. Muallim Syafi’i mengajar dibeberapa majlis ta’lim di Jakarta bahkan menurut penuturan murid beliau sebelum meninggalpun Muallim Syafi’i Hadzami masih sempat mengajar di Masjid Ni’matul Ittihad pondok pinang jakarta selatan,Majlis -majlis ta’limnya tak pernah sepi selalu dipadati oleh jamaah yang berasal dari berbagai kawasan Jabotabek bukan hanya dari kalangan umum saja yang mendatangi majlis beliau bahkan Para Ulama serta para Asaatidz turut hadir dalam menimba ilmu dari beliau. Waktu yang begitu berharga tidak beliau sia-siakan untuk hal hal yang tidak berguna, beliau pergunakan seluruh waktunya untuk mengajar dan membimbing umat, dan salah satu bentuk ketawadhuan beliau adalah beliau selalu menganggap guru terhadap para ulama dan para Habaib walaupun kapasitas keilmuan yang beliau miliki melebihi para ulama dimasanya. Beliau tekun selalu membaca dan menelaah kitab-kitab, karya beliau yang termashur adalah Kitab Al Hujjalul Bayyinah , Kitab Sullamul’arsy fi Qiraat Warasy yang berisi tentang Kaedah Bacaan Alquran Imam Warasy,Kitab Taudhihul Adillah , 100 masalah Agama,Risalah sholat tarawih, risalah Qoblyah Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khsyafii-hadzamikanan.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karisma keulamaan yang tampak dalam diri Muallim Syafi’i memancar , beliau bukan saja dikenal di indonesia tapi kedalaman ilmu beliau juga dikenal di luar negri seperti di Mekkah dan Hadromaut Tarim.Beliua juga sering mendapat kunjungan dari beberapa ulama Tarim seperti Alalamah Habib Umar bin Hafidz pengasuh pon-pes Darul Musthofa Tarim Hadromaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da mengajar di Masjid Ni’matul Ittihad tepatnya tanggal 07 may2006 beliau merasakan nyeri di dada dan sesak napasnya, hingga akhirnya Muallim Syafi’i dilarikan kerumah sakit RSPP pertamina namun ditengah perjalanan Alloh SWT memanggilnya untuk kembali menghadapnya, retak agama….rengat agama…dengan meninggalnya orang alim….linangan air mata mengalir dari murid-murid serta orang-orang yang mencintai beliau ,ribuan orang berdatangan kerumah beliau untuk mensholati bahkan menurut penuturan murid beliau yang mensholati jenazah Muallim Syafi’i tak putus-putus dari pagi hingga malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://sachrony. wordpress. com/2008/ 02/20/khsyafii- hadzami-sumur- yang-tak- pernah-kering/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog Entry Al-Mu'allim K.H.M. Syafi'i Hadzami Rhm. (Sumur yang Tak Pernah Kering) Sep 8, '06 2:25 AM&lt;br /&gt;for everyone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Nama dan Masa Kecil Mu’allim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau di lahirkan dengan nama “Muhammad syafi’I bih M. Sholeh Raidi, di daerah Batu Tulis, Kebayoran, Jakarta Selatan. Beliau dilahirkan pada tanggal 31 Januari 1931, atau bertepatan dengan 12 Romadhon 1349 H. Beliau mempunyai 8 orang saudara kandung, tetapi karena salah satu meninggal dunia ketika masih kecil, mu’allim hanya memiliki 7 orang saudara saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Pendidikan Mu’allim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masih kecil, mu’allim tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Tapi beliau tinggal bersama kakeknya yaitu, bpk. Husin, di daerah Pecenongan. Beliau, sebagai mana lazim orang betawi dahulu, memanggil kakeknya dengan sebutan jid. Dan di dalam asuhan kakeknyalah mu’allim mendapatkan didikan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu al-qur’an beserta tajwidnya. Sehingga tak heran pada usia 9 tahun, mu’allim berhasil mengkhatamkan al-qur’an serta mengajar kawan-kawannya. Dan kakeknya pula lah, yang berhasil menanamkan kegemaran dan kecintaan mu’allim kecil terhadap ilmu agama. Sehingga beliau tumbuh, sebagai pribadi yang menggemari ilmu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Memburu Ilmu, Mengejar Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mana diberitahukan sebelumnya, mu’allim sejak kecil, adalah sosok yang sangat menggemari ilmu agama. Hal ini dibuktikan dengan pengembaraannya untuk menuntut ilmu. Meskipun cakupannya hanya di wilayah Jakarta saja, namun tidak berarti semuanya berlangsung biasa saja. Banyak sekali hal yang patut kita jadikan sebagai bahan renungan, mulai dari metode belajar beliau maupun startegi yang beliau lakukan dalam menuntut ilmu (untuk lebih jelas bisa dibaca di biografi beliau “Sumur yang Tak Pernah Kering”, terbitan Yayasan Al-‘Asyirotusy Syafi’iyah). Beliau juga beruntung karena mendapatkan ulama terkemuka di zamannya sebagai gurunya. Dan istimewanya, beliau pun mendapatkan tempat khusus di hati para gurunya. Berikut daftar para ulama ridhwanullaha ‘alaihim yang memberikan pendidikan kepada al-mu’allim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          * K.H. Sa’idan&lt;br /&gt;          * Syd Ali bin Husein al-Athas (Habib Ali Bungur)&lt;br /&gt;          * Syd Ali bin Abd Rohman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang)&lt;br /&gt;          * K.H. Mahmud Romli&lt;br /&gt;          * K.H. Ya’kub Sa’idi&lt;br /&gt;          * K.H. Muhammad Ali Hanafiyyah&lt;br /&gt;          * K.H. Mukhtar Muhammad&lt;br /&gt;          * K.H. Muhammad Sholeh Mushonnif&lt;br /&gt;          * K.H. Zahruddin Utsman&lt;br /&gt;          * Syekh Yasin bin Isa al-Fadani&lt;br /&gt;          * K.H. Muhamad Thoha&lt;br /&gt;          * Dan ulama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Aktivitas Mengajar Mu’allim (Sumur yang Tak Pernah Kering)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari kerja keras mu’allim menuntut ilmu ke banyak ulama di Jakarta, mulai terlihat. Majlis ta’lim nya tersebar di lima wilayah ibu kota, bahkan sampai merambah ke daerah Jawa Barat. Apabila di total, aktivitas mengajar mu’allim menyebar sampai ke lebih dari 30 majlis ta’lim. Itu berarti tiap harinya mu’allim mesti mengajar di 4-5 tempat, dengan murid yang berbeda dan juga kitab yang berbeda. Subhanallah. Yang lebih hebat lagi, majlis mu’allim tidak hanya dihadiri oleh kalangan umum saja. Tidak sedikit para kyai serta asatidz yang berdatangan untuk menimba ilmu di sumur yang tak pernah kering itu. Dari sekian banyak majlisnya itu, ada satu yang melalui media radio, yang ketika itu berlangsung di Radio Cendrawasih. Pangajian udara inilah, yang nantinya membidani lahirnya karangan Mu’allim yang fenomenal, yaitu kitab “Taudhihul Adillah (1-7)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Buah Karya Mu’allim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut menyambut gembira kehadiran karya-karya Mu’allim yang manfaatnya telah banyak diakui oleh banyak orang, baik dari kalangan ulama maupun orang awam. Hingga kini, sudah puluhan karya yang telah dihasilkan Mu’allim. Pada umumnya karya beliau (kecuali Kitab Taudhihul Adillah) berupa risalah-risalah kecil. Berikut penulis sampaikan beberapa karya mu’allim beserta sedikit ringkasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Taudhihul Adhillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku ini, yaitu Taudhihul Adhillah (menjelaskan dalil-dalil) , benar-benar tepat menggambarkan isi buku tersebut. Seperti diberi tahukan sebelumnya, kelahiran kitab ini bermula dari acara Tanya jawab agama yang diasuh oleh Mu’allim di Radio Cendrawasih. Menurut mu’allim kitab ini adalah kitab yang tidak perlu capaek-capek dalam membuatnya, karena kitab ini adalah “rekaman” dari Tanya jawab tersebut. Kitab ini (dari jilid I s/d VII) telah berkali-kali di cetak ulang. Peredarannya pun bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai merambah ke negeri Jiran dan beberapa Negara Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Risalah Qobliyah Jum’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah ini membahas tentang kesunnatan Qobliyyah Jum’at dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dalam risalah ini dikemukakan nash-nash Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para fuqoha’ (ahli fiqih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Risalah Sholat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi hajat kaum muslimin akan penjelasan tentang sholat tarawih, disusunlah risalah ini. Di dalamnya dijelaskan dalil-dalil dari hadits dan keterangan para ulama (termasuk imam mujtahid) yang berkaitan dengan sholat tarawih. Mulai dari pengertiannya, ikhtilaf tentang jumlah roka’atnya, cara pelaksanaannya, dll dibahas dalam kitab ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Wafatnya Mu’allim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi hari, ahad 7 Mei 2006, selepas Mu’allim mengajar di Masjid Pondok Indah, beliau mengeluh sakit pada jantungnya. Akhirnya dalam perjalanan menuju RSPP Pertamina, beliau kembali berpulang ke pangkuan Allah dengan Husnul Khotimah. Banyak para muridnya yang terkejut mendengar berita tersebut. Tak hentinya mereka datang ke kediaman Mu’allim di daerah Kebayoran, untuk mensholati dan mendo’akan kepergian beliau. Bahkan disebutkan sholat jenazah dilakukan tak putusnya mulai dari siang sampai malam hari. Sungguh ketika itu Ummat Islam, khususnya di Indonesia telah kehilangan putra terbaiknya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Buku (K.H.M. Syafi’I Hadzami ; Sumur yang Tak Pernah Kering)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Mungkin sekelumit catatan di atas, belum cukup untuk menggambarkan sosok sang Mu’allim K.H. Muhammad Syafi’I Hadzami. Untuk lebih jelasnya, sahabat bisa membaca biogarafi beliau (K.H.M. Syafi’I Hadzami ; Sumur yang Tak Pernah Kering). Wallohu a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir Ilallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                                                                                           Wahyu Hidayat&lt;br /&gt;sumber : http://ksatriaberku da.multiply. com/journal/ item/2/Al- Muallim_K. H.M._Syafii_ Hadzami_Rhm. _Sumur_yang_ Tak_Pernah_ Kering&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-6481535848625855231?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/6481535848625855231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=6481535848625855231' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/6481535848625855231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/6481535848625855231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/khsyafii-hadzami-sumur-yang-tak-pernah.html' title='KH.SYAFI’I HADZAMI (SUMUR YANG TAK PERNAH KERING)'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4820348575324151371</id><published>2008-09-04T08:55:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T08:56:27.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>Al walid Habib 'Abdur Rahman bin Ahmad bin 'Abdul Qadir as-Saqqaf</title><content type='html'>Hari Isnin, waktu Zohor tanggal 7 Rabi`ul Awwal 1428H (26 Mac 2007)&lt;br /&gt;kembali seorang lagi ulama kita ke rahmatUllah. Habib 'Abdur Rahman&lt;br /&gt;bin Ahmad bin 'Abdul Qadir as-Saqqaf dilahirkan di Cimanggu, Bogor.&lt;br /&gt;Beliau telah menjadi yatim sejak kecil lagi apabila ayahandanya&lt;br /&gt;berpulang ke rahmatUllah dan meninggalkan beliau dalam keadaan dhoif&lt;br /&gt;dan miskin. Bahkan beliau sewaktu-waktu terkenang zaman kanak-&lt;br /&gt;kanaknya pernah menyatakan: "Barangkali dari seluruh anak yatim,&lt;br /&gt;yang termiskin adalah saya. Waktu Lebaran, anak-anak mengenakan&lt;br /&gt;sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apa lagi sepatu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemiskinan tidak sekali-kali menghalangi beliau dalam menuntut&lt;br /&gt;ilmu agama. Bermula dengan pendidikan di Jamiat al-Khair, Jakarta,&lt;br /&gt;dan seterusnya menekuni belajar dengan para ulama sepuh seperti&lt;br /&gt;Habib 'Abdullah bin Muhsin al-Aththas rahimahUllah yang lebih&lt;br /&gt;terkenal dengan panggilan Habib Empang Bogor. Beliau sanggup&lt;br /&gt;berjalan kaki berbatu-batu semata-mata untuk hadir pengajian Habib&lt;br /&gt;Empang Bogor. Selain berguru dengan Habib Empang Bogor, beliau turut&lt;br /&gt;menjadi murid kepada Habib 'Alwi bin Thahir al-Haddad (mantan Mufti&lt;br /&gt;Johor), Habib 'Ali bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ali bin&lt;br /&gt;Husein al-Aththas (Habib Ali Bungur), Habib Ali bin 'Abdur Rahman al-&lt;br /&gt;Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan beberapa orang guru lagi. Dengan&lt;br /&gt;ketekunan, kesungguhan serta keikhlasannya, beliau dapat menguasai&lt;br /&gt;segala pelajaran yang diberikan dengan baik. Penguasaan ilmu-ilmu&lt;br /&gt;alat seperti nahwu telah membuat guru-gurunya kagum, bahkan&lt;br /&gt;menganjurkan agar murid-murid mereka yang lain untuk belajar dengan&lt;br /&gt;beliau.&lt;br /&gt;Maka bermulalah hidup beliau menjadi penabur dan penyebar ilmu di&lt;br /&gt;berbagai madrasah sehinggalah akhirnya beliau mendirikan pusat&lt;br /&gt;pendidikan beliau sendiri yang dinamakan Madrasah Tsaqafah&lt;br /&gt;Islamiyyah di Bukit Duri, Jakarta. Dunia pendidikan memang tidak&lt;br /&gt;mungkin dipisahkan dari jiwa almarhum Habib 'Abdur Rahman, yang&lt;br /&gt;hampir seluruh umurnya dibaktikan untuk ilmu dan pendidikan sehingga&lt;br /&gt;dia disebut sebagai gurunya para ulama. Sungguh almarhum adalah&lt;br /&gt;seorang pembimbing yang siang dan malamnya menyaksikan keluhuran&lt;br /&gt;akhlak dan budi pekertinya, termasyhur dengan kelembutan&lt;br /&gt;perangainya, termasyhur dengan khusyu'nya, termasyhur dengan&lt;br /&gt;keramahannya oleh segenap kalangan masyarakat, orang-orang miskin,&lt;br /&gt;orang kaya, pedagang, petani, kiyai, ulama dan orang-orang awam yang&lt;br /&gt;masih belum mendapat hidayah pun menyaksikan kemuliaan akhlak dan&lt;br /&gt;keramahan beliau rahimahullah, termasyhur dengan keluasan ilmunya,&lt;br /&gt;guru besar bagi para Kiyai dan Fuqaha di Indonesia, siang dan&lt;br /&gt;malamnya ibadah, rumahnya adalah madrasahnya, makan dan minumnya&lt;br /&gt;selalu bersama tamunya, ayah dan ibu untuk ribuan murid-muridnya.&lt;br /&gt;Selain meninggalkan anak-anak kandung serta ribuan murid yang&lt;br /&gt;menyambung usahanya, beliau turut meninggalkan karangan-karangan&lt;br /&gt;bukan sahaja dalam Bahasa 'Arab tetapi juga dalam Bahasa Jawa dan&lt;br /&gt;Sunda. Karangannya pula tidak terbatas pada satu cabang ilmu sahaja,&lt;br /&gt;tetapi berbagai macam ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, akhlak, fiqh&lt;br /&gt;hinggalah sastera. Antara karangannya yang dicetak untuk kegunaan&lt;br /&gt;santri-santrinya: -&lt;br /&gt;Hilyatul Janan fi hadyil Quran;&lt;br /&gt;Safinatus Sa`id;&lt;br /&gt;Misbahuz Zaman;&lt;br /&gt;Bunyatul Ummahat; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Delima.&lt;br /&gt;Maka bulan mawlid tahun ini menyaksikan pemergian beliau ke&lt;br /&gt;rahmatUllah. Mudah-mudahan Allah menempatkan beliau bersama para&lt;br /&gt;leluhur beliau sehingga Junjungan Nabi s.a.w. dan semoga Allah&lt;br /&gt;jadikan bagi kita yang ditinggalkannya pengganti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-4820348575324151371?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/4820348575324151371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=4820348575324151371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4820348575324151371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4820348575324151371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/al-walid-habib-abdur-rahman-bin-ahmad.html' title='Al walid Habib &apos;Abdur Rahman bin Ahmad bin &apos;Abdul Qadir as-Saqqaf'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-2371573636365412804</id><published>2008-09-03T16:07:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T16:08:06.452+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>MUALLIM SYAFI'I HADZAMI</title><content type='html'>MUALLIM SYAFI'I HADZAMI&lt;br /&gt;Ulama Asli Betawi yang Disegani para Habaib&lt;br /&gt;02/09/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi, kawasan Betawi disebut sebagai &lt;br /&gt;Sunda Kelapa di bawah kerajaan Pajajaran. Pada Masa kerajaan Islam, &lt;br /&gt;kawasan ini berada di bawah kendali Kesultanan Banten, sedangkan ketika &lt;br /&gt;Belanda datang, maka ia disebut sebagai Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sebenarnya Batavia adalah sebuah kota baru (benar-benar dibangun &lt;br /&gt;baru) yang berupa kota benteng dengan meniru semacam kastil di Eropa, &lt;br /&gt;yakni terletak di sepanjang garis pantai yang sekarang disebut sebagai &lt;br /&gt;kawasan Kota dan Ancol, maka daerah-daerah pemukiman penduduk Asli yang &lt;br /&gt;bukan kawasan pesisir murni tetap berada dalam situasi sebagaimana &lt;br /&gt;asalnya, seperti sebelum benteng Batavia didirikan oleh Belanda. Yang &lt;br /&gt;membedakan hanyalah, statusnya yang terjajah dan penguasanya yang kejam &lt;br /&gt;serta kondisi kehidupan yang kian sengsara, selebihnya tetap utuh &lt;br /&gt;seperti adanya, mengaji dan bercocok tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betawi adalah sebuah kawasan yang sangat religius sebelum menjadi &lt;br /&gt;seperti yang kita kenali sekarang sebagai kawasan metropolitan dengan &lt;br /&gt;berbagai kesibukan pemerintahan, bisnis dan hiburan saat ini. Betawi &lt;br /&gt;adalah sebuah tempat yang khas dengan tradisi kesantrian yang berbeda &lt;br /&gt;dengan kawasan-kawasan lain di pulau Jawa, baik tanah Pasundan maupun &lt;br /&gt;wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi kesantrian di Betawi sungguh sangatlah unik, karena masyarakat &lt;br /&gt;betawi umumnya tidak mengandalkan pesantren dengan asrama tinggal para &lt;br /&gt;santri dalam mendidik generasi penerusnya. Betawi memiliki tradisi &lt;br /&gt;mengaji yang sedemikian kuat terhadap para ulama di tempat tinggal yang &lt;br /&gt;berbeda-beda. Para santri pergi mengaji dan kemudian pulang kembali ke &lt;br /&gt;rumahnya begitu pengajian selesai. Mereka dapat berpindah-pindah guru &lt;br /&gt;mengaji menurut kecocokan masing-masing santri. Kondisi seperti ini &lt;br /&gt;berlangsung hingga tahun 1960-an. Biasanya jika mereka ingin meneruskan &lt;br /&gt;pendidikannya, biasanya mereka akan melanjutkan ke Timur Tengah, &lt;br /&gt;terutama ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah suasana penjajahan Belanda yang menjadikan kehidupan &lt;br /&gt;seluruh rakyat berada dalam kesulitan, terlahirlah seorang bayi mungil &lt;br /&gt;pertama dari pasangan suami istri Muhammad Saleh Raidi dan Ibu Mini yang &lt;br /&gt;diberi nama Muhammad Syafi'i pada tanggal 31 Januari 1931 M. bertepatan &lt;br /&gt;dengan 12 Ramadhan 1349 H. di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Ayah &lt;br /&gt;Syafi'i adalah seorang Betawi asli, sedangkan ibunya berasal adari &lt;br /&gt;daerah Citeureup Bogor. Ayahnya adalah seorang pekerja pada perusahaan &lt;br /&gt;minyak asing di Sumatera Selatan. Dua tahun kemudian, setelah Syafi'i &lt;br /&gt;lahir, ayahnya pulang ke kampung halaman dan tidak pernah kembali lagi &lt;br /&gt;bekerja di perusahaan minyak asing. Ayahnya kemudian bekerja sebagai &lt;br /&gt;penarik bendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Betawi ini sejak kecil di asuh oleh kakeknya dari pihak ayah, yang &lt;br /&gt;merupakan seorang guru agama yang tinggal di daerah Batu Tulis XIII, &lt;br /&gt;Pecenongan yang bernama guru Husin. Karenanya, Syafi'i kecil juga didik &lt;br /&gt;sebagai guru agama. Kakeknya ini adalah seorang pensiunan pegawai &lt;br /&gt;percetakan yang tidak memiliki anak, sehingga sebenarnya, ia bukanlah &lt;br /&gt;kakek langsung, melainkan paman dari ayah Syafi'i. dengan demikian ia &lt;br /&gt;memiliki banyak waktu untuk mendidik syafi'i mengaji bersama dengan &lt;br /&gt;teman-temannya di samping berdagang kecil-kecilan untuki mengisi waktu &lt;br /&gt;senggang. Dari sini terlihat bahwa Syafi'i adalah anak yang cerdas dan &lt;br /&gt;ulet, ia tidak suka menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bersantai-santai &lt;br /&gt;saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakeknya ini sangat keras dalam mendidik anak-anak, sehingga dalam usia &lt;br /&gt;Sembilan tahun, Syafi'i telah berhasil menghatamkan al-Qur'an. Sejak &lt;br /&gt;kecil Syafi'i tidak pernah mengalami benturan dengan kakeknya. Meskipun &lt;br /&gt;kakeknya ini adalah orang kaya dan pensiunan pegawai percetakan, namun &lt;br /&gt;ia sama sekali tidak pernah mencita-citakan cucunya kelak menjadi &lt;br /&gt;seorang pegawai juga. Karenanya, kakeknya selalu mengajak Syafi'i ke &lt;br /&gt;tempat-tempat pengajian, kemana pun kakeknya ini mengaji. Sebagai &lt;br /&gt;seorang guru ngaji, kakeknya juga menginginkan cucunya belajar mengaji &lt;br /&gt;dan bergulat di bidang agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga teman-teman dan guru-guru kakeknya, secara otomatis juga &lt;br /&gt;menjadi guru langsung dari Syafi'i muda. Di antara teman-teman kakeknya &lt;br /&gt;ini adalah, Guru Abdul Fatah yang tinggal di daerah Batu Tulis. Juga &lt;br /&gt;kepada Bapak Sholihin di Musholla kakeknya, sehingga Musholla tempatnya &lt;br /&gt;mengaji ini kemudian dinamakan dengan Raudhatus Sholihin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Menikah dan Terus Belajar*&lt;br /&gt;Sebagaimana kebiasaan masyarakat Betawi pada waktu itu, bahkan &lt;br /&gt;masyarakat Indonesia pada umumnya, maka Syafi'i juga menikah di usia &lt;br /&gt;muda, yakni tujuh belas tahun. Syafi'i menikahi gadis teman &lt;br /&gt;sepermainannya di Batu Tulis, seorang gadis bernama Nonon. Ketika &lt;br /&gt;menikah Syafi'i telah mengikuti neneknya pindah ke kawasan Kemayoran &lt;br /&gt;sepeninggal kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafi'i yang sejak kecil memang sangat gigih dalam menuntut ilmu dan &lt;br /&gt;menjalani hidup yang serba dibatasi dalam didikan kakeknya, tek &lt;br /&gt;menjadikan pernikahan sebagai hambatan untuk terus mencari ilmu. Syafi'i &lt;br /&gt;menamatkan sekolah dasar pada tahun 1942 M. dan setelah kemerdekaan ia &lt;br /&gt;bekerja sebagai karyawan di RRI. Karena ia juga selalu membawa-bawa &lt;br /&gt;kitab-kitab bacaannya, maka ruang kerjanya yang di RRI juga berfungsi &lt;br /&gt;sebagai tempat muthala'ah.&lt;br /&gt;Karena telah dewasa dan memiliki cukup ilmu, maka selain bekerja dan &lt;br /&gt;berumah tangga, Syafi'i juga mulai mengajar secara resmi. &lt;br /&gt;Berangsur-angsur kemudian ia sering dipanggil sebagai Muallim syafi'i, &lt;br /&gt;yang berarti Guru Syafi'i. Namun bukan berarti setelah mulai mengajar, &lt;br /&gt;ia berhenti berguru dan mengaji. Muallim Syafi'i tetap merupakan pribadi &lt;br /&gt;yang tawadhu' dan senantiasa giat menuntut ilmu. Karenanya, ia tetap &lt;br /&gt;memiliki banyak guru yang aktif menyampaikan ilmu-ilmu agama kepadaya, &lt;br /&gt;selain telah mulai memiliki banyak murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara guru-gurunya tersebut adalah, Habib Ali bin Husein al-Atthas, &lt;br /&gt;di Bungur kawasan Senen Jakarta Pusat; Ajengan KH. Abdullah bin Nuh, &lt;br /&gt;dari Cianjur Jawa Barat yang aktif berceraman di RRI; Habib Ali bin &lt;br /&gt;Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang Jakarta Pusat; KH. Ya'qub Saidi, Kebun &lt;br /&gt;Sirih Jakarta Pusat; KH. Muhammad Ali Hanafiyah: Pekojan Jakarta Barat; &lt;br /&gt;KH. Muhtar Muhammad, kebun Sirih; KH. Muhammad Sholeh Mushonnif, &lt;br /&gt;Kemayoran Jakarta Pusat; KH.Zahruddin Usman yang berasal dari Jambi; dan &lt;br /&gt;sederet ulama-ulama lain di seantero Jakarta, baik yang memang tinggal &lt;br /&gt;di Jakarta, maupun para ulama yang sedang bertugas di Jakarta. Syeikh &lt;br /&gt;Yasin bin Isa al-Fadani adalah salah satu guru dari Muallim Syafi'i, &lt;br /&gt;karena seringkali ketika Syeikh Yasin berkunjung ke Jakarta dan tinggal &lt;br /&gt;di tempat salah seorang temannya di Prapanca Jakarta Barat, Muallim &lt;br /&gt;Syafi'i selalu menyempatkan hadir di pengajian-pengajian yang di buka &lt;br /&gt;oleh Syeikh Yasin di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tata cara beginilah, mengajar sembari terus menuntut ilmu, Muallim &lt;br /&gt;Syafi'i mendarmabaktikan hidupnya untuk perkembangan islam di Jakarta. &lt;br /&gt;Lambat laun, nama muallim Syafi'i bertambah menjadi Syafi'i Hadzami. &lt;br /&gt;Ketika Beliau telah bergelut dengan masyarakat sela puluhan tahun, maka &lt;br /&gt;namanya kemudian menjadi salah satu tokoh terdepan di kehidupan umat &lt;br /&gt;Islam Jakarta. Murid-muridnya terdiri dari beragam usia, latar belakang &lt;br /&gt;profesi dan kesukuan. Hal ini terjadi seiring terus tergesernya dan &lt;br /&gt;perpindahan para penduduk asli Betawi dari kampong-kampung asal mereka. &lt;br /&gt;Sehingga pengajian-pengajian Muallim Syafi'i Hadzami yang dahulu ramai &lt;br /&gt;dikunjungi oleh penduduk suku Betawi, lambat laun juga dibanjiri oleh &lt;br /&gt;penduduk-penduduk pendatang yang beragam sukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kharisma dan Daya Tarik*&lt;br /&gt;Termasuk pula yang menjadi daya tarik pengajian Muallim Syafi'i Hadzami &lt;br /&gt;adalah karena pengajian-pengajiannya selalu juga dihadiri oleh para Kyai &lt;br /&gt;dan teman-teman seperjuangannnya. Bahkan banyak sekali para ulama yang &lt;br /&gt;dahulunya adalah guru-guru Muallim Syafi'i, kini menghadiri &lt;br /&gt;pengajian-pengajian Beliau sebagai murid atau pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, Muallim Syafi'i Hadzami telah mengajar ke berbagai majlis &lt;br /&gt;ta'lim. Pada tahun 1963, pada usia 32 tahun, Beliau membentuk sebuah &lt;br /&gt;Badan Musyawarah Majlis Ta'lim (BMMT) yang diberi nama al-'Asyirotus &lt;br /&gt;Syafi'iyyah. Badan ini kemudian berkembang menjadi sebuah Yayasan pada &lt;br /&gt;tahun 1975 yang mampu mendirikan sebuah komplek pesantren di kampung &lt;br /&gt;Dukuh, kebayoran lama, Jakarta Selatan. Pesantren ini kemudian &lt;br /&gt;berkembang mejadi sebuah lembaga pendidikan yang berhasil mengelola &lt;br /&gt;pendidikan dari tingkat TK hingga Aliyah. Di komplek pesantren inilah &lt;br /&gt;kemudian Muallim Syafi'i tinggal sepanjang usianya. Namun demikian &lt;br /&gt;pengajian-pengajian ke berbagai penjuru Jakarta tetp dilakoninya &lt;br /&gt;sepanjang hidup. Bahkan hampir-hampir tiada waktu luang untuk sekedar &lt;br /&gt;bersantai, karena kalaupun Muallim sedang tidak mengajar, maka Beliau &lt;br /&gt;pasti sedang Muthola'ah. Hal ini dikarenakan sedemikian cinta beliau &lt;br /&gt;kepada ilmu-ilmu agama. Bahkan karena cintanya ini, ruang tamu di &lt;br /&gt;rumahnya pun lebih mirip sebagai perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya bicaranya datar-datar saja namun tertib dan jelas, cara &lt;br /&gt;berpakaiannya yang wajar-wajar saja, dan sikapnya yang tenang, serta &lt;br /&gt;pembawaannya yang sederhana, menjadikan Muallim disegani oleh seluruh &lt;br /&gt;ulama di betawi, baik dari kalangan habaib maupun para ulama Betawi &lt;br /&gt;Asli. Hal ini terutama sekali dikarenakan sikap Beliau yang sangat teguh &lt;br /&gt;dalam memegang prinsip-prinsip agama. Selain itu Muallim Syafi'i Hadzami &lt;br /&gt;juga terkenal sangat rendah hati dan mencintai para muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KH. Rodhi Sholeh, salah seorang Mustasyar PBNU yang mengenal &lt;br /&gt;Muallim Syafi'i Hadzami ini dalam sebuah pengajian di PWNU DKI Jakarta, &lt;br /&gt;Muallim Syafi'i Hadzami adalah sosok guru yang tidak suka menyombongkan &lt;br /&gt;diri meskipun Beliau sangat alim. Banyak orang-orang dari daerah yang &lt;br /&gt;merasa telah menjadi Betawi setelah kenal dengan beliau, karena Beliau &lt;br /&gt;sama sekali tidaklah membedakan mana orang-orang pendatang dari daerah &lt;br /&gt;dan mana orang-orang asli Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara KH. Irvan Zidni yang mengaku sering bertemu langsung di &lt;br /&gt;forum-forum Batsul Masail Muktamar PBNU mengakui bahwa Muallim Syafi'i &lt;br /&gt;Hadzami memberi bobot yang berbeda kepada ulama-ulama asal Jakarta, &lt;br /&gt;karena dalam forum-forum seperti itu, memang biasanya pendapat mereka &lt;br /&gt;sering ditolak. Namun keberadaan Muallim Syafi'i Hadzami mampu menepis &lt;br /&gt;kebiasaan ini. Muallim memang memiliki kemampuan keilmuan yang cukup &lt;br /&gt;untuk mempertahankan pendapat-pendapatnya. Dalam arena batsul masail, &lt;br /&gt;kemampuannya sebanding dengan para ulama dari daerah-daerah lain yang &lt;br /&gt;sedari kecil menuntut ilmu di pesantren selama puluhan tahun, sehingga &lt;br /&gt;sangatlah sukar untuk meruntuhkan argumen-argumen Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Karya-Karya*&lt;br /&gt;Muallim Syafi'i Hadzami, selain mendarmabhaktikan seluruh aktivitasnya &lt;br /&gt;untuk kemajuan umat Islam, khususnya di daerah Jakarta, Beliau juga &lt;br /&gt;memiliki karya-karya tulis yang masih dapat dijadikan referensi hingga &lt;br /&gt;sekarang. Karya-karya Muallim hampir semuanya ditulis sebelum era &lt;br /&gt;1980-an meski masih memiliki usia panjang hingga akhir 2006, namun tidak &lt;br /&gt;lagi ditemukan karya-karya yang merupakan buah tangan langsung Beliau &lt;br /&gt;pada era-1990-an. Beberapa buku memang kemudian banyak di terbitkan, &lt;br /&gt;terutama setelah tahun 2000 M. namun kesemuanya adalah kumpulan hasil &lt;br /&gt;transkripsi pidato-pidato Muallim, baik dalam pengajian-pengajian darat &lt;br /&gt;maupun pengajian-pengajian yang disiarkan melalui gelombang radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya tersebut antara lain adalah Taudhihul Adillah yang &lt;br /&gt;menjelaskan tentang hukum-hukum syariat berikut dengan dalil-dalil dan &lt;br /&gt;keterangan-keterangannya; Sullamul Arsy fi Qiro'atil Warsy yang &lt;br /&gt;menjelaskan tentang seluk beluk bacaan bacaan al-Qur'an menurut Imam &lt;br /&gt;Warsy, kitab ini disusun pada tahun 1956 M. saat berusia 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara karya-karya lain biasanya berupa penjabaran tentang suatu &lt;br /&gt;permasalahan, seperti penggalan-penggalan sebuah permasalahan hokum dan &lt;br /&gt;ibadah-ibadah tertentu. Karya-karya jenis ini antara lain, Qiyas adalah &lt;br /&gt;Hujjah Syariah (1969 M.); Qabliyyah Jum'at; Shalat tarawih; Ujalah &lt;br /&gt;Fidyah Sholat (1977 M.) dan Mathmah ar-Ruba fi Ma'rifah ar-Riba (1976 M.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Muallim dan Kitab Kuning*&lt;br /&gt;Hingga usia senjanya, hari-hari Muallim Syafi'i Hadzami senantiasa diisi &lt;br /&gt;dengan mengajar berpindah-pindah, dari satu majlis ta'lim ke majlis &lt;br /&gt;ta'lim lain. Meskipun lembaga pendidikan yang didirikannya kini telah &lt;br /&gt;berkembang dan mapan, namun Beliau senantiasa membagi waktunya untuk &lt;br /&gt;ummat secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini menjadikan hari-hari Muallim senantiasa berjibaku dengan &lt;br /&gt;kitab kuning, sebab pengajian-pengajian Muallim Syafi'i Hadzami tidak &lt;br /&gt;pernah lepas dari kitab kuning. Di sini Beliau tampak menekankan betapa &lt;br /&gt;tradisionalisme adalah sebuah watak perjuangan yang tidak boleh &lt;br /&gt;ditinggalkan begitu saja.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Muallim, kitab kuning merupakan dasar bagi pemahaman &lt;br /&gt;umat Islam untuk memahami sumber hukum asal syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti bahwa dalam pandangan Syafi'i Hadzami, sebuah kesalahan &lt;br /&gt;fatal apabila mencoba memahami al-Qur'an dan hadits secara langsung &lt;br /&gt;tanpa mengerti pandangan dari para ulama terlebih dahulu. Syafi'i &lt;br /&gt;Hadzami meyakini bahwa kitab kuning masih selalu relevan dan selalu &lt;br /&gt;menawarkan hal-hal baru bagi masyarakat Muslim. Hal ini tentu saja &lt;br /&gt;menunjukkan bahwa Muallim Syafi'i sangat mengikuti perkembangan kitab &lt;br /&gt;kuning. Artinya pembacaan dan oleksi kitab-kitab kuningnya boleh &lt;br /&gt;dibilang up to date. Memang Muallim Syafi'i Hadzami sangat banyak &lt;br /&gt;mengoleksi kitab-kitab kuning yang beraneka ragam, mulai klasik, modern &lt;br /&gt;hingga kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena telah mengenyam manfaat yang demikian besar dari kitab kuning, &lt;br /&gt;maka Muallim memiliki kiat-kiat jitu untuk dapat menguasai kitab kuning &lt;br /&gt;dengan benar, dengan arti yang sebenarnya. Menurut Muallim, hal &lt;br /&gt;pertama-tama yang semestinya dilakukan oleh para santri yang mempelajari &lt;br /&gt;kitab kuning adalah menguasai ilmu-ilmu alat, hingga masalah yang &lt;br /&gt;sekecil-kecilnya. Ini berarti seorang pembaca kitab kuning haruslah &lt;br /&gt;memahami lughat. Artinya harus mengenal lughat yg berbeda-beda, serta &lt;br /&gt;harus memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada ilmu-ilmu perbandingan &lt;br /&gt;madzhab, sehingga tidak kaku dalam memberikan fatwa atau memandang suatu &lt;br /&gt;permasalahan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini jelas sangat terlihat dari aktivitas-aktivitas muallaim yang &lt;br /&gt;bukan hanya di MUI DKI Jakarta saja, melainkan juga di NU. Muallaim &lt;br /&gt;sangat rajin menghadiri batsul masail-batsul masail, dan rapat &lt;br /&gt;pleno-rapat pleno yang diadakan oleh PBNU, terutama yang diadakan di &lt;br /&gt;Jakarta. Hingga pada muktamar NU ke 29 di Cipasung, Tasikmalaya, Muallim &lt;br /&gt;Syafi'i Hadzami dipercaya menjadi salah satu Rois Suriah PBNU. Hal ini &lt;br /&gt;tentu saja merupakan pengakuan keilmuan dan keulamaan dari NU mengingat &lt;br /&gt;jarang sekali ada ulama dari Batawi yang dipercaya untuk menduduki &lt;br /&gt;posisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karisma keulamaan dalam diri Muallim Syafi'i Hadzami memancar bukan &lt;br /&gt;hanya di Indonesia. Kedalaman ilmu Muallim juga dikenal hingga Mekkah &lt;br /&gt;dan Hadramaut. Hal ini nampak dari seringnya muallim mendapat kunjungan &lt;br /&gt;dari beberapa ulama dan para Habaib dari Hadramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba'da mengajar di Masjid Ni'matul Ittihad, tepatnya tanggal 07 mei 2006 &lt;br /&gt;M. Muallaim Syafi'I Hadzami merasakan nyeri di dada dan sesak napas. &lt;br /&gt;Muallim berpulang ke rahmatullah dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit &lt;br /&gt;Pertamina Pusat (RSPP). Linangan air mata mengalir mengantarkan &lt;br /&gt;kepergian sang guru yang sangat dicintai oleh seluruh penduduk Jakarta &lt;br /&gt;ini. /*(Syaifullah Amin)*/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Non-text portions of this message have been removed]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-2371573636365412804?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/2371573636365412804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=2371573636365412804' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/2371573636365412804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/2371573636365412804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/muallim-syafii-hadzami.html' title='MUALLIM SYAFI&apos;I HADZAMI'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-76618648916807075</id><published>2008-09-02T15:33:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:43:39.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Wasiat Imam Haddad</title><content type='html'>Pertama &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Engkau ya Allah; sungguh kami tiada memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdullilah. Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan Sang Pencipta semua makhluk, Yang menyeru hamba-hambanya seraya mengkhususkan sebahagian dari mereka dengan hidayah dan rahmah! Dan semua itu bersesuaian dengan kehendakNya yang azali. :Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: “Bertakwalah kepada Allah”.(QS.4:131). Dan firman-Nya: “Allah menyeru (manusia) ke syurga Daru’s-Salam dan memimpin orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus” (QS.10:25.) Dan firman-Nya lagi: “Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya, (untuk menerima) rahmayNya (yang khusus) dan Allahlah Yang Maha mempunyai kurnia yang besar”. (QS. 2:105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salawat dan salam bagi junjungan dan pemimpin besar kita: Nabi Muhammad Saw, juga bagi keluarganya serta para sahabatnya, para pembela agama nan lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba’du: Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saudaraku yang mencintai dan mengharap, yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, dan kepada setiap saudara seiman yang saling mencintai kerana Allah, Tuhan semesta alam, di mana saja keberadaannya, di penjuru Timur Bumi dan di Baratnya, di dataran dan lautan, yang datar mahupun yang berbukit-bukit dan di semua daerah sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang tercinta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah meminta kepada saya, agar menuliskan wasiat untuk anda, yang mudah-mudahan dapat membuat anda merasa bahagia,dan dapat anda jadikan pegangan kuat dalam perjalanan hidup anda. Untuk itulah saya akan berupaya memenuhi permintaan anda, sekalipun saya sebetulnya bukan ahlinya. Namun keinginan anda untuk mengajukan permintaan ini, demikian juga kesediaan saya utnuk memenuhi keinginan anda itu, semata-mata demi mengikuti uswah hasanah (peneladanan yang baik) yang memperoleh petunjuk dan para khalaf yang mengikuti mereka. Semoga Allah selalu meredhai mereka semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah semenjak dahulu kala, tradisi saling mewasiati ini telah menjadi ciri khas dari akhlak mereka. Dan Allah s.w.t telah melukiskan sifat mereka itu dalam Al-Quran yang mulia, yang tiada datang kepadanya kebatilan, dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha terpuji. Sebagaimana tercantum dalam kedua surah:Al-Balad dan Wa’l-Ashri. Maka terpeganglah erat-erat dengannya dan mintalah petunjuk Allah dan pertolongan-Nya selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa dan Peringkat-Peringkatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, wahais audaraku, bahawa yang paling layak di utamakan dalam berwasiat, adalah wasiat tentang takwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Maka dengan ini, sya berwasiat kepada anda dan kepada diri saya sendiri, serta kepada segenap orang yang beriman dan kaum muslimin semuanya, agar bertakwa kepada Allah Rabb’ul –Alamin, kerana takwa merupakan sarana terpenting yang menghantarkan kepada kebahagian dunia dan akhirat. Takwa pula merupakan asas pondasi pemerkuat pilar-pilar aga,a. Kerananya, tanpa pondasi yang kukuh, sebuah bangunan akan lebih cenderung mengalami kehancuran daripada kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun takwa itu sendiri terdiri atas beberapa tingkatan:Pertama, menjauhi segala perbuatan maksiat dan segala yag diharamkan dalam agama. Yang demikian itu merupakan suatu kewajipan yang tidak boleh tidak. Kedua, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang shubhat (yang meragukan, antara haram dan halal). Hal itu merupakan sikap kewaspadaan yang akan melindungi pelakunya dari terjerumus ke dalam sesuatu yang haram. Ketiga, menghindari hal-hal yang berlebihan dan tidak perlu, di antara yang mubah (yang dibolehkan, tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang agama) demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Penghindaran diri seperti itu termasuk kategori ‘zuhud yang mendalam’ sepanjang pelaksanaannya disertai kerelaan dan kepuasan hati sepenuhnya atau tazahhud (yakni zuhud tingkat bawah yang dipaksakan) sepanjang pelaksanaannya masih disertai dengan perasaan enggan dan berat hati, kerana terpaksa melawan hawa nafsu. Kerananya, barang siapa meninggakan sesuatu kerana takut kepada manusia atau mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, maka ia-pada hakikatnya- hanya bertakwa kepada mereka dan bukan bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt, adalah yang melakukannya kerana semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya, menginginkan pahala-Nya dan takut akan seksa-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa telah berdiri mantap dalam maqam ketakwaan, maka ia telah layak menerima ilmu yang diwariskan (‘ilm-l-wiratsah). Itulah ‘ilmu ladunni’ (al-‘ilm al-ladunniy) yang dihunjamkan Allah Swt secara langsung ke dalam hati para wali-Nya. Ilmu yang tidak tercantum dalam buku-buku, tidak tercakup dalam pengajaran yang bagaimanapun. Ilmu seperti itu, diharamkan Allah atas orang-orang yang menghamba kepada hawa nafsunya, yang telah diliputi kegelapan hati, yang hanya mementingkan selera nafsu mereka, berkaitan dengan apa yang dimakan, dipakai dan dinikahi. Ilmu ladunni seperti itulah yang diajarkan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang khusus seperti diisyaratkan dalam firman-Nya: “Bertakwalah kamu kepada Allah, nescaya Allah akan mengajari kamu”. Demikian pula dalam sabda Rasullah Saw .: “ barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” Dan itulah buah dari amalan ilmu yang diperoleh dari Al-Quran dan Sunnah Nabi Saw., yang tersaring bersih dari segal;a noda hawa nafsu. Dan begitu pula buah dari upaya mengikuti jalan lurus yang disertai dengan penuh takwa, disamping menjauh dari sifat keangkuhan dan kebanggaan pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentunya takkan mungkin bagi seorang hamba, menyiapkan dirinya guna dapat meraih limpahan anugerah illahi yang demikian besarnya itu, tanpa sebelummnya melakukan riyadhah (pelatihan mental dan pengendalian diir) yang intensif, dengan cara memutuskan segala ajakan syahwat hawa nafsu, disertai dengan mengkonsentrasikan diri kepada Allah secara terus menerus, dalam beribadat kepada-Nya secara ikhlas dan murni semata-mata hanya untuk-Nya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keharusan Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpesan selanjutnya hendaklah Anda selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu kerana malas atau bosan, atau pun kerana perasaan takut sekiranya anda nanti tidak mampu mengamalkan ilmu anda itu. Yang demikian itu merupakan kebodohan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaklah anda dalam hal ini selalu membaikkan niat anda dan bermawas diri, jangan segera berpuas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai anda benar-benar menguji diri anda sendiri. Selanjutnya, berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah anda ketahui itu, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik anda diminta atau tidak. Dan apabila setan membisikkan kepada anda: “Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya”,  maka katakan kepadanya: “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim (seorang yang berilmu), dan kerananya wajib untuk mengajarkannya kepada orang-orang lain. Sedangkan – apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui-maka aku kini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika anda pelajari juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadat yang besar pahalanya, sepanjang diiring dengan niat baik yang dasarnya ‘kerana Allah’ semata-mata bukan kerana sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta atau kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah anda, secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Kerana di situ terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Allah serta berbagai bimbingan tentang cara-cara pembaikan niat, keikhlasan dalam beramal pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu sangat bermanfaat yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu, kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktu anda sangat terbatas, tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajian anda pada buku-buku karangan Imam Ghazali kerana itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saat melakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allah atas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri anda sendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah ia ke jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik. Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasa kenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian dan ketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecuali demi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiat selalu malas melakukan ketaatan dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkan setarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat anda ataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong anda di dalam kehidupan akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menghilangkan Was-Was Setan Dari Dalam Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Adapun salah satu cara agar bisa terhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-was tersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menjaga Lidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpesan kepada anda agar berupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia. Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkau mengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanng termasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arah kebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yang tidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkena hukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus dalam suatu tindakan terlarang atau menyia-yiakan waktu yang amat berharga dalam hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat atau meningggalkan bekas yang tidak menyenangkan di dalam hati. Jelasnya, setiap gerak yang dilakukan atau kalimat yang diucapkan, pasti akan meninggalkan bekas didalam hati. Jika hal itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt, nescaya akan menimbulkan cahaya di dalamnya. Dan sekiranya hal itu merupakan sesuatu yang mubah sekalipun (yang tidak dianjurkan dan tidak pula dilarang), maka kebanyakan dari hal itu akan menimbulkan kekerasan hati. Apalagi jika hal itu merupakan sesuatu yang terlarang, nescaya akan menimbulkan kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya berpesan kepada anda agar menghindarkan lidah dan hati anda dari segala perbuatan yang merugikan kaum Muslim secara  keseluruhan. Seperti, misalnya berprasangka buruk terhadap mereka. Kerananya jangan sekali-kali bergaul dan duduk berbincang-bincang dengnan orang-orang yang suka menggunjing atau menujukan cercaan terhadap kaum muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu pebuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslim), sedangkan anda merasa mampu menasihatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak – jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian anda telah melakukan dua keburukan sekaligus: pertama dengan tidak memberinya nasihat; dan kedua, mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan peribadi seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbangga Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, saya berpesan hendaknya anda tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hati anda, sedarilah betapa anda sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga, seorang yang berakal sihat pasti mengetahui bahawa dirinya sendiri sarat dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaklah ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikit pun. Dan tidaklah sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab, kebanyakkan dari apa yang anda ketahui dari saudara-saudara anda adalah berdasarkan persangkaan dan dugaan semata-mata. Sedangkan persangkaan adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis-penerj.) Disamping itu, mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebahagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian, tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingnat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-yiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, betapa perlunya bagi setiap individu pada zaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkahya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqamah, di samping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menjauhkan Diri Dari Pergaulan Yang Tidak Sihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sungguh berbahagialah orang yang memisahkan diri dari masyarakat zaman ini, dan lebih memilih menyibukkan dirinya bersama Tuhannya daripada melibatkan diri dalam pergaulan dengan mereka dan segala keburukan mereka; dengan penuh ketabahan, sampai datangnya ‘keyakinan’ yang berupa pembukaan pintu hatinya ke arah alam malakut yang tinggi-jika ia termasuk dalam kalangan ‘khusus’ atau sampai datang kepadanya ‘keyakinan’ yang lain, yakni kematian, sebagaimana diisyaratkan (dalam Al-Quran), baik ia tergolong di kalangan khusus ataupun awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, saya berpesan kepada anda, jauhkanlah dirimu dari pergaulan dengan siapa saja yang curigai keadaannya; jangan duduk-duduk besama mereka, atau bercampur gaul dengan mereka. Kecuali dalam keadaan di mana anda sangat memerlukannya. Itu pun dengan penuh kewaspadaan dan sikap hati-hati, demi terhindarnya anda dari keburukan anda sendiri an terhindarnya anda dari keburukan mereka. Demikian itulah hendaknya dasar niat anda ketika menjauhi pergaulan dengan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka janganlah duduk bersama siapa pun kecuali mereka yang akan memberimu manfaat dalam agamamu. Apabila hal seperti itu sulit terlaksana, maka larilah menjauh dari mereka yang akan membawa petaka bagi agamu, sebagaimana anda lari jauh menjauh dari binatang buas, bahkan labih dari itu. Kerana binatang buas hanya akan melukai anggota tubuhmu, yang nantinya hanya akan menjadi mangsa ulat bumi, sedangkan setan yang satu ini akan merosak kalbumu, yang dengannya anda mengenal Tuhan dan agama anda, dan akan menghantarmu ke akhirat dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kewajipan Mengenali Dasar Hukum Allah dalam Segala Hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya berpesan agar anda tidak melibatkan diri dalam suatu perkara apa pun yang belum anda ketahuid asar hukum Allah tentangnya. Upayakanlah mencar kejelasan terlebih dahulu mengenai ketetapan hukum Allah itu sebelum bertindak,s ehingga cukup jelasa bagi anda, mana yang diredhai Allah mengenai tindakan anda itu, dan mana yang ahrus anda tinggalkan. Dengan demikian, anda telah melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan kepastian dan niat yang baik adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap Tawadhu’ (Rendah Hati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya juga berpesan agar anda selalu bersikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap tawadhu’ adalah sifat yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu’ di hadapan para ahli dunia dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta mereka. Sedangkan sifat takabur (angkuh atau tinggi hati) adalah sifat yang amat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal mneghadapi orang-orang zalim yang terus menerus berbuat kezaliman. Sikap yangd emikian itu demi menujukan teguran atau protes keras terhadap mereka, asal saja keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahirian saja, sementara hati kita kosong dari sifat keangkuhan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melakukan Kebajikan Terhadap Sesama Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpesan hendaklah anda selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum Muslim. Cintailah bagi mereka apa yang anda cintai bagi diri anda sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana anda tidak menyukai hal itu menimpa diri anda sendiri baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Berdialoglah dengan mereka ucapan-ucapan yang baik, tidak yang mengandung pelanggaran. Ucapkan salam kepada mereka kapan saja bertemu. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut, penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Dan berdoalah bagi mereka yang berdosa agar Allah Swt memberikan kemudahan kepada mereka untuk segera bertaubat. Dan bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Allah Swt. Menganugerahkan sifat istiqamah, atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali bersikap atau bergaya hidup meniru-niru kaum yang sombong dan angkuh, baik dalam cara mereka berbicara, berbusana, berjalan, duduk dan sebagainya. Kerana barangsiapa meniru tingkah laku dan kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka juga, sekalipun ia sendiri tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa mereka lakukan. Ini meliputi semua aspek kehidupan, yang baik apalagi yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membiasakan Diri Hidup Sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya juga berpesan kepada anda, hendaklah selalu menngutamakan keserdehanaan dalam pola kehidupan anda sehari-hari, baik yang berkenaan dengan makanan, busana maupun rumah tempat tinggal anda. Semata-mata demi bersikap rendah hati (ber-tawadhu’) dalam agama, lebih mengutamakan akhirat dan sebagai manifestasi dari menjadikan Nabi Muhammad Saw. Sebagai teladan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahawa melaksanakan keserdahanaan dalam kehidupan duniawi merupakan titk pangkal dari segala kebaikan. Dan tidaklah Allah Swt. Mengkhususkan seseorang dengan sikap seperti itu, kecuali ia pasti mengkehendaki kemuliaan baginya dalam kehidupan didunia maupun di akhirat. Dengan syarat, ia merasa ridha (puas hati) sepenuhnya atas apa yang dianugerahkan Allah Swt. baginya, tidak tertarik kepada keindahan duniawi yang ada di sekelilingnya dan tidak mengharap-harap diberikan kepadanya apa yang diberikan oleh-Nya kepada para ahli dunia, agar ia dapat merasakan kenikmatan duniawi seperti yang mereka rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berserah Diri dan Berikhlas Kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya berpesa pula kepada anda, keluarkan setiap harapan ataupun kecemasan yang anda rasakan dalam hati anda terhadap siapa pun di antara makhluk Allah. Sebab, adanya perasaan seperti itu akan menjadi penghalang bagi anda untuk menegakkan kebenaran dan jangan sekali-kali membiarkan rasa takut akan kemiskinan menyelinap ke dalam hati anda kerana yang demikian itu merupakan seburuk-buruk pendamping diri anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Janganlah pula memikirkan secara berlebihan segala yang berkaitan dengan perolehan rezeki. Terlalu memikirkan hal seperti itu tidak ada dasarnya selain adanya keraguan berkaitan dengan takdir Allah Swt. Apa saja keuntungan ataupun kerugian yang telah ditakdirkan untuk anda pasti akan terlaksana ; dengan atau tanpa usaha anda sendiri, sesuai dengan apa yang telah digoreskan oleh pena Allah dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Oleh sebab itu, apa gunanya bersikap berlebihan dalam memikirkan sesuatu yang telah selesai urusannya, dan tentang hal itu hati anda telah ditenangkan oleh Allah Swt dengan penjelasan dalam kitab-Nya bahawa ia telah memberikan jaminan bagi anda (tentang rezeki yang disediakna bagi setiap makhlukn-Nya) seraya bersumpah dengan diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu, pusatkanlah perhatian anda untuk melaksanakan hak Allah Swt. yang telah diwajibkan pelaksanaannya atas diri anda. Kerana, sesungguhnya kebanyakan manusia zaman sekarang menghadapi fitnah (ujian berat atau bencana), berupa memikirkan secara berlebihan tentang rezeki. Hal itu merupakan hukuman atas mereka akibat melalaikan pelaksanaan perintah-perintah Allah seraya mengerjakan laran-larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saya juga berpesan, agar anda senantiasa bersikap lemah-lembut dalam setiap urusan, mengutamakan keikhlasan dalam setiap amal dan kegiatan, meninggalkan kesibukan-kesibukan yang menghalangi antara anda dan Allah Swt. terutama yang berkenaan dengan harta dan keluarga. Berkonsentrasilah hanya dalam sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan anda dalam kehidupan mendatang. Kembalilah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya dalam setiap keadaan; seraya meneladani Rasullulah Saw. Dalam akhlak, ucapan dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Usahakanlah sungguh-sungguh untuk membeningkan hatimu dan menyinarinya dengan tiga hal: Pertama, dengan membaca Al-Quran dengan tartil dan tadabbur (yakni menekuni tatacara pembacaannya dan merenungi maknanya). Kedua, dengan ber-zikrullah dengan penuh adab dan kehadiran hati. Ketiga, dengan melakukan qiyamullail (shalat malam) dengan hati luluh dan anggota tubuh yang khusyu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ada tiga hal yang perlu anda lakukan demi memudahkan terlaksananya letiga amalan di atas.. Pertama, meringankan perut dengan hanya makan sedikit saja. Kedua, memisahkan diri dari kelompok manusia yang lalai akan tuhannya. Ketiga, membebaskan diri dari kesibukan dunia yang fana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengerjakan Shalat Sunnah Witir dan Membaca Doa Sesudahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpesan pula, agar anda senantiasa mengerjakan shalat witir sebanyak sebelas rakaat. Ucapkanlah doa sesudah selesai mengerjakannya dan sesudah membaca beberapa teks tasbih dan doa yang telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, yaitu sebanyak empat puluh kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk kaum yang zalim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesudah melakukan shalat sunnat subuh, sebanyak empatpuluh kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ya Allah, Yang Maha Hidup, Yang Maha Pengawas, tiada tuhan selain Engkau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah itu, sebanyak duapuluh tujuh kali;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aku memohon ampunan bagi orang-orang Mukmin &amp; Mukminat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjakan Shalat Sunnah Dhuhâ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Biasakanlah pula mengerjakan shalat sunnah dhuhâ secara rutin, sebanyak delapan rakaat, dan irirngilah dengan bacaan sesudahnya, sebanyak empatpuluh kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ya Allah, ampunilah daku dan berikanlah taubat (atas segala dosa-ku). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Taubat lagi Maha Penyayang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bacalah pula sesudah shalat Zhuhur, sebanyak seratus kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tiada tuhan selain Allah, Sang Maha Diraja, Yang Maha Benar senyata-nyatanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sesudah shalat Asar, sebanyak duapuluh lima kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aku memohon ampunan Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia; Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Yang Maha Hidup dan takkan tersentuh oleh kematian, dan aku bertaubat kepada-Nya. Ya Allah ampunilah daku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah shalat subuh serta setiap selesai shalat lima fardhu, bacalah sebanyak tiga kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maha Suci Allah, dan puji syukur bagi-Nya, tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan-Nya, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung; sebanyak bilangan ciptaan-Nya, sebesar keredhaan-Nya, seberat ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta yang digunakan untuk menuliskan ciptaan-ciptaan-Nya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, bacalah juga sebanyak tiga kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maha Suci Engkau Wahai Tuhanku, puji syukur bagi-Mu, aku bersaksi bahawa tiada tuhan selain Engkau, dan aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu. Dan aku memohon dari-Mu semoga engkau melimpahkan salawat dan salam atas hamba-Mu dan utusan-Mu: junjungan kami Nabi Muhammad saw, keluarganya dan para sahabatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berpesan agar anda senantiasa membaca, pada setiap hari dan secara rutin, beberapa zikir yang biasa dibaca pada pagi hari maupun sore hari. Teks-teks semua itu dapat anda peroleh dalam berbagai buku yang memang memuat doa-doa dan zikir-sikir seperti itu. Misalnya dan yang paling utama di antaranya adalah kitab Al-Adzhar An-Nawawiyah. Sekiranya anda ingin melakukan hal tiu, pilihlah di anatra doa-doa dan zikir-zikir yang tercantum di dalamnya, yang paling sahih, paling afdal dan paling mencakup makna yang anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sebagai penutup pesan-pesan ini, di bawah ini saya kutipkan dua ayat Al-Quran yang mulia, serta dua hadis Nabi Saw. Serta beberapa atsar (peninggalan) yang diriwayatkan dari as-salaf ash-shâleh (para tokoh terdahulu yang baik-baik):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ayat tersebut adalah firman Allah Swt.: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apas aja yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang lupa akan Allah, lalu Allah menjadikan meraka lupa akan diri mereka sendiri. Sungguh mereka itulah orang-orang yang fasik “(QS. Al-Hasyr [59] : 18-19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kedua sabda Rasulullah saw adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga perkara yag menyelamatkan: (1) takut kepada Allah dalam keadaan ghaib dan nyata, (2) kalimat yang adil dalam keadaan ridha maupun marah, dan (3) bersikap sederhana dalam keadaan kaya maupun miskin. Sedangkan tiga perkara yang membinasakan adalah: (1) sifat kikir yang dipatuhi, (2) hawa nafsu yang diikuti, dan (3) perasaan bangga pada diri sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“barang siapa takut tertinggal, nescaya segera meneruskan perjalanan, dan barang siapa meneruskan perjalanan, nescaya mencapai tempat tujuan. Ketahuilah, ‘barang dagangan’ Allah amat mahal harganya. Dan sungguh,’barang dagangan Allah adalah syurga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah berkata Abubakar Ash-Shiddiq r.a. kepada Umar bin Khattab r.a. pada saat menunjukkan sebagai penggantinya menjabat sebagai khalifah, “ Bertakwalah Engkau wahai Umar, bilamana Engkau berkuasa atas manusia! Ketahuilah, bahawasanya Allah Swt mewajibkan atas manusia: beberapa kewajipan yang harus dikerjakan pada malam hari, yang takkan ia menerimanya apabila dikerjakan pada siang hari. Dan juga mewajibkan beberapa kewajipan yang harus dikerjakan pada siang hari, yang takkan ia menerimanya bilamana dikerjakan pada malam hari. Dan bahawasanya ia takkan menerima suatu amalan yang bersifat sunnah (anjuran), sampai amalan yang bersifat  fardhu telah ditunaikan sebelumnya. Adapun beratnya neraca timbangan manusia pada hari kiamat kelak, bergantung pada seberapa jauh mereka mengikuti kebenaran ketika masih hidup di dunia. Sedangkan ringannya neraca timbangan mereka pada hari kiamat nanti bergantung pada seberapa jauh mereka telah mengikuti kebatilan ketika masih hidup di dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah berkata Ali bin Abi Thalib k.w. (karramallahu wajhah), “ Ada enam perkara yang barang siapa mengamalkannya, tidak lagi perlu bersusah payah mencari-cari syurga dan tidak perlu pula merasa cemas akan seksa api neraka: (1) orang yang mengenal Allah lalu takut kepada-Nya. (2) orang yang mengenal setan lalu menentangnya. (3) Orang yang mengenal kebenaran lalu mengikutinya. (4) orang yang mengetahui kebatilan lalu menjauhkan diri darinya. (5) orang yang mengenal kesenangan dunia lalu menolaknya. (6) orang yang mengenal akhirat lalu mendarinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada seorang dari kalangan salaf (tokoh terdahulu) : “Bagaimana jalan menuju Allah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya anda mengenal Allah, tentu anda akan mengetahui jalan menuju kepada-Nya.” Jawab si tokoh yang ditanyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah! Bagaimana mungkin saya beribadat kepada sesuatu yang tidak saya kenal?”. “Bagaimana pula anda melakukan maksiat kepada yang telah anda kenal?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saleh berkata kepada seorang sufi dari kalangan abdâl : “Tunjukilah aku suatu amalan, yang dengannya aku bisa menemukan hatiku bersama-sama Allah selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan melihat kepada manusia, kerana melihat mereka itu, menimbulkan kegelapan di dalam hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa melakukan seperti itu.” Kata orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, jangan mendengarkan omongan mereka kerana mendengar omongan mereka menyebabkan kekerasan hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak kuasa melakukan seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berurusan dengan mereka, kerana berurusan dengan mereka menimbulkan perasaan keterasingan ( dari Allah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin aku mampu bersikap seperti itu, sedangkan aku berada di tengah-tengah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah merasa senang dan nyaman berada di tengah-tengah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ini, mudah-mudahan saja aku mampu melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai engkau ini, memandang kepada orang-orang yang lalai, mendengar perkataan-perkataan  orang-orang yang berbuat pelanggaran dan berurusan dengan orang-orang yang tak berguna, lalu masih ingin hati anda bersama Allah selalu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi berkata: “ Tiga sifat, barang siapa menyandangnya, sungguh telah sempurna imannya: apabila dalam keadaan redha, tidak menyebabkannya terseret ke dalam kebatilan; apabila dalam keadaan marah, tidak menyebabkannya keluar dari kebenaran; dan apabila memiliki kemampuan, tidak menyebabkannya mengambil sesuatu yang bukan haknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim Bin Ad-Ham (rahimahullah) berkata: “Para wali Allah selalu berpesan kepadaku apabila aku sedang bersama ahli dunia, hendaklah aku menasihati mereka dengan empat hal: “Barang siapa banyak berbicara, tidak akan merasakan kelazatan beribadah. Barangsiapa banyak tidurnya, takkan menemukan keberkahan dalam usianya. Barang siapa mengharapkan keredhaan kebanyakkan manusia, jangan berharap akan memperoleh keredhaan Allah. Dan barang siapa banyak bicara tentang apa yang bukan urusannya sendiri atau menggunjingkan orang lain, takkan keluar dari dunia ini dalam keadaan menyandang keislaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepada Hâtim Al-Ashamm: “ Dari mana anda makan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dari khazanah Allah,” jawab Hâtim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apakah dilimpahkan atas anda roti dari langit ?” tanya orang itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya bumi ini bukan milik-Nya, pasti akan dilimpahkan-Nya dari langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda hanya pandai mengucapkan kata-kata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah yang turun dari langit (yakni untuk para nabi) tidak lain adalah kata-kata juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku tidak sanggup berdebat dengan anda,” kata orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kerana kebatilan tidak akan berjalan seiring dengan kebenaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah berkata Ibrahim Al-Khawwâs : “Ilmu itu semuanya tercakup di dalamdua kalimat: “Jangan membebani diri untuk memperoleh sesuatu yang memang telah dijaminkan sepenuhnya untuk anda (yakni rezeki), dan jangan mengabaikan apa yang telah dituntut dari anda (yakni untuk dikerjakan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl bin Abdullah Ash-Shufi berkata: :Barangsiapa hatinya bersih dari kekeruhan, penuh kearifan dengan pengalaman, dan telah sama baginya antara emas dan loyang, nescaya tak lagi membutuhkan sesuatu apa pun dari manusia selainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Sariyy As-Saqathi : “ Barangsiapa mengenal Allah, akan merasakan hidup (yang sebenarnya).Barangsiapa mencintai dunia, akan kehilangan akal. Adapun orang yang berakal, akan selalu berkelana siang dan malam tanpa ada guna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abu Sulaiman Al-Dârâni : “Apabila nafsu manusia telah terbiasa menghindar dari dosa-dosa, roh mereka akan berkelana di alam malakut yang tinggi,dan kembali lagi kepada mereka dengan membawa berbagai hikmah yang indah-indah, tanpa harus diajarkan kepadanya oleh ilmuwan mana pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al-Junaid” :Kami tidak memperoleh ilmu tasawuf dari kata si anu. Tapi kami memperolehnya dari menahan lapar, meninggalkan dunia dan memutuskan hubugan dengan apa yang hanya berupa kebiasaan dan kegemaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dari kalangan sufi ditanya tentang apa itu tasawuf. Ia menjawab, “Itu adalah keluarnya seseorang dari setiap perilaku buruk, dan masuknya ia ke dalam setiap perilaku yang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh AbdulKadir Al-Jailani (r.a) berkata : “Barangsiapa benar-benar mengetahui apa yang dicari, ringanlah baginya segala pengorbanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata beliau lagi: “Jadilah engkau, ketika bersama Al-Haqq (Allah  Swt), seolah-olah tidak ada seorang pun makhluk, dan jadilah, ketika sedang bersama makhluk, seolah-olah engkau tak memiliki nafsu terhadap apa pun. Kerana jika engkau bersama Al- Haqq seolah-olah tak ada seorang pun makhluk, nescaya engkau akan ‘menemukan’ dan ‘mengenal’ dan dirimu pun ‘sirna’ (fana) dari segalanya. Dan jika engkau ketika bersama makhluk, seolah-olah tak memiliki nafsu apa pun, nescaya dirimu akan menjadi penuh keadilan dan ketakwaan dan terhindar dari segala beban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Al-Hasan Al-Syâdzili r.a. berkata: “Orang kecintaanku berpesan kepadaku: “Janganlah melangkahkan kedua kakimu kecuali ke tempat di mana kau harapkan dapat menjumpai pahala Allah di sana. Janganlah duduk di mana pun kecuali di suatu tempat di mana engkau akan merasa aman dari pengaruh maksiat kepada Allah. Dan janganlah bersahabat kecuali dengan seseorang yang bisa membimbingmu kepada Allah, atau kepada perintah Allah. Namun sungguh sedikit sekali orang semacam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan katanya lagi: “Barang siapa mengaku dirinya mengalami suatu hal (keadaan, kedudukan) bersama Allah, tapi tampak darinya salah satu di antara lima sifat tertentu, maka ia adalah pembohong besar, atau hilang akalnya. Kelima sifat itu adalah: (1) berpura-pura (bersikap riya’) ketika  melaksanakan ketaatan kepada Allah; (2) melepaskan anggota-anggota tubuhnya terlibatd alam kemaksiatan  kepada Allah; (3) serakah terhadap milik makhluk Allah yang lain; (4) gemar memfitnah dan mengumpat orang-orang yang taat kepada Allah; (5) tidak menaruh rasa hormat terhadap kaum Muslim sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad (yang dikenal dengan nama Syaikh Zarruq r.a.) berkata; “Pokok-pokok ‘jalan’ para sufi ada lima: (1) bertakwa kepada Allah dalam keadaan sendirian mahupun ketika bersama orang lain. (2) mengikuti sunnah Nabi Saw., dalam perkataan atau perbuatan. (3) berpaling dari manusia ketika datang maupun pergi. (4) rela dan lapang dada sepenuhnya, terhadap apa yang diberikan Allah,s edikit maupun banyak. (5) kembali kepada Allah, dalam keadaan suka dan duka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Semoga Allah berkenan meredhai para tokoh itu semuanya, dan menjadikan saya dan kalian semua termasuk dari golongan mereka itu dengan kurnia-Nya, Amin!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan petunjuk kepada kita. Sungguh, tiada kita akan beroleh petunjuk ,sekiranya Allah tidak berkenan memberikan petunjuk-Nya kepada kita. Telah datang utusan-utusan Tuhan kita dengan membawa kebenaran. Apa saja rahmat yang Allah bukakan pintunya untuk manusia, tak seorang pun mampu menahannya, dan apa saja yang Allah cegah, tak seorang pun sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa semua yang telah saya wasiatkan kepada anda, telah pula saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan segenap rekan-rekan dan sahabat-sahabat saya khususnya, serta kepada siapa saja yang sampai kepadanya wasiat ini, di antara saudara-saudara kita kaum Muslimin pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salawat Allah dan salam-Nya semoga tercurahkan atas Nabi kita Muhammas Saw. Beserta keluarga dan para sahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Keatas Seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikh Di Kemaskini 05/01/2002 15:38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebarang pertanyaan sila hubungi:&lt;br /&gt;Hawi Al-Khairaat (HAK)&lt;br /&gt;Email: hak@alhawi.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-76618648916807075?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/76618648916807075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=76618648916807075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/76618648916807075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/76618648916807075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/wasiat-imam-haddad.html' title='Wasiat Imam Haddad'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-271584477772244553</id><published>2008-09-02T14:15:00.003+07:00</published><updated>2008-09-03T09:46:10.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penjelasan'/><title type='text'>Ratib Al-Haddad</title><content type='html'>الرَاتِب الشَّهِير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratib Al-Haddad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Susunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratib Al-Haddad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W.  Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الراتب الشهير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;للحبيب عبد الله بن علوي الحداد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratib Al Haddad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم - الفاتحة- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.               بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.                  Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.:  “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ  وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.                  Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.         Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain".  Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ  قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ  تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surah 2: al-Baqarah  Ayat 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.  (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.                  Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu  (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.                  Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ.   (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.                  Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda:  Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.                  Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.                  Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan-Mu.    (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.              Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.              Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.              Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.            (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.              Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah.             (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar.  Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.              Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.              Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami.      (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (7X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.              Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam . (7X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ  إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.              Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.              Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka menggangu.   (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. يـَا عَلِيُّ   يـَا كَبِيْرُ      يـَا  عَلِيْمُ  يـَا قَدِيْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ     يـَا لَطِيْفُ  يـَا خَبِيْرُ.    (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.              Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui            (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.              Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya.      (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.              Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan.     (4X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah keampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X)          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.              Tiada Tuhan Melainkan Allah  (50X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.              Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta'ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.                   بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ.  (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya.  Surah Al-Ikhlas (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.                            بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah Al-Falaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.                            بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ،  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”.     Surah An-Nas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.                                          اَلْفَاتِحَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.              Bacalah Al-fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali Ba’alawi, dan kepada asal-usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga-moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.                                          اَلْفَاتِحَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.              Bacalah al-fatihah kepada roh-roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.                                          اَلْفَاتِحَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.              Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad, Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal-usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.                                          اَلْفَاتِحَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.              Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampuni mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. (ويدعو القارئ):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.              Berdoalah disini apa yang di hajati. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi-Nya atas penambahan nikmat-Nya kepada kami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kami dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang  Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ.    (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.              Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keredhaan dan syurga-Mu; dan kami memohon perlindungan-Mu dari kemarahan-Mu dan api neraka.  (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انتهى الراتب الشهير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat Ratib Al-Haddad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] “Syarh Ratib Al-Haddad” – komentari, pembicaraan dan hujah Ratib Al-Haddad yang teliti bagi setiap ayat di dalam Ratib Haddad tulisan Al-Habib Alawi bin Ahmad bin Hassan bin Abdullah Al-Haddad, dalam bahasa Arab yang dicetak oleh Al-Habib Ali bin Essa bin Abdulkader Al-Haddad di Singapura dan di Maqam Imam Al-Haddad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-271584477772244553?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/271584477772244553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=271584477772244553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/271584477772244553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/271584477772244553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/ratib-al-haddad.html' title='Ratib Al-Haddad'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-8498691123688760983</id><published>2008-09-02T14:14:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T09:44:21.653+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Kelebihan Zikir Kepada Allah</title><content type='html'>Kelebihan Zikir Kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Yang Maha Besar selalu mengingatkan kita di dalam kitab-Nya Al-Quran Al-Karim supaya berzikirillah seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bahagian yang panjang di malam hari.”  Surah 76: Al Insan, Ayat 25 &amp; 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”    Surah 7: Al A’raf,  Ayat 205&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Surah 3: Al Imran Ayat 191&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Aku lah Allah, tidak ada Tuhan selainKu, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.”   Surah 20 Ta Ha Ayat 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” Surah 33: Al Ahzab Ayat 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. Apabila orang ramai yang hadir dalam majlis tersebut beredar, para malikat naik ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah s.w.t bertanya para malaikat meskipun Allah mengetahui pergerakan mereka:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana kamu datang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami datang dari tempat hamba-hambaMu di dunia.  Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta berdoa memohon dari-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah s.w.t berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah yang mereka pohonkan.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Malaikat menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka memohon Syurga dari-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka pernah melihat Syurga-Ku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Malaikat menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum, wahai Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Syurga-Ku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat berkata lagi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka juga memohon daripada-Mu perlindungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka pohon perlindungan-Ku dari apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Neraka-Mu, wahai tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat menjawab:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Neraka-Ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat terus berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka juga memohon keampunan-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka pohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka pohonkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat berkata lagi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.”&lt;br /&gt;www.alhawi.net/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-8498691123688760983?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/8498691123688760983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=8498691123688760983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8498691123688760983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8498691123688760983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/kelebihan-zikir-kepada-allah.html' title='Kelebihan Zikir Kepada Allah'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-656540773491378828</id><published>2008-09-02T12:00:00.002+07:00</published><updated>2008-09-03T09:43:16.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Nasihat Mulia kepada Fatimah</title><content type='html'>Suatu hari RasuluLlah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah RA. Setiba di kediaman putri kesayangannya tersebut RasuluLlah SAW berucap salam kemudian masuk. Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling syair (Gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. Seketika itu RasuluLlah SAW bertanya , “Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis ? Semoga Allah SWT tidak menyebabkan air matamu berderai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Fatimah “Wahai RasuluLlah, penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu duduklah RasuluLlah SAW di sisi Fatimah. Kemudian Fatimah melanjutkan, “Duhai Ayahnda, sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali suamiku mencarikan seorang jariyah (hamba perempuan) untuk membantu ananda menggiling gandum dan menyelesaikan pekerjaan rumah “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bangkitlah RasuluLlah SAW mendekati penggilingan itu. Dengan tangannya beliau mengambil sejumput syair kemudian diletakkannya di penggilingan seraya membaca basmalah. Ajaib, dengan ijin Allah penggilingan tersebut berputar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penggilingan itu berputar, RasuluLlah SAW bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa, sehingga habislah butir-butir syair itu tergiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”. Maka penggilingan itupun berhenti berputar. Lalu dengan izin Allah SWT penggilingan itu berkata-kata dalam bahasa manusia, “ Yaa RasuluLlah SAW , Demi Allah yang telah menjadikan Tuan kebenaran sebagai nabi dan rasul-Nya. Kalaulah tuan menyuruh hamba menggiling syair dari timur hingga ke barat niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT, ‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah para malaikat yang kasar lagi keras yang tidak mendurhakai Allah akan apa yang diperintahkan dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan- Nya’. Maka hamba takut ya RasuluLlah jika kelak hamba menjadi batu dalam neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bersabdalah RasuluLlah SAW, “Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-zahra di dalam surga”. Maka bergembiralah batu penggilingan itu dan kemudian diamlah ia. Lalu RasuluLlah SAW bersabda kepada Fatimah, “Jikalau Allah SWT menghendaki niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya beberapa derajad untukmu. Wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajad.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian RasuluLlah SAW meneruskan nasihatnya, “Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menggiling gandum untuk suaminya, Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit. Wanita yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya serta mencuci pakaian mereka Allah SWT mencatat sebagai orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tertangga-tetanggan ya, Allah SAW akan menghalanginya dari meminum air telaga kautsar di hari kiyamat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RasuluLlah SAW kembali meneruskan, “Wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridaan suami terhadap isterinya. Jika suamimu tidak ridha, maka aku tidak akan mendoakan kamu. Tidak kah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah SWT, dan kemarahannya adalah kemarahan Allah SWT”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apabila wanita mengandung janin, maka beristighfarlah para malaikat dan Allah SWT mencatat tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapus seribu kejahatannya. Apabila ia sakit hendak melahirkan, maka Allah SWT mencatat pahala orang – orang yang berjihad. Apabila ia melahirkan maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya ketika ibunya melahirkannya. Apabila ia meninggal, maka tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun. Kelak akan didapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga. Dan Allah SWT mengaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristighfarlah seribu malaikat untuknya di hari kiyamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati serta ikhlas dan niat yang benar, maka Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya. Dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut di tubuhnya seribu kebaikan. Wanita yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah SWT memandangnya dengan pandangan rahmat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Fatimah, wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati, berserulah malaikat untuknya, “teruskanlah amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu dari dosa yang lalu dan dosa yang akan datang. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Fatimah wanita yang megoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, Allah SWT memberinya minuman dari sungai-sungai surga, Allah SWT meringankan sakaratulmautnya dan kuburnya akan menjadi taman dari taman-taman surga. Allah SWT aka menyelamatkannya dari api neraka, selamat dari lilitan siratal mustaqim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://manakib. wordpress. com/category/ artikel-sufi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-656540773491378828?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/656540773491378828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=656540773491378828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/656540773491378828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/656540773491378828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/nasihat-mulia-kepada-fatimah.html' title='Nasihat Mulia kepada Fatimah'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-5379670755197045650</id><published>2008-09-02T09:33:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:46:24.152+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Mau Tanya Sama Imam Ghozalli?</title><content type='html'>Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan&lt;br /&gt;murid-muridnya lalu beliau bertanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat&lt;br /&gt;dengan diri kita di dunia ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid 1 = ” Orang tua “&lt;br /&gt;Murid 2 = ” Guru “&lt;br /&gt;Murid 3 = ” Teman “&lt;br /&gt;Murid 4 = ” Kaum kerabat “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi&lt;br /&gt;yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab&lt;br /&gt;itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti&lt;br /&gt;akan mati ( Surah Ali-Imran :185)….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di&lt;br /&gt;dunia ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid 1 = ” Negeri Cina “&lt;br /&gt;Murid 2 = ” Bulan “&lt;br /&gt;Murid 3 = ” Matahari “&lt;br /&gt;Murid 4 = ” Bintang-bintang “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi&lt;br /&gt;yang paling benar adalah MASA LALU.&lt;br /&gt;Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap&lt;br /&gt;kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari&lt;br /&gt;esok dan hari-hari yang akan datang dengan&lt;br /&gt;perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar di dunia&lt;br /&gt;ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid 1 = ” Gunung “&lt;br /&gt;Murid 2 = ” Matahari “&lt;br /&gt;Murid 3 = ” Bumi “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi&lt;br /&gt;yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al&lt;br /&gt;A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu&lt;br /&gt;kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke&lt;br /&gt;neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Apa yang palin berat didunia “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid 1 = ” Baja “&lt;br /&gt;Murid 2 = ” Besi “&lt;br /&gt;Murid 3 = ” Gajah “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang&lt;br /&gt;paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah&lt;br /&gt;Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang,&lt;br /&gt;gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika&lt;br /&gt;Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah&lt;br /&gt;(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan&lt;br /&gt;sombongnya berebut-rebut menyanggupi&lt;br /&gt;permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia&lt;br /&gt;masuk ke neraka karena gagal memegang&lt;br /&gt;amanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia&lt;br /&gt;ini ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid 1 = ” Kapas”&lt;br /&gt;Murid 2 = ” Angin “&lt;br /&gt;Murid 3 = ” Debu “&lt;br /&gt;Murid 4 = ” Daun-daun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar,&lt;br /&gt;tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah&lt;br /&gt;MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan&lt;br /&gt;kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali&lt;br /&gt;didunia ini “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid- Murid dengan serentak menjawab = “&lt;br /&gt;Pedang “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam&lt;br /&gt;sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena&lt;br /&gt;melalui lidah, manusia dengan mudahnya&lt;br /&gt;menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya&lt;br /&gt;sendiri “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://manakib. wordpress. com/2007/ 11/01/pertanyaan -imam-al- gazali/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-5379670755197045650?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/5379670755197045650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=5379670755197045650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5379670755197045650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5379670755197045650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/mau-tanya-sama-imam-ghozalli.html' title='Mau Tanya Sama Imam Ghozalli?'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4637338872272124431</id><published>2008-09-02T09:30:00.002+07:00</published><updated>2008-09-03T09:35:56.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sahabat Rasul Saw'/><title type='text'>Zaid Bin Tsabit</title><content type='html'>Di usia 13 tahun, Zaid Bin Tsabit datang menemui Rasulullah Muhammad SAW. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 13 tahun, Zaid Bin Tsabit datang menemui Rasulullah Muhammad SAW. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Tanpa rasa takut dan dengan penuh percaya diri pemuda kecil itu memohon kepada rasulullah agar diijinkan ikut berperang. “Saya bersedia syahid untuk anda wahai rasulullah. Ijinkan saya pergi berjihad bersama anda untuk memerangi musuh-musuh Allah, dibawah panji-panji anda,” ucapnya dengan tegas. Rasulullah tertegun mendengar permintaan itu. Dengan penuh rasa haru, gembira dan takjub ia menepuk-nepuk bahu Zaid. Sayangnya, rasulullah tidak bisa memenuhi permintaan itu. Zaid masih terlalu muda untuk ikut berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid pulang dengan rasa kecewa. Ia sedih karena tak diijinkan ikut berperang. Tapi kecintaannya yang tinggi terhadap islam tidak pupus. Dengan kecerdasannya, ia memikirkan hal lain yang mungkin dilakukan tanpa terhalang usia. Dibantu oleh sang ibu, Nuwar Binti Malik, ia mengajukan permohonan baru untuk ikut berjuang dijalan Allah. Sang ibu pergi menghadap rasulullah, menyampaikan kelebihan Zaid yang hapal tujuh belas surah dengan bacaan yang baik dan benar, serta mampu membaca dan menulis dengan bahasa arab dengan tulisan yang indah dan bacaan yang lancar. Lalu Rasulullah meminta Zaid mempraktekan apa yang dikatakan ibunya. Rasulullah kagum, ternyata kemampuan Zaid lebih bagus dari yang disampaikan ibunya. Rasulullah meminta Zaid belajar bahasa Ibrani, bahasa orang Yahudi agar mereka tidak mudah menipu rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar saja Zaid mampu menguasai bahasa itu. Setiap kali rasulullah mendapat surat atau akan membalas surat kepada orang Yahudi, maka beliau meminta Zaid melakukannya. Lalu rasulullah juga meminta Zaid belajar bahasa Suryani, ternyata Zaid mampu melakukan. Di usia yang masih muda, Zaid sudah menjadi orang kepercayaan rasulullah untuk menjadi sekretaris pribadi beliau. Tidak hanya itu. Karena kemampuannya membaca dan menghapal Al Qur’an, rasulullah juga mempercayakan Zaid untuk selalu menuliskan wahyu yang turun kepada rasulullah. Setiap kali wahyu turun, rasulullah memanggil Zaid, mendiktekan, dan meminta Zaid menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kedekatannya dengan Al Qur’an, setelah rasulullah wafat, Zaid menjadi rujukan utama bila ada yang ingin bertanya tentang Al Qur’an. Di masa Abu Bakar Siddiq menjadi khalifah, Zaid menjadi ketua kelompok yang bertugas menghimpun Al Qur’an. Dan dimasa pemerintahan Ustman Bin Affan, ia menjadi ketua tim penyusun mushaf Al Qur’an. Karena kedalaman pengetahuannya akan Al Qur’an, ia diangkat menjadi penasehat umat islam dimasanya. Ia menjadi tempat bertanya bila ada masalah yang terkait dengan hukum islam. Terutama masalah warisan, dimasa itu hanya Zaid yang mahir membagi warisan sesuai aturan islam. Karena kemampuan itu, saat Umar Bin Khatab menjadi khalifah, Umar pernah berfatwa, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Al Qur’an, datanglah kepada Zaid Bin Tsabit….,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah menjadi ulama besar, namun Zaid tetap zuhud dan tawadhu. Suatu hari saat ia sedang mengendarai seekor hewan, ia kesulitan mengendalikan hewan itu. Saat itu Ibnu Abbas melintas didepannya. Ia membantu Zaid mengendalikan hewannya. Lalu Zaid berkata, “Biarkan saja hewan itu wahai anak paman rasulullah,” katanya. Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan oleh rasulullah menghormati ulama kami.” Lalu Zaid menjawab, “kalau begitu berikan tanganmu padaku.” Ibnu Abbas memberikan tangannya, Zaid menciumnya dan berkata, “Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW untuk menghorrnati keluarga nabi kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran nama Zaid Bin Tsabit dan kedalaman ilmu yang dimilikinya menjadi sebuah kehilangan besar ketika tiba waktunya ia pergi menghadap Illahi Robbi. Kaum muslimin bersedih karena mereka kehilangan seseorang yang dihatinya bersarang ilmu Al Qur’an. Bahkan Abu Hurairah mengungkapkannya sebagai kepergian Samudera Ilmu. Begitulah Zaid Bin Tsabit dengan keluasan ilmu Al Qur’an yang ia miliki. Semoga Allah merahmati dan memberi beliau tempat yang layak disisiNYA. Amin. (end)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majalah Saksi - ummigroup.co. id]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-4637338872272124431?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/4637338872272124431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=4637338872272124431' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4637338872272124431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/4637338872272124431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/zaid-bin-tsabit.html' title='Zaid Bin Tsabit'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-7612349204996578739</id><published>2008-09-02T09:26:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:44:21.653+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Larangan Puasa Wishal (Bersambung)</title><content type='html'>Larangan puasa wishal (sambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:&lt;br /&gt;      Bahwa Nabi saw. melarang puasa sambung (terus-menerus tanpa berbuka). Para sahabat bertanya: Bukankah baginda sendiri melakukan puasa wishal? Nabi saw. menjawab: Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Aku diberi makan dan minum. (Shahih Muslim No.1844)&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;      Rasulullah saw. melarang puasa sambung. Kemudian salah seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah baginda sendiri melakukan puasa wishal? Beliau bersabda: Siapa di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya di malam hari aku diberi makan dan minum oleh Tuhanku. Ketika mereka enggan menghentikan puasa sambung, beliau sengaja membiarkannya sehari sampai beberapa hari. Kemudian pada hari berikutnya, mereka melihat bulan (tanda masuk bulan Ramadan). Rasulullah saw. lantas bersabda: Kalau bulan itu tertunda datangnya, niscaya akan aku tambah lagi berpuasa sambung buat kalian sebagai pelajaran bagi mereka, karena mereka enggan berhenti puasa sambung. (Shahih Muslim No.1846)&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:&lt;br /&gt;      Rasulullah saw. pernah mengerjakan salat di bulan Ramadan. Kemudian aku datang ikut salat di samping beliau. Kemudian datang lagi orang lain dan ikut pula mengerjakan di sampingku dan seterusnya, sampai kira-kira sebanyak sepuluh orang. Ketika Rasulullah saw. merasa akan keberadaan kami di belakangnya, beliau meringankan salat kemudian pulang ke rumah untuk melanjutkan salat yang masih tersisa. Pagi harinya aku tanyakan hal itu kepada beliau: Apakah semalam engkau sengaja memberikan pelajaran kepada kami? Beliau menjawab: Betul, itulah alasan yang membuat aku melakukan seperti itu. Anas berkata: Kemudian Rasulullah saw. melakukan puasa sambung. Hal itu terjadi di akhir bulan Ramadan. Mengetahui hal itu maka ada beberapa orang sahabat yang ikut berpuasa sambung. Rasulullah saw. kemudian bersabda: Apakah mereka mau ikut berpuasa sambung bersamaku? Sesungguhnya kalian tidak seperti aku. Demi Allah, seandainya bulan ini dipanjangkan untukku, niscaya aku akan terus berpuasa biar hal itu menjadi pelajaran bagi mereka yang keras kepala. (Shahih Muslim No.1848)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-7612349204996578739?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/7612349204996578739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=7612349204996578739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7612349204996578739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7612349204996578739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/larangan-puasa-wishal-bersambung.html' title='Larangan Puasa Wishal (Bersambung)'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-7513069643370176964</id><published>2008-09-02T09:25:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T09:45:23.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>Sohibbus Simtuddurror</title><content type='html'>Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.&lt;br /&gt;Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut) , pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipetik dari: Untaian Mutiara - Terjemahan Simtud Duror oleh Hb Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-7513069643370176964?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/7513069643370176964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=7513069643370176964' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7513069643370176964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/7513069643370176964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/sohibbus-simtuddurror.html' title='Sohibbus Simtuddurror'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-3230028911676007868</id><published>2008-09-02T09:23:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:45:23.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>Mutiara Kota Solo Yang Indah</title><content type='html'>Ass Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ulama yang khumul lagi wara`, pemuka dan sesepuh habaib yang dihormati, Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rahimahumullah telah kembali menemui Allah s.w.t. kelmarin 14 Syawwal 1427 H bersamaan 6 November 2006 dalam usia kira-kira 78 tahun. Habib Anis sewaktu hayatnya sentiasa mengabdikan dirinya untuk berdakwah menyebarkan ilmu dan menyeru umat kepada mencintai Junjungan Nabi s.a.w. Beliau menjalankan dakwahnya berdasarkan kepada ilmu dan amal taqwa, dengan menganjurkan dan mengadakan majlis-majlis ta’lim dan juga majlis-majlis mawlid, dalam rangka menumbuhkan mahabbah umat kepada Junjungan Nabi s.a.w. Selain berdakwah keliling kota, sehingga muridnya menjangkau puluhan ribu orang di merata-rata tempat. beliau memusatkan kegiatan dakwah dan ta’limnya di masjid yang didirikan oleh ayahanda beliau, al-Habib Alwi bin ‘Ali al-Habsyi, yang dikenali sebagai Masjid ar-Riyadh, Gurawan, Pasar Kliwon, Solo (Surakarta), Jawa&lt;br /&gt;Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majlis-majlis ilmu yang lebih dikenali sebagai rohah, dibacakan kitab-kitab ulama salafus sholeh terdahulu termasuklah kitab-kitab hadits seperti “Jami`ush Shohih” karya Imam al-Bukhari, bahkan pengajian kitab Imam al-Bukhari dijadikan sebagai wiridan di mana setiap tahun dalam bulan Rajab diadakan Khatmil Bukhari, iaitu khatam pengajian kitab “Jami` ash-Shohih” tersebut. Setiap malam Jumaat pula diadakan majlis mawlid dengan pembacaan kitab mawlid “Simthuth Durar” karya nenda beliau yang mulia al-Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi. Manakala setiap malam Jumaat Legi diadakan satu majlis taklim dan mawlid dalam skala besar dengan dihadiri ramai masyarakat awam dari pelbagai tempat yang terkenal dengan Pengajian Legian, di mana mawlid diperdengarkan dan tausyiah-tausyiah disampaikan kepada umat. Peringatan mawlid tahunan di bulan Rabi`ul Awwal dan haul Imam Ali al-Habsyi disambut secara besar-besaran yang dihadiri puluhan ribu umat dan&lt;br /&gt;dipenuhi berbagai acara ilmu dan amal taqwa. Sesungguhnya majlis para habaib tidak pernah sunyi dari ilmu dan tadzkirah yang membawa umat kepada ingatkan Allah, ingatkan Rasulullah dan ingatkan akhirat, yang disampaikan dengan penuh ramah - tamah dan bukannya marah-marah. Habib Anis terkenal bukan sahaja kerana ilmu dan amalnya, tetapi juga kerana akhlaknya yang tinggi, lemah lembut dan mulia. Air mukanya jernih, wajahnya berseri-seri dan sentiasa kelihatan ceria. Kebanyakan yang menghadiri majlis-majlis beliau adalah kalangan massa yang dhoif, dan kepada mereka-mereka ini Habib Anis memberikan perhatian yang khusus dan istimewa. Kemurahan hatinya kepada golongan ini sukar ditandingi menjadikan beliau dihormati dan disegani ramai. Sungguh tangan beliau sentiasa di atas dengan memberi, tidak sekali-kali beliau jadikan tangannya di bawah meminta-minta. Inilah antara ketinggian akhlak Habib Anis al-Habsyi rhm. Sungguh kemuliaannya bukanlah semata-mata&lt;br /&gt;faktor keturunannya yang umpama bintang bergemerlapan, tapi juga kerana ilmunya, taqwanya, waraknya dan akhlaknya yang mencontohi akhlak para leluhurnya terdahulu. Para leluhurnya yang terkenal dengan ketinggian akhlak mereka sehingga telah menawan hati segala rumpun Melayu rantau sini untuk memeluk agama Islam yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih dan pilu rasa hati, seorang demi seorang ulama kita kembali ke hadhrat Ilahi. Khuatir kita jika tiada pengganti mereka, yang meneruskan usaha mereka untuk menyeru kepada Allah dan rasulNya. Bermohon kita kepada Allah dengan sebenar-benar dan setulus-tulus permohonan, agar yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Kita sentiasa memerlukan bimbingan berkesinambungan daripada para ulama dan daie yang mukhlisin lagi berakhlak mulia, agar kejahilan dan keruntuhan akhlak tidak berleluasa. Hari ini selesailah permakaman beliau di Kota Solo di kompleks makam Masjid ar-Riyadh di sisi ayahandanya al-Habib Alwi bin Ali al-Habsyi. Kami ucapkan selamat jalan kepada Habib yang dikasihi. Mudah-mudahan musibah ketidaksampaian kami menziarahinya sebelum kewafatannya diberi ganjaran oleh Allah dengan kesudianNya menghimpunkan kami besertanya di syurga penuh keni’matan di samping nendanya yang mulia Junjungan Nabi s.a.w.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, ya Habibna&lt;br /&gt;Kuharap nanti di sana kita kan bisa kumpul semula&lt;br /&gt;Di tempat lebih santai, lebih nyaman, lebih mulia&lt;br /&gt;Berbanding dunia yang penuh pancaroba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Habibna,&lt;br /&gt;Pemergianmu menyayat hati setiap muhibbin merasa&lt;br /&gt;Pemergianmu dalam suasana kami masih perlukan bapa&lt;br /&gt;Yang nasihatnya menusuk sanubari dan masuk kepala&lt;br /&gt;Tapi tiada siapa dapat menolak ketentuan Yang Maha Esa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Habibna&lt;br /&gt;Musibah ini kami terima dengan redha&lt;br /&gt;Semoga musibah kami atas kehilanganmu diberi pahala&lt;br /&gt;Diberi ganjaran apa yang kami damba&lt;br /&gt;Berkumpul bersamamu di Jannatul Firdaus al-A’la&lt;br /&gt;Bi jiwari an-Nabiyyil Mukhtar al- Musthofa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Habibna,&lt;br /&gt;Pemergianmu kami iringi doa&lt;br /&gt;Agar kasih sayang Allah buatmu sepanjang masa&lt;br /&gt;Dicurahkan persemayamanmu hujan rahmat tiap ketika&lt;br /&gt;Ditinggikan darjat serta diberi sinar cahaya&lt;br /&gt;Kesunyianmu dihilangkan dan kebajikanmu diganda&lt;br /&gt;Bagi kami dan bagimu perlindungan Allah sentiasa&lt;br /&gt;Diselubungi kedamaian penjagaanNya yang sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, ya Habibna&lt;br /&gt;Damailah dikau di sana&lt;br /&gt;Jangan lupakan kami para muhibbin yang masih di dunia&lt;br /&gt;Doakan agar kami menuruti ajaran nendamu yang mulia&lt;br /&gt;Biar kami mati membawa iman, ketaatan dan kasih cinta&lt;br /&gt;Pada Allah, pada Rasul, pada sholihin, pada agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, ya Habibna&lt;br /&gt;Pemergianmu kuiringkan doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wasallam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-3230028911676007868?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/3230028911676007868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=3230028911676007868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3230028911676007868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/3230028911676007868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/mutiara-kota-solo-yang-indah.html' title='Mutiara Kota Solo Yang Indah'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-9056282387710383126</id><published>2008-09-02T09:19:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T09:36:46.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekilas Guru'/><title type='text'>HABIB MUNZIR AL-MUSAWA</title><content type='html'>Berikut ini adalah biografi dari HABIB MUNZIR AL-MUSAWA yang dijelaskan oleh beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah saya bernama Fuad Abdurrahman Almusawa, yang lahir di Palembang, Sumatera selatan, dibesarkan di Makkah Al mukarramah, dan kemudian mengambil gelar sarjana di Newyork University, di bidang Jurnalistik, yang kemudian kembali ke Indonesia dan berkecimpung di bidang jurnalis, sebagai wartawan luar negeri, di harian Berita Yudha, yang kemudian di harian Berita Buana, beliau menjadi wartawan luar negeri selama kurang lebih empat puluh tahun, pada tahun 1996 beliau wafat dan dimakamkan di Cipanas cianjur jawa barat."&lt;br /&gt;Nama saya Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa, saya dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat, pada hari jum'at 23 februari 1973, bertepatan 19 Muharram 1393H, setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, saya mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma'had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bhs.Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur, lalu memperdalam lagi Ilmu Syari?ah Islamiyah di Ma;had Al Khairat, Bekasi Timur, kemudian saya meneruskan untuk lebih mendalami Syari;ah ke Ma;had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman, selama empat tahun, disana saya mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur;an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.&lt;br /&gt;Saya kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah, duduk dan bercengkerama dg mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah saya membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, saya terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, saya tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kpd Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dg kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan&lt;br /&gt;kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Kini majlis taklim saya yang dulu hanya dihadiri enam orang, sudah berjumlah sekitar tiga ribu hadirin, saya sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta pusat, saya juga sudah membuka majlis di seputar pulau jawa, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jawa barat :&lt;br /&gt;Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.&lt;br /&gt;Jawa tengah :&lt;br /&gt;Slawi Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang,&lt;br /&gt;Jawa timur :&lt;br /&gt;Mojokerto, Malang, Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo.&lt;br /&gt;Bali :&lt;br /&gt;Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem.&lt;br /&gt;NTB&lt;br /&gt;Mataram Ampenan&lt;br /&gt;Luar Negeri :&lt;br /&gt;Singapura, Johor, Kualalumpur.&lt;br /&gt;namun kini kesemua kunjungan keluar jakarta telah saya cukupkan setahun sekali dengan perintah Guru saya.&lt;br /&gt;Dan saya pun telah menjadi Narasumber di beberapa stasion TV swasta, yaitu di Indosiar untuk acara Embun Pagi tayangan 27 menit, di ANTV untuk acara Mutiara Pagi tayangan 27menit, RCTI, TPI, Trans TV dan La TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya membina puluhan majelis di jakarta, yg kesemuanya mendapat giliran jadwal kunjungan sebulan sekali, selain Majelis Induk di Masjid Almunawar Pancoran jakarta selatan yg diadakan setiap senin malam dan setiap malam jumat di kediaman saya, maka padatlah jadwal saya setiap malamnya sebulan penuh, namun tuntutan dari wilayah wilayah baru terus mendesak saya, maka saya terus berusaha memberi kesempatan kunjungan walaupun dg keterbatasan waktu.&lt;br /&gt;Email pribadi saya : munziralmusawa@ yahoo.com&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas dari Biografi saya, untuk memperjelas gerakan dakwah yang saya jalankan, semoga limpahan rahmat Allah swt bagi mereka yang berminat menerima seruan seruan Kelembutan Allah swt, Amin Allahumma Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Biografi ini saya buat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat Saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadim Majelis Rasulullah saw&lt;br /&gt;(Munzir Almusawa)&lt;br /&gt;silsilah/ nasab habib munzir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-9056282387710383126?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/9056282387710383126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=9056282387710383126' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/9056282387710383126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/9056282387710383126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/habib-munzir-al-musawa.html' title='HABIB MUNZIR AL-MUSAWA'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-5705567006573704839</id><published>2008-09-01T10:34:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:44:21.653+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Cinta Nabi saw. Adalah bekal-ku</title><content type='html'>Cinta Nabi saw. Adalah bekal-ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah terdengar hingga zaman ini seorang Raja yang memimpin setenar, seindah, dan sesukses baginda Muhammad. Tiada pula manusia yang berakhlak seindah dan seluhur Muhammad, tiada  manusia yang menandingi budi pekerti agung yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi, dialah manusia terindah, manusia terelok, manusia yang terbaik yang diciptakan Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada shohibul maqom, shohibus syafa’ah baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga sahabat dan para ahlul baitnya.&lt;br /&gt;Mungkin sering timbul pertanyaan siapakah Muhammad, Mengapa ia diturunkan, dan bukankah saat sebelum ia diturunkan sudah ada agama Ibrahim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Muhammad?&lt;br /&gt;Tahukah apa yang diciptakan Allah sebelum segala sesuatu ini diciptakan?&lt;br /&gt;Jawabannya bukanlah malaikat, bukanlah jin, dan bukanlah manusia. Lalu apa ?&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abdurrazzaaq :&lt;br /&gt;Bahwasanya Jaabir bin Abdullah al-Anshaari r.a bertanya :”Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang diciptakan Allah sebelum segalanya yang lain?”&lt;br /&gt;Jawab Rasulullah:” Wahai Jaabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan Nur Nabimu: Muhammad, dari nur-Nya sebelum sesuatu yang lain”. &lt;br /&gt;Inilah sebuah bukti betapa mulianya manusia yang tiada lisannya bersuara kecuali untuk mengumandangkan kebesaran Illahi, Tiada setiap langkahnya berpindah kecuali untuk menegakkan agama Allah, Tiada keringat dan semangatnya tumpah kecuali untuk jihad fisabilillah. Sungguh tiada yang mampu menyamai dan menggantikan beliau, Subhanallah. “Ya Rahman, anugerahkanlah rahmat dan kesejahteraan serta berkah kepada cahaya (Nabi saw) yang bersinar di alam semesta”. Bukankah telah kalian banyak dengar riwayat kehebatan yang terjadi dikala penegakan islam diantara bayang kebodohan umat yang selalu memusuhi perjuangan Nabi Muhammad Saw. Apakah kalian mampu bertempur, berjuang dimana telah kalian ketahui jumlah musuh 3 kali lipat dari kalian. Itulah yang terjadi di zaman Nabi saw. Lihatlah perang Badr dimana musuh berkali-kali lipat serta bersenjata lengkap dari pasukan muslim yang hanya 313 orang, tapi apa yang terjadi pasukan muslimlah yang keluar sebagai pemenang. Mengapa bisa terjadi? Tahukah kalian disitu tegak seorang panglima terhebat sepanjang masa, Muhammad tegak berada di medan Badr, ketika perang itu terjadi Allah menurunkan pasukan malaikat yang berjumlah 50000 malaikat dan dipimpin oleh Jibril yang diturunkan untuk membantu kekasihNya mengalahkan kafir Qurais.&lt;br /&gt;Sekarang tahukah kalian siapa Muhammad itu? Dialah kecintaan, kekasih Allah dan juga kecintaan umatnya. Pernahkah kalian melihat manusia yang ketika ia berludah tiada pernah ludahnya itu mencapai bumi melainkan telah diperebutkan para sahabat, pernahkah kalian lihat seorang yang berwudhu tetapi tiada setetes air pun yang menyentuh bumi melainkan telah diperebutkan pula oleh para sahabat, apakah kalian pernah melihat pula melihat manusia yang wajahnya selalu bersinar mengalahkan keindahan bulan purnama. Dialah Muhammad, “Wahai Mushawwir, anugerahkanlah rahmat dan kesejahteraan serta berkah kepada Nabi saw yang wajahnya bersinar dengan cahaya”. Sungguh inilah Muhammad pria yang berperawakan tidak terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih. Inilah riwayat yang disampaikan Anas bin Malik r.a. Sekarang berpikirlah olehmu siapa manusia yang mengalahkan Yusuf a.s dan mukjizat para Nabi-Nabi ada padanya? Jawabnya adalah Muhammad saw, ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh al Bara bin ‘Azib r.a, “Aku tak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi”. Ada sebuah riwayat lagi yang disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib r.a, “Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw.” Dan kini apakah kalian lebih mengenal Muhammad saw, sang sohibus syafa’ah, dan apakah kalian selalu berpikir bahwa ibadah yang kalian lakukan sudah cukup untuk menolong kalian memasuki surga Allah SWT, lalu bagaimana jika ibadah yang kalian lakukan masih belum mencukupi untuk memasuki surga Allah yang Agung karena inilah cintailah Rasulmu, bangkitkanlah sunah-sunahnya, terangilah hati dan lingkunganmu dengan cahaya Rasul karena tiada satupun penolong di Yaumil qiyamah nanti kecuali syafa’at Muhammad saw, semoga kita bersama-sama berdiri di shaf terdepan dari orang-orang yang mendapat syafa’at baginda Muhammad saw. Sungguh tiada lagi kecintaan pada makhluk kecuali milik Muhammad.&lt;br /&gt;Ia saw, adalah seorang yang maksum yaitu seorang yang telah dijaga dari segala perbuatan dosa oleh Allah SWT, tapi ia selalu memohon ampunan, inilah tawadhu’ Rasulullah Saw, yang tiada makhluk di muka bumi ini mampu meniru tawadhu’ beliau. Sungguh inilah keajaiban penciptaan yang dibuat oleh Allah sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk  &lt;br /&gt;Mungkin bila kita urai tentang siapa Muhammad sampai usia kita habispun belum teruraikan seluruhnya&lt;br /&gt;”Wahai Wahhab anugerahkanlah rahmat dan kesejahteraan serta berkah kepada Nabi saw dan pautkanlah aku dengan hati Nabi saw dan para pemuka agama”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ia diturunkan ?&lt;br /&gt;Setelah diangkatnya Nabi Isa a.s , tiada seorang Nabipun yang diturunkan sehinga kebobrokan moral dan kebodohanpun merajalela, mereka terkena bisikan-bisikan syaitan yang menjerumuskan ke dalam lubang hitam kemaksiatan seperti penyembahan kepada berhala, ruh, matahari, bulan, dan banyak lagi. Di sinilah disaat kebodohan memuncak dan kebathilan menguasai perbuatan, Allah menurunkan seorang pembawa petunjuk, pembawa kabar gembira. Ia terlahir dari rahim siti Aminah yang mulia ayah beliau adalah Abdullah bin abdulmuttalib yang bijak dan berwibawa, kala senja ia hirup nafas pertamanya di tanah al-Haramain dan alam inipun bergemuruh dengan lahirnya shohibul maulud al- Musthafa Ahmad, dan Allah pun mengirim para bidadari surga untuk menyambut kelahiran shohibus syafa’ah yang diiringi As-sayyidah Maryam dan As-sayyidah Asiah yang tiada akan turun para bidadari ke bumi kecuali ketika lahirnya baginda Muhammad saw. fajarpun bersinar terang benderang saat ia terlahir ke dunia dan keajaibanpun bermunculan menyambutnya seperti, berhala yang ada di sekeliling Ka;bah pun roboh seluruhnya karena terlahirnya seorang Nabi yang akan membawa kepada cahaya tauhid dan diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf dari ibunya Syaffa’ r.a : “Pada saat Rasulullah saw dilahirkan oleh Aminah Ia kusambut dengan kedua telapak tanganku dan terdengar tangisnya yang pertama kali, lalu kudengar suara berkata ‘semoga rahmat Allah selalu bersama dirimu’ dan akupun menyaksikan cahaya terang benderang menerangi timur dan barat”. “Wahai Qabidh, anugerahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi saw. yang ajarannya berisikan amalan fardhu dan sunah”.&lt;br /&gt;Di sinilah terungkap mengapa ia diturunkan, bahwa sesungguhnya ia diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, pemberantas kebodohan dan penyeru tauhid serta penegak Islam.&lt;br /&gt;Bukankah saat ia diturunkan sudah ada agama Ibrahim?&lt;br /&gt;Memang benar sebelum ia diturunkan telah ada agama Ibrahim, tetapi ia diturunkan adalah untuk menyempurnakan agama yang dibawa para Nabi sebelum beliau Saw. Dialah Nabi yang membawa petunjuk ajaran dimana inilah satu-satunya ajaran yang diridhoi Allah swt yaitu Islam. Di dalam agama inilah seluruh agama yang dibawa para Nabi sebelum Muhammad disempurnakan. “Wahai Kabir anugerahkanlah rahmat dan kesejahteraan serta berkah kepada Nabi saw yang memuliakan agama Allah Yang Besar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita melakukan penelusuran dan membuat banyak pertanyaan tentang Nabi saw tiada akan cukup waktu yang kita miliki untuk menjawab kisah dan kehidupan baginda Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;Dengan segala kerendahan diri, puji serta syukur kita hanya teruntuk Tuhan yang satu, Tuhan Yang Agung, Tiada Tuhan Selain-Nya, Allah swt. serta shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita, suri tauladan kita, ya Habiballah al-Musthafa Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;Sungguh betapa indah dan betapa beruntungnya umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau hidup, umat yang ikut setiap jejak langkah beliau berjihad fi sabilillah di bawah panji la ilaha ilallah. Namun sebenarnya kita lebih baik karena kita umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau telah tiada berabad-abad lalu tetapi kita selalu mencintai dan merindukan Rasulullah saw. dan seharusnyalah bila kita mengaku mencintai dan merindukan beliau maka ikutilah sunnah- sunnah beliau tetapi tetap dahulukanlah yang wajib dan tahukah saudara yang sangat dirindukan al-Musthafa Ahmad, yaitu umatnya yang hidup setelah beliau tiada tetapi tetap pada tali Allah dan berpegang teguh padanya dan selalu mencintai Nabinya. Sesungguhnya Nabi saw. tidak akan puas, tidak akan bahagia, tidak akan senang jikalau seorang dari umat beliau masih berada dalam neraka. &lt;br /&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa indahnya dirimu, engkau suri tauladan yang baik.&lt;br /&gt;Wahai Rasulullah engkau adalah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan oleh Allah swt.&lt;br /&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa dinantikannya dirimu, hingga para Nabi sebelummu pun ingin menjadi umatmu.&lt;br /&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa dicintainya engkau, hinga saat engkau wafat tiada yang percaya bahkan sahabat ‘Umar berkata: “Tak seorangpun yang kudengar menyebut Rasulullah saw. wafat, melainkan ia akan kupancung dengan pedangku ini!”&lt;br /&gt;Wahai Rasulullah saw. sungguh diri ini, ruh ini dan seluruh umatmu umat muslim mencintai dan merindukanmu, maka berilah syafa’at kepada kami dihari akhirat nanti agar kami dapat berkumpul dengan engkau di surga Allah swt.&lt;br /&gt;Sungguh tiada kesenangan yang melebihi kesenangan disaat terlantunkan kalimat-kalimat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Sungguh tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan disaat teringat akan kabar gembira yang dijanjikan Allah swt dalam setiap ayat al-Qur’an.&lt;br /&gt;Sungguh tiada kesedihan melebihi kesedihan disaat terbaca kalimallah yang mengabarkan tentang kepedihan yang akan kau berikan kepada orang-orang yang lalai.&lt;br /&gt;Sungguh tiada ketakutan yang melebihi ketakutan akan azabMu yang pedih.&lt;br /&gt;Dan sungguh tiada ketenangan dan kedamaian yang tercipta layaknya saat terlantunkan lisan dan hati mengucap LA ILAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.&lt;br /&gt;Ya Allah semoga tulisan ini dapat menyegarkan hati umat Islam dan mengabarkan betapa mulianya manusia yang Kau ciptakan sebagai khataman nabiyyin. Semoga kami yang membaca tulisan ini Kau masukkan ke dalam golongan orang-orang yang Kau ampuni dosanya dan orang-orang yang mendapatkan syafa’at dari Baginda Nabi Muhammad saw.   &lt;br /&gt;Ya Allah Ya Rahman kumpulkanlah kami umat Muhammad bersama kekasihMU kekasih kami Muhammad bin ‘Abdillah.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Rohim dirikanlah kami pada shaf terdepan bersama manusia terindah habibana Muhammad di yaumil qiyamah nanti.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Wadud ikatlah kecintaan kami pada al-Musthafa Muhammad sebagai bukti nyata kecintaan kami padaMU.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Muhyi hidupkanlah kembali sunah-sunah NabiMu yang kini mulai terlibas kemerosotan Adab.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Mumit matikanlah hati kami dari hawa nafsu akan dunia dan tiupkanlah kerinduan kepadaMu dan kekasihMu Muhammad.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Quddus sucikanlah hati kami dari kemunafikan dan segala penyakit hati yang dapat menarik kami ke murkaMu.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Salam berilah kami kesejahteraan keberkahan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Mukmin anugerahilah kami keamanan dari murka dan azabMu, sungguh kami para pecinta al-Musthafa Muhammad&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Aziz Muliakanlah kami para muslim pecinta Muhammad di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Khalik ciptakanlah cahaya mahabbah rasul di hati setiap muslim.&lt;br /&gt;Amiin ya robbal ‘Alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai para rekan pemuda masihkah kini ada secercah kecintaan pada Nabimu, masihkah kalian mengingat sunah-sunah yang diwariskan pada umatnya, yaitu kalian pemuda muslim, masihkah ada jiwa-jiwa para ahli Badr di masa ini. Sungguh bila kalian cerna dan dalami agama Islam yang dibawa Saw, pastinya kalian akan mencintai Muhammad, mari ikrarkan dalam hati bahwa kekasihku Muhammad, idolaku Muhammad, dan tiada yang lain makhluk yamg kucinta melebihi kecintaanku kepada Muhammad. Syiarkanlah rasa mahabbah kepada Rasul saw ke seluruh penjuru untuk menegakkan kembali risalah-risalah yang ditinggalkan Rasul saw. Ajaklah teman, saudara dan para umat muslim sekitarmu untuk mengagungkan Muhammad habiballah dan perdengarkanlah qasidah berisi shalawat untuk menyuburkan pohon kecintaan kepada Muhammad saw. Hadirkanlah taman surga di rumah-rumahmu, di lingkunganmu. Apa itu taman surga? Taman surga yang telah dihadirkan di dunia salah satunya adalah majlis-majlis ta’lim maka hadirilah majlis itu apakah kalian tak mau menikmati surga, Allah telah memberi salah satu kenikmatan surga yaitu majlis ta’lim dimana di dalamnya diagungkan Allah SWT dan dimuliakannya kekasihnya Muhammad saw, ataukah kalian tidak menginginkan surga? Mari kita hidupkan lagi taman-taman surga yang mulai ditelan keasyikan televisi dan kenikmatan dunia yang sudah dipenuhi pancingan dan undangan kepada kemurkaan Allah SWT. Bukankah sebuah ketenangan sejati akan datang disaat dekat dengan Rabb yang menciptakanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sebuah keindahan yang tiada tergambarkan di atas canvas dan tiada tertuliskan di atas kertas jika dunia ini dipenuhi para pecinta Rasul saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;“Hasbunallah wa Niqmal wakiil” &lt;br /&gt;WALLAHUALAM BISHAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Akhir zaman ini telah banyak diperlihatkan bukti-bukti nyata kebesaran dan kekuasaan Allah akan makhluk-makhlukNya sebagai kabar peringatan akan kemuliaan Allah, yang dimana telah banyak manusia yang kufur nikmat, berhobikan maksiat, dan telah berani melakukan hal-hal yang pastinya akan mengundang kepada murka Allah SWT. Majlis-majlis Zikir maupun majlis ta’lim telah banyak ditinggalkan demi mendatangi kerumunan di panggung-panggung syetan ‘alaihi laknatullah. Terlihat betapa hebat azab kecil dunia yang di bentangkan oleh Allah, tahukah kalian 1 detik nanti mungkin rumah kalian akan rubuh ataukan tanah lapang akan terbelah dan gunung-gunung akan meletus saling menyahut…..tidak ada sulit bagi Allah, kehendakNya sungguh-sungguh adalah milikNya…Namun betapa mulianya Allah di saat kemaksiatan semakin banyak terhadap di hadapanNya tetapi Ia masih mencurahkan hujan kasih sayangNya kepada semua makhluk…Syukur kita terhatur ke haribaan Allah SWT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.imam Supriyanto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-5705567006573704839?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/5705567006573704839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=5705567006573704839' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5705567006573704839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/5705567006573704839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/cinta-nabi-saw-adalah-bekal-ku.html' title='Cinta Nabi saw. Adalah bekal-ku'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-1576140318510940844</id><published>2008-09-01T10:30:00.002+07:00</published><updated>2008-09-03T10:18:46.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah Saw seperti apa??'/><title type='text'>As-syamail-</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Castellar; 	panose-1:2 10 4 2 6 4 6 1 3 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:"Vineta BT"; 	mso-font-alt:"Courier New"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:decorative; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:135 0 0 0 27 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:8.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:18.0pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 	{margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:8.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:595.45pt 841.7pt; 	margin:28.1pt 42.5pt 82.8pt 42.5pt; 	mso-header-margin:35.3pt; 	mso-footer-margin:35.3pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1027"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" title="ISLAM___BISMBLACK"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 1;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 228px; top: -12px; width: 235px; height: 40px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1026" width="235" height="40" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:14;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:14;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:14;"  lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                          &lt;/span&gt;as-Syamail&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:10;"&gt;kepribadian dan Budi Pekerti Rasulullah saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:10;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;ad-Dhahhak as-Sulami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:11;"  lang="EN-US"&gt;(Imam at-Tirmidzi).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:10;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BENTUK TUBUH RASULULLAH SAW.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjkadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam &lt;i style=""&gt;usia enam puluh tahun&lt;/i&gt;. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:8;color:black;"   lang="EN-US"&gt;(diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi ‘Abdurrahman yang bersumber dari *Anas bin Malik r.a)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;*Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;*Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan). Karena kebanyakan riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin ‘Azib r.a)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin ‘Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr dan Abu Ja’far bin Muhammad bin al Husein, dari ‘Isa bin Yunus, dari ‘Umar bin ‘Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki-laki dari suku Syanu’ah*. Kulihat pula Nabi ‘Isa bin Maryan a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah ‘Urwah bin Mas’ud*, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Suku Syanu’ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*‘Urwah bin Mas’ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai’atur Ridlwan yang bersejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BENTUK KHATAMUN NUBUWAH.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Sa’id bin Ya’qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Apabila ‘Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw. maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: ‘Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin ‘Ubadah ad Dlabi ‘Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari ‘Umar bin ‘Abdullah, dari ‘Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera ‘Ali bin Abi Thalib k.w.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid ‘Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Abu Zaid berkata: ‘Rasulullah saw bersabda kepadaku : ‘Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku’.Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba’ bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: ‘Apakah Khatam itu?’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Abu Zaid menjawab: &lt;i style=""&gt;‘kumpulan bulu-bulu*’.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu ‘Ashim dari ‘Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ia mengatakan kumpulan bulu-bulu dikarenakan ia hanya dapat merasakan dengan rabaan tangannya saja, tidak melihat dengan mata kepala. Jadi yang dikatakan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;itu hanya berdasar rabaan belaka, yang teraba olehnya adalah bulu yang tumbuh di sekitar Khatam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;RAMBUT RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 9pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 9pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Abu Qathan, dari Syu’bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara’ bin ‘Azib r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rambut Rasulullah saw. tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw., dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan Ahlul Kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw. senang menyesuaikan diri dengan Ahlul Kitab. Kemudian,Rasulullah saw. menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari Yunus bin Yazid, dari az Zuhri, dari ‘Ubaidilah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA BERSISIR RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Rasulullah saw. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Yusuf bin’Isa, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Aban ar Raqasyi dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwayatannya. Hadist ini sangat berlawanan dengan kebanyakan hadist shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad ‘Afif az Za’bi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. melarang bersisir kecuali sekali-kali.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad Basyar, dari Yahya bin Sa’id,dari Hisyam bin Hasan, dari al Hasan Bashri, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mughaffal r.a.*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Yang dilarang ialah bersisir layaknya wanita pesolek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*’Abdullah bin Mughaffal r.a. dalah sahabat Rasulullah&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;saw. yang masyhur, ia adalah salah seorang peserta “Bai’tus Syajarah”, wafat pada tahun 60 H ada pula yang mengatakan tahun 57 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;UBAN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik r.a.:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Pernahkah Rasulullah saw. menyemir rambutnya yang telah beruban?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Anas bin Malik menjawab:”Tidak sampai demikian. Hanya beberapa lembar uban saja di pelipisnya. Namun Abu Bakar r.a. pernah mewarnai (rambutnya yang memutih) dengan daun pacar dan katam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud, dari Hamman, yang bersumber dari Qatadah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Katam adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang biasa digunakan untuk memerahi rambut sedangkan warnanya merah tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dalam suatu riwayat Ibnu ‘Abbas r.a. mengemukakan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Abu Bakar r.a. berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Anda telah beruban!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud, Surah al Waqi’ah, Surah al Mursalat, Surah Amma Yatasa’alun dan Surah Idzasy-Syamsu kuwwirat, menyebabkan aku beruban.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Abu Kuraib Muhammad bin al A’la, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Syaiban, dari Ishaq, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Wahai Rasulullah, kami melihat Anda sesungguhnya telah beruban!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Surah Hud dan beberapa surah sebangsanya (telah menyebabkan aku beruban.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Sufyan bin Waki’, dari Muhammad bin Basyar, dari ’Ali bin Shalih, dari Abi Ishaq,yang bersumber dari Abi Juhaifah r.a.*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Abu Juhaifah adalah Wahab as Sawa’ bin ‘Amir bin Sha’sha’ah al Kufi. Ia adalah seorang sahabat yang masyhur. Menurut al Dzahabi, ia adalah rawi yang tsiqat (kuat hapalan dan terpercaya). Ia wafat pada tahun 74 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SEMIR RAMBUT RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Al Jahdzamah r.a., isteri Busyair bin al Khaskhashiyyah pernah bercerita:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku melihat Rasulullah saw. keluar dari rumahnya mengibaskan rambut sehabis mandi. Dan di kepalanya terdapat bekas daun inai”, atau “bekas celupan”(rawi ragu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Harun, dari Nadlr bin Zararah*, dari Abi Jinab*, dari Iyad bin Laqith, yang bersumber dari Jahdzamah&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Nadlr bin Zararah dalah rawi yang dla’if dan termasuk Matruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ali Jinab dikenal sebagai rawi yang masyhur tapi ia dianggap dla’if karena sering menyamarkan rawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku melihat rambut Rasulullah saw. dipacari merah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Amr bin ‘Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CELAK MATA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a. dikemukakan: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Bercelaklah kalian dengan &lt;i style=""&gt;Itsmid&lt;/i&gt;, karena ia dapat mencerahkan pengliahatan dan menumbuhkan bulu mata. Sungguh Nabi saw. mempunyai tempat celak mata yang digunakannya untuk bercelak pada setiap malam. &lt;i style=""&gt;Tiga olesan di sini dan tiga olesan di&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;sini&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Abbad bin Manshur, dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Itsmid adalah batu celak biasanya berupa serbuk. Warnanya hitam atau biru. Serbuk itsmid dioleskan pada bulu mata atau disapukan di sekeliling mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Yang dimaksud di sini adalah tiga olesan di mata sebelah kanan dan tiga olesan di mata sebelah kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;PAKAIAN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. adalah Gamis.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari al Fadhal bin Musa, diriwayatkan pula oleh Abu Tamilah dan Zaid bin Habab, ketiganya menerima dari ‘Abdul Mu’min bin Khalid, dari ‘Abdullah bin&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Buraidah, yang bersumber dari Ummu Salamah* r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ummu Salamah r.a. adalah Ummul Mu’minin Hindun binti Mughirah al Makhzumiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada ‘Usamah bin Zaid. Beliau memakai pakaian &lt;i style=""&gt;Qithri&lt;/i&gt; yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid , dari Muhammad bin al Fardhal, dari Hammad bin Salamah, dari Habib bin as Syahid, dari al Hasan, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Qithri adalah sejenis kain yang terbuat dari katun yang kasar. Kain ini berasal dari Bahrain tepatnya dari Qathar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik r.a. mengemukakan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. ialah kain Hibarah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Mu’adz bin Hisyam dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kain Hibarah ialah kain keluaran Yaman yang terbuat dari katun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersabda: “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik- baik pakaian bagi kalian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Basyar bin al Mufadhal, dari ‘Utsman Ibnu Khaitsam, dari Sa’id bin Jubeir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda : “Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus. Juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib yang bersumber dari Samurah bin Jundub r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;KHUF RASULULLAH SAW.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya raja *an-Najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitampejat kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. memakainya dan kemudian ia berwudlu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkanoleh Hinad bin Siri, dari Waki’, dari Dalham bin Shalih, dari Hujair bin ‘Abdullah, dari putera Buraidah, yang bersumber dari Buraidah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Khuf ialah sejenis kaos kaki tapi terbuat dari&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki. Khuf biasanya hanya digunakan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;pada musim dingin untuk mencegah agar kulit kaki tidak pecah-pecah.Biasanya, orang memakai khuf ketika musafir di musim dingin dan masih memakai sepatu luar lagi. Sepatu ini namanya “jurmuq”. Para Ulama Indonesia sering menggunakan istilah Mujah untuk terjemahan khuf. Tapi kadang-kadang diterjemahkan juga dengan “sepatu khuf”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*An najasyi menurut literature barat umumnya disebut Negust. Negust adalah gelar raja-raja di Abesina (Habsyi), sekarang dikenal “Ethiopia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SANDAL RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Bagaimanakah sandal Rasulullah saw. itu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Anas menjawab : “Kedua belahnya mempunyai tali qibal*.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkn oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Hamman yang nersumber dari Qatadah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Tali qibal adalah tali sandal yang bersatu pada bagian mukanya dan terjepit di antara dua jari kaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Janganlah diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah. Hendaklah memakai keduanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari, dari Ma’an, dari Malik, dari Abiz Zinad, dari al A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. melarang seorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa, dari&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Ma’an, dari Malik, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Bila salah seorang diantara kalian hendak memakai sandal hendaklah ia memulainya dari yang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;sebelah kanan. Dan bila ia melepasnya, maka hendaklah dimulai dari yang sebelah kiri. Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;dipasangi sandaldan yang terakhir kali dilepas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Malik, dan diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Musa ,dari Ma’an, dari Malik, dari Abu Zinad, dari A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CINCIN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan permatanya dari Abessina (Habsyi)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, dari ‘Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa ‘Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: “Sungguh bangsa&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;*karena sebagaimana dikatakan bahwa cincin Nabi saw. dipakai sebagai pengecap surat, maka Nabi saw. tidak memakainya karena fungsinya pun lain. Atau mungkin saja pengertiannya bukan tidak dipakai, tapi jarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah “Muhammad” satu baris ,”Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin ‘abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya apabila Nabi saw. masuk ke jamban, maka ia melepaskan cincinnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Sa’id bin ‘Amir, dandiriwayatkan pula oleh Hajjaj bin Minhal, dari Hamman, dari Ibnu Juraij, dari Zuhri yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA RASULULLAH SAW. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;BERCINCIN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin ‘Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin ‘Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;PEDANG RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Salut hulu pedang Rasulullah saw. terbuat dari perak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir, dari ayahnyadari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Samurah mengaku bahwa ia membuat pedangnya meniru pedang Rasulullah saw. Sedangkan pedang Rasulullah saw. itu berbentuk&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Hanafiyya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin syuja’ al Baghdad, dari Abu ‘Ubaidah al Haddad, dari ‘Utsman bin Sa’id, yang bersumber dari Ibnu Sirin r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Pedang Hanafiyya adalah pedang yang di buat oleh suku Bani Hanifah. Pedang buatan Bani Hanafiah terkenal bagus dan halus pembuatannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BAJU BESI RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. pada waktu ghazwah Uhud memakai dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;rangkap.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Shufyan bin ‘Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, yang bersumber dari Saib bin Yazid)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;TOPI BESI RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sewaktu Rasulullah saw. memasuki kota Mekkah (dihari Pembebasan), beliau memakai topi besi. Kemudian ditunjukkan orang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;kepadanya : ‘ini Ibnu Khathal* bersembunyi di dinding Ka’bah (disebabkan takut). Nabi saw. bersabda : “Bunuhlah dia!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Sebenarnya terjemahan topi besi tersebut kurang tepat sebab yang dimaksud topi besi di sini adalah rantai besi yang dijalin rapi, dibuat dengan ukuran kepala kemudian dapasang di dalam kopiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ibnu Khatal ialah seorang dari empat penjahat yang amat memusuhi Islam dan tidak mendapatkan pengampunan umum dari Rasulullah saw. Tiga lainnya ialah Huwairits bin Nuqaid, ‘Abdullah bin Abi Sarh dan Muqais bin Shababah. Namun, sebelum eksekusi, ‘Abdullah bin Abi Sarh masuk Islam. Dengan demikian ‘Abdullah bin Abi Sarh selamat dari hukuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SERBAN RASULULLAH SAW.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota Mekkah, beliau memakai serban hitam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. berpidato da hadapan umat, beliau memakai serban hitam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin ‘Isa, keduanya menerima dari Waki’, dari Musawir al Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SARUNG RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“’Aisyah r.a. memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata :”Rasulullah saw. dicabut&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Ismail, dari Ayub, dari Humaid bin Hilal, dari Abi Burdah yang bersumber dari bapaknya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“’Utsman bin Affan r.a. memakai sarung yang tingginya mencapai setengah betisnya. ‘Utsman berkata : “Demikianlah cara bersarung&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;sahabatku (yakni Nabi saw.)”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr, dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari *Musa bin ‘Ubaidah, dari Ayas bin Salamah bin al Akwa’ yang bersumber dari bapaknya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Musa bin ‘Ubaidah, menurut Imam Ahmad periwayatannya tidak syah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. memegang ototbetis kakiku dan betis kakinya, lalu bersabda:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“inilah tempat batas sarung. Jika kau tidak suka di sini, maka boleh juga diturunkan lagi. Jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Abul Ahwash, dari Abi Ishaq, dari Muslim bin Nadzir, yang bersumber dari *Hudzaifah Ibnul Yaman r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Hudzaifah Ibnul Yaman r.a., ia adalah sahabat Rasulullah saw. Ia masuk Islam sebelum ghazwah Badar. Ia wafat tahun 36 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA BERJALAN RASULULLAH&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rasulullah saw., seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah saw., seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;payahmelakukan hal itu, sedangkan Rasulullah saw. tidak memperdulikan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari *Ibnu Luhai’fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ibnu Luhai’ah adalah ‘Abdullah al Hadhrami, seorang faqih yang Masyhur dan qadli di Mesir, namun demikian ad Dzahabi mendlaifkannya, tetapi hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahab, Ibnu Mubarak dan Abi ‘Abdurrahman al Muqri lebih baik. Ibnu Luhai’fah meninggal dunia pada tahun 174 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Bila Nabi saw. berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki’, dari ayahnya, dari al Masudi, dari ‘Utsman bin&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Muslim bin Hurmuz, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib k.w.). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;KAIN PENYEKA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. sering menyeka (minyak di kepalanya), seakan-akan kain penyeka kepalanya seperti kain penyeka tukang minyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Rabi’ bin Shabih, dari *Yazid bin Aban ar Raqasi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Yazid bin Aban ar Raqasy dikenal sebagai orang yang dinilai munkar periwatannya. Hadits ini sangat berlawanan dengan hadist Shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad ‘Afif az Za’bi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SIKAP DUDUK RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Ia (Qabilah) melihat Rasulullah saw. di masjid sedang duduk *qurfasha.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Qabilah berkata :”Manakala aku melihat Rasulullah saw. sedang duduk dengan khusyu’, maka akupun dibawa oleh perasaan takjub karena&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;wibawanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh’Abd bin Humaid, dari ‘Affan bin Muslim, dari ‘Abdullah bin Hasan, dari kedua orang anaknya, yang bersumber dari Qabilah binti Makhramah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Duduk Qurfasha yakni duduk bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan jangan memegang betis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berbaring telentang di masjid, dan salah satu kakinya ditumpangkan pada kaki lainnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, mereka menerima dari Sufyan, dari Zuhri, dari ‘Abbad bin Tamim yang bersumber dari pamannya*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ia adalah ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Muhammad, ia adalah seorang sahabat dan dikatakan bahwa ia yang membunuh Musailamah al Kadzdzab (Nabi palsu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Apabila Rasulullah saw. duduk di *masjid, maka ia duduk secara *ihtiba dengan kedua tangannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib, dari ‘Abdullah bin Ibrahim al Madini, dari Ishaq bin Muhammad al Anshari, dari Rabih bin ‘Abdurrahman bin Abi Sa’id, dari bapaknya yang bersumber dari kakeknya Abi Sa’id al Khudri r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ada yang mengatakan di dalam majlis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ihtaba adalah duduk Qurfasha sambil bersandar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;TEMPAT BERTELEKAN RASULULLAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aku pernah melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi, dari Ishaq bin Manshur, dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda : “Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari ‘Ali bin al ‘Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA BERTELEKAN RASULULLAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku masuk ke rumah rasulullah saw. tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda : “Wahai Fadlal, apa kabarmu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aku menjawab : “Baik wahai Rasulullah !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah bersabda : “Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Fadlal meneruskan ceritanya :”Maka kulakukan perintah Rasulullah saw. itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadist perihal wafatnya Rasulullah saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari *‘Atha’bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja’far bin Furqan, dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah,yang bersumber dari *al Fadlal bin ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*AL fadlal bin ‘Abbas r.a. adalah sahabat yang masyhur, ia adalah anak sulung ‘Abbas r.a. (paman Rasulullah saw.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*’Atha’ bin Muslim al Khaffaf al Halabi, di dla’ifkan oleh Abu Daud, dan menurut Abu Hatim tidak boleh dipakai hujjah periwayatannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliau shalat bersama mereka (para sahabat).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Amr ‘Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA MAKAN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Sa’id bin Ibrahim, dari *salah seorang anak Ka’ab bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Nama Ibnul Ka’ab bin Malik (putera Ka’ab bin Malik r.a.) di sini tidak dijelaskan, sedangkan Ka’ab mempunyai anak dua orang, yaitu ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Namun demikian keduanya punya tsiqat (dapat diterima periwayatannya), dan keduanya merupakan tabi’in besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Bila Nabi saw. selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh al Hasan bin ‘Ali al Khilali, dari ‘Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;JENIS ROTI YANG DIMAKAN OLEH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Keluarga Nabi saw. tidak pernah makan roti sya’ir* sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw. wafat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari ‘Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Sya’ir, khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indinesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunyasya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*’Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari’Abdullah bin ‘Amr –Abu Ma’mar-, dari ‘Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:8;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;LAUK PAUK YANG DIMAKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Abdullah bin ‘Abdurrahman berkata :”Saus yang paling enak adalah cuka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin ‘Askar dan ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;diberkahi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ‘ Abdullah bin ‘Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Abi Usaid adalah ‘Abdullah bin Tsabit az Zarqi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu).&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja’far, dan diriwayatkan pula oleh ‘Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu’bah, dari Qatadahyangt bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari Abu Usamah, dari Hisyam bin ‘Urwahyang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. diberi makan daging, maka diambilakn baginya bagian dzir’an*. Bagian dzir’an kesukaannya. Maka Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;mencicipi sebagian daripadanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Washil bin ‘Abdul A’la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar’ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Dzir’an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Daging yang paling baik adalah punggung.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis’ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari ‘Abdullah bin Ja’far r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Namanya adalah Muhammad bin ‘Abdullah, disebut pula Muhammad bin ‘Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;WUDLU RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;“Rasulullah saw. keluar dari jamban, maka dihidangkan kepadanya makanan. Kemudian para sahabat berkata : ‘Apakah kami perlu menyediakan bagi Anda air wudlu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Beliau menjawab :”Sesungguhnya aku disuruh berwudlu apabila aku akan melakukan shalat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Isma’il bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Ibnu Mulaikah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;“Kubaca dalam Taurat bahwa berkah makanan itu karena berwudlu sebelum makan dan berwudlu sesudahnya”. Hal tersebut kukatakan kepada Nabi saw., dan kukabarkan apa yang pernah kubaca dalam Taurat itu, maka Rasulullahsaw. bersabda :”Berkah makanan itu disebabkan berwudlu sebelum makan serta sesudahnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari ‘Abdullah bin Numair, dari Qeis bin Rabi’*. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Qutaibah, dari ‘Abdul Karim al Jurjani, kedua riwayat itu bersumber dari Qeis bin Rabi’, dari Abi Hisyam Adahzadan yang bersumber dari Salman r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Qeis bin Rabi’ menurut Ibnu Ma’in periwayatannya dla’if namun diterima oleh Ibnu Majah dan Abu Daud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;DO’A RASULULLAH SAW. SEBELUM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;DAN SESUDAH MAKAN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw., maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Abu Ayub bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai’ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad bin Jandal al Yafi’I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”bila salah seorang dari kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu, maka hendaklah ia&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;membaca :&lt;i style=""&gt;”Bismillahi&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;awwalahu wa akhirahu&lt;/i&gt;.” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al ‘Aqili, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ummu Kultsum*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’ith al Umawiyah, adalah salah seorang sahabatRasulullah saw. dan ia merupakan saudara seibu ‘Utsman bin Affan r.a. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : &lt;i style=""&gt;“Alhamdulillahil ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;muslimin.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;islam).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri, dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma’il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin ‘Ubaid), yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersumber &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;dari Abu Sa’id al khudri r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Adapun Rasulullah saw., bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya, maka beliau membaca :”Alhamdulillahi hamdan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda’iw wa la mustaghnan ‘anhu Rabbana.” (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya.Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya, ya Allah&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rabbal ‘Alamin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa’id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’danyang bersumber dari Abu Umamah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;TEMPAT MINUM RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;dengan besi”. kemudian anas r.a. menerangkan : “Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari ‘Amr bin Muhammad, dari ‘Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz*, madu ataupun susu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BUAH-BUAHAN YANG DIMAKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari ‘Abdullah bin Ja’far r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. memakan semangka dengan kurma (yang baru masak).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin ‘Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;MINUMAN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw. adalah minuman manis yang dingin.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari ‘Urwah, yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA MINUM RASULULLAH SAW,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. minum air zamzam sambil berdiri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari ‘Ashim al Ahwal dan sebagainya, dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda :”Cara seperti ini lebih&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari ‘Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi ‘Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;MINYAK WANGI RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”Wewangian laki-laki ialah yang harum baunya dan tersembunyi warnanya. Sedangkan wewangian wanita&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;ialah yang cemerlang warnanya dan tersembunyi baunya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud al Hafariyyi, dari Sufyan, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari seseorang*, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Abu Hurairah r.a., sanadnya adalah: Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ibrahim, dari al Jurairi, dari Abi Nadhrah, dari at Thawafi, yang bersumber dari Abu hurairah r.a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA BICARA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;duduk bedrsamanya akan dapat menghafal (kata-katanya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al Bashriyyi, dari Humaid al Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Rasulullahsaw. suka mengulang kata-kata yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah –Muslim bin Qutaibah-. dari ‘Abdullah bin al Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:14;"  lang="EN-US"&gt;cara rasulullah saw. tertawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Betis Rasulullah saw. kecil (tidak gemuk). Beliau tidak tertawa kecuali tersenyum. Bila aku memandang kepadanya, aku berkata&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(dalam hati); “Betapa hitam pelupuk matanya, padahal tidak dihitami.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari ‘Abbad bin al ‘Awwam, dari al Hajjaj –Ibnu Arthah-*, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Al Hajjaj (Ibnu Arthah) didla’ifkan oleh jamaah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Tiadalah tertawa Rasulullah saw. kecuali tersenyum.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Khalid al Khilal, dari Yahya bin Ishaq, as Sailihani, dari Laits bin Sa’id, dari Yazid bin Abi Habib, yang bersumber dari ‘Abdullah bin al Harits r.a).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;KELAKAR RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. bergaul akrab dengan kami, sehingga beliau bersabda kepada adikku* yang masih kecil :”Wahai Abu&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Umair (bapak ‘Umair), apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu*?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Hannad bin asSariyyi, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abit Tayyah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ia adalah saudara seibu Anas bin Malik r.a., namanya adalah Ibnu Abi Thalhah Zaid bin Sahl al Anshari, sedangkan ibu bagi keduanya adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Ibnu Abi Thalhah (Abu ‘Umair) wafat sewaktu masih kecil yakni dimasa Nabi saw. masih hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Imam Tirmidzi berkata :” Maksud Hadist ini, Rasulullah saw. bergurau. Di dalam pergurauannya, beliau memberi gelar kepad seorang anak kecil dengan sebutan bapak:”Wahai Abu ‘Umair (Wahai bapak ‘Umair). Pada hadist inipun terdapat suatu hukum, bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa. Nabi saw. bersabda:”Wahai Abu ‘Umair apa yang dapat dikerjakan oleh burung sekecil itu ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Maksudnya adalah : Anak kecil itu mempunyai burung kecil sebagai mainannya. Kemudian burung itu mati , maka anak tersebut berduka cita karenanya. Untuk mengobati dukanya Nabi saw bersenda gurau kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah! apakah Anda suka bergurau kepada kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda :”Benar! Hanya saja apa yang kukatakan, tidak lain hanyalah kebenaran.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abbas bin Muhammad ad Duri, dari ‘Ali bin al Hassan bin Syaqiq, dari ‘Abdullah bin al Mubarak, dari Usamah Ibnu Zaid, dari Sa’id al Maqbari, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;syi’ir yang dibaca rasulullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah r.a. bertanya :”Apakah Rasulullah saw. pernah membaca syi’ir?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab :”Beliau pernah membaca Syi’ir Ibnu Rawahah r.a.dan juga pernah membaca syi’ir yang berbunyi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Berita-berita akan datang kepadamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dibawa oleh orang yang tak kau beri bekal*.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Syarik, dari al Miqdambin Syuraih, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Permulaan baitnya berbunyi: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Hari demi hari akan menyingkap kejelasan bagimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Walau kau sebelumnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda :”Syi’ir yang terbaik (paling benar) yang pernah dibacakan seorang penya’ir adalah Syi’ir Labid* (bin Abi&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rabi’ah al Amiri), yang berbunyi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Ingat! Segala sesuatu selain Allah pasti binasa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dan hamper saja Ummayah bin Abis Shalt* menjadi muslim (karena syi’ir-syi’irnya).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan as Tsauri, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Abu Salamah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Pada masa jahiliyah, Labid adalah seorang yang mulia demikian pula setelah ia masuk Islam. Ia merupakan penyair Arab yang terkenal saat itu. Namun setelah turun ayat-ayat Al- Qur’an ia berhenti membuat syi’ir dan ia hanya mencukupkan dengan al-Qur’an saja. Ia wafat pada tahun 41 H pada usia 140 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Tentang Ummayah bin Abis Shalt, Rasulullah pernah bersabda: “Syi’irnya beriman, namun hatinya tetap kafir.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku pernah berada di belakang Nabi saw. (dibonceng), kepadanya kubacakan seratus qafiah (sajak) Syi’ir gubahanUmmayah bin Abis&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Shalt as Tsaqaf. Manakala kubacakan kepadanya sebait syi’ir, Nabi saw. bersabda :”Tambahkan lagi!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sehingga kepadanya kubacakan seratus bait syi’ir, kemudian Nabi saw. bersabda :”Sesungguhnya Ummayah itu ha,pir saja menjadi muslim.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Marwan bin Mu’awiyah*, dari ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman at Thaifi, dari ‘Amr bin Syarid, yang bersumber dari ayahnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;*Marwan bin Mu’awiyah bin Harits al kufi, ia dinyatakan tsiqat oleh jamaah. ia wafat tahun 193 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. meletakkan mimbar untuk Hasan bin Tsabit di dalam masjid agar ia bersyi’ir yang membesarkan hati Rasulullah saaw., atau (perawi ragu) agar ia mempertahankan Rasulullah saw. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya Allah swt. menolong Hasan lewat Jibril tatkala ia mempertahankan (atau membesarkan hati) Rasulullah saw. (dengan syi’irnya).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Fazari, dan diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr (semakna), keduanya menerima dari ‘Abdurrahman bin Zinad, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya (‘Urwah), yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA TIDUR RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdo’a: &lt;i style=""&gt;”Rabbi qini ‘adzabaka yauma tab’atsu ‘ibadaka.”&lt;/i&gt; (Ya Rabbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Israil, dari Abi Ishaq, dari ‘Abdullah bin Yazid, yang bersumber dari al Bara bin ‘Azib r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Bila Rasulullah saw. berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdo’a : “Allahumma bismika amutu wa ahya’. (Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dan bila Beliau bangun, maka Beliau membaca :”Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nusyur.” (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku kembali setelah mematikan daku dan kepada-Nya tempat kembali).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari ‘Abdurrazaq, dari Sufyan, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Ruba’I bin Hirasyi, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya bila Nabi saw. istirahat dalam musafirnya di malam hari, Beliau berbaring ke sebelah kanan. Dan bila Beliau istirahat pada musafirnya menjelang subuh, maka Beliau tegakkan lengannya dan diletakkannya kepalanya diatas tangannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh alHusein bin Muhammad al Hariri, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Bakr bin ‘Abdullah al Mazini, dari ‘Abdullah bin Rabbah, yang bersumber dari Abi Qatadah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;IBADAH RASULULLAH SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian? Bukankah Allha swt. telah mengampuni Anda dari segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. bersabda :”Tidak patutkah saya menjadi hamba Allahyang bersyukur?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu ‘Awanah, dari Ziyad bin ‘Alaqah, yang bersumber dari al Mughirah bin Syu’bah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. shalat malam hari tiga belas rakaat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Abu Kuraib- Muhammad bin al A’la-, dari Waki’, dari Syu’bah, dari Abi Jamrah,yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya apabila Nabi saw. tidak sempat shalat malam hari karena tertidur atau berat rasa kantuknya, maka beliau lakukan shalat dua belas rakaat di siang hari.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Abu ‘Awanah, dari Qatadah, dari Zurarah bin Aufa, dari Sa’id bin Hisyam, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. melaksanakan shalat di malam hari sebelas raka’at. Beliau lakukan shalat witir (ganjil) satu raka’at.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Apabila beliau selesai melakukan shalat itu, beliau berbaring dengan lambung kanannya di sebelah bawah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa, dari Ma’an, dari Malik, dari Ibnu Syibab, dari Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. tidak wafat, sampai kebanyakan shalatnya (shalat sunnat) dilaksanakan dalam keadaan duduk.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh al Hasan bin Muhammad azZa’farani, dari al Hajjaj bin Muhammad, dari Ibnu Juraih, dari ‘Utsman bin Abi Sulaiman, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku pelihara amalan-amalan Rasulullah saw. berupa shalat delapan raka’at. dua raka’at sebelum shalat Dhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Magrib dan dua raka’at sesudah shalat Isya’.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Selanjutnya Ibnu ‘Umar berkata :”Hafshah* menceritakan kepadaku perihal dua raka’at shalat fajar. Tapi aku tak pernah* melihatnya dilakukan Rasulullah saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Marwan bin Mu’awiyah al Farazi, dari Ja’far bin Burqaq, dari Maimun bin Mihran, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar r.a).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;*Hafshah (isteri Rasulullah saw.) dan Ibnu ‘Umar adalah kakak beradik, keduanya adalah putera ‘Umar bin Khathab r.a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Disebabkan Rasulullah saw. melakukan shalat fajar di rumahnya, maka Ibnu ‘Umar tidak pernah melihatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;12122121SHALAT DHUHA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku mendengar Mu’adzah (binti ‘Abdullah al- ‘Adawiyah) sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a. : “Apakah Rasulullah saw. nengerjakan shalat pada waktu dhuha?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah r.a. menjawab : “Benar, beliau melakukan empat raka’at. Dan terkadang beliau menambah lagi sebanyak yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Syu’bah, dari Yazid ar Risyk, yang bersumber dari Mu’adzah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. melakukan shalat empat raka’at sesudah tergelincir matahari, sebelum shalat Dhuhur.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda:”Sesungguhnya waktu itu merupakan saat pintu-pintu langit terbuka. Maka aku menyukai amal salehku diangkat saat itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Mutsana, dari Abu Daud, dari Muhammad bin Muslim bin Abil Wadldlah, dari ‘Abdul Karim al Jazari, dari Mujahid, yang bersumber dari ‘Abdullah bin as Saib r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;shalat sunnat rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang shalat di rumah dan shalat di masjid.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda : “Sungguh, kau melihat sendiri, alangkah dekatnya rumahku dengan masjid. Sungguh aku lebih suka shalat di rumah daripada shlat di masjid, kecuali shalat itu shalat fardhu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abbas al Anbari, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Mu’awiyahbin Shalih, dari al A’la bin Harits, dari Haram bin Mu’awiyah, yang bersumber dari pamannya ‘Abdullah bin Sa’ad r.a.*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;*’Abdullah bin Sa’ad al Anshari, ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;SHAUM SUNNAT RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku melihat Rasulullah saw. shaum dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadhan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Manshur, dari Salim bin Abil Ja’di, dari Abi Salamah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. shaum pada awal bulan selama tiga hari pada setiap bulan, dan jarang sekali beliau tidak berbuka pada hari Jum’at.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh al Qasim bin Dinar al Kufi, dari ‘Ubaid bin Musa, dan diriwayatkan pula oleh Thalaq bin Ghanam, dari Syaibani, dari ‘Ashim, dari Zirin bin Hubaisy, yang bersumber dari ‘Abdullah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. bersungguh-sungguh mengamalkan shaum hari Senin dan Kamis.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Abu Hafsah –‘Umar bin ‘Ali-, dari ‘Abdullah bin Daud, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari Rabi’ah al Jarsyi, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Hari Asyura (sepuluh Muharram) adalah hari yang dishaumi kaum Quraisy pada zaman jahiliyah. Rasulullah saw. pun shaum pada hari itu. Manakala beliau tiba di Madinah, beliau shaum pada hari itu dan beliau perintahkan agar hari itu dishaumi. Manakala bulan Ramadhan diwajibkan untuk shaum, maka shaum Ramadhanlah yang menjadi kewajiban, dan beliau timggalkan hari ‘Asyura. Basrang siapa ingin shaum silahkan dan barang siapa yang tidak mau shaum tinggalkanlah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq, al Hamdzani, ‘Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;CARA RASULULLAH SAW. MEMBACA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;AL-QUR’AN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku bertanya kepada Anas bin Malik r.a. :”Bagaimanakah bacaan (al Qur’an) Rasulullah saw.?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab :”Bermad (bertajwid).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jurair bin Hazim, dari ayahnya, yang bersumber dari Qatadah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. memotong bacannya (pada setiap ayat). Beginilah cara membacanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin “, kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca :”Arrahmanirrahim”, kemudian beliau berhenti. Selanjutnya dibaca :”Maliki yaumiddin,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Yahya bin Sa’id al Umawi, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;TANGIS RASULULLAHSAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda kepadaku:”Bacakan al Qur’an untukku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Wahai Rasulullah saw.! Mana mungkin aku membacakannya kepada Anda, bukankah ia diturunkan kepada Anda?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda:”Sungguh aku ingin mendengarkannya dari selain daku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Maka kubacakan surat an Nisa, sampai ayat: “Waji’na bika ‘ala ha ula-i syahida.” (Dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka). (Q.S. 4 an- Nisa: 41).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Abdullah bin Mas’ud berkata :”Maka kulihat kedua mata Rasulullah saw. bercucuran air mata.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan , dari Mua’wiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Ubaid, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. mencium ‘Utsman bin Madh’un* tatkala ia telah wafat. Dan ketika itu beliau menangis.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Atau (kata perawi ragu): “Kedua matanya berlinang air mata.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari ‘Ashim bin ‘Ubaidilah*, dari Qasim bin Muhammad*, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*’Utsman bin Madh’un adalah saudara sesusu Rasulullah saw. Ia wafat dua setengah tahun setelah hijrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*’Ashim bin ‘Ubaidilah dadla’ifkan oleh Ibnu Ma’in, menurut keterangan Bukhari, periwayatnnya munkar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, merupakan salah seorang fukaha Madinah yang tujuh, dari generasi kedua dan periwayatnnya dikeluarkan oleh jama’ah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:8;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;TAWADLU RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”Janganlah kalian berlebihan memuji daku sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu katakanlah (panggillah) ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, diriwayatkan pula oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari Zuhri, dari ‘Ubaidilah, dari Ibnu ‘Abbas r.a., yang bersumber dari ‘Umar bin Khattab r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullahbin Bazi’, dari Basyar bin al Mufadlal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah r.a. ditanya:”Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw. di rumahnya ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah r.a. menjawab:”Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari’Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muahammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari Abi ‘Abdullah al Jadali, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, kecuali tatkala beliau berjihad fi sabilillah. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan wanita.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Handzani, dari ‘Ubadah, darri Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah r.a. berkata: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Tak pernah kudengar Rasulullah saw. dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata “tidak”.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, yang bersumber dari Muhammad bin al Munkadir r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Ja’far bin Sulaiman, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw menerima hadiah dan membalas hadiah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Khasyram dan lainnya, dari ‘Isa bin Yunus, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;KEPEKAAN RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. sangat peka melebihi anak dara pada pingitannya. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahuinya dari perubahan air mukanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari ‘Abdullah bin Abi ‘Utbah, yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah berkata :”Aku tidak pernah memandang kemaluan Rasulullah saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Atau ia berkata :”Sekali-kali aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Sufyan, dari Manshur, dari Musa bin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘Abdullah bin Yazid al Khathimi, dari Maula ‘Aisyah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;BEKAM RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. berbekam, yang membekamnya adalah Abu Thaibah, maka beliau memerintahkan untuk memberinya dua sha’* makanan. Rasulullah saw. berbicara kepada tuannya (tuan tukang bekam), lalu mereka mengugurkan kharajnya*.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang paling afdhal ialah berbekam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Atau (perawi ragu) :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang utama adalah berbekam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ja’far, dari Humaid, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Abu Thaibah adalah nama panggilan bagi Nafi’, ia adalah budak Bani Haritsah atau budak kepunyaan Abu Mas’ud al Anshari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Sha’(gantang) adlah takaran. Satu Sha’sama dengan empat mud, sedangkan satu mud sama dengan tujuh ons.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Kharaj ialah suatu kesepakatan antara tuan dengan budak untuk membayar kepada tuannya sejumlah uang, sewaktu budak tidak bekerja pada tuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Dalam peristiwa ini Abu Thaibah seharusnya membayar tiga Sha’, tapi karena ia telah membayar dua Sha’, hasil membekam Rasulullah saw. maka yang satu Sha’lagi digugurkan oleh tuannya setelah Rasulullah saw. berbicara dengan tuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. berbekam dan memerintahkan kepadaku (untuk membayar), maka kuberikan pada tukang bekam upahnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Ali, dari Abu Daud, dari Waraqa’ bin ‘Umar, dari ‘Abdil A’la, dari Abi Jamilah, yang bersumber dari ‘Ali k.w.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. pernah berbekam pada dua urat leher dan tengkuk. Beliau berbekam pada tanggal 17,19, dan 21.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdul Quddus bin Muhammad al ‘Athar al Bashri, dari ‘Amr bin ‘Ashim, dari Hamman, dan diriwayatkan pula oleh Jarir bin Hazm, keduanya menerimanya dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda :”Barangsiapa berbekam pada tanggal 17,19 dan 21, tentulah tindakannya itu jadi penyembuh bagi setiap penyakit.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Riwayat Abu Daud)&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;KEHIDUPAN RASULULLAH SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Kami berada di samping abu Hurairah r.a. sedang ia memakai dua lembar kain kattan* yang dicelup bahan Lumpur merah. Lalu ia membuang ingusnya pada salah satu dari dua kainnya itu. Ia berkata : “Bakh, Bakh*”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Abu Hurairah membuang ingusnya pada kain kattan itu. Selanjutnya ia bercerita :”Sungguh, aku teringat kembali ketika aku tersungkur diantara mimbar Rasulullah saw. dengan kamar ‘Aisyah r.a. karena pingsan. Tiba-tiba datang seorang laki-laki lantas ia letakkan kakinya di atas leherku. Ia mengira aku dalam keadaan gila. Sebenarnya aku tidak gila, tapi kejadian itu hanyalah kelaparan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, yang bersumber dari Muhammad bin Sirin*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Kain Kattan ialah kain yang terbuat dari serat kayu. Atau kain yang dibuat dengan cara kasar, biasanya disebut kain rami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*bakh, bakh ialah kalimat yang sering digunakan oleh orang Arab untuk menyatakan rasa kagum, atau rasa senang, atau tidak menyenangi sesuatu. Pada hadist ini, kalimat bakh, bakh berarti suatu isyarat terhadap pernyataan kurang senang, atau keadaan yang menyedihkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Muhammad bin Sirin al Bashri adalah maula (budak yang dibebaskan) Anas bin Malik r.a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak pernah kenyang makan roti, dan tiada pula dengan daging, kecuali dalam keadaan dlaffaf.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Ja’far bin Sulaiman ad Dluba’I, yang bersumber dari Malik bin Dinar r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Malik bin Dinar selanjutnya berkata: “Aku bertanya kepada seorang laki-laki dari pedusunan: “Apa yang dimaksud dengan dlaffaf?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Ia menjawab: “Makan bersama orang banyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad saw. pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak menanak apapun) kecuali korma&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;dan air.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq, dari ‘Ubadah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku dijadikan takut oleh Allah dan tiada seorangpun yang diberi rasa takut sebagaimana aku. Sungguh, aku telah ditimpa cobaan di jalan Allah, dan tiada seorangpun yang mendapat cobaan sebagaimana aku. Sungguh merupakan&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;pengalaman bagiku, yaitu selama tiga puluh hari tiga puluh malam, aku dan bilal tidak mendapatkan makanan yang pantas dimakan orang yang mempunyai rongga perut. Waktu itu hanya ada sedikit makanan yang disembunyikan pada ketiak bilal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Rauh bin Aslam Abu Hatim al Bashri, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;NAMA-NAMA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagiku ada beberapa nama, Yaitu: Aku Muhammad, aku Ahmad dan aku al Mahi, maksudnya: dengan jalan aku, Allah membasmi kekafiran. Aku juga digelari al Hasyir, yang maksudnya: umat manusia dihimpun di belakangku. Akupun digelari al ‘Aqib (penerus para Nabi)”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;al Aqib adalah yang tiada diiringi di belakangnya oleh hadirnya seorang Nabi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Sa’id bin ‘Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, dari Sufyan, dari az Zuhri, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im bin ‘Adi*, yang bersumber dari bapaknya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Muth’im bin ‘Adi adalah pembesar kota Mekkah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Aku bertemu dengan Nabi saw. pada suatu jalan di Madinah. Ia bersabda: “Aku Muhammad, aku Ahmad, aku Nabiyur-Rahmah(Nabin pembawa Rahmat) dan aku Nabiyut-Thaubah (Nabi pengajar taubah). Aku al Muqaffi (yang datang mengikuti jejak para Nabi). Aku al Hasyir dan Nabiyul Malahim (Nabi yang mengalami beberapa peperangan).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Tharif al Kufi, dari Abu Bakar bin ‘Iyyasy*, dari ‘Ashim, dari Abi Wa’il, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Abbu Bakar bin ‘Iyyasy, nama sebenarnya diperselisihkan. Ada yang mengatakan Muhammad, ada yang mengatakan ‘Abdullah, atau Salim, atau Syu’bah. Namun kesemuanya juga Tsiqat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;USIA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Nabi saw. tinggal di Mekkah (setelah menjadi Rasul) tiga belas tahun. Di sana beliau mendapat wahyu. Di Madinah sepuluh tahun. Beliau wafat dalam usia enam puluh tiga tahun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Rauh bin ‘Ubadah, dari Zakaria bin Ishaq, dari ‘Amr bin Dinar, yang bersumber daari Ibnu ‘Abbas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Rasulullah saw. wafat dalam usia enam puluh tiga tahun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Husein bin Mahdi al Bashri, dari ‘Abdurrazaq, dari Ibnu Juraij, dari Juraij, dari Zuhri, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;WAFAT RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Terakhir kali aku memandang Rasulullah saw. yaitu tatkala tirai kamarnya dibuka pada hari Senin. Aku memandang wajahnya bagaikan kertas mushaf (dalam keelokan dan kebersihannya). Orang-orang shalat di belakang Abu Bakar r.a. Hampir saja terjadi kegoncangan diantara umat, kemudian ia (Abu Bakar r.a.) memerintahkan umat agar tenang. Abu Bakar memimpin mereka, tirai kamar Nabi saw. dibuka, dan Rasulullah saw. kedapatan telah wafat pada akhir hari itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Abu ‘Ammar al Husein bin Huraits, dan diriwayatkan pula oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bun ‘Uyainah, dari Zuhri, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Tatkala Rasulullah saw. sakit, beliau (Rasulullah) sempat pingsan, kemudian sadar kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda: “Apakah waktu shalat telah tiba?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Para sahabat menjawab: “Ya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan Bilal agar mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar shalat (menjadi imam) bagi umat (atau beliau berkata, perawi ragu) bersama umat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Selanjutnya Salim berkata: “Kemudian beliau pingsan kembali, kemudian sadar kembali, seraya bersabda: “Apakah waktu shalat tiba telah tiba ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Para sahabat menjawab: “Ya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian beliau bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar melaksanakan shalat bersama umat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Aisyah berkata (usul) kepada Rasulullah saw. : “Sesungguhnya ayahku amat perasa. Bila ia berdiri di tempat itu (tempat Rasulullah saw. mengimami), ia akan menangis, dan ia takkan mampu berdiri. Bagaimana sekiranya Anda perintahkan saja orang lain!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Salim bercerita lagi: “Kemudian beliau pingsan lagi, kemudian sadar kembali, seraya bersabda: “Perintahkan agar Bilal mengumandangkan adzan dan perintahkan agar Abu Bakar melaksanakan shalat dengan umat (menjadi imam).Sesungguhnya kalian (wahai kaum wanita) bagaikan wanita pada masa Nabi Yusuf**.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian Salim melanjutkan ceritanya: “Maka Bilal diperintahkan, ia pun mengumandangkan adzan dan Abu Bakar diperintah, ia pun shalat bersama umat (menjadi imam).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian Rasulullah saw. agak berkurang rasa sakitnya, maka beliau bersabda: “Carikan untukku orang yang bersedia aku telekani!” Maka datanglah Burairah* dan seorang laki-laki lainnya, kemudian Rasulullah saw. bertelekan pada keduanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Manakala Abu Bakar melihatnya, ia pun mengundurkan diri (dari kedudukan menjadi imam), namun Rasulullah saw. mengisyaratkan agar ia tetap di tempat, akhirnya Abu Bakarpun selesai mengerjakan shalat (mengimami).*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian Rasulullah saw. wafat, maka ‘Umar bin Khattab r.a. berkata: “Demi Allah, tiada seorangpun yang kudengar menyebutkan Rasulullah saw. wafat, melainkan akan kupancung (kepalanya) dengan pedangku ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Salim menceritakan lagi: “Umat pada waktu itu tidak mengetahui. (Hal itu dapat di mengerti) sebab sebelumnya tidak ada pada seorang Nabi. Maka sewaktu ‘Umar berbuat demikian umat hanya berdiam diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian mereka berkata: “Wahai Salim! Berangkatlah engkau menemui sahabat Rasulullah saw. (Abu Bakar) dan panggillah kemari!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kutemui Abu Bakar sewaktu ia berada di dalam masjid. Kudekati dia sambil menangis karena kebingungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Manakala ia melihat daku, iapun bertanya: “Apakah Rasulullah saw telah wafat?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aku menjawab: sungguh umar berkata: “tak seorangpun yang kudengar menyebut rasulullah saw. wafat, melainkan ia akan aku pancung dengan pedangku ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Abu Bakar berkata kepadaku: “Sudah, berangkatlah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Maka berangkatlah aku bersamanya. Setibanya, orang-orang telah masuk ke rumah Rasulullah saw., untuk itu ia berkata: “Wahai umat Muhammad! Berilah aku jalan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian mereka memberi jalan untuk Abu Bakar. Ia menghampiri jenazah Rasulullah saw. ia bersimpuh dan menyentuhnya, seraya membaca al-Qur’an (Q.S 39 az Zumar: 30), yang artinya: “Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Para sahabat bertanya: “Wahai sahabat Rasulullah saw! (ditujukan kepada Abu Bakar) Apakah Rasulullah saw. telah wafat ?”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia (Abu Bakar) menjawab: “Ya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Tahukah mereka bahwa benar apa yang terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mereka berkata: “Wahai sahabat Rasulullah, apakah dilakukan shalat jenazah juga bagi Rasulullah saw. ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab: “Ya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mereka bertanya lagi: “Bagaimanakah caranya?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab: “Serombongan masuk, kemudian bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar. Setelah itu masuklah serombongan berikutnya, lalu bertakbir, membaca shalawat dan berdo’a, kemudian keluar sampai semua orang kebagian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mereka bertanya lagi: “Wahai sahabat Rasulullah saw! Apakah Rasulullah saw juga dikebumikan?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab: “Ya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mereka bertanya: “Di mana?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia menjawab: “Di tempat beliau wafat, di mana Allah mencabut ruhnya pada tempat itu, karena Allah tidak mencabut ruhnya melainkan padqa tempat yang baik.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Yakinlah mereka bahwa apa yang dikatakan Abu Bakar itu benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian ia memerintahkan mereka agar yang memandikan beliau adalah sepupu beliau dari garis keturunan ayah beliau. Orang-orang Muhajirin bermusyawarah (tentang khalifah sesudahnya) maka berkatalah mereka: “Tenuilah teman-teman kita dari kelompok Anshar, kita ikut sertakanmereka bersama kita pada perumusan perkara ini (Khalifah)!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Golongan Anshar berkata: “Dari golongan kami seorang wakil.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;‘Umar bin Khattab berkata: “Siapakah gerangan yang dapat menandingi orang yang memiliki tiga keutamaan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ia adalah salah seorang dari dua orang di kala keduanya (Abu Bakar dan Nabi saw.) berada di dalam gua. Di kala itu Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S. at Taubah:40).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Siapakah gerangan orang yang berdua itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Salim melanjutkan ceritanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kemudian ia (‘Umar) mengulurkan tangannya, maka mereka para sahabat berbai’at kepadanya (Abu Bakar) dan seluruh umat pun ikut memberikan bai’at kepadanya dengan bai’at yang tulus ikhlas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Nashr bin ‘Ali al Jahdlami, dari ‘Abdullah bin Daud, dari Salamah bin Nubaith, dari Nu’aim bin Abi hind, dari Nubaith bin Syarith, yang bersumber dari Salim bin ‘Ubaid r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Salim bin ‘Ubaid al Asyja’i adalah sahabat Rasulullah saw. yang Tsiqat. Ia adalah salah seorang dari ahli shufah (yang tinggal diemper masjid), Sebagaimana Abu Hurairah. Periwayatannya dikeluarkan oleh ahli hadist yang empat dan imam Muslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;** Maksudnya dalam menyatakan perasaan yang tersembunyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Burairah berasal dari Habsyi, ia adalah budak yang telah dimerdekakan oleh ‘Aisyah r.a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;HARTA PUSAKA RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Rasulullah saw. tidak meninggalkan pusaka kecuali sebilah pedang, seekor keledai dan sebidang kebun yang dijadikan sebagai sedekah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husein bin Muhammad, dari Israil, dari Abi Ishaq, yang bersumber dari ‘Amr bin al Harits r.a.*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;*Ia adalah saudara Juraiyah (isteri Rasulullah saw.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;MIMPI BERTEMU DENGAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;RASULULLAH SAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Barang siapa bermimpi melihatku di dalam tidurnya maka sesungguhnya ia benar-benar melihatku. Karena sesungguhnya syaitan tidak mampu menyerupaiku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Abi Ishaq, dari Abil Akhwash, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud.”)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Barang siapa melihat aku pada waktu tidur (mimpi), maka sesungguhnya ia benar-benar melihat aku. Sesungguhnya syaitan tidak dapat menyerupaiku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beliau bersabda lagi: “Dan mimpi orang yang Mu’min itu merupakan satu bagian dari 46 bagian sifat kenabian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;(Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman ad Darami, dari Mu’alla bin Asad, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dengan segala kerendahan diri, puji serta syukur kita hanya teruntuk Tuhan yang satu, Tuhan Yang Agung, Tiada Tuhan Selain-Nya, Allah swt. serta shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita, suri tauladan kita, ya Habiballah Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sungguh betapa indah dan betapa beruntungnya umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau hidup, umat yang ikut setiap jejak langkah beliau berjihad fi sabilillah di bawah panji la ilaha ilallah. Namun sebenarnya kita lebih baik karena kita umat Nabi saw. yang hidup di masa beliau telah tiada berabad-abad lalu tetapi kita selalu mencintai dan merindukan Rasulullah saw. dan seharusnyalah bila kita mengaku mencintai dan merindukan beliau maka ikutilah sunnah- sunnah beliau tetapi tetap dahulukanlah yang wajib. Sesungguhnya Nabi saw. tidak akan puas, tidak akan bahagia, tidak akan senang jikalau seorang dari umat beliau masih berada dalam neraka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa indahnya dirimu, engkau suri tauladan yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Wahai Rasulullah engkau adalah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan oleh Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa dinantikannya dirimu, hingga para Nabi sebelummu pun ingin menjadi umatmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Wahai Rasulullah saw. betapa dicintainya engkau, hinga saat engkau wafat tiada yang percaya bahkan sahabat ‘Umar berkata: “Tak seorangpun yang kudengar menyebut Rasulullah saw. wafat, melainkan ia akan kupancung dengan pedangku ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Wahai Rasulullah saw. sungguh diri ini, ruh ini dan seluruh umatmu umat muslim mencintai dan merindukanmu, maka berilah syafa’at kepada kami dihari akhirat nanti agar kami dapat berkumpul dengan engkau di surga Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sungguh tiada kesenangan yang melebihi kesenangandisaat terlantunkan kalimat-kalimat Al-Qur’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sungguh tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan disaat teringat akan kabar gembira yang dijanjikan Allah swt dalam setiap ayat Qur’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sungguh tiada kesedihan melebihi kesedihan disaat terbaca kalimallah yang mengabarkan tentang kepedihan yang akan kau berikan kepada orang-orang yang lalai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sungguh tiada ketakutan yangt melebihi ketakutan akan azabmu yang pedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dan sungguh tiada ketenangan dan kedamaian yang tercipta layaknya saat terlantunkan lisan dan hati ini mengucap LA ILAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ya Allah semoga buku ini dapat menyegarkan hati umat islam dan mengabarkan betapa mulianya manusia yang Kau ciptakan sebagai khataman nabiyyin. Semoga kami yang mempelajari buku ini Kau masukkan ke dalam golongan orang-orang yang Kau ampuni dosanya dan orang-orang yang mendapatkan syafa’at dari Baginda Nabi Muhammad saw. &lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Amiin ya robbal ‘Alamiin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Disalin dari tarjamah hadist mengenai PRIBADI DAN BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;karya At-Tirmidzi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;diterbitkan cv. Diponegoro, Bandung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:8;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;Ditulis Ulang sebagian oleh : Supriyanto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;RIYADHUS SHALIHIN &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-family:Castellar;font-size:8;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 153);font-size:8;"  lang="EN-US"&gt;Imam Nawawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Dari ‘Umar bin Khattab r.a., ia berkata: Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Dari ‘Ali r.a., berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.”&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;(HR.Abu Daud)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;Dari Anas r.a., ia berkata: “Rasulullah telah memberi kemurahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a. untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal-gatal.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:9;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:9;"   lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Castellar;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:8;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:20;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-1576140318510940844?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/1576140318510940844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=1576140318510940844' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1576140318510940844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/1576140318510940844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/as-syamail.html' title='As-syamail-'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-8796517687933146224</id><published>2008-08-28T15:02:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T09:37:53.317+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sahabat Rasul Saw'/><title type='text'>Ali ar ridha</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Nama : Ali&lt;br /&gt;Gelar : Ar-Ridha&lt;br /&gt;Julukan : Abu al-Hasan&lt;br /&gt;Ayah : Musa al-Kadzim&lt;br /&gt;Ibu : Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin&lt;br /&gt;Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis, 11 Dzulqo'dah 148 H&lt;br /&gt;Hari/Tgl Wafat : Selasa, 17 Shafar 203 H.&lt;br /&gt;Umur : 55 Tahun&lt;br /&gt;Sebab Kematian : Diracun Makinun al-Abbasi&lt;br /&gt;Makam : Masyhad, Iran&lt;br /&gt;Jumlah Anak : 6 orang; 5 Laki-laki dan 1 Perempuan&lt;br /&gt;Anak laki-laki : Muhmmad Al-Qani', Hasan, Ja'far, Ibrahim, Husein&lt;br /&gt;Anak perempuan : Aisyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam adalah orang yang menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam adalah seorang yang berilmu bukan seorang yang bodoh, yang akan membimbing umat bukan membuat makar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam itu tinggi ilmunya, sempurna sifat lemah lembutnya, tegas dalam perintah, tahu tentang politik, punya hak untuk menjadi pemimpin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Imam itu kendali agama dan sistem bagi kaum muslimin serta pondasi Islam yang kokoh. Dengannya, salat, zakat, puasa dan haji serta jihad menjadi lengkap".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam bertanggung jawab memelihara Islam, serta mempertahankan syariat, aqidah dari penyimpangan dan penyesalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imam bertanggungg jawab mendidik. umat, karenanya harus bersifat memiliki ilmu, tabu tentang situasi dan kondisi sosial, politik dan kepemimpinan" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di atas merupakan sedikit penjelasan tentang makna keimaman yang dikernukakan Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah pewaris keimamahan setelah ayahnya, Musa al-Kazim a.s. yang wafat diracun oleh Harun Ar-Rasyid. lbunya, Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin dia adalah seorang yang shalehah, ahli ibadah, utama dalam akal dan agamanya dan setelah melahirkan Ali ar-Ridha a.s, Imam Musa memberinya nama at-thahirah. Imam Ali ar-Ridha a.s hidup dalam bimbingan, pengajaran dan didikan ayahnya selama tiga puluh lima tahun. Sejarah menjadi saksi nyata bahwa para Imam Ahlul Bait ini sangat utama dalam kedudukannya yang sekaligus merupakan rujukan bagi kaum muslimin dalam setiap permasalahan. Begitu juga Imam Ali ar-Ridha yang tumbuh dalam didikan ayahnya pantas menjadi seorang Imam serta mursyid (guru penunjuk) yang akan memelihara madrasah Ahlu Bait Nabi dan menduduki posisi kepemimpinan di mata kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setiap Imam akan dibimbing oleh Imam sebelumnya dan setiap Imam akan memperkenalkan dan menunjukkan identitas Imam yang akan menggantikannya, agar kaum muslimin tidak kebingungan tentang siapa penerus misinya guna merujuk kepadanya dalam mencari pengetahuan tentang syariat Islam, menimba ilmu dan ma'rifat serta mengikuti kepemimpinan dan pentunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Ali ar-Ridha a.s. bidang ilmu, kegiatan penelitian, penulisan buku dan pendukumentasian telah berkembang pesat. Di masa ini juga hidup As-Syafi'i, Malik bin Anas, As-Tsauri, As-Syaibani, Abdullah bin Mubarok dan berbagai tokoh-tokoh ilmu pengelahuan syariat dan logika serta kemasyarakatan. Mengenai situasi sosial saat itu, siapapun yang mengkaji akan mengetahui bahwa kehidupan islam yang dipimpin al Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid, al-Amin dan al-Makmun adalah kehidupan yang sarat dengan kefoya-foyaan, penuh dengan budak-budak perempuan, para penyanyi, penari dan gelas-gelas khomer. Ribuan juta dinar dan dirham dihambur-hamburkan sementara rakyat hidup dalam penekanan, pajak yang tinggi serta kelaparan dan berbagai teror yang ditujukan kepada mereka. Di saat seperti inilah Imam Ahlul Bait menunjukkan sikap ramahnya kepada kaum tertindas yang hidup dalam serba ketakutan serta menyerukan perbaikan dan perubahan yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Karenanya, mereka mengalami penyiksaan, pengejaran, pemenjaraan pembunuhan. Sedang situasi politik saat itu, setelah Harun Ar-Rasyid meracuni ayahnya dia masih hidup beberapa tahun bersama Iman Ali Ar-Ridha. Perlakuan Harun Ar-Rasyid kepada Imam Ali ar-Ridha tidak seperti perlakuan terhadap ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Harun ar-Rasyid meninggal, dia membagi negeri kekuasaannya di antara ketiga orang anaknya; al-Amin, al-Makmun, al-Qosim. Situasi politik dan perekonomian mengalami kemerosotan yang tajam. Sementara itu, Imam Ali Ridha mempunyai pengaruh yang besar terhadap para pengikutnya. Untuk mengantisipasi keadaan itu dan sekaligus memadamkan adanya beberapa pemberontakan dari kaum Alawiyin, al-Makmun kemudian mengumurnkan rencananya untuk mengangkat Imam Ali Ridha sebagai putra mahkota sepeninggalnya. Walaupun rencana itu mendapat tantangan yang keras dari pihak keluarganya, namun dia tetap bersikeras untuk mempertahankan rencananya. Kemudian dia mengirim utusan kepada Imam Ridha dan memintanya agar datang ke Khurasan untuk bermusyawarah berkenaan dengan pengangkatan beliau sebagai putra mahkota. Dengan terpaksa Imam Ali Ridha a.s. memenuhi panggilan itu. Setelah sampai di tempat al-Makrnun, rombongan kemudian ditempatkan di sebuah rumah, sedang Imam Ridha a.s., di tempatkannya di sebuah rumah tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, al-Makmun menuliskan nash baiat untuk Imam Ridha a.s. dengan tangannya sendiri, dan Imam pun menanda tangani nash baiat, yang menyatakan bahwa beliau menerima pengangkatan dirinya sebagai putra mahkota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah berbicara lain, al-Makmun bukan orang yang tidak suka kedudukan. Dia telah membunuh saudaranya al-Amin dan juga membunuh orang-orang yang telah mengabdi kepada saudaranya dan juga ayahnya, seperti Thahir bin Husain, al-Fadhl bin Sahl dan lain-lain yang telah berjasa dalam mengukuhkan pemerintahannya, maka bukan juga hal yang mustahil jika dia akhirnya menyusun siasat untuk membunuh Imam dengan cara meracuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ridha a.s. syahid pada hari terakhir bulan Safar tahun 203 Hijriah di kota Thus (Masyhad) dan dimakamkan disana juga, di rumah Humaid bin Qahthabah di sisi kuburan Harun ar-Rasyid pada arah kiblat. Sekarang, makam beliau merupakan makam yang sangat menonjol, yang dikunjungi oleh jutaan peziarah yang berdesak-desakan di sekelilingnya. Kota di mana beliau di makamkan telah menjadi kota yang besar di Republik Islam Iran. Letaknya berbatasan dengan Rusia. Ia merupakan kota yang indah dan ramai. Di dalam nya terdapat perkumpulan- perkumpulan ilmiah dan sekotah agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-8796517687933146224?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/8796517687933146224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=8796517687933146224' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8796517687933146224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/8796517687933146224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/08/ali-ar-ridha.html' title='Ali ar ridha'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-303357901655587771</id><published>2008-08-28T14:58:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T09:45:23.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>Mengenang Kiai Hamid Pasuruan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Orang mengenal      Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali. Dan orang mengatakan      wali – biasanya – hanya karena keanehan seseorang. Tidak banyak      yang tahu tentang sejatinya beliau. Nah ! Dalam rangka memperingati haulnya      pada bulan Mei ini kami turunkan sekelumit tentang beliau.&lt;br /&gt;    Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul      auliya’, tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul Qodir adalah      menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits, nahwu,      sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa menurut madzhab Syafi’I      dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah      kedua dan Panglima perang. Padahal beliau juga wali besar. Beliau pernah mengomando      pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid di Madinah      dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah      minta tumbal manusia, hingga nurut sampai sekarang.&lt;br /&gt;    Kiai Abdul Hamid yang punya nama kecil Abdul Mu’thi lahir di Lasem Rambang      Jawa Tengah tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1914 M. dari pasangan Kiai      Abdullah bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq. Beliau yang biasa dipanggil      Mbah Hamid ini adalah putra keempat dari 12 saudara.&lt;br /&gt;    Seperti umumnya anak cerdas, Hamid pada waktu kecil nakalnya luar biasa, sehingga      dia yang waktu kecil dipanggil Dul ini panggilannya dipelesetkan menjadi Bedudul.      Kenakalannya ini dibawa sampai menginjak usia remaja, dimana dia sering terlibat      perkelahian dengan orang China yang pada waktu itu dipihak para penjajah.      Pernah suatu saat dia ajengkel melihat lagak orang China yang sombong, kemudian      orang China tersebut ditempeleng sampai klenger. Karena dia dicari-cari orang      China kemudian oleh ayahnya dipondokkan ke Termas Pacitan. Sewaktu dia belajar      di Termas sering bermain ke rumah kakeknya, Kiai Shiddiq di Jember dan kadang-kadang      bertandang ke rumah pamannya Kiai Ahmad Qusyairi di Pasuruan. Sehingga, sebelum      dia pindah ke Pasuruan, dia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat disana.&lt;br /&gt;    Setelah di pesantren Termas dipercaya sebagai lurah, Kiai Hamid sudah mulai      menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai instensif dan konon dia      suka berkhalwat disebuah gunung dekat pesantren untuk membaca wirid. Semakin      lama, dia semakin jarang keluar kamar. Sehari-hari di kamar saja, enath apa      yang diamalkannya. Sampai kawan-kawannya menggoda . Pintu kamarnya dikunci      dari luar. Tapi, anehnya dia bisa keluar masuk.&lt;br /&gt;    Tawadlu’ dan Dermawan.&lt;br /&gt;    Kiai Hamid yang kemudian diambil menantu Kiai Qusyairi adalah sosok yang halus      pembawaannya. Meski sebagai orang alim dan menjadi menantu kiai, beliau tetap      tawadlu’ (rendah hati). Suaranya pelan dan sangat pelan. Ketika apa      saja apelan, entah mengajar, membaca kitab, berdzikir, shalat amaupun bercakap-cakap      dengan tamu. Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau      mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya,      beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. “Angel dukane, gampang      nyepurane”, kata Durrah, menantunya.&lt;br /&gt;    Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai      beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya. Beliau      melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya      pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri      agar mampir lagi kalau ada waktu.&lt;br /&gt;    Sikap tawadlu’ sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu      Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi      khumul (ketidakterkenalan)” . Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan      ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu      acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau      ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di      barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.&lt;br /&gt;    Kiai Hamid yang wafat pada tahun 1982 juga dikenal sebagai orang yang dermawan.      Biasanya, kebanyakan orang kalau memberi pengemis dengan uang recehan Rp.      100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau kalau memberi tidak melihat      berapa uang yang dipegangnya, langsung diserahkan. Kalau tangannya kebetulan      memegang uang lima ribuan, ya uang itu yang diserahkan kepada pengemis. Tak      hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dua kali setahun beliau selalu membagi      sarung kepada masing-masing anggota keluarga.&lt;br /&gt;    Orang Alim&lt;br /&gt;    Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari kenyentrikannya      saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau dipandang orang bukan      hanya dari kenylenehannya, tapi dari segi keilmuannya, beliau juga sangat      dikagumi banyak kiai. Karena, memang sejak dari pesantren beliau sudah terkenal      menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu kanoragan, ketabiban, fiqih,      sampai ilmu Arudl beliau sangat menguasai. Terbukti beliau juga menyusun syi’iran.&lt;br /&gt;    Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan waktu      untuk mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi selepas subuh.      Adapun kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai dari yang kecil seperti      kitab Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala’ dan kemudian dilanjutkan      kitab Ihya’.&lt;br /&gt;    Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang beranjak      dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada seorang guru mengadu      bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah. Beliau lalu memberi nasehat      dengan falsafah pohon kelapa. “Bunga Kelapa (manggar) kalau jadi kelapa      semua yang tak kuat pohonnya atau buahnya jadi kecil-kecil” katanya      menasehati sang guru. “Sudah menjadi sunnatullah,” katanya, bahwa      pohon kelapa berbunga (manggar), kena angin rontok, tetapi tetap ada yang      berbuah jadi cengkir. Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan.      Kemudian jadi kelapa. Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.&lt;br /&gt;    Ijazah-ijazah&lt;br /&gt;    Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada      siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi      ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div&gt;     &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt; Membaca Surat Al-Fatihah          100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan          keajaiban-keajaiban yang terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat          Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali,          setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt; Membaca Hasbunallah wa          ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt; Membaca sholawat 1000          kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah          dan Munjiyat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt; Membaca kitab Dala’ilul          Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.(m. muslih albaroni)&lt;/span&gt;        &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3995696611465756841-303357901655587771?l=almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/feeds/303357901655587771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3995696611465756841&amp;postID=303357901655587771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/303357901655587771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3995696611465756841/posts/default/303357901655587771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/08/mengenang-kiai-hamid-pasuruan.html' title='Mengenang Kiai Hamid Pasuruan'/><author><name>almuhibbin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10749912131185952566</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3995696611465756841.post-4990913171715218813</id><published>2008-08-28T11:03:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:45:23.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manaqib'/><title type='text'>Riwayat Hiudp Imam Musa Al-Kadzim a.s</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Untuk yang kesekian kalinya keluarga Rasulullah dibahagiakan atas kelahiran seorang manusia suci, pilihan Allah demi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;kelestarian hujjahnya yaitu Musa bin Ja'far. Beliau dilahirkan pada hari Ahad 7 Shafar 128 H di kota Abwa' antara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Makkah dan Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ayahnya begitu gembira dengan kelahiran putranya ini hingga beliau berucap: "Aku berharap tidak memperoleh putra&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;lain selain dia sehingga tidak ada yang membagi cintaku padanya". Ayahnya, Imam Ja'far As-Shadiq, telah mengetahui&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;bahwa bayi tersebut akan menjadi orang besar dan mempunyai kedudukan yang mulia yaitu sebagai calon Imam,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;pemimpin spiritual yang akan menjadi penerus Ahlul Bait dalam berhidmat untuk risalah Allah SWT yang dipercayakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;kepada kakeknya Muhammad saww. Beliau dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Hamidah, seorang wanita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;berkebangsaan Andalusia (Spanyol). Sejak masa kecilnya beliau telah menunjukkan sifat kepandaiannya. Pada suatu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;saat Abu Hanifah datang ke kediaman Imam Ja'far As-Shadiq untuk menanyakan suatu masalah. Pada waktu itu Imam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ja'far As-Shadiq a.s. sedang istirahat lalu Abu Hanifah bertanya kepada anaknya, Musa Al-Kadzim yang pada waktu itu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;berumur 5 tahun. Setelah mengucapkan salam beliau bertanya: Bagaimana pendapat Anda tentang perbuatanperbuatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;seorang manusia? Apakah dia melakukan sendiri atau Allah yang mejadikan dia berbuat seperti itu? "Wahai&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Abu Hanifah! Imam berusia 5 tahun tersebut menjawab dengan gaya seperti para leluhurnya,: "perbuatan-perbuata n&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;seorang manusia dilahirkan atas tiga kemungkinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pertama, Allah sendiri yang melakukan sementara manusia benar-benar takberdaya. Kedua, Allah dan manusia samasama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;berperan atas perbuatan-perbuatan tersebut. Ketiga, manusia sendiri yang melakukannya. Maka, jika asumsi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;pertama yang benar dengan jelas membuktikan ketidakadilan Allah yang menghukum makhIuk-Nya atas dosa-dosa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;yang mereka tidak lakukan. Dan jika kondisi yang kedua diterima, maka Allahpun tidak adil kalau Dia menghukum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;manusia atas kesalahan-kesalahan yang di dalamnya Allah sendiri bertindak sebagai sekutu. Tinggal alternatif yang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;ketiga, yakni bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka sendiri". Mengenai&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;situasi politik di zaman beliau hampir sama dengan zaman sebelumnya. Beliau hidup dalam zaman yang paling kritis di&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;bawah raja-raja zalim dari Bani Abbas. Beliau hidup di zaman Al-Manshur, Al-Mahdi, Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Di&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;masa Imam Musa masih berusia 5 tahun. Telah terjadi sebuah peristiwa besar yaitu runtuhnya Dinasti Umayyah dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;bangkitnya Dinasti Abbasyiah. Bani Abbasiyah juga tidak kalah dalam perbuatan jahatnya. Kedudukan jadi rebutan di&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;saat itu, sementara istana dipenuhi dengan gundik-gundik dan harta. Tari-tarian serta lagu dan syair menjadi hiasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;istana Bani Abbasyiah, kejahatan mereka merajalela dan dekadensi moral hampir merata dimana-mana. Nasib keluarga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Imam Musa a.s. (Al-Alawiyin) teraniaya di zaman ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Di zaman Al-Manshur mereka dipenjarakan tanpa diberi makan, sebagian lagi diusir dari rumah-rumahnya dan yang lain&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;dibunuh. Penguburan hidup-hidup bukan merupakan pemandangan yang baru lagi di zaman ini. Kebiadaban Al-Manshur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;tidak berlangsung lama pada tanggal 3 Dzulhijjah158 H, dia mati lalu digantikan oleh anaknya Al-Mahdi. Al-Mahdi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;memerintah sejak 3 Dzulhijjah 158-22 Muharam 169. Di masa pemerintahannya, Imam Musa pernah dipenjarakan di&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Baghdad yang kemudian dibebaskan lagi. Walau penekanan dan kejahatan tidak dapat dielakkan lagi, namun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;penderilaan Ahlul Bait tidaklah separah di zaman Al-Manshur. Setelah beberapa tahun, Al-Mahdi juga meninggal dunia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;dan sejak 22 Muharram 169 H, anaknya, Al-Hadi, menggantikan posisi ayahnya sebagai raja Bani Abbas. Dia terkenal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tr
